Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 50 - Ancaman Thalita



Stefan lega mendapatkan laporan dari Thom bahwa semua dokumen sudah ditandatangani Raissa tanpa dibaca dan ditanya-tanya. Karena dia tahu, Raissa akan marah bila tahu saham yang diberikan melebihi kesepakatan di awal.


"Ini baru sebagian kecil, yang akan kuberikan Raissa." Ujarnya dalam hati.


Terdengar suara ketukan pintu ruang kerjanya, masuklah Putri yang ingin mengabarkan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.


"Siapa dia?" Tanya Stefan.


"Dia memperkenalkan diri dengan nama Thalita Abimanyu." Jawab Putri.


"Hmmm…… Okay antarkan dia di ruang meeting, biar kutemui dia di sana saja." Perintah Stefan.


"Baik pak." Putri langsung keluar ruangan.


"Thalita… bagus juga dia justru yang mencariku. Kita lihat apa tujuan dia ke sini." Kata Stefan.


Stefan berjalan didampingi Putri dan Asisten dia satu lagi. Dilihatnya sosok yang bernama Thalita, berpakaian seperti wanita murahan. Dengan belahan dada yang ditonjolkan, wajahnya penuh dengan make up tebal seperti umumnya dandanan artis, tetap terlihat suntikan silikon dibibirnya dan juga hidungnya sudah dirombak lewat operasi plastik.


"Selamat Siang, ada keperluan apa anda datang mencari saya?" Tanya Stefan dengan nada dingin.


"Selamat Siang pak Stefan, bisa saya bicara berdua saja. Karena yang ingin saya sampaikan sangat privasi." Kata Thalita dengan suara yang dibuat semerdu mungkin.


"Maksudnya? Apa saya kenal anda?" Tanya Stefan dengan nada semakin dingin. Dia tidak suka diatur oleh wanita manapun, kecuali Raissa.


"Bu..bukan begitu, tapi yang ingin saya sampaikan sesuatu yang saya rasa tidak perlu ada yang tahu selain anda," Jawab Thalita dengan gugup.


Stefan memberi kode kepada putri dan asistennya untuk meninggalkan ruangan. Sehingga hanya ada Stefan dan Thalita di ruangan itu.


"Okay, saya kasih waktu 10 menit untuk anda menjelaskan maksud dan tujuan anda menemui saya." Kata Stefan dengan tegas, sambil melihat kearah jam tangannya.


"Perkenalkan saya Thalita Abimanyu, satu-satunya putri dari bapak Harry Abimanyu almarhum. Sesuai amanah dari kakek saya bahwa telah ada perjanjian antara dia dengan kakekmu, untuk menjodohkan keturunan mereka. Rencananya untuk anak-anak masing-masing, tetapi gagal. Karena kedua belah pihak hanya ada anak laki-laki. Sehingga perjanjian ini diteruskan ke garis cucu, yaitu saya dan kamu." Tutur Thalita panjang lebar.


"Jadi maksudnya saya harus menikah dengan kamu?"


"Iya," jawab Thalita dengan yakin dan percaya diri.


"Saya menolak dengan tegas, karena tidak ada bukti otentik. Bisa saja ini rekayasa dari mulut anda yang berharap bisa menjadi istri saya." Tolak Stefan dengan tegas.


"Tapi…" Thalita berusaha menjelaskannya.


"Maaf silahkan anda keluar dari sini, saya tidak berminat melanjutkan pembicaraan ini."


"Saya ingin kamu putus dengan Raissa," ujar Thalita tiba-tiba dengan emosi.


"Kenapa? Siapa anda?" Tanya Stefan. "Atas dasar apa saya harus putus dengan Raissa."


"Karena dia aib di keluarga saya. Dia anak haram, tidak pantas masuk ke keluarga Adhinata yang terhormat." Kata Thalita dengan nada mulai semakin emosi.


"Keluarga saya tidak mengganggap Raissa sebagai Aib, dia wanita hebat, cerdas, sempurna bagi saya." Balas Stefan.


Kata-kata Stefan, membuat Thalita semakin mendidih hatinya. Bibirnya digigit menahan rasa marahnya.


"Kata-kata kamu menghina Raissa, sama saja telah menghina saya. Berani menghadapi saya?!" Teriak Stefan ke Thalita.


"Saya hanya memberikan fakta sebenarnya, siapa itu Raissa. Dia hanyalah anak haram dari seorang ibu ******* yang merebut ayah saya dari ibu saya!" Seru Thalita dengan nada tinggi.


"Sekali lagi kamu menyebut dia anak haram, saya bisa menghilangkan aset yang kamu miliki dalam jentikan jari saya." Ancam Stefan.


"Baik, saya tidak takut dengan ancaman dari anda. Saya akan menjadi mimpi buruk bagi anda dan Raissa, anda akan menyesal membuat perkara dengan saya!" Ancam balik Thalita.


"Balik ancam? Silahkan anda keluar dari kantor saya, bila anda tidak beranjak juga, saya akan memanggil security untuk mengusir anda!" Seru Stefan dengan keras.


