Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 27 - Arisan Sosialita



Di mobil, Stefan memutarkan alunan piano yang dimainkan oleh Yiruma, pianis dari Korea yang sedang viral. Hujan rintik, membuat suasana semakin romantis.


"Kita mau makan malam dimana?" Tanya Stefan.


"Aku bebas, tidak ada yang kupikirkan saat ini." Jawab Raissa.


"Memang jangan yang lain yang kau pikirkan. Yang boleh masuk dalam pikiranmu, hanya aku."


"Apa sih, lebay ah." Protes Raissa.


"Hahaha, tapi suka kan?" Kata Stefan sambil mengedipkan matanya ke arah Raissa.


Mereka akhirnya berhenti di rumah makan di daerah SCBD, pilihannya jatuh pada restoran Korea.


Saat mereka masuk, terlihat cukup ramai. Sepertinya ada yang sedang mengadakan acara. Stefan meminta meja di lantai 2, supaya tidak terlalu berisik.


Mereka menuju ke lantai 2, melewati ruangan yang berisi para wanita yang sedang asyik berpesta. Salah satu wanita itu, Alona.


Alona langsung melihat Stefan, waktu dia mau memanggil Stefan, terkejut dia melihat Raissa berjalan disamping Stefan. Alona langsung naik pitam melihatnya.


"Hey gals, mau lihat tidak wanita kampungan yang jadi pelakor?" Celetuk Alona ke teman-temannya.


"Mana? Ada dia di sini?" Tanya Tessa, wanita sosialita yang menjadi istri seorang pengusaha kelapa Sawit di Medan.


"Ada, barusan kulihat dia berjalan dengan Stefanku."


"Apa?! Tidak tahu malu sekali dia, kita beri pelajaran saja ke dia." Ajak Nina, wanita Sosialita yang terkenal dengan bisnis komestiknya.


"Janganlah, malu nanti kita. Ini tempat umum." Cegah Jenny, seorang sosialita yang lebih dikenal di kancah politik.


Mereka ini sekumpulan wanita Sosialita yang selalu bertema setiap acara Arisannya. Kali ini karena tempat yang mereka pilih restoran Korea, mereka berpakaian hanbok yang dimodifikasi. Untuk menjadi anggotanya, harus menyetor dana 5.000$US. Saat ini mereka beranggotakan 9 orang, ada yang berprofesi pengusaha, artis dan istri muda.


"Ah, wanita pelakor harus dibumi hanguskan musnahkan dari muka bumi." Kata Nina lagi.


"Tapi kau sendiri menjadi pelakor sebelum dijadikan istri muda,"celetuk Tessa.


"Huuss, aku beda lah. Istri dia kan mandul, jadi butuh aku untuk bisa dapatin keturunan." Seloroh Nina dengan bangga


Alona semakin senang, karena mendapat dukungan dari teman-temannya. Dia menjadi merasa punya kekuatan untuk menjatuhkan Raissa kali ini. Sehingga Stefan bisa kembali menjadi miliknya seutuhnya.


"Alona, kita jangan menyerang didepan Stefan. Nanti kamu kalah lagi. Kita harus pakai taktik. Paham?" Kata Tessa.


"Aku harus bagaimana?" Tanya Alona.


"Sini kubisikin, aku ada ide." Tessa mengajak Nina dan Alona mendekat.


Sementara di lantai 2, Stefan sedang asyik mengobrol dengan Raissa. Banyak topik yang mereka bicarakan. Membuat suasana semakin akrab, sesekali mereka saling tertawa. Mereka sangat menikmati makan malamnya, menu yang tersaji makanan khas dari negara Korea, seperti japchae, bulgogi, bimbibap, kimchi, Yangmyeon dan Galbi. Semuanya Raissa suka rasanya, walaupun baru pertama kali dia memakannya.


"Suka?" Tanya Stefan.


"Iya, aku suka. Ternyata masakan Korea ini enak juga." Jawab Raissa.


"Kalau begitu, liburan akhir tahun, kita ke Korea saja. Jadi bisa lebih menjelajah kuliner di sana." Ajak Stefan.


"Akhir tahun, aku biasanya pulang ke kampung halaman. Aku sudah rindu dengan mamaku dan masakannya." Tolak Raissa dengan berat hati.


"Oh begitu, tidak masalah. Aku ikut juga ke kota tujuh mu itu. Mau kucoba suasana di sana." Kata Stefan.


"Kamu tidak cocok di sana, kami tinggal di kota kecil yang Asri dan sejuk udaranya. Antar tetangga kami saling kenal. Tidak ada mall, semuanya alami dan sederhana."


"Tidak masalah, asal ada kamu. Dimanapun aku akan berada." Ucap Stefan dengan tegas.


Mendengar itu, Raissa menjadi senang dan bersemu pipinya. Kemudian Raissa permisi hendak ke restroom, ternyata berada di lantai 1. Saat Raissa memasuki Restroom, Alona ada di sana juga bersama Nina dan Tessa.


