Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 25 - Berilah Aku Kesempatan



Chapter 25 - Berilah aku kesempatan


Raissa minta ijin untuk pulang ke apartemennya, karena dia sudah sangat lelah. Stefan langsung sigap mengantarnya, sepanjang perjalanan, mereka hanya diam seribu bahasa. Stefan masih geram dengan aduan Alona, sedangkan Raissa tidak ingin menambah emosinya Stefan.


"Terima kasih, sudah mengantarkan. Tolong hati-hati. Jangan ngebut, aku khawatir." Pinta Raissa.


Stefan yang pikirannya kalut, tidak terlalu menyimak permintaan Raissa.Tiba di muka lobby, raissa langsung turun. Dan Stefan tanpa menoleh Raissa lagi, langsung tancap gas.


Raissa khawatir Stefan kecelakaan. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia melihat wajah Stefan begitu emosi.


Stefan melajukan mobilnya ke rumah mamanya yang ada di sentul. Karena mamanya mau berkuda, jadi beliau memilih tinggal di sentul saat ini. Dalam sekejap, dia tiba di rumah mamanya.


"Tuan muda, nyonyah sudah tidur." Kata kepala pelayan.


"Tolong bangunkan. Bilang penting," perintah Stefan dengan nada gusar.


"Baik tuan muda." Kepala pelayan kemudian berjalan menuju kamar tidur ibu liana.


Tidak lama kepala pelayan kembali menemui Stefan.


"Maaf tuan, kata nyonyah besok saja ke sini lagi. Beliau sedang istirahat." Kata Kepala pelayan tersebut.


Stefan tidak menggubrisnya, dia langsung berjalan menghampiri pintu kamar ibunya, kepala pelayan berusaha mencegahnya. Tapi tenaga stefan lebih kuat. Keributan semakin terjadi, beberapa pelayan mencoba menghalangi langkah stefan. Stefan membentak mereka semua. Akhirnya pintu kamar terbuka, ibu liana keluar dengan kesal.


"Ada apa ini ribut-ribut !?" Ketus ibu liana.


"Ma, aku mau bicara." Kata Stefan.


"Besok saja, mama mau tidur." Tolak ibu liana.


"Sekarang!" Teriak Stefan.


Ibu liana menyerah, dia memerintahkan kepala pelayan untuk membuat teh panas. Dia dan stefan duduk di ruang keluarga.


"Sekarang katakan apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya ibu liana dengan lembut.


"Pertama, anak mama itu aku atau alona?" Tanya Stefan.


"Kamu lah anak mama."


Kenapa mama lebih percaya perkataan dia daripada aku?" Protes Stefan.


"Mama bukan memihak siapa-siapa." Penjelasan ibu liana.


"Nih, mama lihat rekaman cctv rumah." Pinta Stefan sambil menyodorkan teleponnya.


Ibu liana melihat rekaman cctv itu, dan akhirnya dia bisa melihat kejadiannya dengan lebih jelas.


"Maafkan mama, Stefan." Dengan tulus ibu liana minta maaf.


"Iya, ma." Stefanpun jadi lebih tenang setelah mamanya menyadari kekeliruannya.


"Tapi Stefan, tolong kamu jangan membenci Alona. Dia anaknya manis, memang sedikit manja. Tapi dia tulus mencintaimu."


"Cih, dia itu ratu drama horror. Hanya bisa bikin onar saja." Keluh Stefan.


"Kamu kan kenal dia dari kecil, kalian sering bermain bersama. Coba kamu buka hatimu untuk dia." Bujuk ibu Liana.


"Tidak ma, dari kecil aku selalu menganggap dia hanya seorang adik. Tapi semenjak dia semakin berulah, aku jadu malas bertemu dengan dia. Lebih sering aku menghindar dari dia. Dan maaf ma, hatiku sudah ada yang memilikinya."


Ibu liana terkejut mendengarnya, rasa penasarannya menjadi memuncak.


"Siapa dia?" Selidik ibu liana.


"Nanti kubawa dia untuk temui mama, tapi tidak sekarang. Dia pun belum menerima hatiku 100%."


"Menarik juga gadis ini, disukai Stefan Adhinatha, tapi masih punya harga diri. Tidak mudah jatuh kepelukanmu." Goda ibu liana ke stefan.


"Betul ma, dia itu berbeda. Tidak mudah menaklukan hati dia. Banyak wanita yang ingin jadi pacarku, tapi aku bosan melihat wajah mereka yang palsu."


"Tapi apalah bibit bebet bobotnya setara dengan keluarga kita?" Tanya Ibu Liana.


"Memang kenapa kalau tidak sama dengan keluarga kita? Yang penting aku nyaman bersamanya."


"Kamu tahulah, pamanmu selalu memcari cara untuk merebut warisan ayahmu. Untung kamu cucu kesayangan nenek dan kakekmu." Kata Ibu Liana lagi.


