Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 13 - Dia Muncul



Raissa perlahan lahan mulai bisa duduk dengan dibantu Stefan, tenaganya masih lemah, hanya saja jiwa fighternya tidak membiarkan dia untuk hanya pasrah saja.


Dering telepon Stefan memecahkan keheningan di kamar Raissa. Stefan melihat nomor telepon ibunya yang tertayang dilayarnya, langsung dia beranjak keluar kamar. Raissa sedang mencoba menghabiskan menu makan siang yang disiapkan pihak rumah sakit.


Menu yang tersaji dibuat disesuaikan dengan kondisi Raissa pasca operasi. Makanan lunak dan tidak pedas cenderung hambar.


Raissa melihat sekeliling ruangannya, terkejut dia begitu luas kamarnya, lebih luas dari apartemennya dia sendiri.


"Waduh, pasti ini mahal." Gumam Raissa.


Diraihkan tombol bel pemanggil perawat, tidak lama datang perawat dengan wajah ramah menghampiri ranjang Raissa.


"Ada yang bisa dibantu, ibu Raissa?" Tanya perawat.


"Bisa tidak saya pindah kamar?" Pinta Raissa.


"Loh kenapa bu, ini kamar terbaik di RS Adhinatha, tidak sembarang orang yang bisa memakainya. " ujar Perawat dengan lembut.


"Justru itu, saya tidak mampu membayarnya. Jadi saya minta dipindahin ke kelas III saja," bujuk Raissa.


Dilihat oleh Raissa tag nama perawat itu, Ina Safitri.


"Boleh ya, perawat Ina?" Bujuk Raissa sekali lagi.


"Saya tanyakan ke direktur RS dulu, karena saya tidak berwenang dalam hal ini," jawab Perawat ina.


"Tolong ya perawat Ina, terima kasih sebelumnya."


"Baik bu, saya permisi dulu. Segera saya kabari hasilnya." Perawat Ina langsung meninggalkan kamar Raissa.


Stefan berada di lorong depan kamar Raissa, dia sedang sibuk berdebat dengan ibunya melalui telepon genggamnya. Stefan sangat kesal, karena ibunya memaksa dia untuk mendampingi Alona yang akan datang ke RS Adhinatha karena kakinya terkilir akibat jatuh dari tangga.


"Ma, dia sudah besar, kenapa harus didampingi? Biar Stefan kirim direktur RS yang menangani dia," protes Stefan dengan nada gusar.


"Stefan sayang, Alona itu anak yang baik. Memang sedikit manja, tolong lah dampingi dia," bujuk nyonya Liana Adhinatha, ibundanya Stefan. Wanita terpandang yang sangat lembut dalam bertutur kata.


"Tapi ma," Stefan masih berusaha menolaknya.


"Demi mama


"Sebentar saja, sisanya dia urus sendiri!" Ketus Stefan. Dia tidak bisa menolak permintaan ibunya, karena rasa sayang dan hormatnya yang begitu besar.


"Bagus, mama hubungi alona dulu, untuk menunggu kamu di lobby RS."


"Hmm."


Stefan menarik nafas panjang, dia sebetulnya muak melihat tingkah Alona yang menurutnya terlalu manja. Dia akhirnya kembali masuk ke kamar Raissa untuk menyampaikan bahwa dia ada urusan sebentar dan akan segera kembali menemaninya. Raissa hanya membalas dengan anggukan dan senyum saja. Bagi Raissa, justru lebih nyaman Stefan tidak berada dalam satu ruangan dengan dia.


Perawat masuk menyampaikan jawaban dari direktur, bahwa keputusan pindah kamar ada di tangan pak Stefan.


"Aarggh, kenapa harus ijin dia?" Keluh Raissa dengan wajah cemberut.


Di lobby, Alona dengan wajah penuh kemenangan duduk di kursi roda, menunggu kehadiran Stefan. Di dalam pikirannya Stefan akan simpatik melihat keadaan kakinya yang bengkak, dan langsung menggendongnya ke kamar perawatan. Sambil tersenyum lebar, Alona membayangkannya, hatinya berbunga-bunga.


Dari kejauhan terlihat Stefan berjalan menghampiri dia, dengan muka datar dan langkah yang tetap terlihat wibawa.


"Sayang, akhirnya kamu datang juga, aku sudah menunggu lama," kata Alona dengan nada manja yang dibuat-buat. Matanya melihat sekeliling lobby, banyak wanita yang iri dengannya. Makin membuat hidung Alona kembang kempis.


