
"Orang kalian sudah mendapatkan info tentang dimana Stefan dan wanita kampung itu?" Tanya Alona ke Nina dan Tessa.
"Tidak banyak, info dari orang dalam IC4U, Raissa sudah lama tidak terlihat di kantor karena mengambil cuti panjang." Kata Tessa.
"Hmmmm, kemarin kita lihat mereka naik ke pesawat SQ. Pasti mereka ke luar negeri. Tetapi bisa kemana saja. Apa mungkin mereka ke Swiss?" Ujar Alona berusaha menebak sendiri.
"Bisa jadi, tapi anehnya. Informanku mengatakan kemarin Stefan terlihat ada di kantornya." Kata Nina.
"Apa?? Kenapa tidak bilang? Jadi aku bisa ke kantornya. Aku sudah rindu sekali." Ujar Alona langsung semangat.
"Al,kamu menyimak tidak?" Tanya Nina.
"Menyimak, Stefan di jakarta." Jawab Alona.
"Tapi wanita itu tidak ada di Jakarta," ujar Nina.
"Biarkan saja, makin bagus wanita kampungan itu tidak ada di Jakarta." Kata Alona seenaknya. "Kalau begitu, aku mau ke kantornya Stefan sekarang. Kalian mau ikut?"
"Boleh," jawab Nina dan Tessa bersamaan.
Segera mereka berangkat menuju gedung kantor AD0, sepanjang perjalanan, Alona merasa mual secara tiba-tiba. Dia minta untuk dibelikan obat maag, Alona berasumsi dia mual karena telat makan. Akhirnya ditengah perjalanan, mereka mampir ke restoran tidak jauh dari kantor Stefan.
Mereka masuk ke dalam restoran yang cukup ramai dengan pengunjung, kebetulan bertepatan dengan jam makan siang.
"Mau pesan apa?" Tanya Alona ke teman-temannya.
"Apa saja, kita ikut." Jawab Tessa.
Alona memanggil pelayan restoran dan memesan beberapa menu makanan. Saat sedang menunggu orderannya datang, terdengar percakapan dari meja sebelah.
"Kamu tahu tidak kalau pak Stefan sudah memiliki tunangan?" Tanya seseorang di sana.
"Kudengar juga begitu, malah kudengar tunangannya pernah datang ke kantor pak Stefan dan berteriak-teriak, karena tidak diijinin masuk oleh pak Stefan." Ucap temannya.
"Tapi info yang kudengar, bukan dia tunangannya. Tetapi nona Raissa dari IC4U. Pak Stefan sering mendampingi dia. Bahkan pak Stefan pernah tidak ke kantor karena harus merawat nona Raissa dirumah sakit." Ujar temannya yang satu lagi.
"Nona Raissa baru cocok menjadi tunangannya, dia cantik, pintar dan santun tutur katanya. Sepertinya nona yang satu lagi, hanya mengaku-ngaku saja."
Alona yang mendengarnya langsung panas, ingin dia langsung menghardik dan menampar kedua wanita tersebut. Tetapi Nina dan Tessa mencegahnya.
"Al, ini tempat umum. Jangan buat keributan. Bila kamu memukulnya, banyak yang videoin kamu, lalu viral di media sosial bagaimana rencana kamu untuk menjatuhkan citra Wanita kampungan itu." Bujuk Nina.
"Iya Alona, jangan buat keributan. Yang menang bisa wanita kampungan itu, kamu mau itu yang terjadi?" Kata Tessa.
Alona langsung menarik nafas panjang, walaupun wajahnya masih merenggut dan tangannya mengepal keras.
Pelayan restoran datang membawakan menu makanan yang telah dipesan. Alona langsung melahap makanan itu tanpa menunggu lebih lama lagi.
Nina dan Tessa agak heran melihat nafsu makannya Alona berbeda dari biasanya. Sebelumnya Alona makan tidak banyak porsinya, dia sangat menjaga penampilannya. Tapi kali ini, dia makan dengan lahap.
"Mungkin karena emosi tadi ya?" Bisik Nina ke Tessa.
"Kayaknya." Jawab Tessa dengan berbisik juga.
Selesai makan, mereka melanjutkan lagi perjalanannya ke gedung AD0. Tiba di sana, Alona ditahan oleh pihak resepsionis.
"Selamat Siang, maaf ada keperluan apa datang ke kantor kami?" Sapa resepsionis itu dengan sopan dan ramah.
"Saya mau bertemu dengan tunangan saya," jawab Alona dengan bersikap angkuh.
"Maaf nona, siapa tunangannya?" Tanya Resepsionis itu lagi.
"Bos kamu, pak Stefan!" Jawab Alona dengan nada mulai meninggi.
"Maaf nona,pak Stefan tidak ada di kantor hari ini."
"Kamu jangan berbohong, saya tahu dia sudah kembali ke Jakarta!" Seru Alona.
"Maaf Nona, saya tidak berbohong. pak Stefan tidak ke kantor sejak dua hari yang lalu."
