Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 19 - Cemburu Berat



Raissa dan Maya memasuki Restaurant toi et moi. Semua meja sudah terisi penuh. Di meja resepsionis, Raissa menunggu giliran untuk dilayani.


"bon après-midi madame, apa sudah booking tempat sebelumnya?" Tanya resepsionis


"Oui c'est vrai, atas nama Ibu Mary Jane."


"Oh baik madame, silahkan ikuti waiter kami. Dia akan mengantarkan ke ruang VVIP."


"Apakah tamu saya sudah tiba?"


"Sudah madame."


Raissa dan maya berjalan beriringan menuju ruang VVIP, sekilas Raissa teringat pertemuan dengan Stefan sebelumnya.


"Sedang apa ya dia?" Pikir Raissa sekilas.


Pintu ruang VVIP terbuka dan terdengar suara yang dia sudah kenal. Terkejut Raissa melihat Stefan sedang asyik ngobrol dengan seseorang di sana.


"Ruangan saya di sini?" Tanya Raissa ke waiter.


"Betul bu." Jawab Waiter sambil mempersilahkan masuk.


"Damien, jadi dia yang kamu tunggu untuk meeting siang ini?" Tanya Stefan.


"Iya, kamu kenal?" Damien bertanya balik.


"Iya," jawab Stefan. Hatinya berdebar-debar melihat Raissa lagi. Tapi dia masih mengingat kata-kata Raissa, membuat dia menjadi galau dan salah tingkah.


Raissa memasuki ruangan tersebut sambil menarik nafas panjang, hatinya berdebar-debar melihat Stefan lagi. Dia berusaha bersikap profesional, karena dia hadir untuk tugas kantor.


"Hai nona Raissa, salam kenal. Saya Damien," sapa Damien dengan sopan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Hai juga, salam kenal. Saya Raissa dan ini rekan saya Maya. Kami mewakili ibu Mary Jane untuk menemui pak Damien." Balas Raissa sambil menyambut uluran tangan Damien.


"Cukup panggil Damien saja." Ujar Damien sambil tersenyum manis.


"Ehm, mau berapa lama jabat tangannya?" Tegur Stefan dengan nada ketus. Ada rasa cemburu di hati Stefan, melihat Raissa saling menatap dengan Damien.


Raissa dan Damien segera mengakhiri jabat tangannya, Damien kemudian menyapa Maya dan kembali duduk ke kursinya.


Tidak lama kemudian, para waiters masuk ke ruangan sambil membawa makanan.


Raissa selalu kagum setiap melihat penataan makanan di toi et moi, selalu terlihat artistik.


"Mari kita mulai lunchnya, setelah ini baru kita bicara bisnis. Supaya lapar perutku."


"Okay, mari nona maya dan nona raissa. Semoga sesuai dengan selera kalian berdua menu yang saya pilihkan." Kata Damien.


"Cocok, terima kasih pak eh Damien," jawab Maya dengan gugup. Sejak dia memasuki ruangan VVIP itu, matanya tidak berkedip melihat Damien. Hidungnya yang mancung, wajahnya yang bersegi dan sorot mata yang lembut, membuat hati Maya melayang.


Aduh, ringis Maya. Karena dicubit oleh Raissa tiba-tiba.


Damien memandang wajah Raissa yang memakai make up dengan sapuan tipis, tetap terlihat cantik. Raissa menjadi sedikit salah tingkah dipandangi begitu dalam oleh Damien.


Sementara Stefan sorot matanya semakin berapi-api. Dia tidak suka ada pria lain memandangi Raissa, karena baginya Raissa itu miliknya. Hanya dia yang berhak memandang wajah cantik Raisaa.


"Nona Raissa apa bisa menemani saya Rabu besok untuk ke gala dinner Apresiasi Bisnis Indonesia Financial Award (BIFA)?" Tanya Damien dengan tiba-tiba


Raissa dan Stefan sedang minum, sampai tersedak bersamaan.


"Maaf mungkin salah dengar, tadi anda bilang apa ya?" Tanya Raissa.


"Saya minta kamu untuk menemani saya ke gala dinner BIFA," ulang Damien.


Raissa agak ragu untuk menerima tawaran itu. Walaupun dia tahu acara itu sangat bergengsi, gala dinnernya tidak semua pembisnis mendapatkan undangan. Ini kesempatan bagi dia untuk bertemu banyak pembisnis hebat lainnya.


"Tidak bisa, nona Raissa belum pulih kondisi kesehatannya." Stefan menjawab pertanyaan Damien dengan nada tegas.


" dia baru habis operasi usus buntu," celetuk Maya.


