Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 45 - Hari Bahagia



"Stefan, lihat itu. Burung kakak tuanya cantik sekali!" Seru Raissa kegirangan. Mereka pagi-pagi sudah berangkat dari hotel untuk menikmati Jurong Bird Park, Raissa tampak bersemangat semenjak mereka tiba di taman itu


Stefan tersenyum melihat ekspresi Raissa yang ceria. "Mau berfoto dengan burung-burung itu?" Tanya Stefan.


Raissa menggangguk, Stefan segera mengurus biaya untuk bisa berfoto dengan sekumpulan burung-burung yang jinak, warnanya aneka macam. Ada yang hinggap dikepala Raissa, ada yang hinggap di kursi rodanya. Yang hinggap di pundak Raisaa berusaha mengigit telinga Raissa, terasa geli baginya. Tante Mira dan Perawat Ina turut berfoto bersama dengan Raissa dan Stefan.


"Mari kita masuk kedalam, nanti kita makan pagi di restoran yang ada dalamnya, banyak atraksi hewan di sana," Kata Stefan sambil mendorong Kursi roda Raissa.


Perawat Ina sangat telaten dalam mengurus Raissa, dia menyiapkan sehala kebutuhan Raissa selain obat-obatan yang dibutuhkan. Alat perangnya ditaruh dalam tas Ransel. Apapun yang dibutuhkan Raissa, dia siap sedia.


Mereka berempat menyusuri jalan setapak disana, berbagai binatang dapat dilihat. Akses jalan di Singapore sangat ramah untuk para pengguna Kursi roda, memudahkan mereka untuk menikmati berbagai atraksi hewan yang ada di sana.


Stefan mengajak mereka sarapan di Hawk Café, tempatnya sangat luas seperti pusat jajanan. Aneka jenis makanan tersedia, seperti toast set, fish and chip, noodles , ice cream dan banyak lagi.


Perawat Ina selalu mengingatkan jenis makanan yang boleh dimakan oleh Raissa, dan tidak lupa memberikan aneka obat yang harus diminum.


Setelah Sarapan, Stefan mengajak mereka kembali ke Hotel. Karena Stefan tidak mau Raissa kelelahan.


"Aku belum puas melihat-lihatnya," rajuk Raissa.


"Iya sayang, nanti kita ke sini lagi. Bagaimana besok kita ke flower dome? Tidak jauh dari hotel lokasinya." Hibur Stefan melihat Raissa mukanya merenggut.


"Janji?" Tanya Raissa sambil memberikan jari kelingkingnya.


"Janji," jawab Stefan dengan tegas , sambil memberikan kelingkingnya juga untuk bertaut dengan kelingking Raissa.


Di perjalanan balik ke hotel, Stefan minta diturunkan di orchard road. Karena sahabat-sahabatnya sudah menunggunya disana.


"Hati-hati di jalan, salam untuk trio bujangan itu ya," kata Raissa sambil tertawa geli.


"Iya, sayang. Kamu istirahat yang baik do hotel. Siang aku pasti sudah balik. Untuk makan siang, pesannya makanan yang kalian inginkan. Ada butler yang siap melayani kalian." Pesan Stefan dengan nada lembut.


Dikecupnya dahi Raissa, sebelum Stefan turun di lobby ION. Kemudian mobilpun melaju lagi menuju ke hotel Marina Bay Sands.


Di ION, Stefan menghampiri tiga sahabatnya di salah satu café di sana. Mereka terlihat sangat menawan, banyak kaum hawa yang mencuri-curi pandang ke mereka berempat.


"Akhirnya bos besar kita muncul juga," sapa Shawn.


"Bisa saja kamu, " balas Stefan sambil menepuk pundak Shawn.


"Dimana Raissa?" Tanya Daniel.


"Dia sedang beristirahat di hotel. Bagaimana info yang kalian dapatkan?" Tanya Stefan.


"Bro, menurutku kasus racun ini sungguh pelik. Terlalu sedikit informasi yang kami dapatkan." Kata Shawn.


"Untuk buzzer hoax tentang Raissa, kami selalu memantaunya setiap hari. Karena ada saja yang mengeluarkan foto-foto dan berita yang menyudutkan Raissa." Kata Alex. "Tapi saat ini masih terpantau. Tenang saja."


Stefan percaya akan hal itu, karena Alex si jenius di dunia programming dan virus komputer. Sehingga berbagai info negatif, bisa dilenyapkan dalam jentikan jarinya saja.


"Aku coba mengaitkan kasus Racun dengan Buzzer, tidak ada koneksinya. Untuk kasus Racun akses informasi yang kita dapatkan sangat minim berarti orangnya cerdas, tapi untuk buzzer yang merencanakannya hanya anak kemarin sore, karena buktinya bertebaran dimana-mana." Ujar Daniel.


"Jadi kesimpulannya orang berbeda sebagai dalang dari dua kasus ini?" Tanya Stefan.


