FAIRY IN LOVE

FAIRY IN LOVE
Part 11 ibu mendapat buku dari mana?



"Ibu Rangga mau tanya sama ibu, soal Buku. Ibu dapat buku-buku dari mana?"


"Mmm ibu beli di tokoh buku yang ada di perkotaan nak,"


Rangga terkejut, "apa.. maksud ibu...ibu selalu ke kota setiap tahun membeli buku untukku!" Tanya Rangga serius.


"Ya, ibu keluar dari desa satu kali setahun," kata ibunya sambil berbaring lemas di tempat tidur putranya..


"Bagaimana cara ibu keluar dari desa? Apa aku pasti juga bisa kan!"


"Keluar dari Desa ini sangat sulit Nak. Kalau Rangga ingin keluar dari desa ini itu tidak bisa karena kamu manusia kenapa? Karena vampir yang ada di sekitar desa ini mereka itu mudah mencium bau aroma manusia,"


"Tapi ibu selama 20 tahun aku tinggal dirumah ini kenapa Vampir tidak mudah mencium aroma manusiaku?" Tanya Rangga.


"Kamar ini bukan kamar biasa. Kamar ini ajaib, dulu ibu....tidak sengaja bertemu dengan peri cantik saat umurmu 3 tahun. Aku meminta peri itu untuk menyihir kamarmu agar bau aroma tidak mudah tercium oleh para vampir itu,"


Rangga tiba-tiba mengingat Anna dan terkejut, "apa....ibu bertemu peri hutan saat umurku 2 tahun. Dia selalu datang dikamarku tapi di begitu sok tidak tahu,"


"Maaf...karena ibu yang menyuruh untuk merahasiakan tentang hal ini. Aku takut kamu marah dan kabur,"


"Yang benar saja doang bu, aghs ibu seperi mayat hidup tuh kapasnya nggak hengkang-hangkang dari hidung ibu. Membuat Rangga tidak nyaman aja dan Rangga selalu berpikir Rangga bau,"


"Haha," tawa ibunya lalu bangun dan memeluk putranya. "Rangga jika suatu hari nanti..... kamu harus kuat dan berani jika ibu telah tiada yah,"


"Ibu....jangan sembarang bilang doang. Ini membuat Rangga akan sedih," wajah rangga hampir sayu.


Ibu Rangga berdiri dan mendekati jendela kamar putranya, "Rangga apakah peri itu selalu datang padamu?"


"Ya dia itu jahil banget bu juga suka buat rangga marah. Oh iya aku sudah buat nama untuknya namanya adalah....Anna,"


"Nama yang cantik, berbuat baiklah dengan Anna karena dia yang menyelamatkan mu dari kecil,"


"Hiks, hal itu takkan pernah," batin Rangga. "Ibu bagaimana keadaan kota di luar sana apa itu sangat bagus?"


"Iya...sangat ramai dan membuat ibu jadi kagum. Dulu sebelum ibu jadi vampir Ibu pikir....ibu ingin menjadi penulis disuatu hari nanti tapi ibu bukan manusia lagi,"


"Apakah ibu juga suka membaca dan menulis novel?"


"Ya...buku-buku yang terpajang di kamar kamu disitu ada karya ibu juga,"


"Benarkah. Tapi....nama ibu tidak ada dibuku itu! nama ibu itu... adalah Yunita kan!"


"Nama ibu sebenarnya adalah Anna bukan Yunita,"


Rangga mulai tidak sadar dan air matanya keluar dan juga rasa perih di hatinya yang dirasakanya ternyata ayahnya adalah Tuan Kaka yang disihir menjadi burung kakatua oleh penyihir hitam itu di gunung sidney,"


"Ap app apaa...jadi ib ibu ini dari sidney dan ayah ternyata adalaaah si burung kakatua itua it itu,"


"Peri hutan peri hutan peri hutan...hapus ingatan Rangga!" Batin Ibu Ranggga memanggil Anna.


Tiba tiba Anna si peri itu datang dan langsung memeluk Rangga lalu mencium jidatnya untuk menghapus ingatannya selama lamanya,. "Maafkan aku Rangga, ini perintah ibumu."


Rangga pingsan dan juga ibunya berlutut lalu menangis karena Rangga begitu banyak dibohongi. "Ini semua salahku. Maafkan aku sayang ibu tidak tahu apa yang harus ibu lakukan,"


Anna si Peri itu mendekati ibu Rangga lalu mengahpus air mata di pipi ibu Rangga. "Yunita kamu jangan menangis. Jangan sedih di depan putramu karena putramu nanti tidak nyaman. Kuatlah dan jadilah ibu yang tangguh," kata Anna sedikit tidak sopan ke Ibu Rangga karena Anna lebih tua dari pada Ibu Rangga.


