Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 44 - Tiba di Denpasar



Alona tiba di Denpasar dengan perasaan campur aduk, rencana dia berduaan dengan Stefan di Bali gagal total.


"Aarggh, dasar licik kamu, Wanita kampungan!!" Geramnya sambil berteriak dan menghentakan kakinya, membuat orang-orang di sekitarnya terkejut.


Alona tidak peduli dia dicibir banyak orang di Bandara Ngurah Rai - Denpasar. Dia hanya peduli untuk membalas dendam kepada Raissa dan merebut kembali Stefan dari sisi Raissa.


"Stefan miliku!" Serunya lagi. Membuat semakin banyak orang yang mencibir dan berbisik-bisik.


"Lihat dia sepertinya lupa minum obat," cibir salah seorang wanita yang sedang menunggu bagasi koper kepada temannya.


"Kasihan dia, masih muda. Sudah terganggu mentalnya." Ujar teman wanita tadi.


Nina dan Tessa sibuk menghitung jumlah koper yang mereka bawa, ada 7 koper besar semuanya. 5 koper milik Alona dan 2 koper milik Tessa dan Nina.


Dia sudah tidak tertarik untuk menikmati hingar bingar kehidupan di Bali. Sebaliknya Nina dan Tessa sangat bersemangat, mereka asyik foto-foto dan bergaya yang bisa di upload ke media social mereka.


"Tes, bibirmu kurang sexy. Majuin bibirnya lagi. Okay, siap ya!" Seru Nina sambil sibuk mengambil foto Tessa dalam beberapa angle.


"Gantian, sini aku fotoin kamu," ujar Tessa sambil mengambil alih kameranya Nina.


Sekarang Nina yang bergaya dengan patung bali, dengan berbagai gaya yang centil. "Kamera handphone juga," ujarnya.


"Dibikin boomerang yuk!" Seru Tessa


"Boleh," jawab Nina. "Minta tolong dia saja, sambil menunjuk seorang petugas cleaning service yang sedang bekerja tidak jauh dari mereka.


"Mas, ke sini," panggil Tessa.


"Iya , ada yang bisa dibantu?" " tanya petugas cleaning service itu.


"Tolong ambil gambar kami untuk boomerang ya," pinta Tessa.


"Baik."


"Alona ayo kemari, kasih senyum sedikit." Nina berusaha membujuk Alona ikut bergabung mereka.


Dengan langkah gontai, Alona menghampiri mereka. Tessa dan Nina terlihat ceria, sedangkan Alona berwajah merenggut.


"Terima kasih mas," ujar Tessa sambil menyelipkan uang ke petugas itu.


"Alona, kita menginap di hotel mana?" Tanya Nina


"Kita menginap di Villa milikku di Seminyak. Itu supirnya baru datang." Jawab Alona.


Seorang pria paruh baya menghampiri mereka dengan tergopoh-gopoh. "Maaf non, saya terjebak macet tadi ada kecelakaan." Ujarnya.


"Masukan koper-koper segera. Sudah kering saya dari tadi menunggunya!" Ketus Alona.


"Iya iya non." Jawabnya. Tergopoh-gopoh dia mendorong trolley Alona diikuti oleh 1 potter yang juga membawa trolley lainnya.


Disusun sedemikian rupa, sehingga semua koper-koper itu dapat dimasukin semua kedalam mobil land cruiser, sedangkan Alona dan teman-temannya masuk ke dalam mobil Alphard warna hitam.


Tiba di Villa, Alona langsung menghempaskan diri di bench swimming pool. Pelayan Villa membantu untuk membawa koper-koper itu di kamar-kamar yang sudah dipersiapkan. Villa Sunset Alona namanya, lokasinya di Seminyak. Villa ini dibeli oleh ayahnya Alona 6 tahun yang lalu dari temannya, untuk hadiah ulang tahun Alona ke 17 tahun.


Alona masih sebal karena niatnya untuk mendapatkan Stefan di Bali telah gagal. Padahal dia sudah membayangkan makan malam romantis di dalam gua di Samabe bersama Stefan, Melihat sunrise di pantai Lovina, dan semuanya hanya angan dia belaka.


"Aargh, aku masih kesal." Gumamnya sambil melempar handuk ke lantai. Alona menjadi teringat tentang rencana yang dirancang Nina dan Tessa, untuk menghancurkan hubungan Raissa dengan Stefan.


"Hey, itu Stefan masih menempel dengan Raissa, berarti rencanamu itu tidak berhasil!" Tegur Alona dengan ketus. "Alu sudah membayar kalian dengan sangat mahal, ternyata orang-orang kalian keong semua!"


"Sabar sayang, rencana itu dalam beberapa tahap. Kita baru di tahap awal." Ujar Nina menenangkan Alona. "Bila semuanya selesai, akan menjadi berita yang menggemparkan. Percayalah." Ujarnya lagi.


