Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 30 - Pertarungan



Damien ingin mengajak kencan dengan Raissa, 1 minggu dia kembali lebih awal,karena dia ingin bertemu dengan Raissa lebih banyak lagi.


"Raissa, bagaimana progres presentasinya?" Tanya Damien.


"Masih dalam proses, belum banyak info yang kami dapatkan." Jawab Raissa sambil menyeruput minumannya.


"Ada yang mau kamu tanyakan?"


"Ada, kamu ada waktu untuk kuwawancarai?"


"Malam ini saja bagaimana? Kujemput ya di apartemenmu." Ujar Damien.


Raissa tanpa pikir panjang, dia menyetujui ajakan Damien. Dia hanya berpikir untuk menyelesaikan tugas yang diembaninya dari Mary Jane.


"Ok, ku jemput jam 7 ya. Aku sekarang ada kerjaan dulu, mari kuantar kamu balik ke gedung kantor. Tidak tega aku meninggalkan mu sendirian."


"Hahaha, biasa sajalah. Ini kan dekat kantorku. Sebentar kupanggil Bimo untuk minta tagihannya."


Saat Raissa mau menerima baki tagihan dari Bimo, Damien langsung merebutnya dan menyelipkan kartu kreditnya di sana. Dan segera menyerahkan baki tagihan itu kembali ke Bimo.


"Lah, kok jadi ditraktir." Protes Raissa.


"Nggak apa-apa, aku tidak terbiasa dibayari oleh seorang wanita." Balas Damien.


*****


Menjelang sore, Stefan mengirim pesan Raissa untuk memberitahu dia yang akan menjemputnya sepulang kerja. Raissa karena sedang sibuk, tidak melihat pesan tersebut. Stefan mengira Raissa marah kepadanya, karena video yang viral itu. Stefan langsung memesan 1 set bunga mawar, untuk diberikan kepada Raissa.


Saat tiba waktunya pulang, Raissa terkejut melihat Stefan telah berada di lobby denhan seikat bunga mawar berwarna pink yang di tata cantik sekali. Raissa menghampiri Stefan, yang telah menunggunya dengan sabar.


"Bunga cantik untuk wanitaku yang cantik," ungkap Stefan sambil menyerahkan bunga tersebut.


"Wah cantik sekali mawarnya, terima kasih ya," kata Raissa sambil tersenyum lebar.


Kemudian mereka bersama-sama menuju mobil Stefan, yang kali ini yang dimana mobil Mercedes Benz tipe SL 400 AMG line warna silver. Tampilan mobil itu sangat mewah dan futuristik. Hanya ada 2 kursi di dalamnya.


Stefan membantu Raissa memasangkan seat belt. Saat dia melakukannya, dia dapat mendengar suara nafas Raissa. Stefan menjadi berdebar-debar dan langsung salah tingkah.


"Kita mau makan malam dimana kali ini?" Tanya Stefan.


"Makan malam… ya ampun!" Seru Raissa terkejut, dia baru menyadari telah menerima ajakan makan malam dengan Damien.


"Ada apa?" Tanya Stefan, dia heran melihat reaksi Raissa.


"Ehm.. duh.. bagaimana ini?" Gumam Raissa, tapi tetap terdengar oleh Stefan.


"Ada apa? Aku tidak marah, ceritain saja." Bujuk Stefan supaya Raissa dapat menjelaskannya.


"Ehm.. tadi siang Damien ke kantor, kami makan siang bersama. Dan sebelum pamit pulang, Damien mengajak bertemu lagi untuk membahas tentang presentasi itu." Kata Raissa dengan hati-hati menjelaskannya.


Stefan langsung cemburu, wajahnya langsung dingin. Membuat Raissa menjadi bingung melihat perubahannya.


"Kamu marah?" Tanya Raissa.


Stefan menarik nafas panjangdan kemudian menjawab "sedikit".


"Kalau begitu ku hubungi Damien untuk membatalkannya." Ujar Raissa sambil mengambil telepon genggamnya. Stefan mencegahnya, ditariknya tangan Raissa. Kemudian diciumnya pipi Raissa dengan lembut.


"Tidak usah dibatalin." Kata Stefan dengan lembut. Raissa masih terdiam, karena tiba-tiba Stefan mengecup pipinya. Muka Raissa langsung panas dibuatnya.


"Hmm.. benar tidak apa-apa?" Tanya Raissa dengan wajah bersemu merah.


"Wajahmu makin imut, nanti sering-sering kucium saja." Goda Stefan sambil dicoleknya pipi Raissa. Membuat Raissa makin salah tingkah. Ditutupnya wajahnya dengan tangannya. Melihat tingkahnya, Stefan makin senang dibuatnya.


"Benar aku tidak apa-apa, tetapi perginya sama aku. Kamu hubungi dia untuk menanyakan tempatnya, biar kita jalan ke sana bersama." Kata Stefan.


"Okay, sebentar kuketik dulu pesannya ke dia." Ujar Raissa sambil mengirimkan pesan ke Damien.


Damien menerima pesan Raissa, dia merasa bingung kenapa tidak mau dijemput olehnya. Dia akhirnya berpikir Raissa terlalu sungkan dengannya, dikirim balik pesan itu segera.


