
Dua Jam setelah Rangga ditelan ombak. Rangga berada di pinggir Pulau Udo dimana kakeknya Haruto tinggal. Kakek Haruto sedang duduk di rumahnya dan tidak sengaja melihat Rangga terbaring seperti mayat di pinggir pulau itu. Nama kakek Haruto adalah Tuan Wong, dia tinggal sendirian dirumahnya karena istrinya meninggal habis dibunuh oleh Vampir dari Sidney.
"Itu terlihat seperti manusia... sedang apa mereka disitu padahal hujannya masih deras. Aku harus medekati dia." Kata Tuan Wong lalu beranjak mendekati Rangga.
Tuan Wong terkejut melihat Rangga sedang terluka lalu memriksa nadi di lehernya, "Oh Tuhan dia masih hidup. Dia juga terluka. Aku harus membawa dia kerumahku." Batin Tuan Wong sambil mengangkat Rangga kemudian membawa ke rumahnya.. "Berat banget hiks."
Ke esokan harinya tangan Rangga mulai bergerak tapi belum sadar setelah habis diobati oleh Tuan Wong kemarin.
"Syukurlah tanganya mulai bergerak. Dia sangat tampan, lebih tampan dari pada cucuku Haruto."
"Tunggu, wajah ini aku pernah melihatnya. Tapi dimana yah! Hah dia mirip Yuta teman Haruto. Tapi Yuta sudah lama meninggal." Kata Tuan Wong kaget melihat wajah Rangga.
"Sudahlah Yuta itu pendek dan pria ini Tinggi sekali seperti idolaku Lee Min Ho!" Batin Tuan Wong lalu beranjak keluar dari kamar Rangga.
Enam hari kemudian Rangga akhirnya sadar.
"Aku dimana?" Tanya Rangga dengan nada yang lemas sambil menyentuh lukanya. "Aduh lukaku masih terasa sakit."
Tiba-tiba Tuan Wong datang membawa bubur telur untuk Rangga. "Akhirnya kamu sadar pria tampan! Syukurlah kamu hampir saja mati di hari itu."
"Siapa kamu? Aku tidak tahu berbahasa seperti itu!" Kata Rangga sedikit ketakutan.
"Oh kamu ternyata dari indonesia. Aku juga bisa bahasa indonesia. Makanlah kamu pasti lapar." Kata Tuan Wong lalu memberi bubur itu ke Rangga.
"Terima kasih."
Beberapa menit kemudian Rangga sudah sarapan pagi. Rangga mulai bingung kenapa dia bisa berada di Korea.
"Aku dimana Tuan?" Tanya Rangga lalu melihat ke arah jendela. "Kenapa aku bisa berada di pinggir pulau?"
"Kamu ada di Korea Selatan. Entahlah 7 hari yang lalu aku menemukan kamu seperti mayat di pinggir pulau ini dalam keadaan terluka." Jawab Tuan Wong.
"Kepalaku sakit dan aku sulit berpikir hiks." Kata Rangga.
"Tenang saja, sebentar lagi pikiranmu akan pulih kembali. Itu karena kamu berbaring selama seminggu jadi kamu sulit berpikir."
Rangga terkejut. "Apa! Aku sudah terbaring selama seminggu."
"Sekarang kamu harus duduk dipinggir pulau itu agar pikiranmu bisa cepat pulih." Kata Tuan Wong menyuruh Rangga untuk pergi merenungkan dirinya dipinggir pulau itu.
Rangga berdiri lalu beranjak keluar dari rumah Tuan Wong.
"Apakah kamu bisa jalan sendirian?" Tanya Tuan Wong.
"Iya, biarkan aku sendiri pikiranku begitu sangat kosong." Jawab Rangga.
Rangga sedang duduk merenungkan dirinya di pinggir pulau itu sambil berpikir keras.
"Kenapa aku bisa berada disini. Apakah aku sudah mati?" Batin Rangga. "Apa jangan-jangan Tuan yang tadi itu..... adalah Hantu! Tidak itu tidak benar."
Tiba-tiba Tuan Wong datang menemui Rangga.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Tuan Wong lalu duduk di samping Rangga.
"Iya aku terlihat baik-baik saja tapi ada apa dengan pikiranku, kenapa begitu sangat kosong!" Jawab Rangga. "Apa jangan-jangan aku sudah mati dan Tuan juga sudah mati kan?" Tanya Rangga.