"Sepulang kita dari Bali, akan kutingkatkan kecepatan dari rencana kita. Tapi sebelum itu, berilah kami kesenangan dulu di Bali." Bujuk Tessa.


"Nikmati bali sepuasnya, kita cari bule ganteng di tempat Clubbing. Sudah lama aku tidak berpesta." Ujar Nina sambil berdansa ala clubbing.


Alona menarik nafas , dia berusaha menenangkan pikirannya. Dia melakukan fokus meditasi, supaya getaran cinta dia dapat sampai ke Stefan. Dia merasa metode ajaran instruktur Yoganya benar, sehingga dia selalu rutin bermeditasi.


Makan siang sudah disiapkan, mamanya Alona tahu anaknya mau ke Bali, dia langsung menginstruksikan pekerja di Villa itu untuk menyiapkan segalanya sebaik mungkin. Menu yang dihidangkan siang ini dipesan dari rumah makan kesukaan Alona yaitu Bebek Kumpul di sawah.


Pelayan Villa mengabarkan ke Alona, menu untuk makan siang sudah tersaji di meja makan. Alona memanggil teman-temannya untuk makan siang.


*****


Raissa terkejut mengetahui mereka akan menginap di kamar terbaik di hotel itu, di lantai paling atas. Pemandangan tersaji yang terbaik. Ada 4 kamar mewah didalamnya. Tipe kamar yang dipesan Stefan adalah Chairman Suite. Balkonnya ada 3. Ruang tamunya 2. Ada ruang gym, media dan lainnya. Luasannya 600 m2. Semuanya terlihat sangat menakjubkan.


"Stefan, kita tinggal disini?" Tanya Raissa tidak mempercayainya.


"Iya, kenapa? Tidak suka?" Goda Stefan.


"Bagus sekali, luasannya 3 kali dari apartemenku." Ujar Raissa dengan tatapan kagum melihat sekelilingnya.


"Kalau kamu suka disini, kamu bisa tinggal selama kamu mau." Kata Stefan.


"Ah jangan, pasti mahal. Merasakan tinggal di sini semalam saja, sudah lebih dari cukup." Tolak Raissa dengan tawaran Stefan.


"Tidak usah memikirkan itu," balas Stefan. "Perawat ina, coba siapkan obat-obatnya nona Raissa."


"Baik pak."


"Kamar di sini ada 4, masing-masing punya kamar. Silahkan dipilih. Untuk Raissa, dia tidur di master bedroom. Untuk saya, sisa kamar yang ada, tidak masalah." Kata Stefan.


"Kamu saja yang di master bedroom, biar aku disebelah kamar mama saja." Ujar Raissa.


"Tidak ada penolakan, kamu harus dikamar terbaik. Perawat Ina, bawa Raissa ke kamarnya, rebahkan dia. Biar dia istirahat dulu." Perintah Stefan.


Tidak lama terdengar dering telepon milik Stefan, terlihat nama Oma di sana. Segera diangkat Video Call dari Oma.


"Halo Oma, kami baru masuk ke kamar hotel ini." Sapa Stefan.


"Halo sayang, perjalanan lancar?" Tanya Oma.


"Lancar semua." Jawab Stefan.


"Dimana Raissa? Oma belum lihat dia hari ini." Tanya Oma.


"Sebentar Oma, Raissa baru saja dibawa masuk ke kamar untuk rebahan."


Stefan mengetuk pintu kamar Raissa, terdengar suara Raissa yang mengijinkan masuk.


"Ya, ada apa?"


"Sayang, Oma mencarimu, dia mau bicara dengan mu." Ujar Stefan.


"Oh okay," Raissa langsung mencoba duduk di ranjang dibantu perawat Ina.


"Hai Oma, apa kabar hari ini?" Sapa Raissa.


"Oma rindu sama kalian semua, hahaha. Bila tiga hari Oma makin rindu, Oma menyusul ke sana saja." Gurau Oma.


"Boleh Oma, ke sini saja. Pasti semakin seru kalau ada Oma dan Opa." Ujar Raissa riang.


"Stefan mengurusimu dengan baik kan?" Tanya Oma.


"Sangat baik."


"Syukurlah, selamat beristirahat. Ingat Stefan, jangan membuat lelah Raissa. Dia harus banyak istirahat dan terapinya tetap dijalani." Nasehat Oma panjang lebar.


"Beres Oma, ada perawat Ina. Tenang saja. Oma, yang jadi cucu Oma itu Stefan atau Raissa? Kenapa Raissa terus yang Oma perhatiin? " Protes Stefan.


"Ya ampun, cucu kesayanganku cemburu. Hahaha." Goda Oma.


"Okay, salam buat Raissa dan Ibu Mira." Ujar Oma sebelum mengakhiri pembicaraanya.