Thalita keluar dari ruangan itu, dengan wajah penuh emosi. Dia membanting pintu saat keluar ruangan.


"Panggil Security untuk mengawal dia keluar dari gedung ini, dan jangan kasih dia masuk lagi ke gedung ini." Perintah Stefan ke asistennya via intercom.


"Cuih, seenaknya mengaku-ngaku menjadi calon istri pilihan opaku. Maaf ya, Opaku bila masih hidup juga muak melihat mukanya yang penuh suntikan botox dimana-mana!"


*****


Raissa telah kembali ke hotel, dilihat ibunya sedang membaca buku di balkon.


"Hai ma, sudah makan?" Sapa Raissa.


"Yah, cukup menyenangkan. Aku istirahat dulu ya ma."


"Raissa, kapan kita kembali ke Indonesia? Lebih baik kita ke Salatiga saja." Kata Ibu Mira lagi.


"Aku juga tidak tahu, ma. Nanti kutanyakan Stefan dulu ya." Kata Raissa.


Raissa segera masuk ke kamarnya, dengan gerakannya terbatas, dia mulai bisa melangkah sedikit dikit dari kursi roda ke ranjang secara mandiri. Setelah dirasakan posisinya sudah nyaman di ranjang, raissa mencoba menghubungi Stefan.


"Halo Stefan, lagi sibuk kah?" Sapa Raissa.


"Halo Sayang, untukmu selalu ada waktu. Ada apa? Rindu?" Sapa Stefan sambil menggoda.


"Aku mau tanya sampai kapan kami di sini?"


"Kenapa? Tidak betah?" Tanya Stefan dengan lembut.


"Mama minta pulang ke Salatiga." Jawab Raissa.


"Tunggu aku kembali ke sana, asumsiku dua hari lagi aku sudah bisa ke Singapura."


"Baiklah. Kamu baik-baik saja disana?" Tanya Raissa.


"Aku tidak baik," jawab Stefan dengan memelas.


"Kamu sakit? Sudah minum obat?" Tanya Raissa dengan nada penuh khawatir.


"Obatnya lagi jauh, aku sakit rindu akut," jawab Stefan dengan tertawa.


"Dasar! Kukira kamu benaran sakit." Protes Raissa.


"Bagaimana kita segera menikah saja?" Cetus Stefan tiba-tiba.


"Kamu bercanda?" Tanya Raissa.


"Tidak, aku sungguh-sungguh. Kita menikah disana saja, untuk pesta nanti setelah kamu sehat lagi. Tapi setidaknya aku bisa maksimal menjagamu."


"Hmmm, ini terlalu mendadak." Kata Raissa kebingungan menerima pertanyaan seperti itu.


"Tidak usah kamu jawab sekarang, tapi yang kusampaikan tidak bercanda." Ujar Stefan dengan sungguh-sungguh.


"Okay, biar kupikirkan dulu. Aku mau minta pendapat mama," kata Raissa.


"Okay Sayang, aku harus meeting lagi. Nanti malam kuhubungi lagi ya." Ujar Stefan sebelum memutuskan sambungan telepon.


Raissa masih bingung tiba-tiba Stefan mengajaknya menikah. Dia duduk termenung di ranjang.


*****


Stefan menghubungi Oma untuk memintanya ikut ke Singapura bersamanya. Dia mau Oma berhasil membujuk Raissa untuk mau menikah dengannya segera. Setelah pertemuannya dengan Thalita, dia semakin khawatir dengan keselamatan Raissa. Dia tidak mau kecolongan lagi, Raissa diserang saat tidak bersamanya. Lebih baik dia menikahi Raissa segera, sehingga bisa menjamin keselamatannya dengan lebih pasti. Karena Raissa akan tinggal bersamanya. Tapi ada keraguan mengenai mamanya, apakah setuju dengan rencana dia ini.


"Lebih baik, aku menghubungi Oma untuk meminta pendapatnya." Gumam Stefan. Segera dia menghubungi Oma.


"Halo Cucu kesayanganku," sapa Oma.


"Oma, aku butuh pendapat Oma. Bagaimana kalau aku menikahi Raissa di Singapura?" Tanya Stefan.


"HAH?! Kamu bercanda?" Terkejut Oma mendengarnya.


"Tidak Oma, aku sungguh-sungguh."


"Tapi ini terlalu terburu-buru." Protes Oma.


Stefan menceritakan tentang ancaman yang diucapkan oleh Thalita ke Oma. Sehingga Oma memahami alasan Stefan mengambil langkah ini.


"Okay, Oma mengerti sekarang. Kapan kamu mau ke Singapura?" Tanya Oma.


"Dua hari lagi," jawab Stefan.


"Oma akan bicarakan ini ke mamamu. Nanti Oma kabari kamu segera."


"Terima kasih Oma," ujar Stefan dengan rasa syukur dia memiliki Oma yang selalu mendukung keinginan dia. Tapi dia tidak tahu reaksi mamanya, apakah menyetujui atau tidak.