
Selesai makan malam, Alona langsung pamit pulang segera. Di dalam mobil. Alona menghubungi Nina dan Tessa dalam group calling.
"Rencana kita masih berjalan baik kan?" Tanya Alona.
"Iya, laporannya begitu dari orang-orang yang kita bayar. Tapi mereka bilang kamu belum bayar lagi." Kata Nina.
"Iya, si cerewet itu menagih tadi sore. Nanti ku bayar, tapi kulihat Stefan dan wanita kampungan itu baik-baik saja hubungannya. Mereka sekarang ada di Bali."
" Bali? Lalu kita harus bagaimana?"
"Segera ke kita berangkat ke Bali. Tiket kubayarin semua."
"Kita bisa party juga tidak di sana?" Tanya Tessa.
"Bisa, tapi tujuan utama kita mencari tahu keberadaan mereka berdua."
"Siap sayang, jadi kapan kita berangkat?" Tanya Nina.
"Nanti kukabari lagi, biar kutelepon dulu agen tiketku."
"Ok sayang, muuaachh!"
*****
Ma, tadi kenapa kamu bilang Stefan ada di Bali? Bukannya Stefan ada di Jakarta." Tanya Ibu Liana ke ibu mertuanya.
Mereka sedang asyik nonton TV bersama setelah makan malam. Sejak tadi Sore, hal ini menjadi pikiran ibu Liana. Dia merasa tidak enak membohongi Alona.
"Kondisi Raissa tidak bagus, kita tidak bisa percayai siapapun saat ini. Lebih baik tidak ada yang tahu mereka ada dimana." Kata Oma.
"Tapi…"
"Jangan kamu ikut campur, ingat Liana posisimu!" Tegur Oma dengan keras. "Walaupun hubungan mu dengan Alona dan mamanya baik, tapi mereka bukan keluarga kita. Mereka tetap orang lain bagiku."
"Iya ma." Jawab ibu Liana. Dia tidak berani membantah ibu Mertuanya. "Kalau begitu aku pamit tidur duluan ya mama dan opa."
"Selamat istirahat, sayang." Kata Oma dan Opa bersamaan.
*****
Keesokan harinya Stefan berniat menanyakan kelanjutan program terapi Raissa ke dokter Ivan. Tapi Oma keburu mengabarkan bahwa dia sudah dekat dengan area Rumah Sakit, sesuai janji dia sebelumbya, dia membawakan Sup sarang burung untuk Raissa.
Turun dari mobil, Oma tetap disambut oleh pihak Rumah Sakit. Stefan menghampiri mereka, setelah menyapa mereka, Stefan ingin mengambil termos sup yang dibawa Oma. Tapi ditolak oleh Oma, dia bersikeras yang membawa sendiri Sup itu. Stefan pun menyerah, terkadang Oma itu sangat keras kepala bila keinginannya tidak terwujud. Sifat ini menurun ke Stefan.
"Selamat pagi cucuku yang cantik, ini sup sarang burung spesial untukmu." Sapa Oma saat sudah di kamar Raissa.
"Selamat pagi Oma, merepotkan Oma saja membawa sup pagi-pagi ke sini." Ujar Raissa.
"Kamu itu cucuku, jadi tidak ada kata merepotkan." Kata Oma sambil meletakan termos sup itu di meja. "Ini Oma yang masak sendiri, kamu harus menghabiskannya."
"Iya Oma, pasti enak sekali." Puji Raissa.
Stefan meninggalkan mereka untuk mencari dokter Ivan, didampingi oleh Opa. Dokter Ivan ternyata habis melakukan operasi, beliau sedang berada di ruangannya sekarang kata Perawat.
"Selamat pagi dok," sapa Stefan.
"Selamat pagi, silahkan masuk pak Stefan." Ujar dokter Ivan.
"Maaf dok, menganggu istirahatnya. Perkenalkan ini opa saya." Kata Stefan sambil memperkenalkan Opa kepada dokter.
"Tidak apa-apa. Salam kenal Opa," sambut dokter Ivan sambil menjabat tangan Opa. "Silahkan duduk."
"Dokter, saya ke sini mau menanyakan sesuatu terkait tentang terapi dan perkembangan Raissa."
"Silahkan."
"Apakah Raissa bisa berjalan lagi, menurut progres terapinya?" Tanya Stefan.
"Semangat sembuhnya tinggi, tetapi untuk bisa berjalan normal lagi butuh waktu yang sangat lama dan serangkaian terapi yang durasinya bisa bertahun-tahun." Penjelasan dokter Ivan.
"Jadi masih ada harapan? Walaupun prosesnya lama." Tanya Opa.
"Betul. Jangan patah semangat dan rajin berdoa. Manusia hanya bisa berusaha, tetapi ada yang lebih berhak memutuskannya." Ucap Dokter Ivan dengan bijak.
"Tidak masalah, itu bagus, pasien butuh liburan. Sehingga tidak jenuh dalam menjalankan proses penyembuhan." Jawab dokter Ivan.
"Ada rekomendasi dokter untuk di Singapura? Sehingga bila ada apa-apa kami bisa berkonsultasi di sana."
