Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 54 - Catatan Sipil



"Raissa, kenapa kamu termenung pagi-pagi begini?" Tanya Ibu Mira.


"Eh mama, kagetin saja. Aku hanya teringat almarhum papa, seandainya dia masih hidup tentu dia akan suka dengan Stefan." Kata Raissa.


"Tentu nak, mama yakin dia ikut bahagia. Karena kamu telah menemukan pangeran pujaan hati yang begitu menyayangimu." Ujar mamanya sambil merangkul Raissa.


"Raissa kangen dengan papa." Kata Raissa dengan lirih. "Kenapa dia harus melakukan perjalanan dinas itu?"


Ibu Mira tidak berkata apa-apa, tetapi di dalam hatinya dia merasa bersalah karena telah menutupi suatu rahasia dari Raissa.


"Sudah, besok kamu mau menikah. Harusnya kamu banyak tersenyum, bukan malah bersedih." Hibur mamanya. "Hari ini rencana kamu apa?"


"Kata Stefan, dia sudah membooking tempat Salon dan Spa untuk kita." Jawab Raissa


"Dimana?"


"Di Hotel ini. Mari ma, kita bersiap sekarang." Ajak Raissa.


Mereka akhirnya bertiga beranjak menuju tower 1 lantai 55 dimana letak dari Spa BT Marina. Saat mereka tiba disana, disambut oleh pegawai Spa dengan ramah. Interior Spanya begitu indah dan mewah. Mereka dimanjakan dengan semua fasilitas di sana.


"Ina, kamu juga." Ujar Raissa


"Tidak usah, biar saya menunggu di sini." Tolak Ina.


"Kamu harus ikut. Hayuk sini." Bujuk Raissa.


"Tidak usah, saya di sini saja." Ina tetap menolaknya.


"Kita kan sudah seperti saudara, ini untuk hari istimewaku. Hayuk ikut saja." Bujuk Raissa lagi.


Akhirnya Ina ikut juga masuk ke dalam, mereka bertiga menikmati pijatan dan suasananya di sana begitu menenangkan.


Setelah menikmati perawatan Spa terbaik di sana selama 3 jam lebih, mereka bertemu dengan Oma, Opa dan Ibu Liana di restoran Blossom.


"Bagaimana perawatan Spa di sana? Tanya Ibu Linda.


"Nyaman sekali, Tante." Jawab Raissa.


"Kok masih panggil Tante? Panggil mama dong," pinta Ibu Liana.


"I..iya tan.. eh mama," ujar Raissa dengan malu-malu. Pipinya Raissa langsung bersemu merah.


"Stefan dimana? Tanya Ibu Mira.


"Dia sedang sibuk menyiapkan semuanya untuk acara besok, tadi aku menawarkan diri untuk membantunya. Ditolak," keluh Ibu Liana.


"Biarkanlah, Stefan sudah dewasa. Besok dia sudah berstatus suami." Kata Oma sambil tersenyum.


"Iya, ma. Tidak berasa, sekarang tiba waktunya Stefan menjadi Pria yang dewasa, bertanggung jawab dan memulai keluarga kecilnya." Kata Ibu Liana.


"Mari kita mulai menyantap sajian maka siangnya, nanti keburu dingin." Kata Opa.


"Betul, mari bu Mira, diicip makanannya. Raissa makan yang banyak, tidak usah diet-diet. Kamu harus jaga kesehatan." Ujar Oma.


Mereka menikmati makan siang bersama dalam suasana hangat dan kekeluargaan.


Setelah itu, Raissa ada temu janji dengan make up artis di salon 180 yang terkenal dikalangan selebritis. Di sana, Raissa mencoba beberapa style tata rambut untuk acara besok. Dipilihnya style romantic, dengan rambut di sanggul dengan modern dan ada beberapa helai rambut menjuntai di sisi kiri dan kanannya, hiasan sparkling menambah kesempurnaan tatanan rambutnya.


"Halo Sayang, bagaimana kegiatanmu hari ini?" Sapa Stefan via telepon.


"Sangat menyenangkan hariku." Jawab Raissa dengan ceria. "Bagaimana denganmu?"


"Menyedihkan." Jawab Stefan.


"Loh kenapa?"


"Karena hari ini seharian aku merindukanmu." Goda Stefan.


"Dasar tukang gombal." Balas Raissa, seandainya Stefan melihatnya, akan terlihat pipinya bersemu sangat merah.


"Aku tidak sabar ingin memanggilmu dengan sebutan Istriku." Kata Stefan lagi.


"Hanya satu, yaitu kamu seorang. Oh ya, malam ini akan datang gaun untuk kamu kenakan besok. Kupilih yang simple modelnya, semoga kamu suka dengan pilihanku itu." Kata Stefan.


"Aku percaya akan pilihanmu. Pasti sesuai seleraku." Kata Raissa.


"Okay Sayang, malam ini istirahat yang cukup. Supaya besok pagi kamu bersinar seperti matahari yang menyinari hidupku."


"Gombal."


"Tapi suka kan? Hahaha." Goda Stefan.


Setelah selesai berbicara dengan Stefan, Raissa mengetuk pintu kamar mamanya. Terdengar suara mamanya, untuk langsung masuk saja.


