
Keesokan harinya, Stefan tiba di kamar Raissa saat dia sedang menjalankan fisioterapinya. Raissa beberapa kali meringis tetapi dia tidak menyerah. Dia melawan rasa sakitnya.
Stefan semakin mengagumi karakter yang dimiliki Raissa, tidak pernah mengeluh dan selalu serius dalam menjalani apapun. Supaya tidak menganggu konsentrasi Raissa, Stefan memilih keluar ruangan. Kebetulan dokter Ivan datang berniat untuk memeriksa kondisi Raissa pagi itu.
"Selamat pagi pak Stefan." Sapa dokter Ivan.
"Selamat pagi dok, ada berita bagus atau bagaimana?" Tanya Stefan.
"Bisa dibilang bagus bisa dibilang buruk, tergantung melihat dari sisi mana." Jawab dokter Ivan.
"Maksudnya?"
"Kesehatan nona Raissa semakin membaik, jantungnya semakin kuat detaknya, tidak seperti sebelumnya," kata Dokter Ivan.
"Lalu?"
"Efek dari racun kemarin itu ada beberapa hal kemungkinan yang bisa terjadi, semoga tidak terjadi, yaitu sulit hamil dan kemungkinan kakinya lumpuh." Lanjut penjelasan dari Dokter Ivan.
Stefan yang mendengarnya menjadi shock, begitu parah efek yang bisa muncul. Bila bisa ditukar posisinya, lebih baik dia yang lumpuh daripada Raissa.
Dokter Ivan menepuk pundak Stefan. "Ini masih kemungkinan, sekarang kita harus menanamkan hal positif ke pasien. Sehingga hal terburuk tidak terjadi. Ok pak Stefan?" Ujar beliau.
"Iya dok, tolong hal ini jangan disampaikan ke siapapun. Cukup saya saja," pinta Stefan.
"Baik pak Stefan. Kalau begitu saya masuk ke dalam dulu memeriksa nona Raissa."
"Silahkan dok. Biar saya di sini saja." Ujar Stefan.
Dokter Ivan didampingi Perawat Ayu memasuki kamar Raissa, terdengar dokter Ivan menyapa pasien dengan ceria. Sehingga terasa adanya aura positif mengisi kamar Raissa.
Sedangkan di lorong , Stefan duduk dengan tatapan nanar. Banyak hal berkecamuk di dalam pikirannya. Seperti bagaimana karirnya Raissa bila dia lumpuh, dan bila dia menikah dengan Raissa dan tidak bisa memberikan keturunan,apa reaksi keluarganya. Apalagi dia anak tunggal.
Telepon dia berdering, ternyata Oma yang menghubungi dia. Segera dia mengangkatnya.
"Halo sayang, kamu di rumah sakit?" Tanya Oma.
"Betul Oma," jawab Stefan.
"Oma dan Opa sekarang sedang nenuju ke sana, kepulangan kami dipercepat. Oma mau menjenguk Raissa."
"Baik Oma, Stefan tunggu Oma di lobby sekarang."
"Jangan sekarang, sekitar 20 menit lagi saja. Masih agak jauh posisi kami sekarang."
"Baik Oma."
Oma menutup teleponnya setelahnya, Stefan memberitahu direktur rumah sakit bahwa Nyonyah besar Adhinata mau datang. Langsung semua jajaran petinggi rumah sakit turun menyambut kedatangannya.
Oma dan Opa tiba dirumah sakit, disambut oleh direktur Rumah Sakit.
"Apa kabar nyonyah?" Sapa bapak Direktur sambil menjabat tangan Oma.
"Kabar baik," jawab Oma dengan tersenyum.
Stefan memeluk Oma dan Opa dengan erat. Tanpa lebih lama lagi, mereka diiringi oleh beberapa orang dibelakangnya memasuki ke ruang lift.
"Pak Frans tolong perhatikan Raissa, berikan perawatan terbaik untuknya. Dia itu cucuku juga." Pesan Oma ke direktur Rumah Sakit.
"Siap nyonyah."
Di lantai 36,Oma meminta yang lain jangan ikut masuk. Cukup Oma,Opa dan Stefan yang masuk. Karena Oma tidak mau Raissa menjadi tidak nyaman, dengan datangnya segerombolan orang ke dalam kamarnya.
"Halo cucuku sayang,bagaimana keadaanmu?" Sapa Oma sewaktu melihat Raissa.
"Sudah lebih baik Oma," jawab Raissa.
"Kamu harus makan yang banyak, biar cepat pulih. Lagi pucat begini saja masih cantik. Pantesan cucuku tidak mau jauh-jauh dari kamu." Goda Oma sambil melirik Stefan.
Raissa dan Stefan menjadi tersipu malu bersamaan. Oma semakin senang melihatnya.
"Oma perkenalkan ini mamanya Raissa," ujar Stefan.
"Saya Mira, bu. Apa kabar?" Salam mamanya Raissa, sambil menjabat tangan Oma dan Opa.
