
Selesai makan malam, Raissa pamit pulang bersama Stefan. Damien hanya bisa menatap punggung Raissa yang berjalan menuju mobil Stefan.
"Lain kali, aku harus berhasil mendapatkan waktu berdua saja dengan dia. Dasar kunyuk, merusak rencanaku saja." Geram Damien sambil mengepal tangannya.
Di mobil, Raissa merasa sedikit ngantuk, tanpa terasa dia tertidur. Stefan melihatnya, langsung menepikan mobilnya dan mengambil jas kerjanya untuk disampirkan ke tubuh Raissa sehingga lebih nyaman lagi tidurnya.
Stefan sengaja melambatkan kecepatan mobilnya, tapi tetap saja Stefan merasa terlalu cepat tiba di gedung Apartemen Raissa. Mereka tidak menyadari ada seseorang yang sedang memantau gerak gerik mereka dari kejauhan.
Di lobby, Raissa dikecup dahinya oleh Stefan sebelum dia pamit pulang. Dua buket bunga ada di tangan Raissa. Terlihat sangat romantis. Raissa tersipu malu, saat dikecup Stefan.
"Selamat Istirahat, besok pagi kujemput lagi," ujar Stefan sambil menyerahkan tas kerjanya Raissa.
"Terima kasih, hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut." Pesan Raissa.
"Siap tuan putriku."
*****
Keesokan hari ininya Damien tiba di kantor Mary Jane, dia mengajukan suatu kerjasama antara perusahaan dia dengan IC4U. Diluar proyek promosi yang sudah diberikan.
"Jadi bagaimana MJ setuju?" Tanya Damien.
"Menarik tawaranmu, tapi kalau syaratnya harus Raissa yang handle. Aku yang tidak yakin. Dia sudah overload pekerjaanya."
"Limpahkan saja proyek promosiku ke yang lain, tenang kesempatan dapatnya jauh lebih besar. Bisa kuatur." Damien berusaha meyakinkan Mary Jane.
"Kupanggil Raissa dulu ke sini, bila dia bersedia. Aku setuju saja, asal bisa dijamin win win solution dari kedua belah pihak." Kata Mary Jane.
"Tolong panggil ibu Raissa, keruangan saya," pinta Mary Jane ke sekretarisnya.
"Baik bu."
Sekitar 20 menit kemudian, Raissa muncul di ruangan Mary Jane. "Hai , selamat pagi semua." Sapa Raissa.
"Selamat pagi Raissa, mari duduk di sini."
Raissa langsung duduk disebelah Mary Jane, penampilan dia hari ini begitu segar dengan blouse warna baby pink dengan rok midi selutut warna putih. Rambutnya kali ini diikat gaya pony tail. Make Upnya yang tipis tapi tetap terlihat menarik.
"Ada apa Mary Jane?" Tanya Raissa.
"Raissa, ini Damien menawarkan suatu kerjasama yang mungkin bagus untuk kita semua. Dia ingin kamu menjadi tenaga ahli untuk dua hingga tiga bulan di kantornya di Singapura. Barternya dia akan mempermudah buat kita untuk mendapatkan kontrak event promosi Damiensha Shine itu. Bagaimana menurut mu?" Tanya Mary Jane.
Raissa sangat terkejut mendengar tawaran tersebut. Dia agak keberatan, karena ada konpetisi yang ditantang Stefan terkait penaikan jumlah user dari IC4U. Bagi Raissa ini yang terpenting, karena bila IC4U menduduki rating 1, maka semakin besar cakupan yang dapat mereka raih nantinya. Selain itu juga, teamnya sudah bekerja keras mensupport rencana yang sudah dia susun. Dia tidak rela meninggalkan teamnya bertempur tanpa dia.
"Untuk apa ya saya sebagai tenaga ahli? Sepertinya kemampuan saya belum maksimal. Masih harus banyak belajar." Tutur Raissa dengan nada sopan.
"Kami membutuhkan keahlianmu untuk memimpin proyek besar di kantor pusat kami, tentunya kerjasama ini bukan antar personal tapi antara IC4U dengan Damiensha Group. Kami sedang merasa ibu Raissa yang paling tepat menempati posisi ini." Ujar Damien.
"Boleh saya pertimbangkan dulu tawaran ini?" Tanya Raissa.
"Silahkan," jawab Damien.
"Kalau begitu, saya kembali dulu. Masih banyak kerjaan saya," pamit Raissa. Kemudian dia keluar dari ruangan Mary Jane, meninggalkan Damien yang merasa sedikit galau ditinggal Raissa.
Raissa menarik nafas panjang, dipanggilnya Maya untuk ke ruangannya. Maya melihat Raissa termenung, saat dia masuk ke ruangan.
"Ada apa?" Tanya Maya membuyarkan lamunannya.
Raissa menjelaskan garis besar masalah yang dia hadapi, Maya beberapa kali membelalakan matanya.