"Omong kosong kamu! Kita ini masih hidup. Kita berada di Pulau Udo yang berdekatan dengan Pulau Jeju." Jawab Tuan Wong. "Wow segarnya. Aku bahagia tempat ini sudah menjadi wisata.
"Pulau Udo! Pulau Jeju! Korea Selatan! Aduuuh aku benar-benar pusing."
"Sudahlah kupikir kamu lupa ingatan. Aghs, jadi kamu belum tahu nama kamu sendiri?"
"Tunggu! Aku seperti mengingat seseorang." Kata Rangga lalu berdiri.
"Siapa?" Tanya Tuan Wong.
"Anna, siapa dia?" Tanya Tuan Wong.
"Anna si peri hutan yang cantik. Dia pernah bilang bahwa dia punya Rumah di korea." Jawab Rangga.
"Apa....Anna aku tahu dia itu....teman Haruto kan? Yah akhirnya kamu bisa berpikir. Jadi nama kamu siapa?" Tanya Tuan Wong lagi.
"Hanya itu yang kuingat." Jawab Rangga lalu kembali duduk di samping Tuan Wong.
"Aghs yang benar saja sih ini pria hanya mengingat Anna. Nama sendiri belum ingat." Batin Tuan Wong lalu mengetuk kepala Rangga.
Tuk.....
"Aduh sakit...." kata Rangga lalu tiba-tiba mengingat namanya. "Akhirnya aku meningat namaku. Namaku adalah Rangga."
"Oh jadi nama kamu adalah Rangga. Baguslah, lebih baik aku mengetuk kepalamu layaknya seperti sedang mengetuk pintu agar kamu ingatan kamu kembali!" Kata Tuan Wong lalu mengetuk kepala Rangga berulang kali.
Tuk tok tuk tok tuk tuk .....
"Dah udah sudah Tuan. Kepalaku sakit. Kepalaku bukan pintu sudah sudah." Kata Rangga.
"Sudahlah aku lebih baik kembali ke rumahku." Kata Tuan Wong lalu beranjak pergi.
.......
Tok tok tok....
"Haruto apa kamu ada di dalam?" Teriak Anna sambil mengetuk Pintu rumah Haruto. "Haruto."
"Ya ada apa?" Tanya Haruto lalu membukaki pintu buat Anna. "Ada apa sih pagi-pagi kerumah aku, padahal tidurku belum cukup!"
"Lihat cuaca sangat bagus. Mari kita ke rumah kakekmu, soalnya Ayahku menyuruh aku ke Pulau Udo membawa Kelinci. Kamu tahu kan hari ini, Ulang tahun Kakekmu yang 2000 tahun." Kata Anna terlihat ceria.
"Hiks buat apa sih ulang tahun. Aku benci." Kata Rangga terlihat mengeluh.
"Inikan ulang tahun Kakek kamu Haruto, ayo dong sekali-kali kita liburan ke pulau Udo pasti disana paling banyak orang sedang berwisata juga."
"Baiklah, tapi perahuku sudah usang."
"Aduh gimana sih kamu, dah lah aku pulang aja!" Kata Anna wajahnya terlihat sedih.
"Baiklah, mari kita pergi. Aku baru saja habis membuat perahu baru kamarin." Haruto.
"Yes....akhirnya kita liburaaaaan"
Beberapa menit kemudian Anna dan Haruto sudah sampai di Pulau Udo. Anna dan Haruto langsung masuk kerumah Tuan Wong sambil membawa kelinci sebagai hadiah ulang tahunya.
"Kakek aku datang." Kata Haruto.
Kelinci Anna tiba-tiba lepas dan masuk ke kamar tamu Tuan Wong dimana Rangga tidur. Anna mengikuti kelinci itu sampai ke kamar Rangga kemudian Anna berhasil menangkap kelinci itu tepat di depan Rangga.
"Jangan kabur. Kakek itu baik kok." Kata Anna lalu panik melihat Rangga. "Rangga!"
"Kamu siapa? Berani-beraninya kamu masuk ke kamarku." Kata Rangga tidak mengenali Anna sama sekali.
Anna melepaskan kelincinya lalu memeluk Rangga dengan erat kemudian Anna menangis. "Rangga, syukurlah kamu masih hidup."
Rangga mendorong Anna hingga terjatuh. "Kamu siapa? Jangan macam-macam sama aku." Kata Rangga ke Anna.
Bersambung...
please jangan lupa like,komen,vote, dan rate yah🙏🙏🙏