"Baik, sangat baik. Raissa cantik ternyata menurun dari mamanya." Puji Oma."oh ya, ini suami saya, Wito. Panggil dia Opa juga cukup. Setuju kan sayang?"
Suasana menjadi ceria di kamar Raissa, semuanya tertawa. Membuat Raissa menjadi semangat untuk sembuh kembali.
"Oma tidak mau membuatmu capek, besok Oma datang lagi membawakan sup sarang burung, bagus untuk memulihkan staminamu. Kamu istirahat yang banyak, kami pamit dulu." Kata Oma.
"Terima kasih Oma dan Opa." Balas Raissa.
Ibu Mira ikut mengantar Oma dan Opa sampai di depan pintu.
Stefan mengajak Oma dan Opa makan siang di restaurant Hotel Athena yang berada di sebelah rumah sakit.
"Mau pesan apa Oma dan Opa?" Tanya Stefan. Saat mereka sudah duduk di restoran Samudra Mutiara.
"Opa kangen mie jawa, ada?" Tanya Opa
"Ada opa. Kalau oma?"
"Nasi goreng ayam saja." Jawab Oma.
Stefan memanggil pelayan restoran untuk mencatat orderan mereka. Setelah pelayan itu pergi Stefan, mulai mengajak pembicaraan serius kepada keduanya.
"Sebetulnya bagaimana kondisi sebenarnya?" Tanya Opa Wito.
"Cukup parah," jawab Stefan.
"Apa kata dokter?" Tanya Oma.
"Sebetulnya Raissa itu terkena racun, untungnya masih bisa diselamatkan nyawanya. Tetapi efek dari racun itu ada dua hal kemungkinan, lumpuh dan tidak bisa hamil." Kata Stefan dengan wajah terlihat sedih.
"Racun? Siapa yang melakukannya?" Tanya Oma.
"Belum tahu Oma, Stefan masih menyelidikinya. Tapi jenis racunnya sudah tahu." Jawab Stefan.
"Racun apa?" Tanya Opa Wito.
"Dari tanaman foxglove, digoxin kalau dalam dunia medis."
"Digoxin itu obat keras untuk penyakit jantung." Ujar Opa Wito.
"Betul Opa, tapi kita belum tahu jenis digoxin apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila Stefan sudah menemukan bukti yang lebih kuat siapa pelakunya, pasti Stefan kabari." Janji Stefan.
"Stefan, kamu seberapa besar rasa cinta kamu kepada Raissa?" Tanya Oma
"Tidak bisa diukur Oma, kalau bisa Stefan mengganti posisi Raissa, Stefan rela."
"Soal kelumpuhan dan dia tidak bisa hamil, menurut oma, itu tidak jadi masalah. Kenapa? Karena ini baru kemungkinan, Raissa bisa dikatakan pejuang sejati. Dia tipe pantang menyerah. Sekarang teknologi semakin canggih,kalian bisa melakukan bayi tabung atau cara lain." Ujar Oma panjang lebar.
"Jadi Oma setuju Stefan menikah dengan Raissa dalam kondisi apapun?" Tanya Stefan.
"Bila dia yang bisa membuatmu bahagia, nyaman dan merasa saling melengkapi. Kenapa tidak? Oma berikan restu untuk kalian." Jawab Oma dengan yakin.
"Terima kasih Oma." Kata Stefan sambil memeluk dan mencium pipi Oma.
"Memang Oma baru berkenalan saat kita makan malam kemarin, tetapi Raissa sudah memberikan kesan yang baik di hati Oma. Teringat Oma pertama kali berkenalan dengan keluarga Adhinata, tegang dan diremehkan. Lalu Oma tunjukan siapa oma sebenarnya, perlahan-lahan mereka menerima Oma." Kata Oma.
"Kalau Opa bagaimana?" Tanya Stefan.
"Opa hanya bisa mengamati saja, untuk hal ini, Opa tidak bisa memberikan suara. Hanya saja, Opa juga menyukai Raissa. Dia anak yang baik dan santun." Jawab Opa. "Bila butuh bantuan Opa untuk menyelidiki kasus racun ini, kabari Opa."
"Baik Opa. Berarti sekarang tinggal minta restu dari mama." Ujar Stefan.
Tidak lama kemudian, hidangan yang mereka pesan sudah tersaji di meja mereka. Terlihat sangat menggiurkan dengan aroma rempah khas Indonesianya tercium menggugah selera.
"Rindu Oma dengan masakan Indonesia, terutama nasi goreng!" Seru Oma.
"Kalau aku lebih ke masakan jawa," celetuk Opa.
"Bosan ya oma dan opa, di sana makanya keju melulu. Hahaha," gurau Stefan.
"Iya betul," jawab Oma dan Opa bersamaan. Setelah itu mereka semua tertawa bersama.
Mereka pun langsung menyantap hidangan tersebut sambil bincang-bincang santai dan sesekali terdengar canda dan tawa.