"Menurutku, ini trik Damien supaya bisa selalu bersamamu." Ujar Maya.
"Hah? Maksudmu apa?" Terkejut Raissa mendengar kata-kata Maya.
"Aissh, Raissa kamu itu memang cerdas dan jiwa memimpinmu bagus. Ku akui itu. Tapi untuk urusan asmara, hadeh. Kamu bagaikan anak SD, polos dan lugu." Kata Maya sambil menepuk jidatnya.
"Iih, kamu tuh ya. Coba jelasin, aku kurang paham." Rajuk Raissa.
"Damien itu suka dengan kamu."
"Haaa?? Yang benar?" Terkejut Raissa.
"Iya, masa kamu tidak menyadarinya? Aah, di hati sekarang cuma ada Stefan, jadinya yang lain tidak kau lihat lagi." Goda Maya.
"Tidak begitu juga, aku belum 100 persen menerima Stefan."
"Iya belum 100 persen. Tapi sudah 99,99 persen. Hahahaha", Maya menggoda Raissa semakin menjadi. Membuat Maya wajahnya merah seperti kepiting rebus, karena rasa malunya.
"Belum lah, aku masih ragu juga." Kata Raissa.
"Ragu? Kenapa? Kulihat Stefan yang bos besar itu sampai mau antar jemput kamu setiap hari, itu tandanya dia serius dengan kamu."
"Hmm iya sih, tapi ibunya sudah memiliki calon istri untuknya. Walaupun Stefan menolaknya setahuku, tapi kalau ibunya bersikeras. Bagaimana?" Tanya Raissa.
"Bagaimana? Ya harus kamu tunjukan ke ibunya, bahwa kamu wanita hebat yang bisa disandingkan dengan putranya. Kudengar Stefan ini anak satu-satunya." Maya mencoba memberikan semangat kepada Raissa memperjuangkan hubungannya. "Jangan takut kalah, sebelum terbukti. Semangat!" Serunya lagi.
"Ok, semangat!" Seru Raissa juga. Mereka berdua akhirnya tertawa geli.
"Oh ya, video viral itu. Entah kenapa bisa hilang dari peredaran. Sudah tidak ada lagi yang memutarnya." Celetuk Maya.
"Oh ya, baguslah. Males aku mikirin video tidak jelas itu." Kata Maya.
"Jadi aku harus bagaimana? Menerima tawaran itu atau tidak? Aku tidak mau meninggalkan team apalagi kita sedang merubah besar-besaran perfoma IC4U secara menyeluruh."
"Apapun pilihanmu, kami tetap mendukung. Kan untuk koordinasi sekarang bisa lewat digital. Tenang saja, ok, aku balik kerja lagi ya. Bisa berisik Ezo, melihat aku asyik ngerumpi saja." Kemudian Maya langsung keluar dari ruangan Raissa.
Raissa memutuskan untuk mengesampingkan dulu permasalahan ini, dia mau fokus menyelesaikan presentasi konsep untuk promosi Damiensha Shine Hospitality.
Di sisi lain, Alona, Nina dan Tessa sedang melihat-lihat sekumpulan foto-foto kegiatan Raissa seharian kemarin. Alona semakin panas melihat betapa mesranya Stefan memperlakukan Raissa.
"Aargh, perempuan kampung ini apa bagusnya!" Geram sekali Alona melihatnya.
"Padahal kulihat penampilan dia biasa saja, bajunya tidak bermerek dan tasnya pun biasanya. Lihat makeupnya, terlalu pucat menurutku." Komentar Nina dengan nada nyinyir.
"Tapi Stefan begitu tunduk dengan dia, gara-gara video kemarin. Suamiku marah besar padaku, rencana liburan kami terpaksa dibatalkan. Padahal kukira bisa kuborong beberapa tas di Paris." Keluh Tessa dengan tatapan iri melihat Alona memakai tas merek hermes terbaru.
"Tenang, kita bersatu untuk menjatuhkan dia. Kali ini kita harus lebih hati-hati dan lebih terencana. Jangan sampai gagal lagi." Kata Nina.
"Setuju!" Seru Alona dan Tessa bersamaan.
"Tessa, minta orang itu terus memantau wanita kampung, kita kumpulin bukti-bukti ini untuk menjatuhkannya." Pinta Nina.
"Tenang, orang itu sangat profesional. Asal ada uang, dia akan bergerak cepat." Kata Tessa.
"Soal uang tidak masalah, aku siap membayarnya. Ini uang yang kujanjikan untuk foto-foto ini." Kata Alona sambil menyerahkan amplop tebal warna coklat ke Tessa. Dilihat isinya uang dollar amerika di dalamnya. Tessa langsung tersenyum lebar.
"Mari kita pesan minuman lagi, sudah habis baileys ku ini." Kata Alona lagi, kemudian dia memanggilnya waiter untuk memberikan tiga gelas Baileys with rocks. Nina dan Tessa tertawa senang, karena Alona sangat royal sama mereka.