Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 17 - Alona Bergerak



Alona berdandan sangat cantik menanti kedatangannya Stefan. Sengaja dia memilih baju yang ada kancing dimuka, dan dibukanya kancing itu hingga ke belahan dadanya. Kebetulan payudaranya montok, membuat makin sexy, rambutnya diurai.


Stefan datang ke kamar Alona, dilihatnya Alona sedang duduk di ranjangnya.


"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Aku rindu, " sapa Alona dengan suara manjanya.


"Aku sibuk," balas Stefan lugas.


"Sayang, aku bosan di sini. Tolong bawa aku pulang ke rumah."


"Apa kata dokter?"


"Tidak ada bilang apa-apa," jawab alona.


"Ok, kuurus administrasinya."


Stefan langsung keluar kamar dan menuju ke bagian tata usaha. Dia beresin semua administrasi yang dibutuhkan. Dan Alona akhirnya bisa tersenyum lebar, karena Stefan yang mendorong kursi rodanya. Hati Alona berbunga-bunga.


Di lobby Rumah Sakit, sebuah mobil Alphard warna putih berhenti dihadapan mereka. Stefan menuntun Alona masuk ke dalam mobil. Alona mengira Stefan akan duduk disebelahnya, tapi ternyata, pintu ditutup.


"Loh sayang, kok tidak pulang temanin aku?"


" aku mau ke kantor, biar pak tedjo yang antarin kamu pulang."


"Tapi nanti kamu mampir ke rumah kan?" Rajuk Alona


"Sibuk!" Tegas Stefan dengan wajah datar.


Ditinggalnya Alona yang berwajah cemberut, dan mobil alphard segera melesat ke jalan utama.


"Aarrgghh, sebal. Begini lagi, kapan sih dia peduli kepadaku? Hmm, tante Liana akan kembali ke Jakarta hari ini. Aah, kukunjungi saja dia." Gumam Alona.


"Pak, tolong mampir ke kemang dulu, ada yang mau saya beli," perintah Alona dengan ketus.


"Tapi nona, kata tuan harus diantar ke rumah segera." Kata Pak Tedjo, Supir.


"Tidak ada tapi-tapian, sekarang!"


"Baik, nona."


Mobil langsung diarahkan ke daerah kemang. Di areal pertokoan di kemang, mobil diparkirkan. Alona masuk di dalam salah satu toko furniture. Setelah melihat-lihat, Alona membeli sebuah panjangan kristal. Kemudian Alona minta diantarkan ke Rumah ibu Liana yang ada di daerah menteng.


Alona akhirnya tiba di rumah utama Adhinatha, bangunannya memakai arsitektur classic perancis, dominan warna putih. Dan tamannya di tata sangat rapih dan indah seperti serasa di versailles. Alona selalu kagum melihat rumah ini, sejak kecil impiannya menjadi istri Stefan dan tinggal di rumah besar ini.


"Selamat datang nona Alona, " sapa pelayan menyambut kedatangannya.


"Tante dimana?"


"Ada di teras belakang sedang melihat koleksi anggreknya."


"Ooo, ok. Antarkan saya ke sana," kata Alona.


"Baik nona, mari ikuti saya."


Di taman belakang, terlihat sosok wanita yang sangat cantik, sedang mengamati aneka bunga Anggrek. Terkejut dia melihat Alona datang.


"Loh, kamu kenapa ke sini? Bukankah kamu hari ini baru keluar dari rumah sakit?" Tegur Tante Liana dengan lembut.


"Iya tante, aku kangen sama tante. Jadi aku mampir ke sini. Selain itu Stefan tidak ada waktu menemaniku." Kata Alona dengan nada sedikit merajuk, dia juga memeluk dan mencium pipinya Ibu Liana.


"Sayang, Stefan kerjanya banyak. Tante pun jarang ketemu dia, mari sini duduk temani tante." Tutur Ibu Liana dengan lembut.


