
Sekretaris Mary jane mempersilahkan Raissa untuk masuk ke dalan ruangan. Raissa melihat Mary Jane sedang duduk bersama Damien.
"Selamat pagi," sapa Raissa.
"Selamat pagi, ini ada Damien. Mari duduk di sini." Balas Mary Jane.
Damien tersenyum melihat kedatangan Raissa, dan raissa balas senyum kepada Damien.
"Mari kita lanjutkan pembicaraan kita, ini Raissa sudah bergabung," Mary Jane berkata.
"Terima kasih MJ, jadi untuk kerjasama kita bisa berjalan mulus. Saya membutuhkan Raissa untuk lebih intens bertatap muka. Sehingga materi yang kalian inginkan, bisa saya berikan dengan maksimal. Di sini, saya hanya membantu memberikan pendapat, visi dan misi yang saya harapkan dapat diwujudkan. Hasil akhirnya kembali pada kalian. Saat presentasi tidak hanya saya yang mengambil keputusan, tapi jajaran direksi kami juga." Panjang lebar Stefan memberikan penjelasan.
"Raissa, tolong kamu yang maju dalam hal ini. Biar saya dan team yang bekerja keras di belakangmu." Pinta Mary Jane.
"Baik MaryJane." Kata Raissa menyanggupinya.
Sarah , seketaris Mary jane menghampiri mereka. Dan membisiki sesuatu ke mary jane.
"Okay, sekarang kalian bisa mulai membahas yang dibutuhkan. Mohon maaf, masih banyak pekerjaan, jadi tidak bisa menemani lagi." Mary Jane berpamitan sambil keluar ruangan diikuti oleh Ratna dibelakangnya.
Tinggalah Raissa dan Damien berdua di ruang itu.
"Mari kita pindah tempat, lebih nyaman kalau sambil minum atau makan sesuatu." Ajak Damien.
"Saya sekarang ada urusan sebentar, apakah bisa kita ketemuan lagi siang ini? Jam lunch?" Tanya Raissa.
"Boleh, no problem. Sementara saya akan menunggu di Coffeeshop di lobby sini." Kata Damien.
*******
Raissa masuk ke ruang meeting, di sana sudah menunggu team internal yang sudah dibentuk sebelumnya.
"Selamat pagi semuanya, maaf saya tadi dipanggil ibu Mary Jane sebentar. Mari kita mulai rapat hari ini." Sapa Raissa.
" kami sudah menjalankan hasil meeting sebelumnya." Lapor Ajun
"Dan bagaimana progresnya?"
"Cukup baik, masih dalam track yang wajar." Jawab Keiko
"Ada kendala?"
"Ada!" Sahut Ezo.
"Ya, kendala apa?" Tanya Raissa.
"Divisi jual beli rumah dan mobil kesulitan menaikan viewer dan penggunanya, karena keadaan yang resesi dunia juga."
"Perlu dihilangkan divisi itu?" Tanya Maya.
Raissa diam sejenak, jarinya mengetuk-ngetuk meja. Dia berpikir keras.
"Kita bikin event untuk menarik peminat."
"Event off air?"
"On air dan off air, kita manfaatkan social media untuk mengikuti secara online. Dan buat keramaian di event off air."
" bikin acara family concept. Ada hiburan untuk anak-anak, game show, kuliner dan pertunjukan musik. Ajak partner jual kita untuk berpartisipasi. Kita berikan space buat mereka, sehingga bisa mempromosikan."
"Ide bagus, kita harus jemput bola."
"Okay, berikan ide ini ke divisi humas. Biar mereka yang persiapkan acaranya. Maya dan Ezo kalian supervisi saja "
"Baik boss" dengan kompak Maya dan Ezo mengucapkannya.
"Eh, ngikut-ngikut saja," protes Maya.
"Kamu kali." Balas Ezo
"Kamu," ketus Maya lagi
Akhirnya mereka berdua cemberut dan kompak melihat tangan. Membuat yang lain tertawa geli melihatnya.
Selanjutnya Raissa mendengar laporan dari bagian IT, Raissa puas dengan progres minggu ini. Tidak banyak yang harus direvisi, semua berjalan dengan baik.
"Baik rekan-rekan semuanya, meeting kita akhirin. Bila kita tracknya bagus, pengguna portal kita bisa melonjak 3x lipat." Ujar Raissa dengan nada puas.
Tepuk tangan serempak menambah semangat dan juga kekompakan. Team internal ini tidak pernah mengecewakan Raissa, berbagai proyek sudah mereka selesaikan bersama.
"Okay, kita tutup meeting ini. Mari kita kembali ke tempat masing-masing. Isabel, kamu tolong di sini dulu." Kata Raissa mengakhiri meetingnya. Satu persatu dari mereka keluar dari ruang meeting.
"Ada yang bisa saya bantu, bu Raissa? " tanya Isabel.
"Tolong kamu booking kan tempat buat meeting lunch saya. Tempatnya yang tidak berisik. Untuk 2 orang."
