Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 14 - Taman Bunga



Kondisi Raissa makin hari makin membaik, tetapi Raissa mulai merasa bosan berada di kamar terus, memang terkadang dia terhibur dengan kehadiran Mary Jane dan Gita yang silih berganti menjenguknya.


"Kita lihat kebun bunga yuk?" Ajak Stefan. Dia sudah bisa menebak pikiran dan isi hati Raissa.


"Kebun bunga dimana?" Tanya Raissa terheran-heran.


"Kebun bunga rahasia, hahaha" jawab Stefan sambil tertawa.


"Rahasia? Maksudnya?" Tanya Raissa.


"Nanti kamu juga tahu," ungkap Stefan dengan wajah sumringah


"Hmm, baiklah. Aku sudah mulai bosan juga disini. Kapan kita jalannya? Perlu ijin dokter?"


"Tunggu sebentar, kuambilkan kursi rodanya dulu." Ujar Stefan sambil berjalan kelyar kamar.


Tidak lama, Stefan kembali sambil mendorong kursi roda. Diangkatnya Raissa perlahan dari ranjang ke kursi roda. Ditaruhnya selimut untuk menutupi perut dan kakinya Raissa. Stefan mengambilkan cardigan milik Raissa yang sudah disiapkan Gita. Banyak baju yang sudah dibawa Gita ke rumah sakit.


Sementara di lantai 35, Alona mengadu kepada ibunya bahwa Stefan tidak menemani dia. Ibunya menghibur anak kesayangannya, dan memberikan alasan bahwa Stefan itu sibuk di kantornya. Jadi tidak ada waktu untuk menemani. Sebagai calon istri harus lebih memahami kesibukannya. Mendengar itu, Alona menjadi semakin merajuk. Dia merasa kecewa, karena Stefan tidak menggubrisnya.


"Mommy, aku harus bagaimana?" Rajuk Alona.


"Alona sayang, kamu harus memahami kesibukannya Stefan. Coba kamu belajar lebih dewasa, belajar sabar." Bujuk mamanya Alona.


"Tapi mommy…," protes Alona.


"Alona, kamu itu cantik perfect buat jadi calon istrinya Stefan. Tidak usah khawatirkan hal-hal kecil. Saat Stefan sudah menjadi suamimu, tidak akan ada yang bisa merebutnya."


"Jadi aku harus lebih sabar?" Tanya Alona


"Belajar lebih dewasa." Kata mamanya Alona.


"Baiklah mommy, salam buat daddy. Aku rindu kalian berdua." Kata Alona, kemudian dia memutuskan saluran teleponnya.


"Selamat sore, nona Alona. Sekarang waktunya minum obat." Sapa perawat Ratna sambil membawa baki obat untuk Alona.


Ditepisnya obat yang di berikan,"Hey kamu, aku bosan, bawa aku ke cafe atau kemana kek." Perintah Alona ke perawat yang sedang menjaganya.


"Tapi nona."


"Mau kulaporin bahwa kamu bekerja serampangan, jadi kamu bisa dipecat." Ancam Alona.


"Jangan nona, jangan pecat saya. Baik saya ambilkan dulu kursi rodanya, tunggu sebentar," ujar perawat Ratna dengan ketakutan. Dia berusaha tenang, tapi suaranya gemetaran menahan tangis.


Bagaikan nyonyah besar, Alona memerintahkan semua orang yang ditugaskan merawatnya, tidak ada yang berani membantah dan harus selalu terlihat ramah kepada Alona.


Kursi roda Alona didorong oleh perawat Ratna menuju lift, sehingga mereka bisa ke lobby Rumah sakit, dimana banyak cafe dan restoran di sana.


Saat tiba di lobby, suasananya cukup ramai. Alona menunjuk ke arah sebuah cafe. Segera mereka beranjak menuju ke sana. Saat Alona duduk menunggu pesanannya, dia melihat bayangan Stefan baru keluar dari lift sedang mendorong seorang Wanita, karena posisinya cukup jauh dan ramainya keadaan lobby, membuat Alona kesulitan melihat wajah wanita itu.


Alona memerintahkan Perawat untuk mendorong kursi rodanya ke arah Stefan. Tetapi Stefan telah hilang dari pandangannya, Alona kebingungan dan dia kesal hingga memaki-maki perawat itu.


"Kenapa kamu lambat sekali!" Seru Alona.


"Arrggh, kamu memang seperti keong," maki Alona.


Sementara di sisi lain, Raissa merasa nyaman kursi rodanya didorong oleh Stefan, sepanjang perjalanan menuju taman bunga, stefan banyak menjelaskan semua fasilitas yang ada di rumah sakit itu. Kadang mereka terlihat bercanda dan tertawa lepas, sungguh beda tampilan Stefan bila tidak berada di dekat Raissa.


