Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 53 - Kejutan Manis



Stefan dengan gelisah menunggu kedatangan mama, Oma dan Opa. Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, sebentar lagi pesawat mereka akan siap boarding. Thom ikut mendampingi untuk keberangkatan kali ini.


Tidak lama kemudian, terlihat mobil Oma dari kejauhan. Dibelakangnya mobil mamanya. Stefan langsung merasa lega. Petugas maskapai membantu untuk memasuki koper-koper kedalam bagasi, segera mereka bergegas menuju pesawat.


"Maafkan kami terlambat, tadi ada sedikit masalah di rumah." Ujar Oma. Setelah mereka semua duduk di kursi masing-masing di area kelas 1.


"Masalah apa, Oma?" Tanya Stefan.


"Opa tadi kehilangan gigi palsunya." Kata Oma sedikit tertawa.


"Hah?"


"Iya, opa lupa dimana menaruh giginya. Terpaksa kami membongkar koper lagi, dan ternyata ada di salah satu koper. Hahaha. Heboh sekali tadi." Kata Oma lagi.


"Sudah sayang, jangan dibahas lagi." Kata Opa sedikit merenggut. "Maklum lah, Opa sudah tua. Jadi kadang suka pikun."


"Ah, siap bilang opa sudah tua? Masih gagah kok." Puji Stefan dengan tersenyum simpul.


Pramugari mulai memberikan instruksi untuk keadaan darurat, tidak lama kemudian pesawat mulai bergerak menuju area run away bersiap untuk take off.


*****


Shawn, Alex dan Daniel sudah tiba di bandara Changi. Mereka hendak menyambut kedatangan rombongan Stefan dan keluarga. Sedangkan Raissa tidak mengetahui kedatangan rombongan ini, karena Stefan bilang via telepon ke Raissa, dia baru kembali empat hari lagi. Raissa agak kecewa mendengarnya, karena sebelumnya Stefan bilang akan kembali secepatnya.


"Lex, pesawatnya on time kan?" Tanya Daniel.


"Iya," jawab Alex sambil melihat papan jadwal pesawat.


"Shawn kemana?" Tanya Daniel lagi.


"Kemungkinan dia sedang menggoda SPG duty free." Jawab Alex seenaknya.


"Enak saja, kamu menuduh yang tidak-


tidak." Celetuk Shawn dari belakang Alex.


"Loh biasanya begitu," kata Alex.


"Itu dulu, sebelum aku bertemu dengan bidadariku, Ina." Ujar Shawn.


"Cuih, dia tuan putriku. Jangan ngaku-ngaku," protes Alex.


"Sudah jangan ribut, kita sedang membantu melancarkan rencana Stefan." Tegur Daniel.


Shawn dan Alex saling merenggut tapi mereka tidak ribut lagi.


Setelah menunggu 45 menit, akhirnya rombongan Stefan terlihat juga. Mereka bertiga langsung menghampiri rombongan tersebut.


"Halo tante, oma dan opa," sapa Alex , Shawn dan Daniel hampir bersamaan.


"Wah, kalian makin ganteng saja," puji Oma.


"Tapi Opa tetap yang terganteng bagi Oma," goda Alex sambil melirik kearah Opa. Dan Opa hanya bisa senyum-senyum saja melihatnya.


"Stefan, kita ke hotel sekarang?" Tanya Shawn.


"Iya, tapi aku sudah pesan beda tower dari kamar Raissa." Kata Stefan.


Tiba-tiba Alex memasangkan wig rambut sebahu ke Stefan. "Pakai ini biar tidak dikenalin."


"Apaan ini, tidak mau. Busuk sekali baunya." Tolak Stefan.


"Iish, enak saja. Kubantu penyamaran sempurna buatmu padahal." Keluh Alex.


"Sudah, ini makin sore. Waktu kita terbatas. Harus segera ke hotel sekarang," tegur Shawn.


Beriringan rombongan itu masuk ke dalam tiga mobil yang telah dipersiapkan untuk mengantar mereka semua ke Hotel.


Tiba di kamar Hotel, Stefan mulai bersiap diri memakai tuxedo. Malam ini Stefan hendak memberikan kejutan kepada Raissa. Makan malam romantis di tempat paling romantis di Singapura, yaitu Singapore Flyer.


*****


Terdengar suara bel di pintu kamar Hotel, Perawat Ina membukakan pintunya. Pegawai Hotel memberikan sebuah kotak bingkisan berukuran besar dan buket bunga untuk Raissa.


"Siapa yang datang, Ina?" Tanya Raissa.


Isi pesan itu tertulis :"halo Sayang, kukirim bunga ini sebagai simbol rasa rinduku padamu. Sedangkan bingkisan satu lagi simbol rasa cintaku padamu. Love, Stefan."


Raissa membaca pesannya menjadi bersemu merah. Kemudian dia membuka kotak bingkisan besar itu, terkejut dia sebuah gaun warna pink blush didalamnya dengan model sesuai selera Raissa. Terdapat kartu pesan lagi di dalamnya.


Isi pesan ke dua tertulis : "Halo Sayang, segera kenakan gaun indah itu, dan pergilah ke tempat yang bisa membawamu ke tempat tertinggi di Singapura. Nanti akan ada yang mengantarmu. P.s: Ina dan tante jangan diajak. Karena ini khusus untukmu saja. Love, Stefan."


