
Thom dan dua rekannya sedang memasuki apartemen Raissa, mereka berusaha mencari sumber racun di sana.
Thom melihat ada 2 huket bunga mawar pink dan kuning, diperiksa tidak ada cairan atau apapun di buket itu. Diambilnya foto kedua buket itu termasuk isi dari kartu ucapannya.
Kemudian salah seorang rekan Thom melihat ada sisa piring di tempat cuci piring, dengan bekas kue. Dia periksa juga isi kulkas dan menemukan cake yang baru dimakan 4 slices. Dilihat ada yang aneh dari cake ini. Dipanggilnya Thom untuk melihatnya.
Thom menghampiri ke kulkas, dan dia mengedus cake tersebut lebih dekat, tercium sedikit bau obat. Diambilnya sedikit potongan dari cake itu untuk diperiksa ke laboratorium.
Setelah satu jam berada di sana, mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan lagi. Thom langsung membawa temuan itu ke Stefan yang sedang menunggunya di rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Thom menyerahkan potongan cake itu kepada Stefan. Langsung dipanggilnya petugas lab untuk memeriksa kandungan dari potongan kue tersebut.
Kemudian Stefan melihat foto-foto yang ada di Thom, dia melihat bunga mawar pink dan kartu ucapan yang sangat aneh. Dari siapa itu? Terlihat nama toko florist, Thom diperintahkan untuk menyelidiki lebih lanjut tentang bunga tersebut.
"Bos, ada tambahan lagi info."
"Info apa?" Tanya Stefan.
"Kemarin siang Nona Raissa pergi makan siang dengan pemilik mobil lexus warna hitam. Pulang di sore hari, dan sejak kepulangannya tidak pernah keluar lagi dari apartemennya, hingga bos yang menemukannya", lapor Thom.
"Ada platnya?" Tanya Stefan.
"Ada, saya berhasil minta foto dari cctv pintu security. Ini bos," lanjut Thom, sambil memperlihatkan foto hasil CCTV.
"Baik, kirim semua foto2 ini ke saya. Tolong kamu selidiki siapa yang mengirim bunga itu, dan yang membeli kue tersebut. Cari tahu nama toko kuenya." Perintah Stefan.
"Siap bos, saya jalan dulu". Thom langsung pamit untuk mencari lebih banyak bukti lagi.
Saat Stefan kembali ke Ruang tunggu VVIP, Mary jane dan Gita sedang berbincang membahas tentang Raissa.
"Bagaimana Stefan, sudah ada tambahan info?" Tanya Mary Jane.
"Ada, ini kuperlihatkan ke kalian. Beberapa hal yang mencurigakan dari Apartemen Raissa." Kata Stefan.
Mary jane melihat-lihat kumpulan foto tersebut, terkejut Mary Jane melihat mobil lexus hitam itu. Dia mengenalinya.
"Stefan, mobil ini aku tahu siapa pemiliknya," ujar Mary Jane.
"Siapa pemilik mobil itu?" Tanya Stefan.
"Damien," jawab Mary Jane.
Stefan terkejut mendengar jawaban Mary Jane. "Kamu yakin?" Tanya Stefan lagi.
"Yakin", jawab Mary Jane dengan lugas.
Stefan langsung naik pitam, dia ingin mencari Damien sekarang juga, tapi satu sisi dia masih menunggu hasil laboratorium juga.
"Menurutku Damien tidak akan meracuni Raissa," kata Mary Jane lagi.
"Darimana kamu tahu? Bisa saja dia seorang psikopat yang bernampilan menarik dan sopan, tetapi ada sisi iblis dibalik itu." Protes Stefan.
"Karena aku kenal dia sudah lama, dan lagi dia sedang membutuhkan Raissa untuk proyek dia di Singapura."penjelasan Mary Jane.
"Proyek apa? Raissa tidak ada cerita apapun ke aku." Kata Stefan dengan terkejut.
"Karena Raissa belum mau menerimanya, dia berat meninggalkan teamnya yang sudah solid. Dan juga persaingan jumlah user dengan AD0 menjadi obsesinya dia juga." Ujar Mary Jane.
"Bagus, tidak kuijinkan dia meninggalkanku." Tegas Stefan.
Seorang dokter masuk ke ruang tunggu VVIP itu, mengatakan Raissa sudah siuman. Mereka langsung bersemangat ingin menemui Raissa, tetapi di cegah oleh dokter.
"Baik dokter, kita temui dia sekarang. Mary Jane dan Gita, tunggu di sini daja. Aku akan hidupkan video call sehingga kalian juga bis melihat Raissa." Kata Stefan.
