Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 28 - Tertuduh



Keesokan harinya, di kantor Raissa sedang ramai atas viralnya video di TakTikTuk.di dalam video itu, terlihat seolah-olah Alona memergoki tunangannya yang berselingkuh dengan Raissa di suatu Restoran. Suaranya tidak ada, hanya tulisan dan musik. Tapi yang melihatnya menjadi memihak Alona semua.


Banyak komen yang bersimpatik terhadap Alona, mereka berkata Alona lebih cantik dari Raissa, dan harus tetap sabar dan kuat. Sedangkan di sisi Raissa, banyak yang memakinya.


Waktu Raissa datang,suasana di lobby kantor terasa berbeda. Banyak yang menatapnya dengan pandangan merendahkan, ada juga yang bisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya. Raissa menjadi bingung, ada apa hari ini? pikirnya.


Tiba di lantai 15, Maya langsung menghampiri Raissa dengan wajah prihatin. Di tariknya Raissa ke ruang meeting.


"Ada apa Maya? Kok seperti kalut begitu," tanya Raissa penuh keheranan.


"Kemarin kamu makan malam dengan Stefan?"


"Iya, memang kenapa?" Raissa semakin bingung melihat reaksi wajahnya Maya.


"Nih lihat, ada video tentang kamu dan Stefan. Di sini terlihat kamu itu pelakor, karena Stefan sudah punya tunangan." Penjelasan Maya.


"Hah? Video apa?"


"Nih lihat sendiri," ujar Maya sambil memperlihatkan videonya yang ternyata sudah masuk ke group chat dan semua social media. Bahkan masuk ke lambe turah.


Di dalam video itu, terlihat adegan dia bersama Stefan yang seakan-akan terpergok oleh tunangan Stefan dan tidak memperdulikan tunangan tersebut, malah pergi meninggalkannya. Dan di akhir video, Wanita itu sedang dihibur oleh teman-temannya karena sedang hancur hatinya. Semua cerita diperkuat dengan tulisan, walaupun tidak ada nama. Tapi wajah Raissa dan Stefan terlihat jelas, sedangkan Alona hanya terlihat punggungnya saja.


Raissa terkejut melihatnya. Dan merasa serangan Alona kali ini sangat menjijikan. Membuat cerita hoax, sangat murahan.


"Menurut kamu bagaimana?" Tanya Maya.


Belum sempat Raissa menjawabnya, terdengar ketokan di pintu, isabel masuk ke dalam untuk menyampaikan pesan dari Mary Jane bahwa Raissa dipanggil untuk menghadap dia.


"Nanti kita lanjutkan, Maya. Aku harus ke ruangan Mary Jane sekarang." Raissa beranjak dari ruangan diikuti oleh Isabel dibelakangnya.


Di lantai 45, Raissa berjalan menuju ruangan Mary Jane. "Masuk", terdengar suara Mary Jane dibalik pintu. Raissa langsung masuk ke dalam, dilihatnya Mary Jane sedang menatap monitor notebooknya.


"Selamat pagi, Mary Jane." Sapa Raissa.


"Pagi, Raissa. Silahkan duduk." Mary Jane mempersilahkan dia untuk duduk.


Raissa merasa ada yang berbeda dari Mary Jane, tapi dia tetap diam menunggu Mary Jane yang memulai percakapan.


"Raissa, kamu sudah lihat video itu?" Tanya Mary Jane.


"Sudah, baru saja. Maya yang menunjukkannya."


"Apa pendapatmu?" Tanya Mary Jane lagi.


"Ya, bukan itu kejadian sebenarnya. Biarkan saja," jawab Raissa santai.


Mendengar jawabannya, Mary Jane menarik nafas panjang, tangannya dilipat. Wajahnya terlihat sangat serius.


"Raissa, kemarin aku bilang akan selalu mendukung segala hubungan yang kamu jalani sebagai seorang sahabat. Tapi kuharap kamu mulai paham, sekarang tindak tanduk kamu akan terpantau lebih intens, semenjak video ini keluar. Akan ada berita hoax lainnya, dan kuharap tidak mempengaruhi performa kinerjamu dan juga image dari perusahaan ini." Tutur Mary Jane dengan panjang lebar.


"Ada efeknya dengan kinerja kantor?" Tanya Raissa balik.


"Bisa berpengaruh. Jadi mohon perhatikan pesanku ini." Pinta Mary Jane.


"Baik MJ."


"Tadi sebagai atasanmu aku berikan wejangan. Sekarang sebagai sahabat, sebetulnya kejadiannya seperti apa sebenarnya? " tanya Mary Jane.


"Semalam, kami mampir di restoran korea di daerah SCBD. Awalnya semua berjalan normal, tidak ada gangguan apapun. Sampai saat aku ke restroom, aku bertemu lagi dengan wanita yang pernah menggangguku di acara Gala Dinner kemarin. Kali ini dia sedang bersama teman-temannya."