"Mau kubantu memakainya?" Tanya Ina menawarkan dirinya. Raissa menggangguk, hatinya bercampur aduk antara senang, bingung dan malu menjadi satu semua.


Ina juga membantu Raissa merapihkan rambutnya dan juga memulas sedikit make up di wajahnya, sehingga terlihat lebih fresh. Tepat pukul 7 malam, seseorang menjemput Raissa. Dan penampilan Raissa terlihat cantik dan mempesona, walaupun dia menggunakan kursi rodanya.


Di muka lobby hotel, sebuah mobil mewah telah menunggu dia. Raissa semakin bingung, mau dibawa kemana. Tetapi dia hanya bisa pasrah saja.


Tiba di suatu tempat, terlihat banyak rangkaian bunga di sana dan karpet terbentang dengan ditaburin kelopak mawar yang banyak. Lilin-lilin kecil melengkapi kesan romantis di sana. Raissa terus menyusuri jalur kelopak mawar tersebut. Dan diujungnya, berdiri Stefan dengan tuxedonya memegang sekuntum mawar warna merah.


Raissa tersenyum lebar melihat Stefan menghampirinya, terlihat begitu tampan penampilan Stefan malam ini. Stefan memberikan sekuntum mawar itu kepada Raissa.


"Halo Sayang, malam ini kamu cantik sekali." Kata Stefan. Raissa tersenyum malu melihat Stefan mengecup keningnya.


Mereka kemudian masuk ke dalam sebuah kubikel di Singapore Flyer. Di dalamnya tertata sebuah meja yang sudah dibuat seindah mungkin. Makanan tersaji dalam 3 tahap. Dimana satu putaran, satu sajian terhidangkan. Pergerakan flyer ini lambat, sehingga Raissa dapat puas melihat keindahan Kota Singapura di malam hari. Dan terpenting bisa menikmatinya bersama Stefan, pria yang dia cintai.


"Kamu suka, sayang?" Tanya Stefan.


"Iya, terima kasih banyak. Benar-benar suatu kejutan yang manis bagiku. Tapi kamu bilang masih 4 hari lagi baru kembali." kata Raissa.


"Kejutan dong, bila kamu tahu aku kembali, bukan kejutan lagi namanya." Ujar Stefan sambil mencolek hidungnya.


"Iya ya, hahahaha." Raissa tertawa dengan malu-malu.


Di putaran terakhir, setelah mereka menyelesaikan dessertnya. Stefan berlutut di samping meja, sambil membuka sebuah kotak berisi cincin berlian, sambil bertanya " Bersediakah kamu menemaniku selamanya dan menjadi Istri belahan jiwaku?"


Raissa langsung menjawab "iya aku bersedia." Dengan airmata bahagia Raissa menerima Stefan memakaikan cincinnya di jari manisnya.


"Wah bisa pas" ujar spontan dari Raissa.


"Tentu saja, aku tahu semua tentang mu." Kata Stefan sambil memberikan kecupan di bibir Raissa.


Saat flyer mereka berhenti, Raissa terkejut, ternyata telah hadir Tante Liana, Oma, Opa, mama, Ina, Thom, Shawn, Alec dan Daniel di sana. Mereka bertepuk tangan menyambut Raissa dan Stefan.


Thom, Alex, Shawn dan Daniel melepaskan confetti. DUARR.. DUAARR.. DUARRR.. susana semakin meriah.


"Selamat Raissa, selamat Stefan." Mereka saling mengucapkannya.


"Terima kasih, kalian juga ikut ke sini Oma, Opa dan Tante?" Tanya Raissa sambil tersenyum bahagia.


"Tentu saja." Ujar Oma sambil mencium pipi Raissa kiri dan kanan.


"Selamat menjadi keluarga Adhinata, menantuku." Ujar Ibu Liana.


"Ma, kami belum menikah sekarang." Kata Stefan.


"Ah sama saja, dua hari lagi sudah jadi istri kamu." Jawab Ibu Liana.


"HAH? Du..dua hari lagi!" Seru Raissa terkejut.


"Loh kamu belum bilang?" Tanya ibu Liana. "Ooppss".


"Mamaaaaaa," keluh Stefan.


"Sayang, jadi dua hari lagi kita menikah? Disini?" Tanya Raissa.


"Iya, tapi bukan di sini. Tapi di catatan sipil." Goda Stefan.


"Kenapa tidak menunggu di Jakarta dan bisa kita undang kerabat dan keluarga terdekat?"


"Aku mau segera, untuk resepsi bisa tahun depan, mau mewah dan megah tidak masalah." jawab Stefan.


"Selamat nak Stefan dan putri kesayanganku, titip dan jaga dia ya Stefan." Kata Ibu Mira sambil menangis haru dan bahagia. Stefan langsung memeluknya dan dia berjanji akan menjaga Raissa sebaik mungkin.


Kemudian mereka semua kembali ke hotel untuk merayakannya, Stefan telah menyiapkan tempat private di salah satu restoran di sana.


Ibu Mira, Ibu Liana, Oma dan Opa menolak bergabung, mereka lebih memilih beristirahat di kamar saja. Sisanya ikut merayakan pertunangan itu di sana, Raissa tersenyum bahagia sepanjang malam.