"Hmmm," jawab Stefan dengan tidak peduli. Stefan datang sambil didampingi dokter kepala.


"Nona Alona, mari saya antar ke kamar rawat anda," ujar dokter kepala dengan ramah.


"Sayang, kamu ikut kan? Aku butuh kamu, aku takut dengan suntikan," rayu Alona.


"Hmmm," jawab Stefan lagi sambil berjalan di muka rombongan Alona. Kursi roda Alona didorong oleh perawat.


"Aku mau kamar yang di lantai 36!" Rajuk Alona.


"Tidak bisa, kamu siapa?" " tegur Stefan dengan tegas.


"Aku kan tunanganmu, Stefan sayang."


"Dokter tolong periksa ct scannya sekalian. MRI kalau perlu. Mungkin ada kerusakan di otaknya akibat jatuh dari tangga," pinta Stefan dengan tegas.


"Apa?! Otakku tidak bermasalah!" Protes Alona, wajahnya langsung merenggut.


"Baik pak Stefan, akan kami berikan perawatan terbaik untuk nona Alona." Jawab Dokter kepala.


"Ok, saya ada urusan, maaf tidak bisa dampingi lagi," ujar Stefan sambil melangkah pergi.


"Sayang, kamu mau kemana? Temani aku dulu di sini." Rayu Alona, dengan wajah dibuat memelas.


"Cuma kaki, tidak perlu dikhawatirkan. Aku banyak urusan. Nanti Perawat Ratna yang akan menemanimu." Kata Stefan dengan tegas.


"Tidak! Aku tidak mau, aku maunya kamu Stefan!" Teriak Alona semakin menjadi-jadi.


"Seperti kamu baik-baik saja, suaramu masih penuh tenaga," sindir Stefan.


"Bila ada hal yang lebih mengkhawatirkan seperti dia koma atau butuh operasi, baru kabari saya perawat Ratna. Selain itu jangan pernah berani menghubungi saya." Pesan Stefan.


"Baik pak Stefan," balas Perawat Ratna.


Stefan meninggalkan Alona yang makin cemberut dan wajahnya merah padam, karena gagal lagi mendapatkan perhatian lebih dari Stefan.


"Aargghh!!!" Teriak Alona. Tidak dia peduli dengan sekelilingnya.


Perawat mendorong kursi roda Alona masuk ke dalam kamarnya. Dokter kepala melihatnya geleng-geleng kepala.


Tidak lama kemudian, Stefan kembali berada di kamar Raissa, wajah Stefan langsung sumringah melihat Raissa.


"Hai, bagaimana urusannya? Sudah beres?" Tanya Raissa penuh perhatian.


"Masalah kecil," balas Stefan.


"Aku boleh minta tolong?" Pinta Raissa.


"Apapun boleh. Ada apa?" jawab Stefan sambil menarik kursi supaya bisa duduk disebelah ranjang Raissa.


"Boleh tidak aku pindah ke kelas 3?"


"Hah? Nggak salah? Ini kamar terbaik di sini." Heran Stefan mendengar permintaan Raissa.


"Iya, aku tahu. Kamar ini begitu luas dan cantik sekali."


"Lalu masalahnya dimana?"


"Hmm... aku... tidak.. mampu membayar tagihannya kalau di kamar ini, " dengan ragu-ragu Raissa menjawabnya.


Stefan tertawa terbahak-bahak mendengar alasannya. Disentilnya hidung Raissa dan berkata " Semuanya sudah beres nona, tidak usah dipikirkan lagi. Yang penting kamu cepat pulih dan bisa beraktifitas lagi."


"Tapi aku telah banyak merepotkanmu, dan tolong kamu tidak usah menungguiku di sini. Pasti banyak meeting dan kerjaan kamu di kantor."


"Semua sudah diatur, tenang saja. Aku ingin melanjutkan lagi obrolan kita yang terakhir, jadi aku akan tetap di sini," dengan tegas Stefan berkata. Ditatapnya mata Raissa dengan tajam. Membuat Raissa bungkam, dan raissa segera mengalihkan pandangannya ke arah bunga-bunga tang terpajang cantik di ruangan itu.


"Sudah makan? Butuh kusuapin lagi?" Goda Stefan.


"Aku bisa makan sendiri, terima kasih," balas Raissa dengan wajah merenggut.


Stefan suka melihat wajahnya Raissa, dia semakin ingin menggodanya. Raissa menutupi wajahnya dengan selimut karena dia merasa malu.