"Oh ya ma, kakek dan nenek bagaimana kabarnya?" Tiba-tiba Stefan rindu dengan kakek dan neneknya.


"Mereka baik dan sehat, udara di Swiss memang begitu bersih. Tidak seperti di sini, nenekmu sering sesak nafas." Tutur Ibu Liana sambil menuangkan teh lagi ke cangkir Stefan.


"Kapan mereka akan kembali?" Tanya stefan


"Segera ma, aku yakin dia wanita yang tepat untukku." Dengan yakin Stefan menjawabnya.


"Ok, mama percaya yang kamu katakan. Tapi tolong jangan terlalu kasar dengan Alona. Ingat mama punya hutang budi dengan mamanya Alona. Dan ingat bila sampai ulang tahun mu ke 30, masih belum ada pasangan yang mendampingimu. Mama akan menjodohkanmu dengan Alona."


"Mama, sudah deh. Jangan bawa-bawa Alona. Aku bisa mati kalo dia jadi istriku."


Ibu liana tertawa melihat Stefan mulai emosi lagi. Ketegangan diantara mereka mulai mencair, setelah meminum teh panas beberapa teguk, Stefan pamit pulang.


*******


Keesokan paginya Alona bangun dengan wajah sembab akibat nangis semalaman. Dia sangat marah melihat Stefan memeluk wanita lain.


Teleponnya berdering, alona mengangkatnya.


"Selamat pagi mommy," sapa Alona, sambil menghidupkan speaker mode.


"Pagi sayang," balas sapa ibunya. "Bagaimana tidurmu?"


"Alona susah tidur tadi malam mommy, hati Alona masih sakit. Semalaman Alona menangis," rajuk Alona.


"Ya ampun, jangan begitu sayang. Anak mommy nanti keriput. Kamu harus jaga yang baik penampilanmu kalau mau jadi istri Stefan."


"Stefan selingkuh mommy."


"Iya, nanti mommy hubungi tante Liana ya. Sekarang kamu sarapan dulu, mommy sudah kirimkan dana ke rekening kamu. Kamu shopping saja sepuasnya, biar mood kamu happy lagi."


"Waah Alona jadi senang sekarang, terima kasih mommyku yang paling baik sedunia."


"Nah begitu dong, baru ini putri kesayangan mommy."


"Peluk cium untuk daddy ya mommy."


"Ok sayang."


Alona bergegas ke kamar mandi untuk bersiap diri, dia mau shopping hari ini. Ada tas branded LV yang mau dia beli. Harganya 320 juta. Dia jadi semangat lagi.


*******


Stefan berusaha hubungi Raissa, tapi teleponnya raissa belum aktif. Stefan menjadi gelisah, segera dia menyelesailan sarapannya. Lalu diraihnya kunci mobilnya, langsung dia tancap gas ke apartemen Raissa.


Tiba di gedung Apartemen Raissa, Stefan parkirkan mobilnya di dekat lobby. Saat dia berjalan menuju lobby, dia melihat Raissa baru keluar gedung.


Diraihnya lengan Raissa, membuat posisi Raissa berputar dan masuk dalam pelukan Stefan. Terkejut Raissa dibuatnya.


"Loh kamu kenapa di sini?" Tanya Raissa heran.


"Menjemputmu, kuantar kamu ke kantor. Mulai sekarang aku akan antar jemput kamu." Jawab Stefan.


"Tapi ...," raissa berusaha membantah.


"Tidak ada tapi-tapian," tegas Stefan. Lalu Raissa digiring menuju mobil Stefan. Mobil langsung melaju tidak lama kemudian.


"Tadi malam aku ke rumah mama yang ada di sentul. Dia sudah mengerti kejadian sebenarnya." Kata Stefan.


"Oooh," balas Raissa.


"Kok cuma ooh," protes Stefan.


"Terus harus bilang apa?"


"Bilang dong i love you." Goda Stefan


"Iish, ge er kamu. " protes Raissa dengan nada sedikit manja.


"Apapun yang Alona katakan, semuanya tidak benar. Kutegaskan lagi dia bukan tunanganku, bukan siapa-siapa."


"Tapi dia ngotot kamu tunangannya." bantah Raissa


"Dia banyak berkhayal, biarkan saja dia.kita jangan ikut masuk dalan khayalannya. Oh ya, kenapa aku tidak bisa hubungi kamu dari tadi pagi?"


"Teleponku tiba-tiba rusak. Rencananya mau ku bawa ke tempat servis siang ini."


"Ooh begitu, ok. Ini kita sudah sampai. Nanti jam 6 ku jemput ya ."


"Ok, terima kasih ya."


"Tidak usah berterima kasih, ini keinginanku untuk selalu menjagamu."


Hati Raissa kian berdebar mendengarnya, belum ada pria yang bisa membuatnya berdebar-debar sebelumnya. Raissa menjadi terharu.