Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 56 - Bahagia Selamanya



Stefan sedang menikmati hari pertamanya sebagai seorang suami. Dipandanginya Raissa yang masih tertidur pulas disampingnya.


Raissa terkejut, saat terbangun, dilihatnya Stefan memandangi dia. Rasanya sedikit aneh, sekarang tidur bersama seseorang. Biasanya sendirian. Agak kikuk, bingung dan malu yang dirasakan Raissa.


"Rai, aku tidak akan menyentuhmu sebelum kamu siap. Tenang saja, aku hanya ingin memandangi wajah istriku saja." Ujar Stefan.


Raissa tersenyum mendengar ucapan Stefan. "Aku masih belum terbiasa ada laki-laki yang tidur disebelahku." Ucap Raissa.


"Dirumah sakit, aku sering menemani mu. Masih belum terbiasa?" Goda Stefan.


"Itukan berbeda, aku cuma bisa pasrah karena sakit." Protes Raissa.


"Bagaimana kalau kubuat dirimu pasrah seperti di rumah sakit?" Goda Stefan lagi.


Raissa langsung menutupi wajahnya dengan selimut. Pipinya kembali bersemu merah. Stefan tertawa melihat tingkahnya, segera dia bangun dan masuk ke kamar mandi untuk bersiap diri. Karena mereka akan mengantarkan mama Liana, Oma, Opa, mama Mira dan Ina ke bandara, mereka semua akan kembali ke Jakarta lebih dahulu. Sedangkan Thom sudah kembali ke jakarta dengan pesawat paling pagi.


Raissa masih rebahan di ranjang, ditatapnya langit-langit kamarnya. Dia merasa semuanya berjalan begitu cepat, bagaikan mimpi. Sekarang dia sudah sah menjadi istri Stefan Adhinata yang merupakan pengusaha muda yang sukses dan menjadi incaran para kaum hawa.


"Sayang, tolong ambilkan handuk. Tadi ketinggalan!" Seru Stefan dari kamar mandi.


Raissa langsung tegang mendengarnya, tapi dia tetap mengambil handuk yang diminta. Dengan hati-hati dia mengetuk pintu kamar mandi, saat dibuka pintunya. Raissa menyerahkannya sambil menutup mata, kemudian dia langsung mendorong kursi rodanya buru-buru keluar kamar.


Stefan tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang masih malu, dia kembali melanjutkan aktifitasnya di kamar mandi.


"Raissa, kamu sudah sarapan?" Tanya mamanya.


"Sudah, ma." Jawab Raissa.


"Muka kamu kenapa merah begitu? Kamu demam?" Tanya mamanya lagi, sambil menyentuh dahinya.


"Iih mama, apa sih? Rai baik-baik saja." Ujar Raissa.


"Ya udah, yuk kita sarapan dulu. Mama sudah selesai berkemasnya." Ajak Ibu Mira.


Kemudian Mereka berdua mulai sarapan, Ina segera menyusul mereka, setelah dia selesai berkemas. Tidak lama kemudian, Stefan keluar dari kamar dan langsung duduk di sebelah Raissa.


Raissa mulai menyiapkan sarapan untuk Stefan, dia mengambilkan beberapa potong roti yang sudah dia oleskan dengan butter. Susu hangat juga dituangkan oleh Raissa untuk Stefan.


Saat Raissa mau mengambilkan buah apel, Stefan yang meraihnya duluan. Dikupasnya apel itu, kemudian Stefan menaruhnya di piring Raissa.


"Kamu juga harus makan, jangan sibuk urusin diriku saja. Aku bisa ambil sendiri." Ujar Stefan dengan lembut. Dikecupnya kening Raissa. "Makan apel ini, biar kamu cepat pulih."


Ibu Mira melihat perlakuan Stefan ke putrinya, semakin dia merasa tenang meninggalkan Raissa bersama Stefan. Dia akan kembali ke Salatiga sementara waktu.


"Ma, tidak bisa menetap di Jakarta?" Tanya Stefan.


"Nak Stefan, mama sudah tua, tidak cocok dengan hiruk pikuk ibukota. Mama lebih nyaman di Salatiga, udaranya masih segar." Jawab Ibu Mira.


"Boleh kami main ke sana?" Tanya Stefan lagi.


"Tentu saja, tapi mama tinggalnya bersama adik mama. Rumahnya kecil. Semoga kamu nyaman." Jawab Mama.


"Pasti nyaman, ada Raissa dan mama."


Ibu Mira senang mendengar jawaban Stefan, dia menjadi semakin sayang dengan menantu satu-satunya ini.


"Perawat Ina, sementara kamu libur dulu dari tugas merawat Raissa. Nanti setelah kami ke Jakarta, kamu bisa pulang pergi ke rumah kami. Supir akan mengantar jemput." Ujar Stefan.


"Baik pak. Tapi tidak perlu kirim supir, saya lebih nyaman pulang dan pergi sendirian." Pinta Ina.


"Baik kalau itu keinginanmu." Kata Stefan menyetujui pintanya Ina.


