
Alona semakin membenci Raissa, karena kejadian semalam. Dia yakin mama, oma dan opa sudah diguna-guna oleh Raissa. Dia mengadukan kejadian semalam kepada Nina dan Tessa.
"Kita harus bergerak sekarang, karena Raissa bergerak jauh didepan kita. Memang ya, dia itu licik." Ujar Alona.
"Iya betul, dia itu wanita Ular." Timpal Tessa.
"Ini tambahan foto-fotonya, Stefan terlihat tidak bisa jauh dari Raissa. Setiap hari Stefan mengantar dan menjemput Raissa kerja." Lapor Nina.
"Kita harus bagaimana?" Tanya Alona.
"Kita kirim foto-foto ini ke situs gosip.kirim lewat pos tanpa alamat pengirim, seperti surat kaleng. Biar mereka yang menghembuskannya." Saran Nina
"Betul, tidak ada jejak dari kita." Kata Tessa. "Kemarin aku terlalu terburu-buru, sehingga jejakku cepat diketahui. Suamiku sekarang jatuh miskin, kalau dia tidak bisa kembali seperti dulu, lebih baik aku minta cerai saja." Ujarnya lagi.
"Iya, cari suami baru yang kaya. Kita ini cantik, mudah kita dapatin suami yang kaya raya." Ujar Nina mendukung sahabatnya untuk bercerai.
"Kecuali Stefanku, dia sudah diikat oleh guna-guna Raissa." Keluh Alona.
"Sabar sayang, kita rebut kembali Stefanmu dari wanita kampungan itu." Hibur Tessa.
Sekarang mereka menyiapkan langkah-langkah untuk lebih menghancurkan Raissa, mereka semakin serius membahas rencananya. Alona tersenyum senang, mendengar susunan rencananya. Soal dana, berapapun Alona akan berikan asalkan Raissa tercemar namanya. Sehingga Stefan bisa kembali kedalam pelukan dia. Itu yang selalu ada di dalam pikiran Alona.
*****
Raissa sedang bersantai di apartemennya, seperti biasa kalau weekend, dia lebih memilih masak dan membereskan apartemennya. Kalau hari kerja, dia sudah tidak ada waktu lagi. Pulang malam, dan pagi-pagi sudah berangkat ke kantor.
Petugas resepsionis apartemennya mengabari bahwa dia mendapatkan paket dan bunga dari seseorang. Raissa turun ke lobby apartemen, dia melihat buket bunga mawar warna pink di sana dan sekotak kue dengan bentuk lucu-lucu. Ada kartu pesan cuma tertulis selamat menikmati. Raissa menebak paket itu dari Stefan.
Segera dia bawa buket bunga dan kotak kue itu ke apartemennya. Kebetulan Raissa suka makan cake, dan tanpa menunggu lama, dia memakan cake itu.
" hmm, enak banget cake ini. Tahu saja aku suka makan cake," ujar Raissa sambil menikmati cake itu.
Stefan tadi malam sudah mengabari bahwa dia mau menemani Oma dan Opanya ke Bali. Semenjak Omanya menikah lagi, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di Swiss. Oma rindu dengan rumahnya di ubud jadi tadi pagi mereka berangkat ke Bali. Stefan membujuk Raissa untuk ikut, tapi Raissa menolaknya.
Raissa melihat pesan di teleponnya, dilihatnya Damien mengirim pesan. Menanyakan tentang tawaran ke Singapura. Raissa langsung bingung menjawabnya, dia hanya terdiam tidak membalas. Damien melihat status Chatnya online, langsung menghubungi Raissa.
"Hai Raissa, lagi sibuk?" Sapa Damien lewat telepon.
"Tidak juga, hanya habis berbenah saja." Balas Raissa.
"Bisa kita bertemu hari ini?" Tanya Damien.
Raissa diam sejenak, dan akhirnya menjawab ok untuk bertemu dengan Damien hari ini. Damien langsung senang.
"Kujemput satu jam lagi," ujar Damien sebelum menutup pembicaraan.
Raissa segera bersiap diri, dan tanpa disadarinya dia sudah memakan 2 potong kue tadi. "Waduh, terlalu enak kue ini. Membuatku ketagihan," gumamnya. Sisa kuenya dia taruh ke dalam kulkas.
Satu jam kemudian, Damien sudah tiba di muka lobby. Tanpa menunggu terlalu lama, Raissa langsung masuk ke dalam mobil lexusnya.
"Kita ke mall Grand Indonesia saja ya, banyak pilihan tempat." Ujar Damien.
"Boleh, bebas kok."
Mereka tiba di Mall Grand Indonesia, merupakan mall yang besar di tengah kota Jakarta. Banyak retail dari brand kelas atas berada di sana. Mereka langsung menuju ke area lantai atas yang banyak pilihan tempat makan. Pilihan siang itu adalah restoran Thailand yang cukup terkenal namanya.
