Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 29 - Menantang Lawan



Damien tiba kembali di Jakarta, udara panas langsung dia rasakan saat dia keluar dari pintu gedung Terminal 3. Mobil Alphard putih sudah menunggu dia di area jemput khusus terminal 3 bandara Soekarno Hatta.


"Ke gedung IC4U sekarang," perintahnya kepada supir.


Mobil tersebut langsung melajukan kendaraannya menuju daerah Kuningan. Lalu lintas hari ini cukup padat. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 2 jam, Damien mengirim pesan ke Raissa.


Damien: Hai, apa kabar? Aku sekaramg sedang menuju ke gedung IC4U. Kita makan siang bareng ya.


Raissa: Hai juga, loh kapan tibanya? Kukira masih minggu depan baru kembalinya. Ok, makan siang dimana?


Damien: Bebas, kamu yang putuskan saja. Kutunggu di lobby ya.


Raissa: ok.


Tiba jam makam siang, Raissa langsung turun ke lobby. Di lift ada beberapa orang selain dia. Mereka berbisik-bisik dibelakangnya, membuat Raissa sedikit risih. Tapi dia tidak menegurnya, baginya percuma. Prinsip dia, bila tidak melakukannya kenapa harus takut.


Di lobby, Raissa melihat Damien sudah menunggunya. Raissa langsung melambaikan tangan menyapa Damien.


"Lihat, itu mangsa barunya sepertinya. Dia mengincar laki-laki kaya terus." Bisik wanita pertama, yang berjalan dibelakang Raissa


"Iya betul, apa bagusnya dia? Kok para pria senang dengannya." Bisik wanita kedua disebelah wanita pertama.


"Ck ck ck, padahal cantik dan karirnya bagus. Kok mau sih jadi pelakor. Jangan-jangan cara dia naik karirnya karena bujuk rayuannya." Bisik wanita pertama lagi.


Gunjingan dan cercaan menjadi makin seru diantara mereka berdua, tapi Raissa tidak menggubrisnya.


"Hai Damien, kita jalan sekarang?" Sapa Raissa.


"Ok, yuk kita jalan. Makan dimana kita?" Balas Damien.


"Di Warung rindu ya?"


"Warung Rindu? Itu benaran nama restoran? Atau kamu yang rindu padaku?" Goda Damien.


"Issh, ge er. Ini benaran. Enak makanannya, tapi ya lebih masakan rumahan. Bagaimana?"


"Hmm, ok. No problem. Kupanggil supir dulu."


"Tidak usah, dekat kok. Jalan kaki saja."


"Oooh,ok."


Raissa berjalan dengan Damien sambil asyik berbincang-bincang. Tidak terasa mereka sampai di Warung Rindu. Saat mereka memasuki restoran tersebut, raissa melihat Maya sedang asyik ngobrol dengan Bimo.


"Maya?"


"Sstt, jangan bilang Ezo, aku di sini." Kata Maya sambil memberikan kode memohon-mohon.


Raissa tersenyum melihatnya, sudah biasa dia melihat Maya dan Ezo saling ngambek tapi juga saling mencari.


"Mari kita duduk disitu saja," saran Damien, dia menunjuk kursi yang dekat dengan jendela. Raissa hanya mengangguk saja.


Maya menghampiri mereka, dan Damien juga mempersilahkan Maya untuk bergabung bersama mereka. Bimo langsung menawarkan menu special untuk mereka, yaitu "Kwetiau Goreng Cinta Abadi" dan "Juice Rindu selalu". Mereka yang mendengar nama menunya, tertawa geli.


"Baik, kami semua pesan 2 menu yang tadi." ujar Damien.


"Siap, mohon tunggu sebentar." Kata Bimo, sambil mencatat orderannya. Maya memandangi wajah Bimo tanpa berkedip. Ditendangnya kaki Maya oleh Raissa.


"Aduh!" Seru Maya.


"Kenapa?" Tanya Damien.


"Ooh, ini.. hmm.. kaki terbentur meja." Alasan Maya, sambil cengengesan. Tapi tangan membalas cubit pahanya Raissa, membuat Raissa meringgis sedikit.


"Tempat ini nyaman juga, boleh sering-sering saya makan siang bersama kalian di sini." Kata Damien.


"Boleh banget," celetuk Maya. Raissa langsung melototin Maya. Tapi Maya tetap berkicau. "Sering-sering traktir kami ya."


Disambut tertawa oleh Damien. "Tentu saja," katanya.


Sesekali Maya melirik Bimo yang sedang melayani tamu di meja lain. Dan Bimo juga membalas dengan senyuman ke Maya, membuat hati Maya berbunga-bunga.


Tiba-tiba telepon Maya berdering, ternyata dari Ezo. Setelah berdebat beberapa saat, Maya akhirnya memutuskan kembali ke kantor. Menu yang dipesannya karena belum habis, dia minta jadi take away. Dengan bersungut-sungut, maya berjalan keluar dari Warung Rindu.


