FAIRY IN LOVE

FAIRY IN LOVE
Part 6 Rangga sakit.



Rangga terbangun dari tidurnya di pagi hari.


"Aduuh tubuhku panas banget. Aku sakit lagi dimana nafsu makanku hilang. Aduuh...kepalaku sakit banget," Batin Rangga.


"Ibu....aku sakit," teriak Rangga ke ibunya berulang kali tapi ibunya tidak kembali.


"Aduuh ibu ibu kepalaku sakit banget,"


Tiba-tiba Anna si peri itu terbangun dan terkejut melihat keadaan Rangga yang sedang sakit.


Anna mengubah dirinya menjadi besar, "oh Rangga kamu kenapa? Apa kamu sakit?" Tanya Anna terlihat khawatir ke Rangga.


"Aku baru saja meneriaki ibuku kok malahan kamu yang datang." Kata Rangga begitu mencuekin Anna. "Tentu saja aku ini sakit. Kepalaku seperti akan meletus. Aduuh kepalaku pusing banget sumpah,"


Anna mendekati Rangga lalu menyentuh jidatnya, "woah kepalamu panas banget....ini harus diapain,"


"Aku kira peri lebih cerdas dari pada dokter ternyata peri juga terlihat bingung," kata Rangga. "Ambil kain dan beri air dingin lalu kompres ke kepalaku,"


"Baik..."


Beberapa menit kemudian Anna sudah mengkompres kepala Rangga lalu menyentuh kembali wajahnya.


"Suhunya sudah sedikit turun. Kamu harus makan yah Rangga tampan.


"Nggak aku nggak mau makan," kata Rangga lalu mengambil bukunya dan ingin membaca.


Anna mengambil buku dari Rangga lalu kembali menyimpanya di Rak penyimpanan buku Rangga, "kamu tidak boleh membaca saat kamu sedang sakit, nanti sakitmu tambah parah gimana?"


"Aish, kamu kenapa sih. Ambil kan buku itu. Ayolah,"


"Kamu makan dulu biar kamu cepat sembuh,"


"Apa kamu jago masak?" Tanya Rangga.


"Hahaha peri itu sudah tahu semuanya. Kamu ingin makan apa?" Kata Anna terlihat Sombong.


"Sombong banget sih, buatkan aku nasi goreng,"


"Oke," kata Anna lalu beranjak ke dapur membuatkan Rangga nasi goreng.


Beberapa menit kemudian nasi goreng buatan Anna si peri itu sudah jadi dan siap untuk disajikan untuk Rangga.


"Tadaaa dah jadi nasi goreng buatanku silahkan dimakan,"


"Suapin aku. Tanganku lemas banget nih,"


"Aghs laki-laki lemah," batin Anna lalu mensuapi sesendok nasi goreng untuk Rangga. "Bagaimana, enak kan?"


Mata Rangga langsung cerah, "woah enak banget, ini lebih enak dari oada nasi goreng buatanku," Batin Rangga sambil mengunyah nasi goreng yang disuapin dari Anna. "Ini nggak enak,"


"Apa... baiklah kalau begitu aku buang saja deh,"


"Jangan jangan aku belum kenyang. Suapin aku lagi,"


"Kamu itu kenapa sih, katanya nggak enak lalu ingin dimakan lagi,"


"Jujur ini enak kok!." Kata Diva sambil membuka mulutnya. "Aaa suapin aku lagi,"


"Yang benar saja,"


Setelah Rangga makan. Rangga ingin membaca buku lagi tapi Anna tetap melarangnya.


"Aku ingin membaca buku ambilkan aku buku yang tadi itu,"


"Astgaa....kamu menjengkelkan banget sih hah,"


"Istirahtalah atau aku bacakan buku itu. Kamu dengarkan aja oke,"


"Oke," kata Anna lalu mengambil buku yang belum selesai di baca oleh Rangga. "Ok aku lanjutin sampai dimana kamu membacanya?"


"Itu disekitar halaman 250,"


Anna membuka halaman buku itu lalu melanjutkanya. Anna begitu syok dan geli membaca buku itu judulnya, "My Girlfriend Is A Mermaid hal. 150."