"Nanti saya kasih namanya, dia dokter terbaik di Asia setahu saya dalam menyembuhkan stroke dan juga kelumpuhan."
"Baik dok, terima kasih untuk bincang-bincangnya. Bila besok kami berangkat ke Singapura, bisakah dokter memberikan obat-obatan Raissa untuk 2 minggu ke depan?"
"Bisa, tenang saja nanti saya siapkan yang dibutuhkan." Jawab dokter Ivan.
Stefan dan Opa kembali ke ruangan Raissa, mereka langsung mengadakan rapat menindak lanjuti hasil diskusi dengan dokter Ivan.
"Oma setuju, sementara waktu kalian tinggal di Singapura. Sampai kita tahu siapa yang mengirim racun itu, keselamatan Raissa menjadi hal yang harus kita utamakan." Ujar Oma.
"Berapa lama kami harus disana?" Tanya Ibu Mira, ada sedikit khawatiran di raut wajahnya.
"Minimal dua minggu, tapi ini tergantung Raissa saja. Saya harap sih kita baru pulang, bila pelakunya sudah kita bekukan." Jawab Stefan.
"Coba tanyakan ke Raissa, dia nyamannya kemans?" Saran Opa.
"Benar juga, keputusan ada di tangan Raissa." Ujar Oma. "Raissa, kamu maunya bagaimana?"
"Kenapa harus ke Singapura? Aku hanya ingin pulang ke apartemenku saja." Kata Raissa.
"Oh tidak, sementara kamu harus menjauh dari apartemenmu. Karena kita belum menemukan pelaku yang mengirim racun itu. Apartemenmu itu menjadi tempat paling berbahaya akan keselamatanmu," Kata Oma.
"Kalau ke Salatiga, kampung halaman kami bagaimana?" tanya Raissa.
"Menurutku jangan, lebih baik kita ke Singapura. Teknologi dan rumah sakitnya sangat maju. Sehingga kita bisa melanjutkan perawatan yang sudah diatur oleh dokter Ivan." Kata Stefan.
"Ya sudah. Aku setuju ke Singapura. Tapi mamaku harus ikut." Akhirnya Raissa menyerah.
"Tentu saja, tante Mira harus diajak. Supaya kamu ada yang menemani. Aku hanya bisa tinggal di Singapura sementara waktu saja." Kata Stefan.
"Baiklah, kamu yang atur saja." Kata Raissa.
Stefan langsung mengatur segala yang dibutuhkan termasuk passport untuk tante Mira. Semuanya siap dengan sangat cepat.
Keesokan harinya, mereka sudah berada di Bandara Internasional Soekarno Hatta terminal 2E bersiap untuk bertolak ke Singapura.
Stefan sudah mengatur semuanya, termasuk kenyamanan Raissa selama di pesawat. Dia meminta disiapkan makanan yang diijinkan oleh ahli gizi RS adhinata. Perawat Ina dibawa untuk mendampingi Raissa selama di Singapura.
Oma dan Opa tidak ikut mengantar, mereka hanya berpamitan via videocall sebelum dibawa ke ruang tunggu khusus bagi para pengguna kelas 1 pesawat Singapore Airlines.
Disisi lain , di terminal 3 area domestik, Tessa dan Nina menunggu kedatangan Alona. Setelah menunggu hampir 45 menit, Alona tiba dengan mobil Alphard putihnya. Supirnya menurunkan koper-kopernya yang harus menggunakan dua trolley.
"Banyak sekali kopermu, Alona." Ujar Tessa.
"Aku kan mau bertemu Stefan disana. Aku tidak tahu harus pakai busana yang mana, kubawa saja 3 sampai 4 baju malam dan tentu saja harus serasi dengan tas dan sepatunya." Kata Alona, sambil mengawasi potter membawa koper-kopernya.
"Bawanya hati-hati. Itu koper mahal!" Ketus Alona.
"Mari kita ke cek-in sekarang," ajak Alona ke kedua sahabatnya.
Nina dan Tessa mengikuti langkah Alona, mereka dengan bernampilan sangat up-to-date, membuat banyak mata yang berdecak kagum melihat penampilan mereka bertiga.
Mereka menggunakan kelas 1 pesawat Garuda, sehingga mereka bisa menunggu waktu keberangkatan di ruang tunggu.
"Alona,kamu yakin Stefan dan wanita itu berada di Bali?" Tanya Nina.
"Bagaimana mereka sudah pulang ke Jakarta?" Celetuk Tessa.
"Jangan bicara yang aneh. Kata guru Yogaku, kita harus berpikir yakin dan positif, sehingga kita bisa tetap mendapatkan yang kita ingin capai." Kata Alona menggurui mereka semua.
"Tapi bisa terjadi kan?" Tanya Nina lagi.
"Jangan berpikir negatif, tarik nafas buang jauh energi negatif itu. Aku mau fokus merasakan keberadaan pangeranku Stefan. Jangan ganggu meditasiku!" Seru Alona sambil memejamkan mata dan dia berusaha menjadi radar yang bisa merasakan getaran kehadiran Stefan.
Nina dan Tessa hanya bisa bingung melihat tingkahnya Alona.