Setelah mereka selesai sarapan, mereka semua bersiap berangkat ke Bandara. Tiba di Bandara, mereka bertemu dengan rombongan lain, yaitu Ibu Liana, Oma dan Opa. Dan selain mereka, ternyata Shawn, Alex dan Daniel juga hendak kembali ke Jakarta.


Ina melirik ke arah Shawn dan Alex, saat Shawn menyadarinya dan balik meliriknya, Ina secara refleks memalingkan wajahnya.


"Bro, sepanjang belum ada tanda-tanda dia menerima cintamu. Maka aku masih akan memperjuangkannya." Ujar Alex sambil berbisik ke Shawn.


Setelah itu Alex langsung menuju ke bagian check in, dia meminta kursinya disebelah penumpang yang bernama Ina.


Dari kejauhan, Alex memamerkan kemenangannya ke Shawn. Membuat Shawn menjadi geram melihatnya.


Raissa mulai menangis saat berpelukan dengan mamanya, Stefan menenangkan Raissa. Lalu mereka berpamitan dengan mama Liana, Oma dan Opa juga.


Shawn membantu Ina membawakan kopernya, sedangkan Alex cemburu melihatnya. Saat check in, mereka ternyata bersebelahan. Shawn senang mengetahui Ina duduk di sebelahnya. Tetapi dia bingung, Alex tadi bilang bahwa dia yang akan duduk disebelah Ina. Kenapa bisa jadi beda sekarang? Tapi Shawn tidak mau ambil pusing,dia menikmati waktunya bersama Ina. Perlahan-lahan, Ina mulai mau berbicara dengannya sambil menunggu tiba waktunya boarding.


Ibu Mira, Ibu Liana, Oma dan Opa duduk di kelas 1. Sedangkan yang lainnya duduk di kelas bisnis.


Sewaktu mereka mulai masuk ke dalam pesawat, Shawn melihat Alex duduk disebelah nenek-nenek yang sangat cerewet. Ternyata nenek tersebut bernama Ina Nuraini, telah terjadi kesalahpahaman. Alex cemberut melihat justru Shawn yang duduk di sebelah Ina. Shawn menjulurkan lidahnya menambah panas hati Alex, sedangkan Shawn tertawa puas melihatnya.


"Kamu kenapa ketawa-ketawa?" Celetuk Ina.


"Biasa, godain Alex." Jawab Shawn.


"Kalian sudah lama berteman?" Tanya Ina.


"Sejak Smp kami semua satu sekolah di Swiss." Jawab Shawn.


"Wah, beruntungnya bisa sekolah di luar negeri. Itu cita-citaku dahulu." Ujar Ina.


"Kenapa tidak jadi?"


"Tidak ada biaya, aku sibuk mengurus ke lima adikku. Ayah dan Ibuku sudah meninggal." Jawab Ina.


Shawn tertegun mendengarnya, betapa berat kehidupan Ina, sedangkan dia dengan mudah meraih yang dia inginkan. Dia bisa melihat Ina seorang wanita yang kuat, mandiri da penuh cinta kasih. Shawn semakin mengagumi Ina.


*****


Raissa dan Stefan menikmati makan malam berdua di restoran yang masuk kelas michellin bintang tiga.


"Sayang, bagaimana makanannya?" Tanya Stefan.


"Enak, tapi aku lagi kurang nafsu makan." Jawab Raissa.


"Kenapa? Memikirkan mama Mira?"


Raissa mengangguk pelan. "Aku masih kangen sama mama," ujar Raissa.


"Tunggu kamu sehat, kita akan menjengguknya. Sekarang jangan dulu, aku tidak mau mereka melihatmu duduk di kursi roda. Oh ya, bisa tidak pernikahan kita ini tidak diketahui siapa-siapa?" Kata Stefan.


"Menurutku lebih baik begitu, karena aku juga merasa ini terlalu cepat. Gita dan Mary Jane pun belum tahu akan hal ini." Kata Raissa.


"Aku rasa lebih aman bila tidak banyak yang tahu sementara ini, setidaknya sampai pelaku yang mengirim racun tertangkap." Ujar Stefan dengan nada khawatir.


"Aku percaya, kamu akan melindungiku bila ada yang berniat jahat lagi padaku."


"Aku akan menaruh pengawal khusus untuk mu." Kata Stefan.


"Itu terlalu berlebihan, sayang." Kata Raissa.


"Menurutku ini tidak berlebihan, karena sekarang kamu seorang nyonya Stefan Adhinata." Kata Stefan. "Sekarang, apakah Nyonya Stefan mau pulang?"


"Iya, aku agak lelah."


"Baiklah sayang, sepertinya ada yang mulai suka tidur ditemani sekarang." Goda Stefan.


Raissa langsung tersipu malu mendengarnya, Stefan semakin suka melihatnya. Stefan memanggil pelayan untuk membawakan tagihan.


Raissa dan Stefan menikmati waktu berdua mereka di Singapura, karena Lusa. Mereka akan kembali ke Jakarta.