Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 41 - Janjiku Padamu



Raissa merasa kakinya masih tetap lemas, untuk berdiri saja dia tidak mampu. Raissa hampir menangis memikirkan dirinya sekarang lumpuh, bagaimana dia bisa bekerja? Sedangkan dia tulang punggung keluarga, walaupun hanya ibunya yang dia miliki. Dia bertekad untuk memberikan kebahagiaan bagi ibunya.


"Tidak, aku harus kuat. Aku bisa kembali normal lagi." Gumam Raissa untuk memompa semangatnya sembuh.


"Jangan terlalu memaksakan diri, pelan-pelan saja. Sembuh itu butuh proses, Mama yakin kamu bisa." Ujar mamanya.


"Iya ma."


"Rai, kamu dengan Stefan sudah serius hubungannya?" Tanya mama.


"Rai sendiri masih ragu." Jawab Raissa


"Kenapa? Dia tidak baik?"


"Dia sangat baik, malah terlalu memanjakan Raissa."


"Lalu kenapa masih ragu?"


"Rai tidak mau patah hati lagi, Rai harus tahu diri. Dia dari keluarga kelas Atas, kita bukan." Ujar Rai mengungkapkan keraguannya.


Stefan saat masuk ke kamar Raissa dia mendengar ucapan Raissa, langsung dia menghampiri mereka. Raissa terkejut melihat kehadiran Stefan tiba-tiba di kamar itu. Ada sedikit rasa panik dan juga malu yang dirasakan Raissa.


"Raissa, Aku berjanji akan selalu mencintai dan menjagamu. Akan kubuktikan janjiku ini," ucap Stefan dengan sungguh-sungguh.


Raissa menarik nafas panjang. "Kamu yakin? Kami bukan kelas yang sama dengan keluargamu."


"Aku yakin seratus persen," jawab Stefan. "Di sini ada mamamu, dia yang akan jadi saksinya."


Ibu Mira menangis mendengar janji Stefan, dia berkata "Tolong bahagiakan dia, hanya dia satu-satunya yang berharga dalam hidup tante."


"Iya tante, pegang janjiku ini." Kata Stefan sungguh-sungguh.


"Bagaimana denganmu nak?" Tanya mamanya kepada Raissa.


Raissa hanya mengangguk saja sambil tersenyum, tidak berkata apa-apa lagi. Stefan langsung memeluknya.


"Tante sudah makan? Tadi Stefan makan siang dengan Oma dan Opa. Suka dengan kiriman makanannya?" Tanya Stefan.


"Suka, enak sekali. Tadi dibuatkan nasi uduk. Raissa juga tadi ikut mengicipnya, kata dia bosan makanan Rumah sakit." Jawab Tante Mira.


"Kamu harus jadi anak yang penurut, makanan rumah sakit sudah disesuaikan dengan kondisimu. Hambar ya?" Kata Stefan sambil mengelus-elus rambut Raissa.


"Iya hambar dan lembek terus nasinya," keluh Raissa.


"Yang sabar, kalau kamu menyelesaikan beberapa kali lagi fisioterapinya. Dokter bisa ijinkan kamu pulang." Kata Stefan berusaha menghibur Raissa.


Telepon Stefan berdering, dilihatnya nama Thom yang muncul. Segera Stefan keluar ruangan untuk menerima panggilan telepon tersebut.


"Dapat info apa, Thom?"


"Saya menemukan info tentang nyonyah Hannah. Dia adalah Istri dari pengusaha yang bernama bapak Haris Abimanyu yang telah meninggal karena kecelakaan pesawat terbang lima tahun yang lalu. Tetapi informan saya juga mengatakan bahwa Nyonyah Hannah adalah istri kedua, Istri pertamanya tidak diakui oleh keluarga besar. Bapak Haris memiliki dua orang putri. Anak dari Nyonyah Hannah bernama Thalita, dia bersuamikan seorang yang gila judi. Namanya Chandra. Untuk putri satunya lagi, tidak diketahui keberadaan dan namanya. Karena dia putri beliau dari istri pertamanya. Kemungkinan sudah meninggal, tapi ini belum terkonfirmasi secara pasti," Penjelasan Thom panjang lebar.


"Informan kamu bisa saya temui?" Tanya Stefan lagi.


"Sepertinya bisa bos, saya coba hubungi dia lagi. Segera saya kabari." Jawab Thom.


"Ok!" Kata Stefan sambil menutup sambungan telepon.


*****


Alona mengunjungi rumah Ibu Liana di Sentul, di perjalanan, dia mampir ke cibubur membelikan sate maranggi yang terkenal di sana.


"Satenya dibungkus mbak?" Tanya pelayan resto sate itu.


"Mbak? Emang saya sama dengan kamu? Panggil saya Nona Alona," Protes Alona


"Maaf mbak eh nona Alona, satenya mau dibungkus atau di makan di sini?" Tanya pelayan itu lagi.


"Iya dibungkus. Cepatan! Gerah di sini." Ketus Alona sambil memakai kipas angin mininya.


Teleponnya berdering, dengan malas Alona mengangkatnya.


"Halo, nona Alona. Sesuai perjanjian bila saya sudah menjalankan tugas, saya dibayar. Ini tadi saya cek belum masuk dananya!"