"Ada tempat "Resto Ibu", mau bu? Menunya rumahan, tempatnya nyaman tidak terlalu ramai." Usul Isabel.
"Ok, boleh. Terima kasih."
Isabel langsung beranjak keluar ruangan, untuk menjalankan tugasnya. Raissa tetap berada di ruang meeting, sepanjang hari kata-kata Stefan terngiang-ngiang terus di dalam pikirannya.
"Haaa...." raissa menarik nafas panjang.
Dia akhirnya keluar dari ruang meeting menuju tempat lift. Tidak lama, Raissa masuk ke dalam lift. Saat lift mulai bergerak turun, ada hentakan tiba-tiba. Lift berhenti. Raissa panik. Karena dia sendirian di dalam lift. Dia berusaha hubungi operator lift, tidak ada yang merespond. Dia berusaha hubungi isabel, dia mencari-cari telepon genggamnya.
"******, ketinggalan di ruang meeting!" Seru Raissa sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Bodoh, bodoh, ini karena nggak fokus jadi begini." Geram Raissa pada dirinya sendiri.
Raissa berusaha minta bantuan. Dia pukul-pukul pintu lift sambil berteriak minta tolong. Tangannya mulai merah dan sakit. Tidak ada yang merespon. Raissa terus menekan tombol bantuan, berharap ada yang bisa membantu.
"Operator di sini, ada masalah?" Akhirnya ada respond dari pihak operator lift.
"Ya, mas. Lift ini macet. Saya terjebak."
"Tunggu sebentar, saya hanya operator, saya hubungi team teknisi kami di kantor pusat. Ibu ada di lantai berapa?"
"Lantai 10."
"Baik bu."
Raissa duduk di lantai, sambil berdoa untuk segera diselamatkan. Kakinya terasa lemas, dan pandangannya mulai kabur.
Di luar gedung, Stefan berusaha hubungi Raissa berkali-kali. Dia ingin mengajak Raissa makan siang bersamanya. Tapi tidak diangkat. Stefan jadi semakin takut, Raissa menghindar dari dia. Setelah 8 kali mencoba hubungi nomor Raissa, ada yang mengangkat.
"Maaf ibu Raissa tidak ada di tempat, telepon ini tertinggal di ruang meeting," kata Isabel.
"Kamu siapa?" Tanya Stefan.
"Saya sekretarisnya Ibu Raissa, nama saya isabel. Ada pesan pak? Biar nanti saya sampaikan ke beliau," kata Isabel.
"Tolong bilangin dia untuk.....," belum selesai Stefan menyelesaikan pesannya. Terdengar suara Isabel yang panik dan menyebut raissa terjebak di lift.
"Lift apa? Coba jelaskan!?" Teriak Stefan karena panik.
"Hhm. Anu pak.. lift kantor, ibu Raissa terjebak di lantai 10. Tapi teknisi belum datang...." penjelasan Isabel belum selesai. Stefan langsung menutup telepon.
"Pintu darurat dimana?" Tanya Stefan dengan panik ke resepsionis.
"Di sana pak." Resepsionis itu menjawab sambil menunjukan arahnya. Dia heran belum pernah yang datang menanyakan pintu darurat. Dilihatnya Stefan berlari mengikuti arah yg ditunjuknya tadi.
Stefan terus berlari lewat tangga darurat mencapai lantai 10. Dia mendengar suara teriakan Raissa semakin lemah.
"Bertahan Raissa, bantuan segera datang." Kata Stefan dengan nafas tersengal sengal, tapi dia tetap berusaha menenangkan Raissa.
Di dalam lift, Raissa mendengar suara stefan. Terkejut dia, tapi dia menjadi lebih kuat dan tenang.
"Tarik nafas yang panjang, jangan takut, aku di sini." Ujar Stefan lagi. Keringatnya bercucuran, tapi dia tidak pedulikan
"Stefan, kamu kok bisa ada di sini?" Tanya Raissa
"Tidak usah dibahas, kamu fokus dengan pernafasan kamu. Tenangin pikiran. Relax. Aku disini menemanimu sampai petugas datang." Kata Stefan lagi.
Raissa mulai tenang dan mencoba mengikuti saran dari Stefan. Dia merasa terhibur dengan hadirnya Stefan dibalik pintu lift. Rasa paniknya berangsur menghilang
Maya dan Keiko ikut menghampiri Stefan, tidak lama disusul oleh Ezo dan Mike. Mereka semua panik begitu mendengar Isabel terjebak di lift.
"Sudah berapa lama dia?" Tanya Mike.
"Kata Isabel sudah 30 - 40 menit." Jawab Maya.
Isabel akhirnya ikut bergabung di lantai 10, dia sibuk menghubungi teknisi lift yang ada di kantor pusatnya. Butuh waktu untuk mencapai gedung kantor IC4U,karena jam makan siang, jalanan jadi padat.