FAIRY IN LOVE

FAIRY IN LOVE
Part 21 Semua Rumah itu hilang setelah dalang vampir itu mati.



"An! Apa kamu sudah siap untuk membunuh dalang vampir itu?" Tanya Rangga.


"Ya tapi kita harus cari tahu keberadaanya dulu!"


"Kupikir dia ada perbatasan desa An,"


"Apa yah bagaimana kalau aku saja bertemu denganya," Anna.


"Jangan Anna, itu bahaya biar kita sama-sama saja bertemu denganya karena aku akan memberitahu sesuatu untuknya,"


"Kita butuh darah lalu darah itu ditumpah sebotol air ajaib itu dari Tuan Vand.....itu adalah ideku,"


"Baiklah An, biar aku saja yang melukai tanganku lagi," Kata Rangga melukai tanganya dengan pisau lalu darah itu dari tanganya meneteskanya ke botol sampai penuh. "Sssh pedih sumpah,"


Beberapa menit kemudian darah Rangga dari tanganya sudah penuh di botol itu lalu mencampurkan air botol ajaib itu ke darahnya.


"Ayo kita pergi!" Kata Rangga lalu pergi bersama Anna untuk menemukan dimana keberadaan dalang vampir itu.


Beberapa jam kemudian dalang vampir itu akhirnya ditemukan yang sedang sendirian dengan wajahnya muram sambil memukul-mukul tanah pakai ranting kayu.


"Hey tuan apa yang kamu lakukan disitu?" Tanya Rangga.


"Akhirnya kita bertemu lagi, jangan marah aku sudah tidak seperti dulu lagi karena aku sudah tahu kalau aku adalah kakekmu Rangga,"


"Darimana kamu tahu kalau kamu adalah ayah ibuku?" Tanya Rangga.


"Hah jangan hanya berfikir kalau ibumu itu hilang nak!"


Rangga terkejut dan ingin meninju wajah dalang vampir itu.


"Jangan percaya dengan kata-katanya Ran!" Bisik Anna ke Rangga. "Tuan Vampir bagaimana bisa kamu bertemu dengan putrimu saat dia sudah terjebak di rumah penyihir itu saat dia ada di gunung Sidney?" Tanya Anna ke dalang vampir itu.


"Sebelum putriku dengan si brengsek itu pergi ke gunung sidney aku diam-diam mengikutinya dari belakang. Terus di malam hari telah tiba setelah Cris di sihir menjadi seekor burung kakatua oleh penyihir hitam itu aku langsung menolong putriku dengan cara yang sulit. Aku rela disihir menjadi vampir agar putriku dibebaskan olehnya. Aku sengaja ingin disihir olehnya menjadi vampir karena ingin membalas dendam dengan Cris dan aku juga sengaja menghisap darah putriku setelah dia melahirkan, itu karena aku tiba-tiba kehausan darah di perjalanan menuju ke sini. Kata Tuan Doso wajahnya terlihat sedih.


"Terus! Dimana ibuku sekarang?" Tanya Rangga.


"Aku tidak tahu ibumu dimana nak? Setelah gerhana usai di hari itu, aku melihat dia keluar dari desa ini! Entah kemana dia perginya?"


Rangga terkejut "Jadi ternyata ibuku belum mati"


"Iya dia hanya kelelahan karena ikut bertarung dengan manusia serigala itu demi aku."


Tiba-tba dalang vampir itu kehausan darah dan wajahnya semakin pucat. "Anna jaga Rangga, dan aku minta maaf karena mencurimu saat aku pergi ke hutan korea setelah umur Rangga 1 tahun,"


"Kenapa kamu mencuriku di hari itu?" Tanya Anna.


"Karena Ak aku...berpikir kalau peri itu bisa melindungi cucuku Rangga. Dan itulah aku selama ini berpura-pura kalau di desa ini ada manusia yang tinggal,"


"Kenapa perkataanmu berubah padalah kamu pernah bilang sebelumnya kalau tujuan kamu menangkapku di hari itu adalah kamu ingin menyuruhku untuk mencari Cris!" Anna kesal.


"Karena si brengsek itu, dia menghamili putriku dan tidak bertanggung jawab. Mengertilah hati seorang ayah itu saat putrinya di jelekin oleh laki-laki yang belum tentu suaminya apalagi apalagi si brengsek itu menghamili putriku aghs membuat amarahku semakin naik setiap hari dan aku ingin membunuhnya.


"Jadi apa kamu marah denganku?" Tanya Rangga.


"Tidak nak. Aku tidak marah denganmu, aku cuma garang saat aku kehausan darah jadi mengertilah,"


"Aghs mengapa harus seperti itu hah. Ini membuatku seakan-akan hilang dari bumi ini aghs,"


"Rangga! Bunuhlah aku. Aku sudah tidak tahan lagi dengan kehausanku!"


"Ap apa...aghs ini membuatku bingung An! Bagaimana nih?"