Damien : Biar kejemput saja kamu, bahaya,sudah malam soalnya.


Raissa : tidak apa-apa, aku jalan tidak sendirian.


Damien : baik lah, kita makan di daerah Senopati, ku kasih sharelocnya.


Raissa : okay. Terima kasih ya.


Raissa pun memberikan shareloc itu ke Stefan. "Cih, mau ajak dinner berdua saja. Enak saja, Mau cari mati dia." kata Stefan dalam pikirannya.


Tiba di lokasi yang diberikan Damien, Raissa masuk bersama Stefan. Tempatnya sangat romantis, interiornya begitu elegan. Tempat ini cocok untuk dijadikan tempat berkencan.


"Hai, selamat malam. Maaf kami sedikit terlambat." Sapa Raissa dengan ramah.


"No problem. Silahkan duduk." Balas Damien seramah mungkin. Tapi tatapan ingin menusuk Stefan. Sedangkan Stefan tersenyum puas melihat Damien seperti itu.


Suasana agak sedikit canggung, Stefan dan Damien saling menatap tajam. Sedangkan Raissa bingung melihat tingkah keduanya.


"Oh ya, ini bunga untuk kamu, Raissa." Damien menyerahkan seikat bunga mawar warna pink kepada Raissa.


"Hahaha, kalian ini memang satu tipe ya. Sama-sama kasih bunga dengan warna yang sama juga. Terima kasih Damien." Kata Raissa dengan tersenyum simpul menerimanya.


Damien langsung melotot ke arah Stefan. " sialan keduluan, awas berikutnya aku yang akan mendapatkan Raissa." Sinyal yang diberikan oleh Damien kepada Stefan.


Stefan hanya tersenyum licik membalas tatapan Damien. Dia merasa menang dari Damien.


"Mau pesan apa?" Tanya Raissa memecah kekauan diantara mereka bertiga.


"Apa saja, pesan aja. Kupanggil waiter dulu." Jawab Damien.


"Aku pesan Steak salmon dengan salad balsamic," Raissa menyampaikan pesanannya.


"Aku juga," celetuk Stefan.


"Aku juga," Damien juga mengikutinya.


"Loh kalian para pria bukannya suka daging, ini ada steak wagyu." Ujar Raissa mencoba menawarkan menu yang lain kepada Stefan dan Damien.


"Tidak, apa yang kamu suka aku juga suka." Kata Stefan tersenyum semanis mungkin.


"Aku memang lagi mengurangi daging, Salmon boleh juga." Kata Damien.


"Ok lah. Mbak kami pesan 3 steak salmon dengan salad balsamic ya." Raissa memberikan pesanannya kepada pelayan resto.


"Baik bu, minumannya mau pesan apa?" Tanya Pelayan itu.


"Saya mau ice tea lecy." Jawab Raissa.


"Saya juga!" Seru Damien segera.


"Saya juga," ujar Stefan.


Damien tersenyum kemenangan karena duluan yang mengucapkannya, sedangkan Stefan yang balik melototin Damien.


Raissa melihat tingkah keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Raissa langsung menanyakan perihal presentasi itu kepada Damien.


"Damien, untuk terkait presentasi itu. Berapa budget yang diperkirakan untuk digelontorkan setiap eventnya?" Tanya Raissa.


"Budget saya belum putuskan. Silahkan diajukan saja. Yang penting jangkauan dalam menyampaikan promosinya. Bisa melalui clip, buzzer, on air dan off air. Saya minta satu paket lengkap." Tutur Damien menjelaskannya.


"Bisa tidak kami memakai talent profesional dan non profesional untuk dijadikan brand ambassador?" Tanya Raissa lagi. Dia sambil mencatat beberapa point yang harus disampaikan.


"Bisa. Atur saja. Bila butuh reward atau giveaway, infokan saja. Semuanya bisa." Jawab Damien lagi.


"Sebetulnya tujuan kamu membuat proyek ini untuk apa!" Ketus Stefan.


"Loh kenapa ketus?" Sindir Damien.


"Semuanya tidak jelas. Budget bebas, konsep bebas, kok menurutku seperti proyek khayalan." Ujar Stefan dengan nada ketus.


"Terserah aku dong, yang penting kubayar siapa yang bisa memberikan konsep promosi yang lengkap." Ujar Damien membela diri.


"Tapi tidak jelas kisi-kisinya,"protes Stefan.


"Kalau kamu keberatan, mundur saja


Biar kontrak langsung kukasih ke Raissa. Bagaimana?" Tantang Damien.


"Siapa bilang keberatan, aku cuma berpendapat. Tunggu saja hari Presentasi , minggu depan kan? Besok pun teamku siap, kalau perlu," tantang balik Stefan.


Suasana semakin memanas, Raissa terpaksa menengahinya. "Sudah, mari kita nikmati makan malam ini. Lihat menu kita sedang diantar ke sini."


Stefan dan Damien langsung diam, tapi tatapan kedua tetap seperti mau saling membunuh. Walaupun mereka tetap memasang senyum basa basi.


"Mari pak Stefan dan Raissa, silahkan dinikmati makan malamnya." Ujar Damien dengan sopan.


Mereka akhirnya berhenti berdebat sejenak dan menikmati Salmon Steak masing-masing.