
Rangga membaca novelnya dengan judul My Girlfriend Is a Mermaid sampai tengah malam. Arga begitu sangat kagum membacanya sambil halu.
"Ini lebih melek daripada buku yang sebelumnya. Belum sampai setengah halaman aku membacanya mataku sudah merrem ingin tidur. Tidak aku harus membacanya sampai pagi.,"
Beberapa menit kemudian Rangga ketiduran dan tiba-tiba ada suara perempuan yang sedang menangis. Rangga terkejut dan langsung bangun ternyata si Anna peri itu datang lagi menganggu
Rangga yang barusan tidur.
"Selamat malam Rangga," ucap Anna ke Rangga membuat Rangga sedikit marah.
"Aduuh tidurku barusan nyenyak kamu malah datang lagi mengangguku,"
"Aku ingin memberitahumu sesuatu yang penting,"
"Besok aja. Ini kan udah malam. Izinkan aku tidur mataku jadi bengkak,"
"Baiklah. Bolehkah aku tidur di rumah mini itu yang kamu buat dari kardus,"
"Tidak boleh...emangnya kamu nggak punya rumah?"
"Tidak...aku tinggal di sarang burung kakatua. Aku serumah denganya dan akulah yang mengajar dia bicara,"
"Aduuh malah cerita panjang aja sih, kali ini aku izinkan kamu, aghs buat jengkel aja peri ini,"
"Benarkah....mmm terimah kasih. Kalau begitu selamat tidur semoga aku ada di mimpimu pria tampan,"
"Hey pada ngomong yang ngeles aja sih, Anna apa kamu menyukaiku atau rumah mini yang kubuat?"
"Aku menyukaimu Pria tampan," Anna akhirnya mengakuinya lalu berubah menjadi peri kecil dan masuk kerumah mini yang dibuat Rangrga dari kardus.
"Hah wajahnya memerah lagi. Yang benar saja nggak masuk akal jika aku jatuh cinta denganya di suatu hari nanti." Batin Rangga lalu tertidur.
Anna diam diam melihat Arga tidur tiba tiba Arga mendengkur dan membuat Anna jadi jijik melihatnya.
"Hah dia mendengkur, aku punya ide,"
Anna menggerakkan gelas yang berisi air melalui tongkat sihirnya lalu air itu mengarah ke mulut Rangga lalu meniriskan ke mulut Rangga dan membuat Rangga kecewa.
Slurr...suara air yang masuk ke mulut Rangga, "Argh Astgaaaa....Anna kamu jahil banget sih. Orang lagi tidur pada digituin mentang mentang kamu si peri yang pandai menyihir segalanya.
"Maaf pria tampan suara dengkurmu membuat tidurku tidak nyenyak,"
"Apa kamu bilang, aku tidak mendengar suaramu jika tubuhmu menjadi kecil,"
Anna terbang ke dekat telinga Arga lalu berkata di dekat tilinga Arga, "tampan tampan tidurnya membuatku jijik. Aku nggak jadi menginap disini daah sampai jumpa besok. Tutup jendelanya aku ingin keluar," kata Anna lalu kabur dari kamar Arga melalui jendela.
Arga beranjak dari tempat tidurnya lalu menutup pintu jendelanya lalu kembali tidur. "Yang benar saja tuh si Peri suka ngerjain manusia. Katanya dia yang mengajar kakatua berbicara, itu nggak masuk akal sama sekali." Zzzzzz.
Beberapa menit kemudian terdengar suara serigala dan manusia di dekat rumah Rangga. Rangga memutuskan untuk bangun dan melihatnya dari jendela ternyata ada sekumpulan vampir yang sedang membawa pisau dan bambu tajam.
Hoargh..."sepertinya disini ada aroma manusia." Kata Vampir itu sambil mengendus ke arah jendela Angga.
"Tuan kita harus mulai berjaga jaga di perbatasan desa kearah selatan karena tadi aku melihat ada banyak para pendaki," kata vampir itu ke dalangnya.
"Ayo kita mulai pergi dan jangan lupa bawa perangkap," kata dalang vampir itu lalu beranjak pergi dengan anak buahnya.
