Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 52 - Persiapan



"Liana, ada yang ingin mama bicarakan." Pinta Oma dengan nada serius.


Ibu Liana yang sedang asyik membaca buku, langsung menghampiri Oma.


"Bicara tentang apa, ma? Sepertinya serius sekali," Tanya Ibu Liana


"Ini tentang Stefan." Jawab Oma.


"Stefan?"


"Semalam Stefan menghubungiku bahwa dia berniat menikahi Raissa di Singapura. Tetapi dia tidak tahu cara menyampaikan kepadamu." Tutur Oma.


"Kenapa buru-buru? Kesan Raissa untuk Liana,cukup baik. Tapi kenapa terburu begini? Dan Stefan itu anakku satu-satunya, cita-citaku menyelenggarakan pesta pernikahan yang megah untuknya." Kata Liana dengan nada sedikit gusar. "Apa Raissa hamil?"


"Tidak, bukan itu alasannya." Jawab Oma.


"Lalu apa? Kalau tidak kuat alasannya, aku tidak akan memberikan restuku." Ancam Ibu Liana.


"Liana!" Seru Oma.


"Raissa dalam kondisi sedang berbahaya akan keselamatan jiwanya, Stefan tidak mau kehilangan Raissa. Dia rela melepaskan semuanya, bila harus memilih Raissa atau Adhinata." Ujar Oma dengan tegas.


Ibu Liana terkejut mendengarnya, dan terdiam untuk menyerapi semua kata-kata Oma.


"Biarkan aku memikirkan hal ini dulu," kata Liana, sambil beranjak menuju kamarnya.


"Dua hari lagi Stefan akan berangkat ke Singapura, Mama dan Opa juga. Kuharap kamu mendukung keinginan Stefan, berilah dia kebahagiaan." Ujar Oma.


Ibu Liana berhenti sejenak langkahnya menyimak kata-kata Oma. Kemudian dia mengunci diri di kamar.


*****


"Cari dimana Raissa!" Perintah Thalita ke anak buahnya. "Sudah beberapa minggu, kalian tidak bisa menemukan keberadaannya, dasar bodoh!!"


"Maaf bos, kami sudah mengawasi apartemen dan kantornya. Tidak ada tanda-tandanya lagi." Lapor Babon, dengan tubuh kekarnya seperti hercules, membuatnya terlihat sangar.


"Ya, cari di tempat lain. Stefan pasti membantu dia, pakai otak kalau kerja! Bodoh!" Makian Thalita semakin menjadi. "Masa kalian tidak bisa berpikir kalau ada pihak yang membantu Raissa sembunyi!!!"


Tiba-tiba masuk satu orang laki-laki berbadan kurus dengan mata yang cekung. Langsung dia menghadap Thalita.


"Info dari orang kita di IC4U, Raissa mendadak mengambil cuti panjang untuk urusan keluarga." Lapor Cungkring.


"Cuti? Hmmm, berarti dia sehat-sehat saja. Hey babon, kau masukin racun itu tidak??"


"Sudah bos, kusiram banyak ke adonannya.


"Kurang banyak, buktinya dia sehat-sehat saja. Atau jangan-jangan racun itu palsu!" Seru Thalita. "Sialan, sudah kubayar mahal padahal! Hey Babon, bagaimana cara kamu mengirimnya? Apa Raissa menerima paket kue itu?"


"Lancar Bos, dia menerimanya tidak curiga. Karena kutaruh ke dalam kotak berjudul toko kue Hannah" jawab Babon.


Plak!! Babon ditampar Thalita.


"Bos, apa salah saya?" Tanya Babon terkejut ditampar oleh Thalita.


"Bodoh kamu, kenapa pakai kotak itu? Bisa terendus jejak kita, aaarrghh!!" Geram Thalita.


"Soalnya bos bilang taruh dalam kotak kue, saya cuma lihat kotak itu yang ada digudang." Jawab polos si Babon.


"Cari kotak kue yang lain, bodoh! Itu kan toko kue mamaku, bisa terendus itu kue yang kirim kita, aaarrghh!!!" Maki Thalita sambil melempar patung perunggu kecil yang ada di meja kerjanya.


"Kalian itu harus cerdas, jangan kayak robot. BERPIKIR! Punya otak kan? Jangan dungu!" Maki Thalita.


"Jadi sekarang bagaimana, bos?" Tanya Babon.


"Cari tahu keberadaan dia dimana, awasi terus apartemen dan kantornya" perintah Thalita. "Pasti dia akan muncul juga suatu saat."


"Itu sudah kami lakukan, bos. Kami taruh dua anak buah di tiap titik pengawasan. Tapi sejauh ini, laporan dari lapangan, Raissa belum kembali ke apartemen maupun ke kantornya." Lapor Cungkring.


"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Babon lagi.


