Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 46 - Selamat Kamu Berhasil



"Al…Al…Alona," kata Tessa sambil berusaha membangunkan Alona. Didekatkannya minyak kayu putih ke hidung Alona. Dia perlahan- lahan mulai terbangun dari pingsannya.


"Sudah enakan?" Tanya Tessa. "Cepat buatkan teh manis hangat." Perintah Tessa ke pelayan Villa.


Tidak lama kemudian, Alona tersadar. Dia tampak kebingungan. Tessa terus memanggil namanya.


"Al… Al… Alona, sudah sadar?" Tanya Tessa.


"Hmm… kepalaku pusing," keluh Alona sambil memegang kepalanya.


"Kamu pingsan, sayang." Ujar Tessa.


Nina dengan riang masuk ke dalam Villa sambil bersenandung, terkejut dia melihat Alona yang sedang dipapah Tessa untuk duduk di Sofa.


"Loh, ada apa ini?" Tanya Nina.


"Gara-gara kamu!" Teriak Alona.


"Loh, salahku apa? Aku baru datang." Ujar Nina dengan kebingungan.


Alona menangis sambil berlari masuk ke dalam kamar tidurnya. Pintunya dibanting dengan keras. BRAAKKK!!


"Kenapa dia?" Tanya Nina ke Tessa.


"Tanya saja sendiri ke dia," jawab Tessa sambil meninggalkan Nina sendirian di ruang TV. Tessa kembali ke kamarnya.


*****


Raissa mulai kangen dengan rekan-rekannya di IC4U, dia ingin menghubungi mereka. Tetapi dia tidak menemukan teleponnya di tas.


"Ma, lihat teleponku tidak?" Tanya Raissa.


"Tidak, nak." Jawab mama sambil memotong sayur di dapur.


"Mama mau bikin apa?" Tanya Raissa.


"Mama merasa kangen dengan urap sayur. Jadi mama mau bikin itu, ditambah tempe dan tahu goreng. Kamu mau?"


"Dapat bahannya darimana ma?" Tanya Raissa heran.


"Dari Rajid, butler di sini" Jawab Ibu Mira.


"Ooh begitu, aku mau makan urapnya Ma. Bagiku masakan mama itu nomor satu rasanya. " puji Raissa.


"Nona Raissa, kita mulai gerakan fisioterapinya pagi ini?" Tanya Perawat Ina.


"Boleh, perawat Ina."


Raissa mulai menjalankan gerakan-gerakan fisioteraoi rutinnya, makin hari dia merasa makin baik pergerakannya.


"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Stefan melihat mereka sedang menjalankan fisioterapi.


"Perkembangannya dia jauh lebih baik secara pesat." Jawab Perawat Ina.


"Syukurlah." Jawab Stefan. "Jadi kita ke flower dome?"


"Aku mau," jawab Raissa segera.


"Tapi mama lelah, boleh mama di sini saja?"


"Tante tidak mau ikut? Bagus loh bunga-bunganya di sana." Bujuk Stefan.


Ibu Mira menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dia tetap menolak ajakan untuk plesiran hari ini.


"Kalau begitu, perawat Ina disini saja, menemani Tante. Biar Raissa, aku yang urusin. " saran Stefan.


"Jangan nak Stefan, Raissa lebih membutuhkan Perawat Ina dibandingkan tante." Tolak Ibu Mira.


"Tidak apa-apa, ma. Aku sudah lebih sehat sekarang," ujar Raissa.


"Baiklah, mungkin ini waktu yang tepat untuk kalian berdua menikmati kebersamaan." Goda Ibu Mira sambil tersenyum simpul.


"Bukan begitu, ma." Protes Raissa, pipinya bersemu merah. "Stefan, kamu melihat teleponku?"


"Ada di aku, sayang." Jawab Stefan.


"Kenapa? Berikan kepadaku, aku mau menghubungi rekan-rekanku. Sudah lama aku tidak memantau hasil kerja mereka." Pinta Raissa.


"Boleh, ini kuberikan. Tapi dengan satu syarat. Jangan bilang kita ada dimana. Saat ini semua orang patut kita curigai, Mary Jane sudah tahu tentang kamu, dia bilang kamu cuti untuk mendampingi mamamu. Tidak ada yang tahu kondisi kesehatanmu sebenarnya, selain Mary Jane dan Gita." Ujar Stefan dengan tegas.


"Tapi mereka sudah seperti keluargaku sendiri." Protes Raissa.


"Bila kamu keberatan, teleponmu tetap kusita." Ancam Stefan.


"Iya iya, aku tidak bilang apa-apa ke mereka. Berikan teleponku sekarang." Rayu Raissa ke Stefan.


"Okay, tuan putri. Ini teleponmu." Kata Stefan sambil menyerahkan teleponnya.


Segera Raissa menghidupkannya, dan langsung bertubi-tubi suara notifikasi berbunyi. Setelah sekian lama, teleponnya dimatikan. Banyak pesan yang masuk, sebagian besar dari teamnya terutama Maya dan Ezo.


Raissa akhirnya membalas satu-satu pesan yang masuk. Tidak lama Maya menghubungi dia.


"Rai, kemana saja?" Sapa Maya


"Tidak kemana-mana, aku bersama mama." Jawab Raissa dengan tenang.


"Bagaimana perkembangan IC4U?" Raissa berusaha mengalihkan topik.


