Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 16 - Kembali Berteman



Stefan merasa perjalanan dari Rumah Sakit ke gedung apartement Raissa terlalu dekat, dia berharap bisa lebih lama lagi berduaan dengan Raissa. Sedangkan Raissa merasa semangat karena dia rindu dengan apartement kecilnya, bagaimanapun nyamannya kamar di rumah sakit, dia merasa lebih nyaman di rumah sendiri.


Mobil porsche cayman milik Stefan tampak mencolok di area parkir gedung apartemen Raissa, petugas parkir mengarahkan mobil itu diparkirkan di area vvip. Sehingga tidak jauh dari pintu lobby.


Raissa berjalan menuju lobby dengan langkah perlahan-lahan, masih ada sedikit rasa nyeri di perutnya. Stefan membantu Raissa menaikin tangga lobby sambil membawakan tasnya Raissa.


"Selamat siang Ibu Raissa, ini ada beberapa paket yang datang untuk ibu " sapa Resepsionis kepada Raissa.


"Ooh, bisa minta tolong diantarakan ke unit apartemen saya?" Pinta Raissa.


"Maaf bu, kami sedang kekurangan orang."


"Sudah biar aku saja yang bawain." Kata Stefan.


"Tapi..." raissa semakin merasa tidak enak.


Stefan langsung membawa semua paket tersebut. Raissa hanya bisa terdiam sesaat, akhir dia pun pasrah.


Sesampainya mereka di apartemen Raissa, Stefan melihat isi apartemennya sederhana tapi terasa nyaman. Luasannya tidak terlalu luas, tapi terasa lega karena penataan interiornya yang tepat.


"Stefan, tolong taruh saja semuanya di meja makan itu. Tunggu sebentar, aku mau ke kamar sebentar." Kata Raissa sambil berjalan menuju kamarnya.


Stefan meletakan semua tas dan paketnya di atas meja makan, dan kemudian dia melihat-lihat foto yang ada di meja console.


Hmm, wajahmu saat kecil mengemaskan. Gumam Stefan.


Akhirnya dia melihat foto sosok pria dengan seragam tentara, Stefan merasa tidak asing dengan wajah pria ini, tapi dia tidak bisa mengingatnya.


"Mari silahkan duduk, kusiapkan teh ya," ucap Raissa sambil mengeluarkan cangkir teh dari lemari dapurnya.


"Tidak usah, kamu belum sembuh, jangan banyak gerak," tolak Stefan.


"Tidak apa, akupun mau minum teh."


"Ini foto siapa?" Tanya Stefan


"Itu ayahku, beliau wafat saat bertugas," jawab Raissa.


"Seperti yang pernah Gita ceritain kemarin," kata Stefan dalam hati.


Tidak lama Raissa datang dengan membawakan dua cangkir teh panas. Segera dihirupnya teh panas itu oleh Stefan, baginya teh itu menjadi teh terenak di dunia. Karena teh racikan Raissa.


"Jadi kamu tinggal sendirian di sini?" Tanya Stefan.


"Iya, ibuku tidak betah tinggal di Jakarta. Dia lebih suka di kampung halaman." Jawab Raissa.


"Dimana itu?"


"Kota tujuh," jawab Raissa sambil tertawa.


"Kota tujuh? Ada ya di indonesia, kayaknya tidak pernah dengar." Stefan langsung mencoba mengingat pelajaran geografinya.


"Hahaha, kamu lucu sekali Stefan. Kota tujuh itu Salatiga, itu nama bercandaan yang sering kami pakai." Tertawa geli Raissa melihat wajah Stefan yang bingung.


"Sala..tiga… wuah hahahaha, lucu juga." Stefan baru memahami arti kata kota tujuh.


"Baiklah, kamu mau istirahat, aku pamit dulu. Besok ku jemput untuk berangkat ke kantor." Ucap Stefan.


"Terima kasih banyak atas tawarannya, tapi mohon maaf, besok aku berangkat ke kantor sendiri saja. Sudah cukup banyak, aku telah dibantu, maaf aku tidak terbiasa."


"Kamu harus terbiasa, karena aku maunya begini," kata Stefan dengan nada memaksa.


"Maaf Stefan, kamu memang baik selama aku sakit telah merawatku. Kukira kamu orangnya angkuh, tapi ternyata kamu bisa menjadi teman yang baik. Aku tidak mau ini menjadi kesalahpahaman," panjang lebar Raissa mencoba menjelaskan semuanya.


"Kesalahpahaman? Apa maksud kamu?"