Saat mereka di pintu restoran, mereka disambut oleh pelayan.
"Sawadde ka, Untuk berapa orang?" Sapanya, penampilannya seperti orang thailand. Karena mengenakan busana budaya Thailand.
"Untuk dua orang." Jawab Damien.
Raissa merasa ada yang salah dengan perutnya, sehingga dia hanya mengorder pad Thai saja dengan Ice tea. Damien memesan beberapa menu tambahan lainnya.
"Kamu kenapa? Sedikit pucat," tanya Damien.
"Tidak kenapa, tiba-tiba agak pusing saja. Tadi baik-baik saja," jawab Raissa.
"Maafkan aku yang memaksa untuk bertemu." Damien menjadi merasa bersalah.
"Tidak masalah, aku juga sedang santai tadi. Untuk tawaranmu ke Singapura, aku masih bingung memutuskannya." Ujar Raissa.
"Kenapa?" Tanya Damien.
"Aku sudah ada dateline yang harus selesai dalam 2 bulan lagi. Team ku sudah bekerja keras mewujudkan konsep yang kubuat. Bila aku meninggalkan mereka, aku merasa bersalah." Tutur Raissa.
"Kalau boleh tahu, dateline proyek apa?" Tanya Damien.
"Aku berjanji dalam 4 bulan, portal IC4U bisa melewati AD0 dalam jumlah users dan juga rating." Jawab Raissa
"Wah proyek yang sangat ambisius."
"Iya sih, tapi ini menjadi tantangan bagiku. Sejauh ini progres kami sudah sangat baik, peningkatan user portal kami meningkat. Tampilan kami juga lebih menarik dibandingkan sebelumnya."ujar Raissa.
"Hmmm, aku selalu merasa posisi yang kutawarkan hanya kamu yang bisa isi. Bila selesai dateline kamu itu, berminat untuk menerima tawaranku ?" Bujuk Damien.
"Bisa kupertimbangkan, tetapi bila ada kandidat lain yang bisa mengisi posisi itu,silahkan tidak usah sungkan denganku."
"Baiklah, setidaknya masih ada waktu aku membujukmu untuk menerima tawaranku. Hahaha," gurau Damien.
Tidak lama, makanan yang mereka pesan tersaji di meja. Semuanya terlihat menggiurkan dan menggugah selera. Raissa dan Damien makan siang sambil berbincang santai. Rasa pusing yang tadi dirasakan, hilang sekejap setelah Raissa selesai makan.
"Masih pusing?" Tanya Damien.
"Sudah tidak, mungkin karena tadi aku lapar. Hahahaha," ujar Raissa sambil tertawa.
"Mungkin juga, cacing-cacing diperutmu bernyanyi sebelumnya," canda Damien.
"Iya nih, bayi cacingku mau jadi penyanyi rock. Hahahaha." Canda balik Raissa.
"Baguslah, sekarang sudah tidak pusing lagi." Kata Damien lega.
Sore harinya Damien mengantar balik Raissa ke Apartemennya. Di lobby, Raissa mendapatkan lagi kiriman bunga mawar, kali ini warna mawarnya kuning. Raissa membaca pesan di kartu : I miss you. Seandainya kamu di sini bersamaku.
Pipi Raissa langsung bersemu merah setelah membacanya.
"Tadi sudah kirim bunga, kenapa harus kirim lagi. Ada-ada saja Stefan ini." Ujar Raissa sambim tersenyum simpul. Hatinya berbunga-bunga mendapatkan banyak kiriman hari ini.
Raissa langsung menghubungi Stefan, tetapi tidak diangkat. Akhirnya Raissa meninggalkan pesan di WA Stefan.
Raissa : "terima kasih ya untuk kiriman bunga dan kuenya. Aku suka sekali. Bunganya begitu cantik. Bagaimana kabarmu bersama Oma dan Opa?"
Raissa langsung meninggalkan teleponnya di meja makan, kemudian dia langsung mandi membersihkan diri. Stefan menghubungi dia balik, tapi tidak diangkat.
Stefan :" iya sayang, sama-sama. Suka dengan mawar kuningnya?" Di sini kami sedang main golf di nusa dua. Udaranya cerah. Oma bilang kamu lain kali harus ikut."
Raissa sehabis mandi, dia merapihkan sedikit dapurnya. Lalu untuk makan malam, dia ambil dua potong cake lagi dari kulkas. Setelah itu dia merasa lelah, langsung tertidur di sofa tanpa sempat melihat pesan balasan Stefan.
Stefan mencoba hubungi Raissa beberapa kali, tetap Raissa terlalu lelap tidurnya. Sehingga dia tidak terbangun mendengar dering teleponnya.