
Stefan sudah menunggu Raissa di lobby, dengan santai dia duduk di coffeeshop yang ada di lobby gedung IC4U. Dilihatnya Damien baru keluar dari lift menuju ke muka lobby. Mobil lexusnya sudah siap menanti dia.
"Hmm, mau ngapain dia di sini lagi? Perlu kuselidiki." Kata Stefan dalam hatinya. Dia langsung menghubungi Thom untuk mengumpulkan infonya.
"Thom, cari tahu kenapa Damien sering ke IC4U," perintah Stefan melalui teleponnya.
Thom tanpa bertanya lebih lanjut, sudah paham yang harus dilakukannya. Segera dia bekerja menjalankan perintah itu.
Setelah Stefan menutup sambungan telepon dengan Thom, dia mendapatkan telepon dari Ibu Liana. Segera dia mengangkatnya.
"Hai ma, ada apa?" Sapa Stefan.
"Sayang, tolong besok kamu ajak pacarmu ke rumah ya. Mama ada syukuran kecil, kebetulan opa dan oma besok tiba dari Swiss, sekalian saja kamu perkenalkan dia kepada oma dan opa juga." Ujar Ibu Liana.
"Oma dan opa mau datang? Wah, tentu ma. Besok jam berapa?" Tanya Stefan dengan antusias.
"Jam 7:30 malam, bagaimana? Kalau bisa sebelum itu sudah disini, biar kita berbincang-bincang dulu."
"Ok ma, sampai besok ya ma."
"Ok sayang."
Stefan menutup telepon itu dengan hati bahagia, akhirnya dia bisa memperkenalkan Raissa dengan keluarganya. Bila oma dan opanys setuju, segera bisa diresmikan pertunangannya dengan Raissa. Dan Damien tidak bisa lagi merebut Raissa dari sisinya. Karena Raissa adalah pasangan hidup dia selamanya. Itu yang ada di dalam pikirannya.
Raissa menghampiri Stefan di coffeeshop sambil diam-diam mengejutkannya dari belakang. Stefan cukup kaget dibuatnya, membuat Raissa tertawa lepas melihatnya.
"Dia semakin cantik bila tertawa seperti itu," gumam Stefan dalam hatinya.
"Mari kita pulang," ajak Raissa.
"Ok, sini kubawakan tasnya." Kata Stefan sambil meraih tas kerjanya Raissa, dia genggam erat tangan Raissa.
Di mobil, Stefan berusaha menyampaikan undangan makan malam dari mamanya ke Raissa.
" Raissa, besok kamu bisa ikut ke rumah mama? Tadi mama telepon, minta kamu datang." Kata Stefan sambil menyetir.
"Dalam rangka apa?" Tanya Raissa.
"Mama bilang hanya syukuran kecil saja, ada oma dan opa yang sekarang tinggal di Swiss datang ke Jakarta."
Raissa langsung panik mendengarnya, dia merasa belum siap mental untuk bertemu keluarga inti Stefan. Dia diam seribu bahasa, kepalanya langsung sakit. Karena dalam 1 hari ada 2 hal besar yang harus dia hadapi, tawaran proyek di Singapura dan sekarang undangan dari mamanya Stefan.
"Kamu tidak usah khawatir, keluargaku semuanya moderat dan open minded. Jadi jangan berkecil hati dengan latar belakang keluargamu." Stefan berusaha meyakinkan Raissa untuk tetap berpikir positif, dan berharap Raissa mau datang ke acara besok.
Setelah Raissa berpikir matang-matang, dia akhirnya menerima undangan itu. Stefan langsung tersenyum bahagia, langkahnya untuk meminang Raissa semakin terbuka lebar, pikiran Stefan langsung terbang ke arah lamaran.
*****
Keesokan malamnya, Raissa dengan gelisah duduk di samping Stefan yang sedang menyetir mobil mercedes Benznya. Beberapa kali Stefan mendengar Raissa menarik nafas panjang, Raissa begitu gugup akan menemui mama, oma dan opanya Stefan. Malam ini Raissa terlihat anggun, dengan baju terusan selutut berbahan silk chiffon dengan potongan lengan panjang. Sederhana dan simple. Rambutnya Raissa di cepol modern dengan sedikit untaian rambut menjuntai dengan tepat di wajahnya, Menambah kecantikannya.
Raissa telah menyiapkan buah tangan untuk Ibu Liana, oma dan opa Stefan. Menurut Stefan tidak perlu, tapi Raissa merasa tidak sopan bila tidak membawa apa-apa.
Tiba di rumah besar Ibu Liana, degup jantung Raissa makin berdebar kencang. Wajahnya terlihat gugup. Stefan menggenggam tangannya dengan erat, membuat Raissa sedikit tenang.