Anna memberikan botol yang berisi darah ke dalang vampir itu, "Minumlah wajahmu semakin menakutkan," Kata Anna terpaksa meracuni dalang vampir itu.


Beberapa menit kemudian dalang vampir itu tiba-tiba merasa panas dan juga urat-urat di kulitnya bermunculan, "Terimah kasih sudah membunuh ku peri hutan dan jagalah Rangga cucuku." Kata terakhir dalang vampir itu akhirnya dia mati.


"Rangga bakar dia!" Anna.


Rangga berlutut di depan kakeknya dan wajahnya jadi sedih "Itu sangat berlebihan An! Kita kuburkan saja dia di tanah lalu kembali ke rumah,"


Setelah dalang vampir itu di kuburkan, Rangga dan Anna menuju ke rumah dan tiba lah disana mereka berdua terkejut karena semua Rumah yang ada di desa itu hilang.


"Ran, ini aneh kemana semua rumah di desa ini pada hilang semua!" Kata Anna terkejut dan panik.


"Hah letak rumahku tadi ada disini kok bisa hilang aghs padahal buku ku aduuuh perasaanku tambah hancur. Kenapa rumah ini hilang semua? Kenapa desa ini jadi kosong?" Kata Rangga kebingunan.


"Astaga apa yang harus kita lakukan?" Tanya Anna.


"Tunggu, Yoyo belum mati kan? Aghs Yoyo masih ada di sini,"


"Jangan pikirkan dia aku sudah melihat dia kabur dan keluar dari desa ini sebelum kita ke Romania melalui lemari ajaibmu,"


"Aghs kuharap di luar kota baik-baik saja,"


"Jangan khawatir tahun ini sudah semakin modern dan kupikir ibumu dan yoyo tidak akan menghisap darah manusia lagi percayalah dengan kataku,"


"Apa kamu tahu desa ini kenapa namanya Desa Baempaieo?" Tanya Rangga gugup. "Kupikir kata Baempaieo itu adalah bahasa korea kan?"


"Ya, ibumu yang memberi nama itu untuk desa ini saat umurmu 5 tahun. Desa Baempaieo itu artinya adalah Desa Vampir tapi.....kupikir ibumu punya alasan memberi nama itu untuk desa ini,"


"Kuharap aku bertemu ibuku disuatu hari nanti," Batin Rangga, "Semoga ibuku baik-baik saja!"


"Jangan khawatir ibumu pasti baik-baik saja Ran!"


"Mmm aku jadi sedih benda-benda kesukaanku semua hilang termasuk bukuku aghs apalagi novelku semua hilang yang sudah kutulis aghs. Padahal menulis novel itu tidak mudah aduuuh," Rangga.


"Udahlah jangan sedih, mari kita keluar dari desa ini!" Kata Anna lalu mengenggam tangan Rangga.


"Ayo. Kupikir orang kota hidup dengan uang tapi bagaimana kita bisa hidup aghs," Rangga ngeluh.


"Aduuh aku selalu cerdas Ran, aku punya berlian pasti harganya milyaran jika aku menjualnya kita akan......"


"Mendadak kaya ya kan?" Rangga tersenyum lebar dan bahagia di depan Anna.


"Haha yang benar aja sih Ran! Ayo mari kita hidup modern dan aku sudah tidak sabar mengubah hidupmu sebagai laki-laki terkaya,"


"Benarkah!" wajah Rangga semakin bahagia.


"Yang penting matamu tidak tertarik dengan perempuan cantik di luar sana," Anna. "Awas yah kalau kamu pintar merayu wanita cantik,"


Rangga jadi syok, "Rayu itu apa?"


"Dasar tampan-tampan kok kampungan aghs padahal udah banyak buku novel yang sudah kamu baca. Ran! Apa kamu sudah mengerti kata-kata yang ada di isi buku novelmu itu?"


"Banyak tapi....jujur saja ak aku....tidak tahu kata-kata yang romantis!"


"Ap apa....maksud kamu apa sih kok salah jawab," Anna tersipu malu.


"Aku hanya ingi belajar mencintai perempuan,"


"Hiks nanti aja aku beliin bukunya untukmu,"


"Adduh nih Rangga gampang banget sih berubah membuat aku...deg dengan saja hash," Batin Anna sambil menatap Rangga dengan tatapan yang menghororkan.


"Hey kok tatapan seram banget, membuat aku takut saja," Rangga.


"Awas di belakangmu ada hantu hutan matanya keluar satu," kata Anna menakuti Rangga.


Rangga langsung memeluk Anna, "Duh usir dia cepat aku takut dengan hantu,"


"Itu kan hanya bohongan hahaha. Bagaimana bisa ada hantu di siang hari,"


"Kamu ingin dipeluk yah sampai-sampai ingin menakutiku lagi. Berhentilah ngejahilin aku aghs," kata Rangga terlepas dari pelukan Anna.


"Hiks nggak kok," kata Anna wajahnya semakin malu.


Jangan lupa like, Vote, Rate dan Komen yah!