
Beberapa menit kemudian jendela Rangga terbuka sendiri. Arga mendekati jendelanya lalu melihat keluar ternyata Gadis itu datang lagi.
"Ka kamu siapa? Kok kamu bisa terbang apa kamu juga Vampir?" Tanya Rangga memberanikan dirinya.
Gadis itu masuk lagi ke kamar Rangga melalui jendela.
Gadis itu tersenyum lalu mendekati Rangga, "apa kamu baru tahu kalau ibumu adalah Vampir?" Tanya gadis itu.
"Iya....pas pasti kamu juga Vampir kan?"
"Hahaha kamu seharusnya tahu dari dulu kalau ibumu itu Vampir. Apa otakmu baru saja berguna?"
"Kemarin saat ibuku membawa buku ke kamarku aku, itu baru pertama kali mendapat buku tentang Vampir lalu membacanya dan ternyata Vampir itu benci bawang putih sama seperti ibuku dia juga benci bawang putih dan juga disitulah aku Curiga. Bisakah kamu jauh-jauh sedikit," kata Arga karena gadis itu sangat dekat dengan Rangga.
Gadis itu duduk di kursi Rangga lalu memegang bawang putih yang di ambil dari meja makan Rangga, "Bawang ini bukan hanya satu satunya yang di benci Vampir,"
"Rupanya kamu bukan vampir, siapa kamu sebenarnya?"
"Aku adalah Peri Hutan Yang tinggal di sekitar desa ini," kata gadis itu.
"Apa.... peri itu kan tubuhnya kecil kok kamu gede banget!"
"Aku bisa berubah menjadi kecil dan juga bisa berubah menjadi besar seperti manusia," kata Gadis itu tubuhnya berubah jadi kecil lalu kembali besar agar Rangga bisa percaya.
"Astaga....ini membuatku takut dan aku juga merinding,"
"Jangan takut. Vampir lebih bahaya daripada Peri kenapa? Karena Vampir hanya menghisap darah manusia begitu juga hewan."
"Jadi....yang sebenarnya ibuku hanya masuk 1 kali seminggu karena ibuku takut aku juga menjadi Vampir?"
"Benar? Kupikir alasanya bukan hanya bawang putih saja yang dia benci tapi darahmu membuat ibumu tergoda,"
"Yang benar saja....Tapi kenapa ibuku Vampir sedangkan aku tidak!!!"
"Mungkin kamu lahir sebelum ibumu menjadi Vampir,"
"Aghs...ini membuatku bingung dan pusing," kata Rangga kepusingan.
"Sampai disini saja aku ingin pergi....ingat jangan keluar dari rumahmu meskipun jendelamu terbuka karena aku. Kuncilah sendiri."
"Tunggu.....siapa namamu?"
"Aku tidak punya nama padahal umurku sudah 100 tahun,"
"Hahaha...aku akan memberimu nama. Bagaimana kalau namamu adalah...."
"Nanti saja aku akan kembali, sampai jumpa," kata Peri itu lalu terbang keluar melalui jendela Rangga
Rangga mengunci sendiri jendelanya dengan tali lalu kembali ke tempat tidurnya.
"What....katanya tadi dia hidup 100 tahun dan dia juga tidak punya nama. Yang benar saja cantik cantik kok umurnya udah 100 tahun." Batin Rangga lalu mengambil buku yang ingin dia baca. Judul buku Novel yang Arga baca adalah "Please Love Me"
Rangga membaca buku itu sampai pagi, "Wah membaca buku ini membuatku ingin rasanya pacaran tapi dengan siapa yah," Rangga tiba-tiba kepikiran gadis itu, "yang benar saja sih mana ada manusia jatuh cinta dengan peri hutan," kata Rangga. "Aku harus tidur mataku sudah kecandauan Novel. Andaikan aku ada di perkotaan mungkin aku sudah menjadi penulis Novel," Zzzzz.
Keesokan harinya di pagi hari Rangga habis Olahraga da sarapan pagi lalu Rangga mulai menulis Novel dibukunya dengan judul 'Tampan Tapi Single'.