Raissa terkejut melihat Alona berada di sana juga, tapi dia berusaha mengabaikannya. Segera dia masuk ke kubikel.


"Betul-betul." Ujar para temannya Alona.


"Apalagi kalau pelakornya wanita kampungan, duh entah pakai pelet apa dia?" Sindir Alona.


"Goyangannya mungkin maut, kau harus belajar dari dia. Hahahaha," nina berujar.


"Nggak sudi, aku kan kaum sosialita sedangkan dia hanya wanita kampungan." Kata Alona dengan nada sombong. Nina dan Tessa tertawa dengan gaya dibuat-buat elegan.


"Kamu harus jaga baik-baik suami mu, nanti direbut sama Pelakor kampungan itu bagaimana?" Sindir Tessa.


"Selera suamiku sangat tinggi, lihat bodyku dari atas sampai bawah kurawat dengan harga ya.buat suamiku tidak seberapa," dengan nada Sombong Nina menperlihatkan bodynya yang aduhai, hasil operasi plastik di Korea.


"Wah aku harus minta nama kliniknya, aku juga mau dong ke sana." Ujar Tessa.


"Boleh, nanti ku kenalin dokternya. Ganteng banget dokternya. Nanti kumintai diskon lah, lumayanlah paling habis-habisnya bisa 600 juta rupiah. Tapi hasilnya sangat memuaskan." Kata Nina lagi.


"Okay itu, bulan depan deh aku berangkatnya. Bulan ini aku mau liburan dulu sama suami, kata dia mau bulan madu yang ke sekian kalinya." Tessa berkata dengan tertawa yang dibuat manja.


"Beruntung sekali kalian mendapatkan pasangan yang sayang dengan kalian, sedangkan Stefanku sudah terjampi-jampi dengan wanita kampungan itu. Rencana pesta pertunangan kami pun terpaksa diundur." Keluh Alona.


"Pihak keluarga bagaimana? Dukung kamu?" Tanya Tessa.


"Mamanya Stefan itu sahabatnya mommyku, dia sih dukung aku. Katanya Aku calon menantu idamannya." Jawab Alona.


"Segera kamu rebut lagi Stefan, jangan sampai kamu kalah. Tenang kita selalu dukung kamu, Alona." Hibur Tessa.


"Iya betul," sahut Nina. "Yuk, kita kembali ke ruangan, sudah tiba waktunya pengocokan. Ada tas Hermes yang sudah kuincar, bila kali ini aku yang dapatin. Bisa kubayar tas itu."


Raissa tidak tuli, dia bisa mendengar semua percakapan itu dibalik pintu kubikelnya. Tapi dia tidak mau menggubrisnya, menurutnya Alona itu otaknya ada di dengkul. Jadi percuma saja.


Setelah restroom terdengar hening,karena Alona, Nina dan Tessa sudah keluar dari Restroom. Raissa baru keluar dari kubikelnya.


Segera dia naik ke lantai 2, dilihatnya Stefan sedang asyik berbicara dengan seseorang dari teleponnya. Raissa langsung menarik nafas panjang,begitu dia duduk di kursinya lagi.


"Ada apa? Sepertinya kamu menghindari seseorang?" Tanya Stefan sambil menaruh teleponnya di atas meja.


"Ehm, tidak ada apa-apa." Jawab Raissa.


"Yakin? Walaupun kamu memasang wajah tersenyum, aku bisa melihat itu bukan senyuman biasamu."


"Benar, tidak ada apa-apa. Sudah selesai makannya? Kita pulang yuk," ajak Raissa.


"Okay, sayang. Kita pulang sekarang."


Mereka segera beranjak menuju meja kasir untuk membayar tagihan. Saat mereka di sana; Alona, Nina dan Tessa juga ada di sana.


"Hai sayang, makan di sini juga? Tahu begitu tadi kuajak gabung dengan teman-temanku." Sapa Alona ke Stefan.


"Tidak minat", jawab Stefan singkat.


"Lihat Nina, begitu ada wanita kampungan itu, sikap Stefan selalu berbeda kepadaku." Ujar Alona ke Nina dengan nada seakan berbisik tapi semua bisa mendengarnya.


Stefan ingin segera memberikan teguran, tapi Raissa menahan tangannya. Dilihatnya Raissa menggeleng-gelengkan kepalanya, Akhirnya Stefan menurut.


Alona dan nina asyik menyidir Raissa, sedangkan Tessa sibuk merekam semuanya.


Stefan menarik lengan Raissa, bergegas mereka kembali ke mobil. Dan langsung melajukan mobil ke jalan Raya.


"Sudah dapat?" Tanya Nina


"Tenang, beres. Tinggal di edit dan kumasukan ke TakTikTuk aplikasi. Pasti bisa menghancurkan image pelakor itu." Ujar Tessa, jempolnya diacungkan.


Alona puas mendapatkan dukungan dari teman-temannya. Sudah tidak sabar dia melihat hasil dari rencana yang dibuat oleh Tessa.