"Baik Stefan, kami menunggu di sini saja," kata Gita.
Di ruang ICU, Stefan dengan hati-hati duduk disamping ranjang Raissa. Wajah Raissa dipenuhi dengan masker oksigen. Jarum infus terpasang ditangan kirinya. Raissa menutup matanya, terlihat sangat lemah.
"Raissa, bagaimana keadaanmu?" Sapa Stefan dengan nada lembut.
Raissa membuka matanya perlahan, dia melihat Stefan duduk disampingnya.
"Sudah enakan?" Tanya Stefan lagi.
Raissa hanya mengangguk lemah. Dia berusaha mengatakan sesuatu, tapi terlalu lirih untuk didengar.
Stefan memegang tangannya Raissa dan berkata," Tidak usah bicara lagi. Istirahat saja dulu. Oh ya, ku videocall ya. Mary Jane dan Gita menunggu mu di ruang tunggu VIP. Mereka ingin melihat keadaanmu. Boleh?"
Raissa kembali mengangguk lemah, dan Stefan mulai menghidupkan videocallnya ke Mary Jane. Terlihat Mary Jane dan Gita memanggil nama Raissa beberapa kali, menanyakan perasaannya dan keadaannya.
Stefan yang menjawab semua pertanyaan itu, dan juga bilang Raissa belum bisa bersuara, masih terlalu lemah. Raisaa cukup terhibur mendengar suara Mary Jane dan Gita, dan juga melihat mereka memberikan kekuatan sendiri bagi Raissa.
Raissa kembali tertidur karena efek dari obat yang diberikan, mengharuskan dia banyak istirahat. Hati Stefan sedikit lebih tenang setelah bisa melihat keadaan Raissa secara langsung. Dikecup keningnya Raissa, sebelum dia beranjak keluar ruangan ICU.
Stefan kembali ke ruang tunggu VVIP, dia menunggu hasil laboratorium mengenai sample darah dan potongan cake itu.
"Apa yang Raissa ingin katakan? Ada petunjuk baru?" Tanya Gita.
Stefan menggelengkan kepalanya dan berkata " Dia berusaha menyampaikan sesuatu, tetapi suara dia terlalu lirih. Hanya terdengar tapi tidak bisa dimengerti yang ingin disampaikan."
"Kasihan Raissa, baru bulan lalu dia keluar dari rumah sakit. Sekarang kembali masuk rumah sakit." Ujar Gita, dia merasakan kesedihan melihat keadaan sahabatnya itu.
"Tidak usah khawatir, team dokter di sini yang terbaik. Kamu bisa pulang bersama Mary Jane, tidak banyak hal yang bisa kalian lakukan sekarang. Biar aku yang menjaganya malam ini." Ujar Stefan membujuk Gita dan Mary Jane untuk pulang dan beristirahat.
"Baiklah, kami pamit dulu. Bila ada hal yang berubah dari keadaan Raissa, tolong kabari kami. Telepon kami hidup 24 jam." Pinta Mary Jane.
"Ok, tidak usah khawatir. Aku pasti mengabari kalian." Jawab Stefan.
Sepeninggalan Mary Jane dan Gita, Stefan mencoba mendapatkan hasil dari laboratorium.
"Sebentar lagi, hasilnya keluar pak Stefan. Harap bersabar," pinta petugas laboratorium.
"Baik, saya menunggu di sini saja." Kata Stefan, kemudian dia dengan gelisah berjalan mondar-mandir menunggu hasil keluar.
Akhirnya keluar juga hasil dari laboratorium, dan ternyata sesuai dengan dugaan Thom dan Stefan. Racun tersebut berasal dari cake yang dimakan oleh Raissa.
"Apa jenis racun yang dipakai?" Tanya Stefan
"Racun ini sangat kuat , dapat melemahkan pergerakan jantung, bila dosisnya lebih banyak dan menyebar melalui darah, maka akan sulit ditolong. Racun ini hanya ada di Eropa, berasal dari bunga foxglove." Penjelasan kepala lab.
"Foxglove? Coba jelaskan lebih detail lagi."
"Foxglove itu bunga liar bentuknya seperti lonceng, banyak tumbuh di benua Eropa. Nama lain racun ini adalah Digoxin." Ujar kepala Lab lebih lanjut.
"Apakah ada kemungkinan tanaman bunga itu ada di Indonesia?" Tanya Stefan.
"Setahu saya, tidak bisa tumbuh di Indonesia."
"Okay, saya sudah cukup jelas. Bisa saya ambil hasil lab ini?" Tanya Stefan.
"Bisa Pak Stefan, ini sudah kami siapkan laporan hasil labnya."