Tinggalah Raissa dan Damien berdua di sana, melanjutkan santapan makan siangnya.


*****


Stefan sedang menghirup kopi lattenya, sambil membaca berita di layar monitor. Tiba-tiba sekretarisnya masuk dan menghampirinya.


"Pak Stefan, ada tamu yang mau bertemu, namanya pak Gunawan dari PT. Sawit Sejahterah." Ujar Sekretarisnya.


"Biarkan dia masuk." Perintah Stefan dengan wajah datarnya.


"Baik pak."


Tidak lama pintu terbuka, masuklah sosok yang bernama bapak Gunawan Tan. Dia datang didampingi oleh Thom.


"Selamat siang pak Stefan." Sapa beliau.


"Siang, silahkan duduk pak Gunawan." Balas Stefan dengan sopan.


"Saya langsung saja ya pak ke pokok permasalahan." Ujar pak Gunawan Tan dengan nada sedikit sombong.


"Silahkan."


"Saya dapat kabar bapak telah menarik semua investasi bapak diperusahaan PT. Sawit Sejahtera. Kenapa pak? Setahu saya omzetnya tiap tahun meningkat."


"Bapak lihat dulu video ini," thom langsung memberikan ipad kepada pak Gunawan. Sejenak dia melihat video itu.


"Sudah lihat?" Tanya Stefan dengan nada tegas.


"Sudah, tapi apa hubungannya dengan perusahaan kami, pak Stefan?"


"Thom, ambilkan dokumen tadi di meja saya. Berikan kepadanya." Perintah Stefan.


Thom langsung menyerahkannya, pak Gunawan langsung membaca isi dokumen itu. Langsung dia gemetaran, segera dia berlutut kepada pak Stefan.


"A..Ampun pak,ma..maafkan istri saya. Dia masih muda, belum bisa mengontrol diri. Tolong pak, kembalikan lagi investasi bapak. Bisa hancur usaha saya." Dengan terbata-bata pak gunawan memohon belas kasihan dari Stefan.


Stefan hanya diam, sambil memainkan bola kecil yang terbuat dari marmer. Wajahnya sangat tenang, tetapi matanya begitu tajam.


"Pak Gunawan, bapak tahu julukan saya? Serigala,"


"Ta… tahu pak." Jawab pak Gunawan sambil mengelap keringatnya


"Saya tidak akan mengigit, bila tidak di ganggu. Tetapi ini sangat mengganggu saya. Permintaan maaf tidak cukup menurut saya."


"Saya harus bagaimana?"


Saya tidak tahu, itu istri bapak. Bukan wewenang saya masuk ke rumah tangga bapak. Begitu juga sebaliknya, wanita yang dituduh pelakor itu adalah tunangan saya yang sebenarnya. Jadi bagaimana baiknya menurut pak Gunawan yang terhormat?" Ujar Stefan dengan nada dingin.


"Saya… saya…", terbata-bata pak Gunawan itu berusaha menjawabnya. Tapi otaknya langsung kosong, jantungnya serasa mau copot.


"Investasi memang saya sudah tarik, tetapi untuk kebaikan bapak selama ini, Saya beritahukan bahwa pemegang saham terbesar PT Sawit Sejahtera sekarang adalah saya. Ya, saya sudah membeli 70% sahamnya. Sedangkan saya masih mengingat jasa pak Gunawan, saya sisakan saham hanya 15% saja dan 15 % milik tony Tan adik pak Gunawan tidak saya geser. Tetapi posisi anda sudah bukan Direktur Utama lagi, saya posisikan anda sebagai manager, gaji dan fasilitas disesuaikan." Stefan mengucapkannya sambil tersenyum. Tetapi pak Gunawan melihatnya tetap merasakan kekejaman dari senyuman Stefan.


"Anda keberatan, pak Gunawan atas solusi dari saya?" Tanya Stefan dengan nada dingin.


"Ti..tidak pak, saya berterima kasih bapak masih menyisakan saham untuk saya dan adik saya." Pak Gunawan sampai keringat dingin menjawabnya


"Silahkan anda pulang, urusan siapa Direktur Utamanya, nanti saya yang tunjuk." Stefan berkata sambil mempersilahkan Pak Gunawan keluar dari ruangannya.


"Ba..baik pak." Pak Gunawan pulang dengan hati yang hancur, hilang usaha yang dia rintis selama ini dalam satu jentikan Stefan saja. Tetapi tidak dapat dia perbuat lagi, semuanya sudah terlambat.


Alona mendapat kabar dari Nina, apa yang telah terjadi pada suami Tessa. Alona dan Nina semakin geram dan membenci Raissa. Mereka berjanji akan menuntut balas kepada Raissa dengan lebih kejam lagi. Mereka merasa atas bujukan Raissa, membuat Stefan bertindak seperti itu.