
Satu minggu kemudian di sore hari hampir gelap hujan turun begitu deras diiringi angin kencan. Rangga sedang membaca buku di kursinya yang berletak di dekat jendelanya.
"Hah buku ini, akhirnya sudah juga kubaca. Buku yang berjudul My Girlfriend Is a Mermaid aku sangat suka ceritanya. Hah aku bahagia setelah membacanya dan ini juga termasuk buku favoritku yang ke 20. Hiks kupikir Anna marah karena dia sudah 1 minggu nggak datang-datang. Aghs ngapain sih aku ini keingat si peru hutan itu lagi.
Tok tok tok...suara ketukan pintu dari ibu Rangga lalu masuk kekamar anaknya dengan wajahnya begitu sangat pucat dari biasanya dan juga tubuhnya lemas dan sayu.
Rangga kaget melihat ibunya, "ups ibu...apakah ibu baik-baik saja?" Khawatir Rangga begitu melihat ibunya seperti sekarat.
"Ib ibu tidak apa-apa sayang. Izinkan ib ibu... berbaring di tempat tidurmu sebentar saja yah," kata ibu rangga begitu terbata bata karena lemas.
"Tentu saja ibu berbaringlah ke tempat tidurku,"
Ibu Rangga terbaring lemas lalu memegang tangan anaknya, "ibu jadi lega setelah pertama kali berbaring di tempat tidur putraku yang tampan,"
"Kenapa tangan ibu semakin dingin dan juga wajah ibu semakin pucat saja....apa yang terjadi pada ibu? Kenapa ibu tidak terlihat seperti biasanya?"
"Jangan tanya seperti itu. Ibu merasa baik baik saja kok cuma sedikit lemas,"
"Ibu jangan bohong. Ceritakanlah kepadaku, aku janji tidak akan tanya siapa-siapa,"
"Ibu hanya kelelahan sayang,"
Beberapa menit kemudian ibu Rangga tidak tahan untuk mengisap darah putranya karena kehausan darah.
"Rangga....ib ibuu menginginkan sesuatu,"
"Apaitu ibu. Katakanlah,"
"Jujur saja ibu kehabisan darah. Ibu kehausan darah sayang, ibu jadi tidak tahan untuk mengisap darahmu. Maukah kamu selerti vampir?"
Rangga jadi terkejut. "Tidak tidak ibu... jangan gigit aku. Aku pikir dari tadi ibu sepertinya kehausan darah jadi aku punya cara lain,"
"Ayolah sayang ibu tidak tahan. Ibu sangat haus sekali aroma darahmu menggodaku," kata ibu rangga tidak sabar untuk mengisap darah putranya.
Rangga terpaksa melukai telapak tanganya dengan pisau yang sangat tajam agar ibunya bisa minum darah. Darah dari telapak tangan rangga menetes ke gelas sampai gelas itu penuh lalu memberikan ke ibunya.
Rangga memberikan keibunya ssegelas darah miliknya. "Ini darah aku, minumlah,"
Ibu Rangga langsung mengambil darah itu lalu meminumnya. Setelah ibu Rangga meminum darah milik putranya, ibu Rangga langsung menjadi baik dan tidak seperti yang tadinya.
"Terimah kasih sayang, maafkan ibu kerena tadi ibu tidak sadar untuk mengisap darahmu," kata Ibu Rangga sambil menangis.
"Ibu tidak perlu terimah kasih. Aku senang ibu baik-baik saja dan juga aku jadi selamat," kata Rangga lalu tersenyum ke ibunya.
"Maaf karena ibu jarang menemuimu meskipun kita serumah. Aku takut putra ibu yang dangat tampan akan menjadi Vampir,"
"Ibu tidak usah omong begitu. Ibu haris kuat oke,"
"Makasi yah sayang....tapi telapak tanganmu terluka parah," kata ibu Rangga khawatir melihat luka anaknya.
"Ini tidak terlalu sakit kok ibu, ibu nggak usah khawatir melihat ini. Tapi aku ingin tahu dong ibu sedikit cerita tentang desa ini dan ibu dapat buku dari mana aja? Sebanyak ini?"
Ibu rangga tidak menyambung kata anaknya karena tidak ingin memberitahu asal mula desa ini menjadi desa vampir.
"Ups ibu mau pergi kesuatu tempat nanti aku lanjutin yah," kata ibu Rangga lalu beranjak pergi dari kamar putranya. "Aku kunci yah, jangan lupa sarapan oke semangat,"
"Ibu mau kemana? Ibu ibuuuu," teriak Rangga. "Aduh ibu kenapa sih ini...hidup ini penuh rahasia. Tapi aku percaya rahasia itu pasti akan seperti salju yang akan meleleh atau dibilang rahasia pasti terungkap."
