Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 18 - Hari yang Cerah



Pagi yang cerah, matahari bersinar dengan lembut menyinari kamarnya Raissa. Dengan bersemangat, Raissa segera menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor.


Telepon genggamnya bergetar, raissa tidak menghiraukannya. Tetapi setelah beberapa saat tetap bergetar, akhirnya Raissa meraih Telepon genggamnya. Dilihatnya nama Mary Jane yang muncul di layar.


"Halo," sapa Raissa


"Hai neng, aku sudah di parkiran. Kita ke kantor bareng saja." Kata Mary Jane.


"Ok, tunggu 10 menit lagi ya. Lagi beresin rumah sebentar."


"Take your time, no problem." Ujar Mary Jane .


10 menit kemudian, Raissa sudah berada di dalam mobil bersama Mary Jane. Mobil mercy nya terbaru melaju dengan kecepatan normal.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Mary Jane


"Sudah lebih baik,masih suka nyeri. Tapi masih ok. "


"Seharusnya kamu istirahat saja, tidak usah masuk kerja."


"Makin stress dan galau, kalau di rumah terus."jawab Raissa


Mary Jane tersenyum mendengar jawabannya. Dia tahu benar Raissa itu tipe yang gila kerja. Tidak lama kemudian, mobilpun memasuki area parkir VIP gedung IC4U, gedung kantor milik Pt. Cahaya Cemerlang.


Saat mereka tiba di kantor, Ezo langsung berlari menghampiri mereka.


"Raissa, bagaimana kabarmu?" Tanya Ezo.


"Baik boss, sudah lebih baik." Jawab Raissa dengan ceria.


"Makanya kalau makan bakso jangan pedas-pedas." Tegur Ezo dengan nada khawatir.


"Ish, sok tua. Nggak ada hubungannya. Yuk, kita mulai meeting. Bagaimana progres dari tugas terakhir?"


"Ok boss. Semua berjalan sesuai jadwal." Jawab Ezo. Sambil beriringan mereka memasuki ruang lift.


Tibalah mereka di lantai 15. Saat mereka keluar dari lift, Raissa terkejut karena banyak bunga dan balon. Ternyata rekan-rekan kerja menyiapkan kejutan untuk menyambut Raissa pulih dari sakitnya, dan bisa kembali bekerja bersama mereka.


Duaar ..duarr.. duarr...


Beberapa petasan ditembakan membuat suasana semakin meriah. Kertas kecil warna warni bertebaran di atas kepala Raissa. Hati Raissa menjadi terharu, melihat betapa disayangnya dia oleh teman-temannya.


"Terima kasih semuanya, sangat tidak menyangka akan ada welcoming party seperti ini.... aku..aku...," terbata-bata Raissa mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Sudah...sudah basa basinya, mari kita langsung makan-makan. Mumpung bos Mary Jane yang ijinin hari ini kita bersenang-senang!" Seru Ezo dengan ceria.


"Ingat Ezo, datelineeeee," tegur Maya.


"Cih, berisik nenek cerewet. Jangan ganggu suasana," keluh Ezo


"Terima kasih semuanya, padahal bukan ulang tahunku." Ucap Raissa.


Mary Jane merangkul Raissa dan berkata "kita seperti ini juga karena hasil kerja kerasmu. Mulai sekarang tolong jaga kesehatanmu, jangan lupa minum obat, vitamin dan makan yang teratur."


"Setuju, kalau perlu kami menarikmu paksa dari meja kerja." Celetuk Keiko


"Aku bawa palu, kalau kamu tidak menurut, bos!" Teriak mike.


"Iya aku akan menurut, Isabel kau ingatin aku ya." Pinta Raissa.


"Siap bu bos," jawab Isabel sambil memberikan jarinya yang dibentuk hati. "saranghaeyo" katanya lagi.


Semua yang mendengarnya jadi tertawa, membuat suasana semakin riuh. Raissa merasa senang tetapi juga sedih, dia merasa ada yang hilang, tapi apa? Dia pun bingung kenapa hatinya sedih dan galau, walaupun dia sedang tersenyum dan tertawa.


*****


Stefan sedang memandangi foto Raissa yang diam-diam dia ambil waktu sedang dirawat. Ada perasaan rindu di hati Stefan, dia merasa bersama Raissa waktu berjalan begitu cepat.


"Raissa, kamu sedang apa? Sudah makan belum? Jangan lupa obatnya ya," gumam Stefan sambil meraba wajah Raissa di layar telepon genggamnya.


