Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 21 - Drama Alona



Alona sepanjang acara berusaha mendekati diri ke Stefan, tetapi Stefan tidak menggubrisnya. Alona semakin marah, dia begitu cemburu melihat Raissa diperhatikan oleh Dakien dan juga Stefan.


Saat Raissa mau minum, Alona dengan sengaja menyenggolnya, saat dia berpura-pura hendak mengajak ngobrol Damien. Hal ini membuat Raissa menumpahkan minumannya ke gaunnya. Terburu-buru Raissa berjalan menuju restroom, Alona diam-diam mengikutinya.


Di restroom, ada dua orang yang sedang menunggu giliran masuk ke kubikel toilet. Raissa langsung menuju ke wastafel. Dia berusaha menghilangkan noda sebisanya.


"Kenapa Toilet ini jadi bau? Ooh ternyata ada perempuan kampungan di sini," kata Alona penuh nyinyiran.


Raissa tidak menggubrisnya, walaupun hatinya mulai panas. Tapi dia tidak mau terpengaruh dengan provokasi yang dilakukan Alona.


"Hey, kamu bisu, tuli atau buta? Kamu itu bukan levelnya berada di pesta ini. Cocoknya kamu itu jadi keset," Alona terus melakukan serangan ke Raissa .


Tamu lain yang ada di restroom terkejut mendengarnya. Salah seorang di sana menegur Alona, tapi alona tidak peduli


"Nona,mohon jangan buat keributan di sini." Tegur seorang wanita dengan nada tegas.


"Loh, apa salah saya. Saya cuma mengucapkan fakta. Wanita itu tidak layak berada di acara besar seperti ini. Palingan dia hanya wanita escort yang gampang diajak tidur." Kata Alona semakin nyinyir.


Raissa sudah mulai mau naik pitam mendengarnya, karena ini berkaitan harga dirinya. Dia bukan wanita murahan. Tapi pundak Raissa ditahan oleh wanita yang tadi menegur Alona.


"Jangan digubris, buang waktu saja," bisik wanita itu.


Raissa jadi terdiam, menuruti perkataan wanita itu.


Diluar Stefan melihat Raissa masuk ke restroom, dia berusaha menemui Raissa. Sehingga Stefan menunggu di luar restroom.


Akhirnya Raissa hendak keluar restroom, saat dia sudah berada di pintu restroom. Gaun Raissa diinjak oleh Alona. Sehingga sedikit robek dibagian belakangnya, Raissa hampir terjatuh. Alona tadinya mau menendang kaki Raissa, melihat Stefan ada di luar Restroom. Langsung Alona menjatuhkan diri dan berteriak.


"Aaah....... kamu sengaja membuatku jatuh!" Teriak Alona sambil jatuh tersungkur.


Raissa bingung kenapa Alona menjadi terjatuh, secara reflek Raissa berusaha menolong Alona berdiri. Tapi ditepis tangan Raissa oleh Alona.


"Sayang, dia mau mencelakaiku. Lihat kakiku baru sembuh, dibuat terkilir lagi." Alona merajuk ke Stefan.


"Siapa yang bikin kamu jatuh?" Tanya Raissa heran.


"Kamu memang selalu iri padaku kan? Makanya kau buat aku jatuh," tuduh Alona.


Alona semakin merajuk manja kepada Stefan. Membuat siapapun yang melihatnya ingin mencibir.


"Sepertinya pacar anda ini, pemain sinetron ya pak Stefan," tegur seorang wanita.


Stefan menoleh ke arah wanita tersebut, dan dilihatnya ternyata ibu Milla Surodjo. CEO dari perusahaan kosmetik yang sangat terkenal, dan dia juga masih keturunan bangsawan dari keraton surakarta. Sekarang dia mulai berkecimpung di dunia politik, pengaruh dia cukup luas. Bila membuat dia tersinggung, bisa bermasalah ke depannya.


"Sayang, aku sudah dihina. Kenapa diam saja?!" Penuh Emosi Alona mendengar ucapan Ibu Milla.


"Maaf, bu. Lebih baik, hiraukan saja dia. Saya tidak ada urusan dalam hal ini," Stefan hanya mengucap itu dan langsung beranjak pergi. Dia tidak peduli untuk berada lebih lama di sana.


Alona semakin geram melihatnya, karena semua orang yang ada di sana mulai meninggalkannya. Pertunjukannya selesai. Dan dia merasa kalah lagi dari Raissa, dia semakin membenci Raissa. Alona berusaha menyusul langkah Stefan, tapi Stefan lebih cepat jalannya. Dalam sekejap Stefan menghilang dari pandangan Alona.