Raissa melotot ke maya. Dia jadi semakin salah tingkah.


"Iya damien, tapi saya sudah sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirin." Ujar Raissa.


"Kalau begitu bisa ya, kamu temani saya," Damien masih berusaha membujuk Raissa.


Setelah berpikir sejenak, Raissa akhirnya menjawab " Saya bisa kok hadir besok."


"Bagus, kalau begitu Rabu lusa saya jemput dimana, tolong kabari. Ini nomor telpon pribadi saya." Damien berkata sambil memberikan kartu namanya. Ada tulisan tangan Damien yang berisi nomor telpon.


"Terima kasih Damien." Raissa menerima kartu namanya Damien.


"Hey Damien, kamu memanggil dua perusahaan siang ini untuk apa?" Tegur Stefan untuk mengalihkan topik.


"Oh iya, aku membutuhkan kalian untuk mempromosikan hotel-hotel dan restaurant Group Damiensha Shine. Tolong buatkan proposal promosi seperti apa, yang terpilih akan kami kontrak selama 5 tahun secara eksklusif." Penjelasan Stefan panjang lebar.


"Jadi kamu mau bikin kompetisi project? Sudah buat apa buang waktu, serahkan data padaku. Semua akan maksimal." Dengan Sombong Stefan berkata.


"Hey, jangan mimpi. Kami pun sangat berkualitas, ide kami selalu inovatif dan kreatif." Bantah Raissa cepat. Dia tidak terima perusahaannya dilihat sebelah mata.


"Hahaha, perusahaanku berdiri sudah lama. Perusahaan kalian itu masih bayi. Belum siap memegang project international." Sindir Stefan lagi.


"Jangan banyak bicara, buktikan saja. Perusahaan kamu memang sudah lama, tapi idenya tidak fresh, bisa dikatakan sudah old fashion. Hahahaha," balas Raissa.


Maya asyik makan sambil memandang Damien, dia tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang terjadi antara Stefan dengan Raissa.


"Sudah, nanti diputuskan setelah kalian serahkan proposal dan presentasi. Dateline 2 minggu lagi." Ujar Damien untuk menyudahi keributan Stefan dengan Raissa.


"Baik, team kami siap dalam 2 minggu akan menyelesaikannya." Kata Raissa dan Stefan bersamaan.


Begitu menyadari mereka kompak mengucapkannya, keduanya kompak saling buang muka. Damien sampai geleng-geleng kepala melihatnya.


Akhirnya meeting lunch berakhir dengan damai tanpa adanya pertumpahan darah antara Stefan dan Raissa.


"Terima kasih banyak atas kesempatan ini, Damien. Dan pak Stefan, lunch kali ini kami yang bayar billnya." Raissa berpamitan kepada Stefan dan Damien.


"Cih, lihat sana. Sudah dibayarin dari awal, karena kalian nanti jantungan lihat billnya." Sindir Stefan.


"Maaf pak Stefan, jantung saya kuat dan sehat. Jadi tidak masalah mau berapapun kami bisa membayarnya. Karena sudah dibayarin, kami ucapakan terima kasih. Saya dan maya pamit kembali ke kantor. Tolong pak Stefan yang siapkan jantung untuk 2 minggu ke depan" sindir Raissa dengan nada sopan.


"Huh, lihat nanti saja." Ketus Stefan, tetapi di dalam hatinya, dia merasa bahagia bisa bertemu lagi dengan Raissa.


Raissa dan Maya berjalan keluar restaurant, untuk kembali ke kantor. Dan segera melaporkan hasil meeting dengan Mary Jane.


"Dia cantik ya," celetuk Damien.


"Terus kenapa?" Tanya Stefan ketus.


"Aku mau dapatin dia," jawab Damien serius.


Stefan terkejut mendengarnya, ingin rasanya dia meninju wajah Damien. Tapi dia juga sadar, Raissa belum jadi miliknya.


"Mari kita berkompetisi sehat," ujar Stefan sambil mengulurkan tangannya.


"Wah ternyata kamu pun mengejar dia, untung dia sudah mau kuajak kencan." Pongah Damien.


"Bukan kencan, hanya menemani gala dinner." Tegur Stefan.


"Bagiku sama saja, yang penting dia menjadi pasanganku lusa esok." Balas Damien."Okay, yang kalah harus menerima dengan hati yang lapang." Kata Damien sambil menyambut uluran tangannya Stefan.


"Ini belum berakhir, baru dimulai. Ingat itu!" Seru Stefan.


Sementara Maya mencubit lengan Raissa berkali-kali, karena dia gemas melihat Raissa diajak menemani Damien ke Gala dinner.