Mereka memasuki bangunan utama kediaman Ibu Liana, dimana mereka sudah disambut oleh oma dan opa yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cucu kesayangan mereka.
"Sudah, sudah. Oma juga kangen, tapi bisa sesak nafas Oma bila seerat ini kamu peluk." Protes Omanya.
Mereka bertiga tertawa dengan riangnya, saling melepas rindu. Stefan menarik tangan Raissa untuk diperkenalkan ke Oma dan Opanya Stefan.
"Oma dan Opa, perkenalkan ini Raissa. Kekasihnya Stefan satu-satunya dan selamanya." Ucap Stefan memperkenalkan Raissa.
"Selamat malam Oma dan Opa," sapa Raissa dengan sopan.
"Waduh, kamu cantik sekali. Seperti Oma waktu masih muda, betulkan Opa?"
Opa hanya bisa menggangguk dan tersenyum melihat Raissa. Keramahan yang diberikan Oma dan Opa membuat Raissa sedikit tenang, dia merasa nyaman berada di sana.
"Hayuk masuk ke dalam, nanti hidangan keburu dingin." Ajak Oma, sambil merangkul lengan Raissa.
Di ruang makan, Ibu Liana sedang mengecek penataan hidangan yang disajikan malam ini. Terlihat sangat cantik dan menggiurkan. Beraneka jenis masakan tersaji di sana, seperti ayam goreng, sayur asem, lalapan, ikan asin, pepes tahu, dan masih banyak lagi. Raissa senang menu yang dihidangkan tidak berbeda dengan menu yang dia temui di kampung halamannya.
"Ma, perkenalkan ini Raissa." Ujar Stefan ke Ibu Liana.
Ibu Liana langsung suka melihat Raissa, yang cantik, lembut dan anggun. Dengan tersenyum lebar, dia memeluk Raissa.
"Mari nak Raissa, duduk di sebelah tante. Menu malam ini permintaan Oma dan Opa. Karena beliau sudah rindu masakan asli Indonesia," kata Ibu Liana, mempersilahkan Raissa duduk di sampingnya.
"Iya, kami sudah bosan makan steak dan keju." Celetuk Opa.
"Ini masakan yang paling nikmat. Apalagi sambal terasinya, aduh sudah keluar liurku melihatnya," kata Oma sambil tertawa riang.
"Oh ya, saya ada bawa sedikit buah tangan untuk tante, oma dan opa. Semoga buah tangan yang sederhana ini, sesuai dengan selera." Kata Raissa sambil menyerahkan bingkisan.
Ibu Liana dan Oma mendapatkan scarf dari batik tulis jogjakarta, sedangkan Opa mendapatkan pajangan wayang kulit.
"Aduh nak Raissa, Oma suka sekali ini. Terima kasih ya sayang. Kamu pintar memilihnya," puji Oma
"Tante juga suka, terima kasih Raissa. Ini bisa sering tante pakai. Warnanya masuk kebanyak warna baju tante." Puji Ibu Liana juga.
"Opa bagaimana suka dengan bingkisan itu?" Tanya Stefan.
Opa hanya terdiam memandangi Wayang tersebut, Raissa jadi tegang melihat reaksi Opa.
"Dulu waktu Opa kecil, punya wayang kulit seperti ini. Opa senang bermain dengan Wayang itu, bisa dibilang kesayangan Opa. Lalu hilang oleh pengasuh Opa dulu. Sekarang Opa memiliki Wayang kulit ini lagi, terima kasih nak Raissa," Opa sampai menangis bahagia karena menemukan lagi Wayang kesayangannya.
Raissa menjadi lega, ternyata keluarga Adhinata tidak seangkuh yang dia kira, justru terasa kehangatan dan rasa kekeluargaan diantara mereka.
"Raissa apa cocok menu malam ini? Bila tidak cocok, biar chef memasakan hidangan yang kamu suka?" Tanya Ibu Liana yang mencoba membuat Raissa nyaman.
"Ini cukup tante, Raissa rindu dengan masakan mama di kampung halaman. Jadi terobati rasa rindu Raissa." Jawab Raissa dengan lembut dan sopan. Ibu Liana semakin suka dengan kepribadian Raissa, di dalam hatinya dia senang anaknya Stefan membawa seorang Wanita yang tepat untuk masuk ke keluarga Adhinata.
Disaat semua sedang menikmati makan malamnya, masuklah Alona dengan penampilan begitu mewah. Gaun malam dengan penuh kristal, high heel Christian Louboutin dan juga dandanan yang bagaikan artis.
"Selamat malam semua, maafkan Alona sedikit terlambat. Karena menunggu kiriman bingkisan spesial ini." Sapa Alona dengan dibuat senyum menyeringai yang dibuat seramah mungkin.
Stefan dan Raissa terkejut melihat kehadiran Alona, sampai Stefan hampir tersedak dengan minumannya.