
Alona mulai jenuh di Rumah Sakit, dia menelepon ibunya untuk minta dijemput pulang. Karena ibunya sedang mendampingi Ayahnya yang menjadi pembicara di seminar-seminar. Ibunya bilang akan segera mengirim staffnya untuk menjemput Alona. Ayahnya Alona seorang ahli peneliti Virus yang terkemuka, laboratorium miliknya telah mengeluarkan berbagai vaksin yang dapat menangkal virus-virus yang mematikan. Hak paten atas vaksin-vaksin itulah yang membuat hidup Alona bergelimpangan harta yang melimpah.
Alona sering ditinggal oleh orang tuanya sendirian di rumah, membuat dia selalu dipenuhi segala keinginannya karena rasa bersalah sang ibu. Sedangkan ayahnya selalu tenggelam dengan pekerjaannya, tidak pernah peduli dengan dia. Alona tumbuh menjadi wanita yang egois dan manja.
"Mommy, Alona mau pulang saja. Di sini Stefan tidak jagain aku," rajuk Alona.
"Sayang, coba kamu telepon Stefan, kaki kamu belum sembuh sabar sedikit ya," bujuk ibunya.
"Tapi teleponku tidak diangkat mommy," protes Alona
"Coba terus, sayang pesawat sudah mau terbang, mommy off dulu ya." Tanpa menunggu jawaban Alona, telepon dimatikan oleh ibunya.
"Aargh, mommy selalu begini. Kucoba telepon tante Liana dulu deh."
Alona mencoba hubungi mamanya Stefan.
"Halo sayang, bagaimana kakimu? Sudah lebih baik?" Sapa mamanya Stefan.
"Tante, Stefan tidak bisa dihubungin. Dan tidak pernah menjengguk aku." Rajuk Alona dengan nada manja.
"Stefan sibuk nak, banyak tugasnya, sabar saja. Nanti tante coba ingatin dia, ok sayang Tante masih ada meeting, nanti kita ngobrol lagi ya."
Alona mulai senang hatinya, dia merasa tante Liana mendukung hubungannya dengan Stefan. Mulai sekarang aku harus lebih mendekati tante Liana untuk mendapatkan Stefan, karena hanya dia wanita yang tepat bersanding dengan Stefan, menurut Alona.
"Hey kamu, bawa aku ke lobby lagi. Bosan aku hanya berdua dengan keong kayak kamu." Perintah Alona dengan kasar.
"Baik,nona Alona." Segera perawat Ratna mengambil kursi roda milik rumah sakit.
Alona melihat model di majalah sekilas mirip seperti wajahnya Raissa."Huh, kenapa aku jadi teringat perempuan kampung yang kemarin dibawa Stefan di restoran Taman Sakura. Siapa dia?" Geram Alona. Rasa kesalnya mulai memuncak, dilemparnya Apel yang ada di depan dia.
"Mana ini kursi rodanya!" Teriak Alona.
"Ini nona, " jawab perawat Ratna sambil berlari membawa kursi rodanya.
"Dasar keong, lambat sekali. Cepat bawa aku ke coffee shop.!" Perintah Alona dengan ketus.
Perawat Ratna merupakan perawat senior, jadi dia tahu bersikap profesional. Dia tetap sabar menghadapi tingkah Alona yang sangat menyebalksn itu.
Sementara Raissa sedang berbahagia hari ini, dokter menyatakan bahwa dia diijinkan pulang hari ini. Stefan justru merasa galau, karena bila Raissa pulang, dia tidak bisa lagi bebas mendampingi Raissa seperti selama di rumah sakit.
"Stefan, terima kasih banyak atas semuanya ini. Maaf aku sudah banyak merepotkan kamu," kata Raissa sambil tersenyum manis.
Duh, kenapa senyumnya membuatku makin berdebar, kata Stefan dalam hatinya.
"Tidak usah sungkan, kapanpun kamu boleh minta bantuanku." Jawab Stefan
Stefan sedang berpikir keras bagaimana membujuk Raissa untuk tinggal dihotel saja bersamanya. Tapi pasti aku ditampar olehnya, dia wanita yang mandiri. Aarghh, stefan mulai putus asa.
"Kenapa Stefan? Wajahmu kok kusut?" Tanya Raissa dengan heran.
"Karena kamu pulang, berarti aku tidak bisa temanin kamu lagi," dengan jujur Stefan mengungkapkan isi hatinya.
"Iish, kamu kenapa? Bisalah kita ketemu untuk janjian makan siang, nanti kita atur waktunya. Kamu juga pasti sibuk dengan semua bisnis kamu," sambil tertawa Raissa mengucapkannya.