"Ma, boleh tidak malam ini, Raissa tidur sama mama."


"Boleh sayang," jawab ibu Mira.


Raissa langsung mengambil posisi disamping mamanya, dipandanginya wajah mamanya yang tergurat banyak garis kehidupan. Walaupun begitu, mamanya tetap terlihat cantik diusianya yang sudah senja.


"Ma, setelah kita kembali ke Jakarta. Mama mau tinggal di rumah Stefan bersama Rai?


"Sayang, mama lebih nyaman tinggal di kota kecil. Tapi mama berjanji akan sering menengok kalian, apalagi kalau kalian sudah ada anak. Jangan ditunda-tunda ya" kata Ibu Mira.


"Iih mama, jangan bahas tentang anak dulu." Ujar Raissa sambil menutup wajahnya dengan selimut.


Mereka masih berbincang-bincang hingga larut malam, Raissa menjadi tegang memikirkan besok akan menjadi istri Stefan. Semalaman, dia gelisah tidurnya.


Keesokan paginya, setelah sarapan pagi, Raissa, ibu Mira dan Ina berangkat menuju Salon 180. Di sana telah menunggu team yang akan merias dan menata rambut mereka semua. Mereka bekerja sangat efisien, sehingga dalam waktu tiga jam semuanya siap. Raissa juga sudah berganti pakaian dengan baju yang telah disiapkan Stefan, gaunnya simple, tidak lebar, sehingga tidak merepotkan untuk duduk di kursi roda.


Penampilan Raissa begitu cantik, dengan style romantic, membuat Raissa seperti seorang putri. Ibu Mira melihat Raissa dengan airmata bahagia, dia senang Raissa telah menemukan seseorang yang akan menjaganya selamanya.


Mereka berangkat menuju ke catatan sipil Singapore, disana telah menunggu Stefan didampingi mamanya, oma dan Opa. Segera mereka masuk ke dalam untuk mengikuti prosedur umumnya di Singapura. Prosesinya tidak lama,hanya 1 jam semuanya selesai.


Saat mereka keluar gedung, mereka disambut oleh Shawn, Alex, Daniel dan Thom.


"Selamat Stefan dan Raissa eh nyonya Stefan." Ucap Shawn sambil tertawa.


"Selamat untuk pengantin baru kita, Stefan dan Raissa!" Seru Alex.


Mereka melepaskan kumpulan balon berwarna putih ke angkasa, sebagai simbol dimulainya hidup baru mereka sebagai pasangan suami istri.


Mereka mengabadikan semuanya oleh seorang Fotografer yang sudah diatur oleh Thom. Kemudian mereka berjalan menuju sebuah restoran yang berada seolah-olah ditengah hutan. Restoran itu telah disewa oleh Stefan keseluruhan, sehingga tidak ada tamu selain mereka.


Restoran itu telah didekor dengan bunga mawar warna blush pink dan putih. Dan ditaruh beberapa lilin-lilin sebagai bagiab aksesorisnya. Menu yang dihidangkan adalah menu fusion perpaduan masakan Eropa dengan Asia.


"Raissa istriku, terima kasih sudah mengisi hariku dengan kebahagian. Aku berjanji akan memberikan kebahagian untukmu selamanya." Ucap Stefan dihadapan semuanya.


"Aku juga berjanji akan menjadi pendamping yang pantas untuk dirimu." Ucap Raissa juga.


Setelah itu mereka berciuman yang diiringi tepuk tangan yang hadir. Alunan pemain musik klasik mengiringi dansa pertama mereka sebagai pasangan suami istri yang sah. Tetapi karena Raissa belum bisa berdiri terlalu lama, maka Raissa digendong Stefan dengan mesra, mereka mengikuti irama yang dimainkan. Raissa dan Stefan terlihat bahagia.


Oma dan Opa ikut berdansa menikmati alunan musik klasik itu. Sedangkan Shawn dan Alex berebutan mengajak Ina untuk berdansa juga. Ina menolak keduanya, dia lebih memilih duduk bersama Ibu Mira.


Alex akhirnya menyerah, dia kembali ke kursinya. Sedangkan Shawn tidak bergeming, dia tetap berusaha membujuk Ina.


"Ina, berilah aku kesempatan kali ini saja untuk berdansa denganmu." Rayu Shawn.


"Sudah, kamu berdansa saja dengan dia." bujuk Ibu Mira.


"Tapi bu, saya tidak bisa berdansa. Belum pernah." Kata Ina.


"Tidak usah khawatir, injak saja kakiku." Kata Shawn.


Akhirnya Ina mau juga diajak Shawn, dengan kikuk dia berusaha mengikuti gerakan Shawn. Tapi kemudian shawn mengangkatnya, sehingga Ina seperti melayang.


"Tenang saja, kamu itu ringan." Kata Shawn sambil menatap mata Ina erat-erat. Membuat hati Ina berdetak kencang.


Alex yang melihat mereka berdua sedang berdansa, wajahnya berubah merenggut. Tapi dia mengakui kekalahannya untuk kali ini.


Selanjutnya mereka semua hanya menikmati malam itu dengan penuh kebahagiaan.