"Sangat bagus, tampilan kita disukai oleh kaum milenial. Dan Yudha team berhasil merubah sistem, sehingga terasa lebih ringan. Cepat membuka semua konten, untuk mencari data, juga mudah di mesin pencari IC4U. Ini semua hasil responden survey kita di lapangan." Penjelasan Maya.


"Bagus, lanjutkan saja." Kata Raissa.


"Ada lagi berita bagusnya," ujar Maya lagi.


"Apa itu?" Tanya Raissa.


"Kita berhasil mengunggulin AD0 dalam jumlah pengguna!!" Teriak Maya.


"Betulkah??" Raissa terkejut mendengarnya.


"Betul, selamat Raissa, konsep kamu berhasil merubah IC4U menjadi lebih baik dalam waktu kurang dari 4 bulan." Puji Maya dengan semangat.


"Itu karena kerja keras kalian semua, aku justru tidak melakukan apa-apa." Kata Raissa.


"Hey, itu Raissa?" Terdengar suara Ezo dibelakang Maya.


"Iya, zo. Nih ngobrol saja." Kata Maya.


"Kapan kembali? Mari kita berpesta, hahaha." Kata Ezo.


"Doakan segera aku bisa kembali." Balas Raissa.


"Sebetulnya kamu sibuk urus apa, Rai?" Tanya Ezo.


"Eh, mama manggil. Sudah dulu ya. Nanti kuhubungi lagi. Salam buat yang lain. Selamat atas kerja keras kalian." Raissa buru-buru menutup teleponnya. Sebelum Ezo lebih banyak bertanya yang lain lagi.


Huff, Raissa merasa lebih tenang setelah dia menutup sambungan teleponnya. "Ic4U unggul sekarang? Berarti aku menang!" Jerit Raissa dalam hati.


"Kenapa senyum-senyum? Sudah tahu ya kabarnya?" Goda Stefan.


"Kamu kenapa tidak bilang? Sengaja ya? Menutupi kekalahanmu?" Protes Raissa.


"Tidak, tapi menurutku lebih baik kamu mendengarnya sendiri. Selamat ya sayang, kamu memang konseptor hebat." Puji Stefan sambil memeluk Raissa.


"Terima kasih. Jadi aku dapat saham AD0?"


"Sesuai kesepakatan." Ujar Stefan sambil mengedipkan matanya.


"Kamu kalah kok senang-senang saja."


"Karena aku sudah memenangkan hatimu, itu yang terpenting." Ujar Stefan sambil mencubit hidung Raissa.


Raissa langsung bersemu merah wajahnya mendengar perkataan Stefan. Dia palingkan wajahnya ke arah balkon, karena dia merasa makin merah wajahnya bila dipandangi Stefan terus.


*****


Alona seharian mengurung diri di kamar, semua barang dia lempar kemana-mana. Nina dan Tessa menjadi khawatir melihatnya.


"Alona, kita makan malam yuk?" Bujuk Tessa.


"Tidak mau!" Teriak Alona dari balik pintu kamarnya


"Alona, kalau kamu sakit, bagaimana bisa mengejar Stefanmu itu." Bujuk Nina.


"Bagaimana mau dapatin Stefan? aku sudah tidak perawan lagi. Aku jijik dengan diriku sendiri!" Jerit Alona.


"Alona, itu masih bisa kita bicarakan. Aku kenal dokter yang bisa memperbaiki selaput daramu. Tenang saja, kamu masih bisa dapatkan Stefan." Kata Nina


"Ijinkan kami masuk ya?" Tanya tessa.


Alona terdiam mendengar kata-kata Nina, dia melihat suatu harapan lagi untuk mendapatkan Stefan.


Terdengar kunci kamar Alona berbunyi, tandanya Alona sudah tidak mengurung diri lagi. Tessa dan Nina merasa lega, mereka langsung masuk ke dalam kamar Alona.


Dilihatnya penampilan Alona acak-acak seperti keadaan kamarnya yang seperti kapal pecah. Kedua matanya Alona bengkak karena seharian dia menangis.


"Jadi aku bisa kembali perawan lagi?" Tanya Alona dengan suara terdengar parau, karena banyak menangis dan teriak-teriak seharian.


"Bisa, nanti kukenalin dokternya yang bagus banget hasilnya." Ujar Nina.


"Alona, mari kita makan malam. Nanti kita pikirkan cari jalan keluarnya." Bujuk Tessa sambil merangkul Alona.


Alona akhirnya mau keluar kamar bersama Tessa dan Nina, dan mereka menikmati makan malam yang sudah terhidang di meja makan sejak tadi.


"Besok kita balik ke Jakarta," kata Alona.


"Kenapa buru-buru balik?" Tanya Tessa.


"Aku mau ke dokter itu segera," kata Alona lagi.


"Harus daftar dulu sayang, antriannya panjang. Karena dokternya memang bagus hasil operasinya, jadi banyak pasiennya." Ujar Nina.


"Ya udah, daftarin namaku segera. Aku mau jalur cepat." Perintah Alona


"Iya nanti kuaturin." Jawab Nina lagi.


"Okay, kita tetap balik ke Jakarta besok pagi." Ujar Alona. "Makan malamku sudah selesai, aku mau istirahat dulu."


Tessa dan Nina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka melanjutkan makan malamnya tanpa Alona.