"Tapi beda," keluh Stefan.
Raissa sedang membenahi pakaian dan barang-barangnya. Stefan hanya mengamati semua gerak gerik Raissa. Hatinya Stefan sangat galau.
"Biarkan aku mengantarmu sampai ke apartemenmu." Pinta Stefan.
"Boleh ku mampir ke apartemenmu besok?"
"Boleh saja, tapi kan kalau siang aku di kantor." Tertawa Raissa mendengar permintaan Stefan.
"Hah, kamu langsung kerja? Istirahat dulu saja." Ujar Stefan dengan nada khawatir.
"Aku bosan kalau istirahat melulu, selain itu juga kamu adalah bos CEO atau dokter?" Gurau Raissa sambil tertawa geli.
Stefan pun menjadi malu, wajahnya tersipu mendengar gurauan Raissa. Raissa, kamu telah membuatku menjadi orang bodoh, tapi hanya kamu yang kuijinkan melakukan itu kepadaku. Ya hanya kamu seorang. Mulai sekarang aku yang akan menjagamu tanpa kamu sadari. Kata Stefan dalam pikirannya.
Semakin hari Stefan merasa semakin sayang kepada Raissa, hatinya semakin berdebar-debar bila melihat Raissa.
Raissa menjadi salah tingkah, dilihatin Stefan terus menerus. Ini orang kenapa melihat orang seperti itu? Wajahmu yang rupawan dan harta berlimpah, pasti banyak wanita yang dengan mudah jatuh dalam pelukanmu. Tapi kenapa aku mulai merasa terbiasa dengan kehadiran dia didekatku? Raissa bersemu merah wajahnya saat memikirkan perkataannya sendiri.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Goda Stefan.
"Ah tidak, aku.. hmm.. ini lagi….hmm… bagus ya bunganya," dengan gugup Raissa mencoba mengalihkannya. Raissa mengambil sekuntum bunga dari vas yang ada disebelah ranjangnya.
Tiba-tiba perawat datang dan mulai membuka infus dari tangan Raissa.
"Selamat siang Ibu Raissa, sebelum pulang, kita lepaskan dulu infusnya." Sapa Perawat Ina.
Raissa hanya menggangguk saja, perawat Ina dengan sigap mulai membersihkan are infus, kemudian dilepasnya jarum infusnya.
"Aah," meringis Raissa saat dibuka infusnya.
"Pelan-pelan melepaskan infusnya," tegur Stefan dengan nada gusar.
"Maaf... maaf... maaf," perawat ina terkejut ditegur oleh Stefan.
"Tidak apa-apa, hanya nyeri sedikit. Lihat ini agak lebam. Terima kasih perawat Ina sudah membantu saya selama saya dirawat di sini," Ucap Raissa dengan lembut.
"Ini sudah menjadi tugas saya," jawab perawat ina.
Stefan kembali tenang mendengar perkataan Raissa, hampir saja dia mau memindahkan perawat ina di lantai lain area tugasnya.
"Kasih obat untuk lebamnya," perintah Stefan.
"Baik Pak Stefan, akan saya berikan. Tunggu sebentar." Ujar Perawat Ina.
Tidak lama kemudian, Stefan mendorong kursi roda Raissa untuk beranjak pulang.
Saat keluar dari lift di lobby, Alona melihat stefan berjalan menuju keluar lobby bersama seorang wanita. Kali ini, Alona bisa melihat dengan jelas siapa wanita disamping Stefan.
"Sialan, dia si wanita kampungan itu, kenapa Stefan bersamanya?" Alona semakin gusar.
"Hey keong, cepat dorong kursi ini ke sana!" Dia perintahkan Perawat Ratna untuk mengejar Stefan. Tapi seperti sebelumnya, terlambat. Stefan dan wanita kampungan itu sudah masuk ke dalam mobil porsche 178 cayman warna hitam, dan langsung mobil itu melesat jalan. Meninggalkan Alona dengan wajah semakin merah padam.
"Stefan milikku, Awas wanita kampungan! Berani merebut Stefanku, tunggu saja pembalasanku wanita kampungan!" Teriak Alona.
"Kita kembali ke kamar atau ke coffee shop, nona Alona?" Tanya Perawat Ratna.
"Ke coffee shop, aku butuh kopi. Sakit kepalaku mendapatkan keong seperti kamu jadi perawatku." Ujar Alona sambil dia memijat-mijat kepalanya.
Perawat Ratna kembali mendorong kursi roda Alona menuju coffee shop.