"Lalu?"


"Sewaktu kami sedang membayar tagihan makanan, mereka menghampiri kami. Menyidir dan mencoba provokasi, Stefan sudah mau melawannya. Tapi kupikir lebih baik biarkan saja, jadi kami langsung pulang tanpa pedulikan mereka."


"Bagus itu, kalau terprovokasi mungkin lebih parah lagi videonya. Lalu siapa wanita itu?" Tanya Mary Jane.


"Tunangan? Lalu tanggapan Stefan?"


"Bukan katanya, dia belum pernah bertunangan dengan siapapun."


"Apakah kamu sudah bertemu dengan ibunya Stefan? Mungkin wanita itu calon yang dipersiapkan oleh ibunya. Wah kamu pasti berat mengambil hati ibunya." Ujar Mary Jane.


"Entahlah, aku belum terpikir untuk bertemu dengan ibunya. Hubungan kami masih seumur jagung." Kata Raissa.


"Tapi sepertinya wanita ini berbahaya, nanti kucoba cari tahu siapa dalangnya dibalik video ini." Ujar Mary Jane. "Tidak usah khawatir, aku pasti bisa membantumu."


"Terima kasih MJ, jujur aku tidak terlalu memikirkannya. Masih banyak yang lebih pantas kupikirkan. Hahahaha," ucap Raissa sambil tertawa.


"Harus kamu pikirkan, sekarang netizen itu mulutnya mengerikan. Mereka bisa menaikan atau menjatuhkan seseorang hanya karena jari-jari mereka mengetik sesuatu." Mary Jane mencoba memperingati Raissa agar tidak lengah.


"Ok, aku akan lebih hati-hati. Kupamit dulu ya, masih banyak kerjaanku hari ini. Semoga kita bisa mendapatkan proyek dari Damiensha Shine." Raissa berkata sambil pamit keluar ruangan, meninggalkan Mary Jane yang masih khawatir akan efek dari Video itu terhadap Raissa.


Raissa berada di ruangannya, tidak lama kemudian Maya menghampiri dia. Maya ingin mengetahui lanjutan cerita Raissa.


"Bos,apa kata Mary Jane?" Tanya Maya.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Raissa singkat. Dia sibuk membaca Email di layar monitornya.


"Maya, bagaimana progres team dari hasil meeting terakhir?"


"Sejauh ini sih masih aman." Ujar Maya.


"Viewer dan user kita meningkat?" Tanya Raissa lagi.


"Meningkat tapi baru 30 persen."


"Tampilan layar muka IC4U kapan bisa dirilis?"


"Hmm, kata Yudha, 2 bulan lagi. Layoutnya sedang didesain oleh Keiko. Bos, kok jadi bahas kerjaan. Yang tadi bagaimana ceritanya? Protes Maya.


"Ini hanya gosip murahan, didiamkan akan hilang dengan sendirinya."


Maya akhirnya menyerah dan dia keluar dari ruangan Raissa. Para rekannya menunggui hasil pembicaraanya Maya dengan Raissa. Maya hanya bisa menyampaikan kata-kata terakhir dari Raissa.


"Hah,Raissa bilang begitu? Santai banget dia hadapinya." Kata Ezo.


"Ya, dia tidak mau ambil pusing. Tapi kita coba bantu dia, yudha dan mike coba cari tahu siapa yang menyebarinnya. Biar kita diam-diam kumpulin bukti, bila dibutuhkan, kita bisa bawa jadi barang bukti." Kata Keiko.


"Iya setuju, mari kita bantu Raissa, bos terbaik kita!" Seru Ezo.


*****


Stefan berada di ruang kerjanya, Thom masuk membawakan dokumen.


"Selamat Pagi, Bos. Ini data siapa yang menyebarkan video ini." Ujar Thom sambil menyerahkan map dokumen.


Stefan membacanya dan seperti dia duga siapa dalangnya.


"Bagaimana bos?" Tanya Thom, dia menunggu perintah selanjutnya dari Stefan.


"Kamu coba tahan semua proyek kita yang di medan itu. Jangan kasih dana lagi,biarkan dia mencari kita." Perintah Stefan.


"Baik bos, segera saya laksanakan." Thom langsung bergerak untuk menjalankan perintah itu.


Tatapan Stefan sangat tajam menatap layar monitornya, walaupun terlihat tenang. Tetapi dia sangat geram melihat video itu. Baginya tidak ada seorangpun yang bisa mengganggu Raissa, dia akan melindungi Raissa dari siapapun.


"Tunggu saja tindakanku seperti apa, berani menyentuh Raissa. Tidak ada ampun lagi," geram Stefan.