Malam telah tiba tepatnya jam 10 Rangga sedang tidur dan tiba-tiba memimpikan Anna si peri itu dibunuh oleh dalang Vampir di desa ini. Rangga melihat Anna sudang dicambik cambik, Rangga langsung terbangun.
"Hah hah hah ini ternyata mimpi....kenapa tiba-tiba aku memimpikan dia hiks,"
Beberapa menit kemudian Rangga tidak bisa tidur sampai tengah malam karena mimpi buruknya.
Rangga mencoba menutup matanya tetap saja melihat Anna sedang disiksa oleh ibunya.
"Kok aku malah Anna disiksa ibuku sih. Aduuh bagaimana aku bisa tidur nih, susah banget nih mimpiku semakin buruk.
Ke esokan harinya Rangga jadi lemas dan tidak bisa bergerak karena semalaman tidak bisa tidur. Beberapa menit kemudian Yoyo Tiba tiba datang.
Tok tok tok.... ketukan pintu dari Yoyo lalu masuk ke kamar Rangga sambil menutup hidungnya dengan kapas.
"Hah Yoyo dia sama saja ibuku," Batin Rangga karena melihat Yoyo sedang menutup hidungnya dengan kapas.
"Halo kawan apa kabar. Hah kok kamu terlihat lemas banget, apa kamu sakit?" Tanya Yoyo khawatir.
"Aghs mungkin......aduuh kepalaku pusing banget nih, bisakah kamu memanggil ibuku," kata Rangga menyuruh Yoyo memanggil ibunya.
"Emmm ibumu tidak ada dirumah jadi aku yang menjaga rumah kamu,"
"Maksud kamu? Ibuku kemana dan kenapa kamu yang menjaga rumahku?"
"Ohiya karena aku... ingin bertemu kamu kawan," kata Yoyo berbohong ke Rangga.
"Kamu tahu ibuku selama ini apa yang dia kerja?"
"Aku tidak tahu," Yoyo bohong lagi.
"Hiks, aku ingin tanya ke kamu sesuatu yang penting!"
"Apa itu kawan?" Tanya Yoyo terlihat gugup.
"Saat aku ingin bercerita tentang desa ini ke ibuku, ibuku tidak mau karena ada sesuatu di tubuhnya. Menurutmu itu apa Yo?"
Yoyo sedikit terkejut, "ap apa aku juga tidak tahu," Yoyo bohong ke Rangga lagi.
"Jadi kamu tahu desa ini kenapa?"
"Desa ini baik-baik saja kok. Apa kamu ingin keluar!"
"Benarkah...aghs kawan, akhirnya aku bisa keluar hah kaulah teman baikku. Kalau begitu ayo kita keluar,"
Tiba tiba Anna si peri itu datang
"Selamat pagi pria tam.....pan," ucap Anna si peri itu lalu terkejut melihat Yoyo. "Ngapai kesini kamu. Kamu mau bunuh Rangga yah," Anna marah.
"Hah akhirnya kamu datang juga setelah seminggu. Dari mana ajasih kamu peri hutan. Lihat dia teman aku dan sekarang dia akan mengajakku keluar jalan-jalan di desa ini," kata Rangga jadi bahagia karena merasa sudah bebas.
Anna melarang Yoyo bersama Rangga keluar karena berpikir Yoyo itu jahat, "Tidak, Rangga kamu jangan keluar dari rumahmu. Diluar seperti neraka percayalah padaku jangan keluar dari kamarmu," kata Anna memejamkan matanya yang begitu tajam melihat Yoyo.
"Hah Anna dia itu baik kok benarkan Yo? kita sudah berteman," kata Rangga.
"Iy iya kita sekawan atau dibilang Duoble Tampan," kata Yoyo lalu tersenyum Lebar.
Anna terlihat benci dengan Yoyo. Anna tidak berhenti melihat yoyo begitu matanya yang menghororkan.
"Hey Anna kenapa kamu tidak berhenti melihat Yoyo kawanku. Tatapamu ke Yoyo membuat Yoyo takut ada apa dengan kalian ini aku juga iikut takut loh," kata Rangga ke Anna.
"Rangga percayalah padaku jangan keluar kumohon,"
Rangga tidak mempercayai Anna si peri itu dan memutuskan untuk keluar dari rumahnya bersama Yoyo.
"aku pasti melindungimu kawan janganlah takut," Yoyo.
jangan lupa vote, like, dan rate juga komen yah!