Tiba-tiba dia mendengar ada suara keributan dibalik pintu ruang kerjanya. Terdengar suara Alona yang memaksa masuk ke dalam, tetapi sekretaris dan staff lainnya mencoba mencegahnya.


"Hey, kalian tahu tidak siapa saya? Saya ini calon istrinya stefan, bos kalian. Jadi jangan macam-macam atau kalian mau dipecat!?" Alona memaki-maki.


"Eh itu buat siapa? Pikir dong, saya ini calon nyonya kalian!"


Pintu terbuka, Stefan keluar dari ruang kerjanya, dengan tatapan tajam dia menatap Alona.


Alona terkejut melihatnya, dia langsung terdiam dan berusaha menghindari tatapan tajam Stefan.


"Sayang, ini anak buah kamu kurang ajar semua, aku dilarang masuk. Padahal..." belum selesai Alona berbicara, Stefan langsung membentaknya.


"Padahal apa? Apa hak kamu? Ini tempat kerja bukan taman bermain! Dan saya tegaskan jangan pernah datang lagi ke sini, bila hanya bisa bikin onar!" Bertubi-tubi Stefan membentaknya. Sudah habis batas kesabaran Stefan melihat tingkah Alona.


"Aku hanya ingin menemuimu, Stefan. Tidak mau membuat onar," kata Alona.


"Aku sibuk, silahkan pergi dari sini!" Seru Stefan.


Alona mulai menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Stefan tidak tega melihatnya.


"Sudah...sudah.. berhenti nangisnya, kamu pulang saja. Ini masih banyak kerjaan," bujuk Stefan dengan nada lembut.


"Setelah kerja kita dinner ya sayang," rayu Alona.


"Bila tidak ada meeting, nanti kuhubungi."


"Janji ya." Alona semakin berbunga-bunga hatinya. Dengan bersenandung , dia meninggalkan ruangan tersebut.


Stefan menarik nafas panjang, dia hanya berusaha menjaga nama ibunya. Jangan sampai rusak pertemanan ibunya dengan mamanya Alona.


"Thom, coba kamu pesan tempat untuk saya lunch hari ini. Ruang VVIP" Perintah Stefan.


"Baik bos, tapi dimana?"


"Toi et moi," jawab Stefan.


"Siap bos." Segera Thom berjalan keluar untuk menyiapkan semuanya.


Stefan kembali memandang telepon genggamnya, dia sedang bingung bagaimana memulai percakapan lagi dengan Raissa.


Di sisi lain, Raissa juga sedang menatap kosong memandang layar monitornya. Dia berusaha membaca semua laporan Teamnya. Tapi pikiran dia sedang berkelana, tanpa dia sadari Maya menghampirinya.


"Rai, kenapa termenung? Apa kamu sedang memikirkan seseorang ? Tanya Maya dengan nada menggoda.


"Cih, kamu mengejutkanku saja. Ada apa?"


"Ini kita ada undangan lunch dari direktur Damien. Sebetulnya Mary Jane yang meminta kita untuk mewakili perusahaan menemui beliau." Kata Maya.


"Siapa dia?" Tanya Raissa.


"Dia itu CEO dari perusahaan PT. Damiensa Shine. Perusahaannya bergerak di bidang hospitality dan berdomisili di Singapura."


"Ada perlu apa dia mengundang kita?" Tanya Raissa


"Dia mengajak kerjasama untuk mempromosikan hotel-hotel dan restaurantnya." Maya antusias sekali menjelaskannya


"Ooh, baiklah. Jam berapa?"


"Jam 1 siang." Jawab Maya


"Wah berarti 30 menit lagi. Ok, aku beresin dulu dokumen ini. Baru kita jalan."


"Okay. Aku ke restroom, mau berdandan super cantik. Karena dengar-dengar, dia ganteng dan masih jomblo."


"Cih, si Ezo mau dikemanain?" Goda Raissa ke Maya.


"Aduuh Raissa, jangan bawa-bawa nama dia. Cowok menyebalkan yang suka narcis. Melihat wajahnya, ingin rasanya ku tampar dia. Kalau Damien, dia itu seperti pangeran. Jangan-jangan dia itu "mr.right" ku."


"Yakin? Tapi kamu mrs.right buat dia tidak?" Goda Raissa.


"Aiyooo, jangan bikin aku patah semangat dong," protes Maya.


Hahahaha, Raissa tertawa geli melihat ekspresi wajahnya Maya yang cemberut.