Amel sedang membacakan buku untuk Rangga, "Aku menyukaimu chef. Maukah kamu tidur bersamaku malam ini!! Kata Putri duyung itu ke Chef lalu chef itu berkata bahwa...." Anna Syok dan merasa geli membaca isi novel itu sambil mencubit pipi Rangga. "yang benar saja si Rangga, buku romantis ini seharusnya tidak dibaca ketika kita ada disini aish,"


"Aduuh pipiku kok kamu cubit sih...sakit tau,"


"Buku ini nih menurutku melek banget,"


"Simpan saja tuh buku hiks,"


Anna menyimpan buku yang barusan telah dibaca untuk Rangga lalu melihat buku-buku yang lainya, "ya Ampun dilihat dari judulnya saja bukumu ini cocok dibaca untu aku....bisakah aku membacanya?"


"Tentu saja yang penting bacanya nggak usah disini,"


"Terus aku bancanya dimana?"


"Di rumahmu lah sana bacakan buku itu untuk burung kakatua itu sempat dia juga baper karena kamu dah bilang kalau kamu itu serumah dengan burung kakatua haha," tawa kecil Rangga membuat Anna jengkel.


"Nggak lucu mana ada burung kakatua mengerti perkataan romantis," kata Anna lalu memalingkan wajahnya dari Rangga.


"Katamu kan kalau kamu yang ngajarin burung itu bicara jadi lebih baik ajarin juga dia yang romantis-romantis gitu.... biar kamu juga bisa baper saat melihat burung kakatua itu berduaan,"


"Dasar brengsek," Anna sedikit marah lalu mengembalikan buku itu ke tempatnya. "Aku nggak jadi meminjam bukumu hiks,"


"Bagus kalau begitu buku aku jadi tenang dan bahagia karena kembali ke tempatnya,"


"Haha aku kalah udahlah. Ohiya kamu harus terimah kasih ke aku," Anna kembali menyombongkan dirinya.


"Terimah kasih apaan sih," wajah Rangga terlihat penasaran.


"Hiks. Karena aku habis rawat kamu, membuatkan kamu nasi goreng, terus membaca buku untuk kamu. Baru ingat kan. Ya ampuuuun,"


"Oh aku lupa," wajah Rangga jadi malu dan pipinya memerah. "Terimah kasih," kata Rangga lalu memalingkan wajahnya dari Anna.


"Ini hampir malam..... aku akan pergi lagi dan sampai jumpa besok, terus jaga kesehatanmu dan jangan terlalu banyak begadang okey. Ohiya juga mandi yang rajin, makan 3 kali sehari, olahraga oke oke oke,"


"Kata mu barusan sama dengan perkataan ibuku ketika masuk ke kamar aku....kamu sudah sarapan? Dah mandi? Kamu baik baik saja nak? Aghs kuharap pertanyaan itu tidak terulang lagi,"


"Hei dengar sebagai seorang ibu itulah pertanyaan yang terbiasakan untuk anaknya jadi jangan ngeluh dan marah ketika ibumu selalu bertanya dengan perkataan seperti itu setiap masuk kekamar mu....ingat ibu mu itu khawatir dengan mu. Bayangkan jika suatu hari nanti ketika ibu sudah tidak ada kamu bisa apa? Karena itulah pertanyaan kebiasaanya setiap hari, jika tidak ada pertanyaan seperti itu maka perasaan kamu barulah menjadi sedih dan rasa hati mu seperti teriris."


Rangga meneteskan air matanya, "kamu barusan menceramahiku, ceramahmu luar biasa dan sangat menyentuh, aku jadi sadar tapi hatiku mulai sekarang seperti teriris karena ibuku bukan lagi manusia. "Enyahlah kamu membuat aku mengingat ibuku lagi,"


"Maaf karena tidak memikirkan kalau ibu mu bukan lagi manusia. intinya kamu tidak boleh marah ketika ibu mu selalu bertanya seperti itu ke kamu. kuharap kamu tidak akan kecewa suatu hari nanti pria tampan,"


"Kuharap aku tidak kecewa nanti, Maksud kamu apa?"


"oh itu.... Maksudku jangan marah kalau ibu mu itu menjengkelkan,"


Rangga menangis.


"Jika kamu ingin menangis menangislah karena, jika kamu menahan tangisanmu maka hati dan perasaanmu semakin sakit dan tidak mudah baikan. Aku pergi sampai jumpa besok." Kata Anna lalu pergi keluar melalu jendela Rangga. "Tutup kembali jendelanya jangan sampai terbuka oke."