Rangga begitu sangat ketakutan dicampuri keringat dingin, "hah kurasa aku tidak bernapas sampai sekumpulan vampir itu pergi." Kata Rangga lalu kembali ke tempat tidurnya.
"Aghs aku jadi nggak bisa tidur, haruskah aku melanjutkan membaca novel lagi," Kata Rangga lalu membaca bukunya.
Beberapa menit kemudian, "aduuh aku jadi nggak enak membacanya setelah kejadian itu. Tidur susah juga. Apa yang harus kulakukan di tengah malam begini,"
Tiba-tiba Hujan turun dan sangat deras, Anna si peri itu datang dan masuk melalui jendela Rangga lalu menutupnya, "Rupanya kamu belum tidur juga yah,"
"Datang lagi dianya aghs. Ngapain malam-malam begini datang kerumah aku?" Tanya Rangga masih jengkel ke Anna gara-gara air itu.
"Jangan marah aku datang membawa berita penting bahwa malam ini para vampir itu, lagi-lagi akan menghabisi para pendaki itu,"
"Aku tahu...." Rangga santai saja mendengar berita Anna.
"Lalu kenapa kamu terlihat santai saja, apa kamu tidak kasihan ke pendaki itu?"
"Kenapa aku harus kasihan. Aku nggak peduli hah," kata Rangga memalingkan wajahnya dari Anna. "Pulang aja sana, jangan gangguin aku,"
"Aku nggak bisa terbang karena hujan turun.... jadi izinkan aku menetap disini. Mmm... aku janji tidak akan jahilin kamu. Maafkan aku yah!"
Rangga menarik nafasnya, "Baiklah aku maafin kamu. Jika di ulangi lagi aku bakalan tidak akan pernah mengajak kamu bicara lagi,"
"Baik terimah kasih, jadi....malam ini aku tidur di rumah mini itu yang kamu buat,"
"Baiklah sana...nama rumah mini itu Elf House atau Rumah peri,"
"Ap apa darimana kamu tahu kalau rumah Elf seperti ini?"
"Aku melihatnya di buku dongeng saat umurku 7 tahun. Buku itu judulnya The Ray Elf (peri cahaya) yang menceritakan seorang peri yang baik hati dan suka menolong dan juga sihirnya dipakai dengan baik dan benar saja. Tdak seperti kamu suka jahilin orang,"
Anna jadi tersinggung, "oh ya itukan dongeng jadi penulisnya membuat cerita yang penuh kebaikan agar kamu bisa menjadikan dongeng itu sebagai inspirasi. Yah kan? Agar kamu juga baik, dan bisa membantu orang itulah tujuanya,"
"Tentu saja setiap manusia itukan sudah tahu mana yang jahat dan baik. Ohiya kamu... tinggalnya di sarang burung kakatua kenapa tidak buat saja Rumah seperti yang aku buat. Apa kamu hanya santai saja dihidupmu,"
"Hahaha huh ngajak brantem nih orang tukang menang di ajak bersosialisasi....apa kamu bilang? Aku peri yang santai, hahah. Nanti aja yah, kamu akan lihat rumahku nanti di korea lebih bagus dari pada rumah mini ini yang kamu buat dari kartun. Rumahku lapis emas dan gede di tengah hutan tidak ada satupun manusia yang pernah datang disana,"
"Oke. Dah tidur gue malas bicara banyak." Zzzz
Akhirnya Rangga sudah bisa tidur setelah Anna datang. Beberapa jam kemudian Anna tidak bisa tidur di rumah peri itu yang dibuat Rangga karena Rangga mendengkur saking dengkurang lebih parah dari pada suara Vampir ketika marah,"
"Aduuh....," kata Anna lalu menutup telinganya. Zzzz
"Ibu...jangan tinggalkan akuuu," Kata Rangga di tidurnya membuat Anna terkejut.
"Apaitu tadi dia tidur masih bicara. Aghs tampan kok begitu sih. Tapi aku suka banget deh meskipun tidak mengungkap perasaanya kepadaku." Zzzz.