"Betul bro." Jawab Alex.


"Tapi bisa saja orang yang sama tetapi sangat pintar, dia mengeluarkan dua kasus bagian dari strategy. Kasus yang terlihat lemah,sebagai pengalihan." Ujar Daniel.


"Benar juga sih, intinya kita harus menganggap semua bukti dan info adalah hal yang penting. Jangan anggap sepele." Kata Shawn.


"Pengusaha tambang dan kayu itu?" Tanya Alex.


"Iya, kotak kue yang beracun itu memakai alamat toko kue milik nyonyah Hannah. Dimana beliau adalah istri dari Bapak Harry Abimanyu," ujar Stefan. "Ada yang mengganjal dari info yang kuperoleh."


"Mengganjal bagaimana?" Tanya Shawn.


"Info yang Thom dapatkan bahwa Bapak Harry mempunyai dua orang Istri dan dua orang putri. Tetapi tidak ada seorang pun tahu keberadaan istri pertamanya. Nyonyah Hannah itu istri kedua, dan putrinya bernama Thalita. Sedangkan putri satunya lagi ada yang bilang sudah meninggal." Tutur Stefan menjabarkan yang mengganjal pikirannya.


"Aneh sekali. Masa seorang ayah melepaskan begitu saja putrinya. Apalagi bapak Harry orang yang kaya raya."ujar Alex.


"Perasaanku mengatakan bila kita bisa menemukan istri pertama dan putrinya satu lagi, kepingan puzzle ini akan lengkap." Kata Stefan lagi. "Aku dalam tiga hari lagi akan kembali ke jakarta sementara waktu, untuk bisa membongkar kasus racun ini. Bila bukti kuat, polisi dengan mudah menangkapnya."


"Biar kami bertiga yang menemani Raissa." Kata Shawn.


"Tapi jangan kalian menggoda dia, dia itu milikku!" Seru Stefan.


Alex, Shawn dan Daniel tertawa terbahak-bahak dan makin menggodai Stefan. Karena wajahnya yang cemburu sesaat terlihat sangat lucu.


"Oh ya, walaupun Raissa sedang sakit begini. Teamnya dia di IC4U tetap bekerja keras. Tadi pagi kulihat jumlah users mereka sudah melewati AD0. Tampilan baru dan konten-kontennya membuat pengguna portal mereka melonjak 3 kali lipat." Lapor Shawn.


"Baguslah, aku tahu dia telah menyiapkan langkah yang hebat dan didukung oleh Teamnya yanh solid. Seandainya kita bisa merekrutnya untuk AD0." Kata Stefan.


*****


"Aduh, kepalaku sakit sekali!" Keluh Alona saat bangun dari tidurnya. Dia bangun sangat siang, karena Nina dan Tessa terus merenggek minta di ajak ke tempat Clubbing.


Alona sebetulnya sedang tidak semangat untuk clubbing, tapi dia akhirnya mau juga jalan ke sana semalam.


Antar sadar atau tidak sadar, dia bangun di ranjang bersama seorang pria bule. Alona langsung shock.


"Siapa kamu?!" Teriak Alona.


Pria itu bangun dengan tersenyum melihat Alona yang terlihat panik.


"Hi babe, last night so amazing." Ujarnya.


"What is amazing?" Tanya Aloba terheran.


"Kamu tidak ingat? Ah aku pun tidak ingat. Hahahaha." Ujar pria bule itu dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih tetapi masih terdengar aksen bulenya.


"Pergi kamu dari sini! Ini rumahku!" Alona mengusir bule itu keluar dari Villanya


"Ok babe, sampai berjumpa lagi di pesta berikutnya." Salam bule itu langsung beranjak keluar kamar, setelah dia memakai kembali pakaiannya.


"Tidak ada lagi pesta berikutnya, semoga ini hanya mimpi burukku," gumam Alona sambil dia memijat-mijat pelipisnya. Entah karena mabuknya atau rasa jijiknya dia tidak ingat apakah sudah melakukan sesuatu dengan pria bule tadi atau tidak.


Alona langsung beranjak ke kamar mandi yntuk membersihkan diri. Setelah itu dia menuju ke meja makan , dia melihat Tessa sedang sarapan.


"Selamat pagi, mana Nina?" Sapa Alona ke Tessa.


"Selamat pagi, entah kemana Nina. Dia tidak pulang semalam." Kata Tessa."Mana pria bule yang kamu panggil Stefan melulu semalam?"


"Maksudmu apa?" Tanya Alona heran.


"Kalian berisik sekali semalam, aku hampir tidak bisa tidur. Kudengar kau berteriak- teriak memanggil nama Stefan. Kau bilang terus Stefan… ya stefan," kata Tessa dengan santai.


"APA!!!!!" teriak Alona, matanya melotot hampir seperti mau keluar. Dia langsung pingsan setelahnya.