"Saya tidak percaya, kamu pembohong!" Teriak Alona."kulaporin ke Stefan,baru tahu rasa. Kamu akan dipecat karena berbohong, dasar pegawai bodoh !!!"
Suara keributan semakin intens disana, putri yang kebetulan baru kembali dari makan siang melihat keributan itu.
"Maaf saya Putri, asistennya bapak Stefan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Putri untuk menengahi keributan di meja resepsionis.
Alona baru berhenti berteriak setelah putri menghampiri mereka, dikibasnya rambut panjangnya sambil melirik ke arah Putri.
"Mohon maaf, pak Stefan sedang tidak kekantor sejak 2 hari yang lalu. Kemungkinan baru kembali 1 minggu lagi." Kata Putri dengan Sopan.
"Dia kemana?" Tanya Alona dengan ketus.
"Saya tidak tahu, beliau tidak bilang apa-apa. Maaf, nona siapa ya?"
"Saya tunangannya!" Seru Alona.
Semua yang ada di sekitar resepsionis langsung menggunjingkannya.
"Tidak percaya dia tunangannya bos, tingkahnya menyebalkan begitu," bisik seseorang disana.
"Betul, selera bos kita tidak murahan." Bisik yang lainnya.
Suasana semakin panas di sana, banyak mata yang melihat mereka bertiga dengan tatapan yang tidak menyenangkan.
Nina dan Tessa melihat semakin banyak orang yang menggunjingkan mereka, jadi merasa risih. Mereka berdua membujuk Alona untuk pergi dari situ. Awalnya Alona berontak, sehingga nina dan tessa menarik kedua tangannya, setengah menyeret Alona untuk pergi.
"Bilang ke Stefan, aku mencarinya! Ingat ya nona Alona tunangannyaaaaa!" Teriak Alona ke Putri sambil dia terseret keluar sama Nina dan Tessa. Semua yang melihat hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalian kenapa menarikku!" Hardik Alona.
"Maaf sayang, suasananya tidak kondusif. Bila security datang, tentu akan membuat citramu tidak baik dimata mereka," ujar Nina.
"Aku tidak peduli!" Seru Alona.
"Bukannya kamu mau menjadi nyonya Stefan? Mereka itu kan anak buah Stefan. Kalau mereka melaporkan yang tidak-tidak ke Stefan, bagaimana?" Tanya Nina.
Alona akhirnya diam setelah mendengar kata-kata Nina. Walaupun dia masih marah, tapi tidak meledak-ledak seperti tadi. Setelah Alona sudah lebih tenang,mereka kembali ke mobil dan langsung meninggalkan gedung AD0.
*****
Thalita sedang menjalankan mani-pedicure di klinik kecantikannya. Masuklah Babon ke ruangannya.
"Lapor bos, Stefan menghilang sejak dua hari yang lalu. Di kantornya dan rumahnya tidak terlihat kehadirannya. Tetapi tadi di kantor ada keributan, ada seorang wanita yang mengaku sebagai tunangannya Stefan. " lapor Babon.
"Tunangan Stefan? Siapa dia?"
"Belum tahu, bos," jawab Babon
"Dasar bodoh! Cari tahu segera,kasih laporan jangan setengah-setengah!" Perintah Thalita.
"I..iya bos, sekarang?" Tanya Babon dengan ketakutan.
Thalita semakin geram melihat tingkah anak buahnya, dibentaknya Babon. "IYA SEKARANG!"
Teriakan Thalita, membuat petugas manicure tersentak mengakibatkan cat kuku yang sedang digunakan mencoret diluar kuku Thalita.
"Dasar bodoh! Itu cat kuku mahal!!" Maki Thalita."kupotong gaji kamu!"
Petugas tersebut ketakutan, dia berusaha memperbaiki kesalahannya tadi dengan gemetaran.
"Kamu kenapa masih disini!" Tegur Thalita.
"Jadi saya pergi sekarang, bos?" Tanya Babon.
Thalita semakin sakit kepala dibuat Babon. Melihat wajah bosnya berubah mengerikan, Babon langsung kabur keluar ruangan.
"Dasar sial, punya anak buah sebodoh itu ," keluh Thalita.
"Hey kamu, cepat selesaikan mani-pedicurenya. Aku mau pergi sebentar lagi!" Perintah Thalita dengan ketus.
"Iya bos, sebentar lagi."
"Cungkringgg, kemari!" Teriak Thalita.
"Siap, bos." Kata Cungkring
"Kamu sudah awasi terus IC4U? Ada orang dalam yang bisa kita suap untuk bisa masuk ke dalamnya?" Tanya Thalita dengan ketus.
"Ada bos, besok sepupu saya bisa mulai menjadi cleaning service di sana. Sehingga dia bisa Mengawasi keadaan IC4U dari dalam." Lapor Cungkring.
"Bagus, cari informasi sebanyak-banyak." Thalita puas dengan jawaban Cungkring.