
Semua yang hadir berhenti sejenak melihat kedatangan Alona. Dengan percaya diri, dia mencium pipi kiri dan kanan oma, opa dan Ibu Liana. Dan dia memilih duduk di sebelah Stefan, Alona tidak menggubris Raissa sama sekali.
"Oma dan Opa, Alona rindu dengan kalian berdua. Ini ada bingkisan special untuk oma dan opa," ujar Alona, sambil memanggil pelayan rumah untuk menyerahkan bingkisan itu ke Oma dan Opa.
"Terima kasih Alona, kamu selalu perhatian kepada kami sejak dulu." Ucap Oma. Dibukanya bingkisan dari Alona, yang berisi pajangan Jepang kontemporer yang terbuat dari kaca dibuat oleh seniman yang bernama Minako Shirakura. Dan untuk Opa, Alona memberikan ginseng berumur 120 tahun.
Alona merasa bangga bisa memberikan barang mahal untuk Oma dan Opa. Sedangkan untuk Ibu Liana, Alona memberikan sekumpulan bunga anggrek bulan dalam pot besar, yang sudah dikirimkan sebelum Alona tiba di sana.
"Terima Kasih Alona sudah berkenan hadir di acara yang sederhana ini. Mari silahkan dicicipi hidangannya." Ibu Liana mempersilahkan Alona mulai mengambil hidangan yang telah tersaji di meja.
"Jangan begitu tante, kita kan keluarga. Tante sudah seperti mama Alona, begitu juga Oma dan Opa seperti Oma dan Opa Alona sendiri." Kata Alona dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.
Alona bingung mau makan apa, karena baginya hidangan yang tersaji sekarang, terlihat kampungan. Dia pikir akan tersaji salmon, steak wagyu , sushi atau menu masakan barat atau Jepang.
"Kurang selera Alona? Perlu tante panggil chef?" Tanya Ibu Liana.
"Alona sedang berdiet, mungkin bisa buatlan Alona Salad saja." Jawab Alona.
"Oh tentu, waduh jangan diet Alona sudah bagus badannya. Kalau terlalu kurus akan mudah sakit."tegur Ibu Liana. Kemudian dia memerintahkan chef mereka untuk membuatkan salad khusus Alona.
"Alona merasa sedikit gemuk saja, tante." Kata Alona menjelaskan alasan kenapa dia berdiet.
Alona berusaha duduk sedekat mungkin dengan Stefan, dan sengaja dia beberapa kali menyentuh tangan Stefan yang sedang menghabiskan hidangan di piringnya. Stefan menjadi kesal, dia memutuskan untuk menyudahi santap malamnya.
"Ma, aku sudah kenyang. Aku dan Raissa ijin ke teras belakang ya." Stefan memibta ijin mamanya untuk lebih dulu meninggalkan meja makan.
Ibu Liana mengganguk, dia memberi ijin Stefan dan Raissa beranjak lebih dulu dari ruang makan. Bersamaan itu juga Salad yang Alona pesan telah terhidang di depannya, penampilannya begitu cantik, ada irisan ayam panggang di dalam salad itu.
"Hayo Alona, dimakan dulu saladnya. Nanti mommy kamu marahin tante kalau kamu tidak makan yang benar di sini." Tegur Ibu Liana ke Aloba, saat dia melihat Alona juga mau beranjak dari kursinya. Alona kesal tidak diijinkan pergi seperti Raissa, tapi dia pura-pura tetap menjadi gadis penurut. Walaupun hatinya begitu panas, melihat Raissa dirangkul Stefan berjalan menuju teras belakang.
Oma dan Opa sejak dulu kurang menyukai Alona, karena terlihat terlalu manja dan sering kasar terhadap pengasuhnya yang sejak bayi sudah mengurusinnya. Oma hatinya sensitif, jadi dia bisa merasakan ketulusan atau kepura-puraan dalam diri seseorang. Dia melihat Alona penuh kepura-puraan, tapi untuk menjaga hubungan baik dengan keluarga Alona, Oma dan Opa tetap bersikap baik terhadap Alona.
"Liana, aku mau ke teras belakang juga ya bersama Opa. Sudah lama kami tidak melihat koleksi bunga-bunga kami di sana." Oma berkata kepada Ibu Liana, sambil beranjakdari kursinya. Opa seperti biasa selalu menemani Oma kemana saja, tidak pernah Opa membiarkan Oma sendirian.
Di teras belakang Stefan sedang bercengkerama dengan Raissa, sesekali terdengar mereka tertawa. Oma senang mendengar suara tawa mereka, bisa dia rasakan Stefan sangat mencintai Raissa.