"Tampan Tapi Single, ini sedikit sama dengan kisahku," kata Rangga tiba-tiba memikirkan Gadis itu lagi. "Aghs, andaikan dia bukan Peri. Aku pasti membawanya kabur dan keluar dari desa ini,"
Beberapa menit kemudian Topi Rangga bergerak sendiri di depanya dan mebuat Rangga terkejut dan ketakutan.
"Ups Topiku bergerak sendiri. Apa di kamarku baru saja ada hantu? Mana ada hantu dipagi bolong," kata Rangga lalu mengambil Topinya ternyata si peri itu.
"Aku tidak mendengar suaramu kembalilah menjadi besar seperti semalam,"
Peri itu berubah menjadi besar seperti manusia, "Tada...kamu pasti kaget kan?"
"Tentu saja. Kupikir dikamarku ada hantu ternyata itu kamu yang sedang sembunyi di kamarku,"
"Haha kamu tidak usah takut deh wajahku cantik kan tidak seram kok,"
"Kamu cantik bak bidadari." Batin Rangga. "Kamu lebih seram daripada hantu,"
"Aghs kamu bohong deh, hah mmm aku ingin ngomong sesuatu sama kamu?"
"Apa?" Tanya Rangga lalu minum.
"Kamu sangat tampan dan aku....begitu sangaaat menyukaimu,"
Uhuk uhuk..."Apa...tentu saja aku tampan dan aku begitu percaya diri. Mmm aku nggak sama sekali tertarik sama kamu,"
"Hiks terus tipe wanita yang kamu suka itu apa?"
"Hah ohiya aku suka tipe wanita uang sopan, cantik, baik, penurut, dan juga pintar yang paling utama itu aku suka wanita yang sama dengan hobiku,"
"Memangnya apa hobimu? Membaca buku?" Tanya Peri itu sepertinya ingin menjadi tipe ideal yang baru saja disebut Rangga barusan.
"Membaca buku termasuk hobiku tapi masih ada satu,"
"Apa itu?" Tanya peri itu sangat penasaran dengan hobi kedua Rangga.
"Kamu nggak usah tahu deh,"
"Ayolah kamu pelit banget sih tentang hobi saja dirahasiakan hisk, sombong kamutuh,"
"Baiklah hobi keduaku itu kamu bisa tebak gampang banget deh, itu berpasangan dengan hobi pertamaku m, tebaklah gampang kok. Masa kamu nggak tahu,"
Peri itu berpikir keras selama 5 menit sambil memegang pensil, "Hiks.... apa sih susah deh tanya aja doang,"
"Biar gitu aja tidak bisa,"
Peri itu langsung mendekati Rangga lalu mencium jidatnya 10 detik lalu bisa mengetahui hobi kedua Rangga.
Rangga mendorong si Peri itu dan tidak sengaja memegang dada Peri itu, "Hah ngapain kamu, berani-berani cium jidat aku. Mau mati yah," Rangga kesal.
"Haaaaaaa....kamu mesum banget." Kata Peri itu begitu wajahnya jadi memerah dan malu.
"Apa kamu bilang aku mesum. Maksud kamu apa sih,"
"Kamu tadi baru saja menyentuh dadaku kampret, mau kusihir yah jadi cicak,"
"Hah aku nggak menyentuhnya ****, kamu itu apasih,"
"Udah....lupakan aja deh," kata Peri itu wajahnya berhenti jadi malu.
"Aduh aku benar nggak sengaja kejadian itu tadi aghs," Batin Rangga pura-pura tidak tahu dan tidak ingat. "Bagaimana tadi kamu sudah tahu hobi keduaku?"
"Tentu saja berkat tadi...aku mencium jidatmu. Hobimu ternyata suka menulis cerita," senyum peri itu dan wajahnya sangat bahagia karena juga mengetahui kalau Rangga diam-diam menyukainya.
"Kok bahagia banget sih. Apa jangan-jangan kamu punya naluri semacam indera ke 6 atau kamu bisa membaca ingatan orang ketika menyentuhnya," kata Rangga begitu terkejut dan langsung menjauhi Peri itu.
"Iya bisa dibilang begitu the memorist. Mmn kalau begitu aku pergi dulu yah sampai jumpa besok dan jangan lupa siapkan nama untukku yang sangat cantik dan baik," kata peri itu berubah menjadi kecil lalu keluar dan pergi melalui jendela Rangga.