"Awasi Stefan, aku yakin dia yang menyembunyikan Raissa. Sayang sekali, aku tidak berhasil mengelabui dia tentang perjodohan. Cuih, aku pun tidak sudi jadi istrinya. Yang kuinginkan hanya kematian Raissa, sehingga warisan papa bisa jatuh ke tanganku semua. Hahaha!!" Kata Thalita dengan tertawa culasnya.


*****


Di malam hari, Stefan menemui mamanya dan omanya di kediaman utama keluarga Adhinata yang berada di kebayoran baru, dekat SCBD.


Mereka berempat duduk di ruang keluarga, suasananya terasa kaku. Stefan terlihat gelisah, menunggu mamanya membuka pembicaraan. Opa dan Oma hanya diam mengawasi mereka berdua.


"Ma, Stefan mau minta restu mama untuk meminang Raissa." Pinta Stefan dengan sangat hati-hati dalam menyampaikan keinginannya.


Ibu Liana menarik nafas panjang, dipandanginya wajah tampan anak satu-satunya. Diingatnya pesan terakhir suaminya, untuk membiarkan Stefan menentukan jodohnya kelak. Ada rasa tidak rela dirinya, karena dia berharap Stefan bisa bersanding dengan wanita yang sejajar level kasta keluarganya dengan Adhinata.


"Kamu yakin, Stefan? Sudah dipikirkan masak-masak?" Tanya Ibu Liana.


"Stefan yakin, hanya Raissa yang dapat membuat Stefan bahagia." Jawab Stefan dengan tegas.


"Raissa memang wanita yang cerdas, cantik dan santun. Tetapi dia bukan dari kalangan kita." Ujar mamanya.


"Liana, ini era modern. Kita bukan dijaman feodal," Tegur Oma, dia agak kesal menantunya malah mempermasalahkan status keluarga. Bagi Oma, hal itu sudah pemikiran kuno. Mungkin karena Oma lebih sering berada di luar negeri, sehingga pola pikirnya juga lebih modern sekarang.


"Maaf ma, aku hanya ingin memberikan terbaik untuk keluarga kita." Bantah Ibu Liana


"Liana, oma banyak melihat banyak wanita yang dari kalangan atas hanya bisa memamerkan harta kekayaan orang tuanya. Menghabiskannya untuk penampilan yang semu. Justru itu bisa menghancurkan keluarga kita nantinya." Tutur Oma secara Bijak.


"Tapi ma, bukannya kita harus nelihat bibit, bebet dan bobotnya." Kata Ibu Liana lagi.


"Betul, tapi kita bisa melihat bahwa Raissa adalah seorang gadis yang sukses dalam berkarir, santun dan juga cantik. Dia cantik tidak hanya diwajah, tetapi yang terutama hatinya." Kata Oma lagi.


Ibu liana terdiam mendengarnya, akhirnya dia mengatakan kepada Stefan. "Okay, mama restui hubungan kalian."


"Terima kasih, mama. Stefan bahagia mendengarnya." Dipeluk erat mamanya sebagai ucapan rasa syukur telah direstui untuk meminang Raissa.


"Tolong segera beri mama… cucu yang banyak, biar ramai rumah kita." Pinta mamanya sambil tersenyum.


"Iya ma, tenang saja. Kuberi satu lusin cucu." Gurau Stefan.


"HAH!? Jangan selusin lah, memangnya beli telur ayam." Protes Ibu Liana.


Sekejap suasana yang tadi terasa tegang dan kaku, sekarang telah mencair. Semuanya tertawa geli mendengar ucapan Stefan mau memberikan selusin cucu.


"Jadi kapan kita berangkat?" Tanya Ibu Liana.


"Lusa, ma." jawab Stefan.


"Baik, apa yang bisa mama bantu untuk persiapan ini?" Tanya Ibu Liana lagi.


"Tidak ada ma, semuanya sudah Stefan persiapkan. Cukup mama bisa hadir, sudah sangat berarti bagi Stefan."


"Asal kamu bahagia, mama ikut bahagia." Kata Ibu Liana.


"Pernikahan ini sangat sederhana, yang terpenting sah dalam sisi agama dan legalitas terutama. Untuk resepsinya akan kita gelar tahun depan. Setelah kondisi Raissa sudah lebih stabil." Kata Stefan.


"Okay, mama setuju saja. Untuk rencana resepsinya, tolong mama dilibatkan." Pinta Ibu Liana.


"Iya, ma. Ini mama sepertinya cocok jadi Wedding Organizer." Goda Stefan.


"Bisa saja kamu," kata Ibu Liana dengan tersipu malu.


Hahahaha, semuanya langsung tertawa mendengar gurauan Stefan dan melihat reaksi Ibu Liana. Suasananya jadi riuh dan ceria. Mereka masih berbincang - bincang sampai larut malam. Terkadang terdengar suara gelak tawa diantara mereka. Terlih


at hangat dan penuh cinta kasih suasana malam itu.