"Kalian seru sekali sampai tertawa geli begitu, coba Oma juga mau mendengar ceritanya." Tegur Oma sambil menghampiri mereka.
"Ah Oma, mau tahu aja. Stefan sedang bercerita hal-hal lucu dulu waktu Stefan masih kecil." Kata Stefan.
"Hmm, ya kamu dari kecil sering bikin ulah. Opa Wito sampai kewalahan menghadapi tingkahmu Stefan. Sini sayang, kita duduk disini," kata Oma sambil mengajak Opa Tjipto duduk disebelahnya.
"Raissa, Sebetulnya Opa ini adalah suami kedua Oma, karena suami pertama Oma sudah meninggal, yaitu Opa kandung Stefan yang bernama Wito Adhinata."kata Stefan.
"Iya," jawab Raissa.
"Mereka bertemu di Swiss, saat Oma sedang menenangkan diri di sana, setelah ditinggal Opa Wito selama-lamanya. Opa yang sekarang bernama Tjipto Koesoemo, yang sudah lebih dulu tinggal di Swiss. Dahulu istrinya sakit kanker dan berobat di Swiss, cukup lama dia tinggal di Swiss hingga istrinya meninggal. Dia pikir tidak akan menikah lagi di usia senja, tapi nasib berkata lain, mereka dipertemukan di usia senja". Cerita Stefan kepada Raissa.
"Oma sejak menikah dengan Opa tjipto juga kembali bahagia,karena semenjak ditinggal Opa Wito, Oma hanya bisa menangis saja. Opa tidak punya anak, apalagi cucu. Sehingga dia sangat sayang dengan Liana dan Stefan yang sudah dia anggap seperti anak dan cucunya sendiri. Dan Stefan juga sayang dengan Opanya ini," Oma menambahkan lagi ceritanya.
Raissa senang mendengar cerita tentang Oma dan Opa. Dan Raissa bisa melihat Oma itu cantik sejak dulu. Di usia senjanya Oma tetap terlihat garis kecantikannya.
"Raissa, selama Oma masih di Jakarta, tolong sering mampir ke sini. Oma senang kalau kamu mau menemani Oma ngobrol." Pinta Oma kepada Raissa.
"Tentu Oma. Dengan senang hati," kata Raissa.
Di dalam Alona berusaha menyelesaikan makan malamnya, dia ingin menyusul Stefan di teras belakang, tapi Ibu Liana tidak berhenti mengajak Alona ngobrol. Alona agak kesal, rencananya untuk mengambil hati Stefan, gagal lagi. Terdengar dari teras belakang, Raissa tertawa beberapa kali. Membuat Alona semakin geram.
"Berisik banget ketawanya, dasar wanita kampungan," gumam Alona tanpa dia sadari.
"Ya, Alona. Kamu bilang apa? Tante tidak dengar jelas." Ujar Ibu Liana, membuat Alona tersadar bahwa gerutunya terdengar. "Gawat, aku harus hati-hati. Bisa rusak imageku dihadapan tante." Kata Alona dalam hati.
"Tidak bilang apa-apa Tante, cuma Alona terkagum dengan ayam panggang di salad ini. Enak sekali." Ujar Alona sambil tersenyum manis ke Ibu Liana.
"Oh kamu suka, boleh nanti chef bikin lagi kalau kamu maka di rumah tante lagi."
"Tentu tante, terima kasih banyak. Tante memang terbaik untuk Alona." Puji Alona.
Tidak lama Stefan dan Raissa pamit pulang, karena sudah mulai larut malam. Ibu Liana, Oma dan Opa mengantar mereka hingga ke ruang foyer, meninggalkan Alona sendirian di ruang makan. Raissa senang telah diterima dengan hangat oleh keluarga Adhinata.
"Raissa, nanti main lagi ke sini," ujar Ibu Liana.
"Baik tante," balas Raissa.
"Stefan kamu harus menjaga Raissa baik-baik. Dan Raissa kalau Stefan tidak memperlakukanmu dengan baik, langsung adukan me Oma. Biar Oma hukum dia." Ancam Oma dengan nada pura-pura marah, Raissa tertawa mendengarnya.
"selamat malam semua, terima kasih banyak. Raissa pamit pulang dulu." Pamit Raissa.
Mereka baru kembali kedalam rumah, setelah mobil Stefan sudah menjauh.
"Dia pantas untuk cucuku," ujar Oma kepada Ibu Liana. Dan dibalas dengan anggukan Ibu Liana, tanda setuju.
Alona mendengar ucapan Oma, langsung kesal. Dia langsung pamit pulang dengan sedikit berbasa basi, senyum palsu Alona selalu ditunjukan,padahal hatinya terasa panas membara melihat Raissa disambut baik di keluarga Adhinata.