Tibalah mereka di taman bunga, tidak banyak yang tahu lokasi taman bunga ini. Padahal berada dibelakang Rumah Sakit. Raissa langsung jatuh cinta melihat bunga-bunga berbagai jenis dan warna bermekaran semua.


"Waah, indahnya... ini sih taman Surga!" Seru Raissa dengan gembira.


"Suka?" Tanya Stefan


"Suka sekali." Mata Raissa tidak berkedip melihat keindahannya. Memang ukurannya tidak luas sekali, tetapi dengan penataan yang tepat, semuanya terlihat sangat indah dan harmonis.


"Taman ini dibuat oleh almarhum kakek, untuk nenekku, yang saat itu sedang sakit keras. Nenek menjadi semangat berobat, setiap diajak melihat taman bunga ini. Sekarang nenek tinggal di Ubud - bali. Semenjak ditinggal kakek selama-lamanya."


Raissa mendengar cerita Stefan dengan seksama, dalam hati Raissa alangkah indahnya bila kita dapat bertemu belahan jiwa seperti kakek neneknya Stefan.


"Stefan, betapa beruntungnya nenekmu memiliki kakekmu. Yang tetap saling mencintai dan menjaga satu sama lain sampai tutup usia."


"Kita juga akan begitu," jawab Stefan dengan cepat.


"Huh, kita? Apa maksudnya?" Tanya Raissa dengan heran.


Stefan terkejut juga menyadari dia telah mengucapkan itu, ada rasa khawatir Raissa akan menolak cintanya bila terlalu terburu-buru diungkapkan perasaanya. Ya, sejak pertama Stefan bertemu dengan Raissa perasaan suka telah muncul dihati Stefan yang dikira banyak orang telah membatu. Untuk urusan bisnis, Stefan selalu bergerak cepat, tapi untuk percintaan rasa tidak percaya dirinya tetap ada. Jadi untuk Raissa, Stefan bersedia bersabar menunggu Raissa membalas perasaannya ini.


"Mari kuajak melihat bunga kesayangan nenekku," kata Stefan mencoba mengalihkan perhatian Raissa.


"Ok," segera Raissa menyetujuinya.


Beranjak mereka menuju ke rumah kaca yang ada di sana. Didalamnya terdapat banyak bunga langka dan sangat cantik, ada mawar hitam, mawar pelangi, tulip hitam dan lainnya yang Raissa pun tidak tahu nama bunga itu.


Stefan menunjuk ke sebuah bunga berwarna peach, bentuknya seperti mawar, tapi kelopaknya lebih rimbun cantik sekali.


"Itu bunga kesayangan nenekku, nama bunga itu Middlemist Camelia. Ini bunga sangat langka, kakek mendapatkan ini dari relasinya yang ada di inggris. Di dunia hanya ada 3 lokasi keberadaan bunga ini, inggris, selandia baru, dan di jakarta. Rumah kaca ini sudah diatur suhu dan kelembabannya supaya bunga ini terus hidup. "


"Waaahhhh, cantik sekaliiii.... " Raissa begitu terkagum melihat bunga Middlemist Camelia itu.


"Kita di sini, sampai kamu puas melihat-lihat bunga di sini. Tenang saja, tidak akan ada yang berani masuk ke sini." Ungkap Stefan. Dia senang melihat Raissa begitu menyukai bunga-bunga yang ada.


*****


Alona berusaha mencari tahu kemana Stefan menghilang, dia bertanya ke semua petugas yang ada, tetapi tidak ada yang memberikan jawaban yang memuaskan.


Dia mencoba hubungi Stefan, tapi diterima oleh kotak suara. Alona semakin menjadi-jadi tingkahnya, membuat perawat yang menemaninya menjadi kewalahan. Berbagai cara Perawat itu membujuk Alona untuk kembali keruang perawatan, karena ada jadwal visit dokter yang harus dipenuhi.


Alona bersikeras untuk tetap berada di lobby, menunggu Stefan kembali datang. Akhirnya team dokter yang merawat Alona menghampiri dia, tanpa banyak bicara, langsung digiringnya Alona menuju ke tempat X-ray dan CT scan, untuk ditindaklanjuti observasi kakinya dan juga kepalanya. Alona berteriak-teriak seperti anak kecil.


"Aku tidak mau, dengar tidak? Aku tidak mauuuu!" Teriak Alona.


Tingkah Alona membuat jadi tontonan di lobby rumah sakit. Mereka bertanya-tanya siapa Alona ini.