"Sayang, kamu kemana? Kaki masih sakit ini!" Teriak Alona mencoba mencari perhatian Stefan. Walaupun Alona berteriak-teriak, Stefan tidak menggubrisnya. Dibiarkannya Alona sendirian di sana.


Raissa berjalan bersama Ibu Milla kembali ke ruang acara.


"Terima kasih ya bu, sudah membantu saya." Ucap Raissa dengan santun.


"Tidak masalah, saya tidak suka saja dengan drama dan kebohongan. Saya lihat dia berusaha menjatuhkanmu, kenapa?" Tanya ibu Milla.


"Saya pun tidak tahu, bu. Mungkin dia memang tipe julid. Marah tidak jelas. Tidak apa-apa bu, saya tidak memikirkan hal kecil seperti ini," Jawab Raissa sambil tertawa kecil.


"Kita berkenalan secara resmi. Perkenalkan saya Milla Surodjo."


"Salam kenal ibu Milla, saya Raissa Amaira. Saya bekerja di perusahaan digital IC4U." Raissa mengucapkannya sambil memberikan kartu namanya.


"Senang berkenalan dengan mu juga, Raissa. Lain saya akan ajak lunch bersama."


"Suatu kehormatan bagi saya, mendapatkan undangan lunch dari ibu."


"Bisa saja kamu, nak. Baiklah kita kembali ke meja masing-masing. Acara sebentar lagi akan selesai."


"Baik, bu. Selamat malam." Raissa pamit ke ibu Milla dan langsung berjalan menuju Damien.


Damien memandang Raissa dari kejauhan, hatinya semakin berdebar. Aura Raissa begitu sempurna. Dandanannya tidak berlebihan, tapi tidak melunturkan kecantikan dia. Damien semakin ingin mengenal Raissa lebih jauh lagi.


"Maaf, aku terlalu lama di restroomnya." Raissa minta maaf kepada Damien.


"Tidak masalah, menunggu wanita cantik tidak pernah membosankan." Balas Damien sambil tersenyum.


"Gombal," kata Raissa dengan senyum simpul.


"Fakta," balas Damien sambil mengedipkan matanya.


"Oh ya, minta maaf baju ini sedikit rusak karena keteledoranku. Nanti ku coba bersihkan, baru ku kembalikan."


"Tidak usah khawatir," Damien menjawab dengan santai.


Sementara Stefan sedang memandangi Raissa dari kejauhan. Rasa cemburu dia semakin besar, dia memutuskan harus bergerak cepat sebelum Raissa direbut pria lain.


"Sayaaaaang....." suara Alona terdengar, membuat buyar lamunannya.


"Aargh, kenapa aku setuju mengajak dia? ini menjadi mimpi burukku, " keluh Stefan dalam hatinya. Dengan berat hati, dia menghampiri Alona.


"Ya, ada apa?" Tanya Stefan dengan nada dan muka datarnya.


"Kamu kenapa meninggalkanku di restroom tadi?"


"Kamu yang cari perkara, kenapa aku harus ikut campur. Ingat, kamu kuajak karena permintaan mamaku. Selain itu, tidak ada keinginanku bersamamu lebih lama lagi." Tegas Stefan.


"Kenapa Stefan? Aku kan calon istrimu."


"Berapa kali kubilang, tidak ada seorangpun yang bisa memaksaku menikah. Kecuali aku yang mau, walaupun itu mamaku. PAHAM!" Nada Stefan semakin keras.


Alona terkejut mendengarnya, hatinya berkecamuk. Di dalam pikirannya, dia semakin yakin Raissa sudah mengatakan hal buruk tentang dia ke Stefan. Dia semakin membenci Raissa.


"Tunggu saja pembalasanku, dasar wanita kampung," kata Alona dalam hati dengan nada penuh kebencian. "Stefan akan jadi milikku."


Stefan langsung berjalan keluar gedung menuju ke tempat Vallet. Alona mengikutinya dengan wajah cemberut.


Sambil menunggu mobil datang, stefan melirik Raissa yang baru tiba di tempat Vallet.


"Kenapa hatiku berdebar melihat dia saja?" Raissa semakin bingung dengan perasaan dan pikirannya. "Tidak, aku harus melupakannya. Dia sudah bersama dengan wanita itu."kata Raissa dalam hati, dia berusaha menghalau pikirannya tentang Stefan.


Mobil Stefan akhirnya datang, segera Stefan dan Alona memasuki mobil mewah itu. Raissa hanya bisa menatap saat mobil Stefan melaju dengan cepatnya.


"Mari nona Raissa, mobil sudah datang," tegur damien membuyarkan lamunan Raissa.


Mereka pun masuk ke dalam mobil lexus tersebut, tidak lama kemudian mobil itu melaju dengan anggunnya.