"Apakah ingatan Rangga akan kembali?" Ibu Rangga cemas.


"Aku sudah menghapus semua ingatanya tentang hari ini apa yang dia katakan kepadamu dan juga termasuk ingatan yang kemarin. Jangan khawatir.... ini benar-benar bukan ingatan yang terhapus untuk sementara saja tapi seumur hidup,"


"Ya... tapi ingat kamu harus hidup dengan nama palsumu jangan pernah tanya Ke Rangga kalau nama aslimu adalah Anna. Ketika kamu menyebut nama Aslimu ke Rangga maka Rangga akan mengingat kembali hal itu," Kata Anna si peri itu memberi perhatian dan peringatan agar Ibu Rangga harus berhati hati.


"Baik...kalau begitu aku keluar dulu yah. Jangan tinggal kan dia jika belum bangun. oke," kata Ibu Rangga lalu beranjak keluar dari kamar putranya.


"Ya,"


Anna si peri itu mendekati Rangga lalu berbaring di sampingnya sambil memeluk Rangga.


"Kamu sangat hangat pria tampan." Batin Anna sambil memeluk Rangga lalu tertidur.


"Beberapa jam kemudian Rangga terbangun dan memeluk erat Anna karena mengira Anna adalah bantal gulingnya. "Kenapa bantal gulingku ini dingin sekali yah!" Kata Rangga lalu membuka matanya. "Hah An Anna...woah berani-beraninya dia tidur disampingku hiks pantesan tubuhku yang hangat ini jadi hilang ternyata si peri dingin ini aghs."


Rangga menatap wajah Anna lalu menyentuh pipinya dan juga mengelus rambutnya, "kamu cantik. Dan aku diam-diam menyukaimu." Batin rangga.


Anna tersenyum karena bisa membaca pikiran Rangga jika disentuh atau menyentuhnya. Anna langsung membuka matanya begitu wajahnya sangat cerah dan senang. "Benarkah! Kamu menyukaiku diam diam?" Tanya Anna sambil tersenyum lebar.


"Rangga langsung terbangun dan menuju ke dekat jendelanya lalu duduk di kursi kesayanganya. Wajah Rangga tersipu malu dan pipinya memerah. "Ngomong apan sih kamu. Kayaknya kamu mimpi yah!"


Anna terbangun dan mendekati Rangga, "nggak kok ini bukan mimpi. Kamu harus ingat ini selalu kalau aku bisa membaca pikiran orang yang suka padaku,"


Rangga malah tidak menyambung pembicaraan dari Anna, "eh kamuuuu berani beraninya tidur disampingku,"


"Maaf...karena tubuhmu sangat hangat dan itu membuat tidurku makin nyenyak," kata Anna.


"Ka kam kamuuu.....dingin banget dan wajahmu sedikit pucat tidak seperti biasanya,"


"Sebenarnya aku masih ingin tidur badanku gerr.....Kupikir aku sakit karena tubuhku semakin dingin,"


"Hah sihir aja dirimu jadi sehat astagaaaa," Rangga.


"Yah hal itu tidak bisa terjadi....bisakah aku tidur di kamarmu malam ini. Hiks aku tidak enak badan dan tubuhku semakin dingin,"


"Enak ajah loh,"


"Ayolah...."


Wajah Anna semakin pucat dan juga menggigil kedinginan karena efek menghilangkan ingatan Rangga yang tadinya. Anna tiba-tiba berlutut di depan Rangga.


"Yah kayaknya kamu berulah lagi yah. Kamu mau jahilin aku pasti," kata Rangga tidak percaya pada perkataan Anna kalau Anna benar-benar sakit.


"Anna tidak bohong kok.... pria tampan." Kata Anna lalu pingsang.


"Hey hey....kamu pingsang bohongan yah.m," Rangga belum percaya.


Beberapa menit kemudian Rangga mulai menyentuh tangan Anna begitu sangat dingin.


"An Anna...astgaaaa kamu sakit betulan. Aduh aku kira kamu bercanda maaf." Kata Rangga lalu mengangkat Anna ke tempat tidurnya.


Rangga menyelimuti Anna dengan selimut yang tebal karena Anna dingin lalu memegang tanganya. "Aghs kamu seperti es. Dinginya,"


Malam telah tiba Rangga mulai membaca buku sampai tengah malam. Rangga tiba-tiba ngantuk dan tidak tahu ingin tidur dimana.


"Duh aku harus tidur dikursi tapi badanku kebiasaan sakit karena duduk. Baring di lantai membuat belakangku sakit karena lantainya tidak lembut hiks." Batin Rangga. "Apa tubuhnya belum hangat!"


Rangga mendekati Anna lalu duduk disampingnya sambil memegang tanganya lagi. "Ini semakin dingin. Haruskah aku tidur disampingnya!"


bersambung