"Aku takut banyak yang mengira kita pasangan kekasih padahal kita bukan, kita berteman dan juga rival dalam dunia kerja. Jadi sebaiknya kita mulai menempatkan diri kita dalam batasan yang benar."


"Tidak usah pedulikan apa kata orang,"ujar Stefan dengan wajah dingin.


"Tapi saat ini kita ini rival, empat bulan lagi kita umumkan siapa yang lebih unggul. Penilaiannya bisa tidak objektif lagi." Kata Raissa


"Kita berteman baik saja, jangan melewati batas ini. Terima kasih sudah dibantu selama aku sakit. Ini akan menjadi hutangku yang kelak akan kubayar suatu saat nanti."


Stefan marah dan kecewa mendengar ucapan Raissa, tanpa berkata-kata lagi, stefan keluar dari apartemen Raissa.


Tidak Raissa, kamu harus kuat, jangan sampai kamu jatuh cinta, ingat posisi dan status kamu. Strata kamu berbeda dengannya, kata isi pikiran Raissa, tapi rasa galau dia juga makin memuncak.


Raissa menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan hati dan pikirannya.


"Maafkan aku, Stefan. Aku tidak mau perasaan ini berkembang, karena aku tahu posisiku. Tidak setara dengan dirimu. Semakin sering kamu berada di dekatku, semakin aku merasa nyaman," gumam Raissa, gurat kesedihan terlihat diwajahnya.


******


Keesokan harinya, Stefan bangun dengan wajah kusut. Semalaman dia tidak bisa tidur, memikirkan sikap Raissa yang membuatnya kecewa.


"Aarrgh, perempuan bodoh!" kesal Stefan sambil melempar jam yang ada di nakas ranjang.


Tok tok tok, pintu kamar diketuk oleh kepala pelayan, menandakan waktunya bersiap mandi dan berpakaian.


"Masuk!" Perintah Stefan dengan ketus.


"Selamat pagi tuan, hari ini tuan mau memakai baju warna apa?" Tanya Kepala pelayan, yang biasa dipanggil Bibi Sumi.


"Terserah, " jawab Stefan dengan masa bodoh.


Ibu Sumi sudah mengurus Stefan sejak kecil, jadi dia paham wataknya Stefan. Dengan sigap ibu Sumi menyiapkan pakaian kerja hari ini, perpaduan warna biru muda dengan jas warna abu-abu. Deretan jam tangan rolex dihamparkan di atas meja walk in closet.


Stefan beranjak menuju kamar mandi dan mulai bersiap berpakaian. Dikarenakan mood dia sedang tidak bagus, dia tidak terlalu peduli dengan pilihan jam tangan, sepatu maupun warna bajunya. Di dalam pikirannya Raissa.


"Bi Sumi, wanita itu makhluk yang membingungkan ya?"


"Maksud tuan?" Tanya bi Sumi dengan heran.


"Ah sudah lupakan, sarapan sudah siap?"


"Semua sudah siap, tuan."


Tanpa berkata-kata lagi Stefan keluar kamar dan turun menuju beranda dimana dia selalu menikmati sarapannya di sana.


Saat Stefan sedang menikmati sarapannya, seorang pelayan membawa pesan dari ibunya.


Tertulis dipesan, hubungi mama segera.


Stefan langsung menghidupkan telepon genggamnya yang sejak pulang dari apartemen Raissa dimatikannya.


"Halo, ma. Ada apa?"


" Stefan , kamu kemana saja. Mama hubungin dari tadi malam tidak bisa. Coba kamu ke RS Adhinatha, Alona minta kamu temanin dia, sayang," kata ibu Liana Adhinatha.


"Ma, dia itu sudah besar, kenapa merengek seperti itu terus? Aku sibuk!" ketus Stefan.


"Sayang, tolonglah. kasihan dia, sebatang kara di kota jakarta, ibunya minta mama untuk menjaganya." Rayu ibu Liana lagi.


"Aku sibuk, ma." Tolak Stefan.


"Tolong lah sayang, bantu mama kali ini ya. Mamanya Alona sibuk teror mama dari tadi malam. Pusing mama dibuatnya."


"Iya, nanti aku mampir ke RS, sebelum ke kantor," menyerah juga Stefan dengan bujuk rayu ibunya.


"Nah begitu, mama harap kamu bisa menghibur Alona."


"Tidak janji," jawab Stefan .


"Ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting kamu muncul di hadapan Alona. Sekarang mama sebentar lagi akan pulang ke Jakarta, kita makan malam bersama ya."


"Baik,ma. Jam tujuh malam Stefan ke rumah mama.


"Terima kasih sayang, kamu memang anak kesayangan mama." Ujar ibu Liana sambil menutup saluran telepon