"Iya, nanti saya bayar. Belum tuntas juga kerjanya. Buktinya sudah 3 hari saya tidak tahu keberadaan Stefan dan Alona. Permintaan saya kan setiap hari terpantau!" Ketus Alona.


"Targetnya tidak terlihat lagi, bagaimana kami harus menjalankan tugas kami?"


"Mikir dong, masa tanya balik ke saya!?" Teriak Alona.


"Iya, nanti saya transfer! Cerewet!" Seru Alina sambil mematikan teleponnya. Wajahnya semakin merah, karena kesal ditagih terus.


"Nona, maaf mukanya merah kayaknya kena asap sate, berdirinya jauhan ke sana saja." Tegur pelayan resto.


"Issh, cepatan! Mana orderan saya?!"


"Ini nona, sudah siap 250 tusuk. Sambalnya sudah dipisah. Bayarnya silahkan di kasir."


"Hmmm"


Alona setelah membayar tagihan makanan langsung mengambil bungkusan itu secara kasar. Membuat pelayan di sana, geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.


Di mobil, dia langsung melajukan mobilnya menuju sentul, dengan kecepatan cukup tinggi. Tidak sampai setengah jam, Alona tiba di rumah Ibu Liana di Sentul.


"Tante dimana?" Tanya Alona ke pelayan rumah.


"Di teras dekat kolam renang."


Aloba langsung menuju ke kolam renang, dilihatnya Ibu Liana sedang asyik membaca buku.


"Selamat sore, tanteku yang cantik." Sapa Alona dengan ramah.


"Loh Alona, tumben main ke sini. Ada apa?" Tanya Ibu Liana dengan heran. Terkejut dia melihat kedatangan Aloba di rumahnya.


"Kangen sama tante." Jawab Alona dengan nada manja.


"Kamu itu ya, selalu bikin tante senang."


"Iya dong, Alona kan sayang sama tante. Ini Alona bawain Sate Maranggi kesukaan tante." Ujar Alona sambil menyerahkan bungkusan sate.


"Aduh, kamu datang saja tante sudah senang. Ini repot-repot bawa bungkusan begini. Kita makan malam bareng ya di sini."


"Iya tante." Jawab Alona dengan senyum manisnya.


"Oh ya Tante, Stefan dimana? Sudah lama Alona tidak melihatnya." Tanya Alona penuh selidik.


"Oh dia sedang di…," belum selesai Ibu Liana menjawab, ada yang muncul di hadapan mereka.


"Stefan di Bali," celetuk Oma tiba-tiba ikut bergabung duduk di sana.


Ibu Liana heran, kenapa Oma menjawab di Bali padahal bukan. Tapi dia tidak berani membantah, bagaimanapun Oma itu nyonyah besar di keluarga Adhinata. Dan dia hanyalah seorang menantu Adhinata. Tapi wajah Ibu Liana terlihat sedikit kesal dengan kedatangan Oma.


"Eh ada Oma, apa kabar Oma? Opa mana?" Tanya Alona dengan Ramah.


"Baik, Opa sedang istirahat di kamar." Jawab Oma.


"Stefan lagi sibuk apa di Bali?" Tanya Alona lagi.


"Property Adhinata banyak juga di sana, jadi banyak yang Stefan kerjakan di sana." Jawab Oma.


"Wanita kamp…ehh .. maksudku Raissa ikut juga ke sana, Oma?"


"Iya, kenapa kamu tanya-tanya terus?" Tanya balik Oma ke Alona.


"Eh ti..tidak kenapa-napa, hanya bertanya saja. Sudah lama tidak melihat mereka." Jawab Alona gugup. Dia selalu tidak nyaman bila ada Oma di dekatnya. Oma itu susah didekati menurut Alona.


"Ini bungkusan apa?" Tanya Oma menunjuk bungkusan yang dibawa oleh Alona.


"Ini Sate Maranggi, ma. Alona yang bawa untuk kita." Jawab Ibu Liana.


"Oma juga suka sate Maranggi. Terima kasih Alona." Ujar Oma sambil tersenyum.


"Iya oma, semoga cocok dengan selera Oma dan Opa."


Mereka berbincang-bincang di teras belakang itu sampai tiba makan malam. Opa Wito akhirnya keluar dari kamarnya menjelang makan malam.


"Opa, ini ada Alona. Dia bawakan sate Maranggi. Mari kita makan bersama." Ajak Oma ke Opa.


"Halo Alona, sudah lama di sini?" Tanya Opa.


"Sejak tadi sore, Opa." Jawab Alona.


Mereka makan malam dengan santai, menikmati santap malamnya. Alona berusaha terlihat menikmati makan malamnya, tetapi di pikirannya, dia sedang mencari Alasan untuk bisa pulang secepatnya. Alona terpaksa harus berbasa-basi sepanjang makam malam, giginya sampai terasa kering karena banyak tersenyum dan tertawa.


"Demi dapat info Stefan dan wanita kampung itu, aku rela berlama-lama disini. Untung dapat info mereka di Bali. Enak sekali mereka berduaan terus di sana. Tapi apa mereka kabur dari orang-orangku? Berarti rencana kami terancam gagal dong?" Kata Alona di dalam pikirannya.


"Alona, dimakan satenya lagi. Masih banyak ini." Tegur Oma, membuat Alona kembali fokus ke makan malamnya.