"Oh ya, tante. Ini ada sesuatu dari Alona untuk tante," ujar Alona sambil menyerahkan kotak yang sudah dibungkus rapih itu.


"Aduh, kamu memang anak yang baik. Dari dulu selalu sayang sama tante."


"Iya dong tante, Alona juga sayang sama tante seperti mama kandung Alona."


"Mulut kamu manis sekali, hahaha." Ujar ibu Liana dengan tertawa senang.


"Sayang, tante juga maunya Stefan segera menikah. Tapi stefan itu keras anaknya, susah dibujuk. Selain itu tante ada kasih ultimatum bila sampai usia 32 tahun, belum menikah. Maka dia harus menyetujui calon istri yang tante pilihin."


"Siapa calonnya?" Tanya Alona.


"Kamu kan sayang," goda ibu liana sambil mencolek hidung alona.


"Betul, tante?" Alona bersemu merah, karena senang hatinya mendengar jawaban tante liana.


"Ya, kalau Stefan setuju. Kenapa tidak?"


"Tapi Stefan susah sekali didekati, dan kemarin dia berkencan dengan wanita lain loh tante." Alona mengadu ke tante Liana.


"Oh ya, siapa dia?" Selidik tante liana. Di dalam hatinya dia senang Stefan sudah mau mulai berkencan.


"Tidak tahu tante, tapi penampilannya sangat kampungan." Aduan Alona.


"Kampungan bagaimana?"


"Iya tante, pakaiannya tidak bermerek dan modelnya sederhana begitu. Tapi galaknya hiii... Alona sampai kalah sama dia." Keluh Alona sambil bernada merajuk.


"Sudah jangan bersedih, mungkin itu bukan kencan, tapi sedang meeting sambil makan siang atau malam. Yuk, kita ke dalam, tante ada teh enak dari korea. Sekalian kamu makan malam di sini ya sayang, aduh dirawat di rumah sakit beberapa hari, wajahmu terlihat kurusan. Nanti mamamu marahin tante."


"Aah tante, mommy mana berani marahin tante." Cetus Alona sambil tertawa geli.


Berdampingan mereka memasuki ruang makan yang berinterior sangat mewah dan chandelier kristal tergantung di atas meja makan marmer putih dibawah langsung dari Italia.


Tidak lama, Stefan datang sambil membawa buket bunga untuk ibunya. Terkejut Stefan melihat Alona sedang bersama ibunya.


"Halo ma, maafkan aku terlambat datang." Sapa Stefan sambil mencium pipi ibunya.


"Sayang, apa kabarnya? Untung ada Alona yang menemani mama sejak sore tadi. Mari duduk di sebelah Alona."


Hati Alona semakin berbunga-bunga karena Stefan duduk di sebelahnya. Sedangkan Stefan dengan wajah datar mengikuti permintaan ibunya.


"Sayang, mau kuambilkan salmon en croutenya?" Tanya Alona sambil tersenyum lebar dan suara dibuat semerdu mungkin.


"Tidak, terima kasih. Biar pelayan yang mengambilkannya." Tolak Stefan.


"Stefan, mama dengar kamu sudah ada wanita yang kamu kencanin?" Selidik ibu Liana.


Terkejut Stefan mendengarnya, langsung dia menatap tajam ke arah Alona. Sambil bergumam. "Dasar wanita kepo."


"Belum ada, ma. Kalau sudah ada, Stefan pasti akan memperkenalkan ke mama." Ujar Stefan lagi.


Alona ditatap tajam oleh Stefan, dia tidak peduli. Dengan wajahnya dihiasi senyum manisnya dia menikmati hidangannya. Di dalam hatinya. "Bagus, berarti aku masih ada waktu untuk merebut hatinya."


"Ma, aku tidak bisa lama-lama. Habis makan, aku langsung pulang ya. Mau ada conference call meeting nanti malam dari perusahaan kita di swiss."


"Ya, nak. Tapi jangan terlalu capek, nanti sakit, mama juga yang sedih."


"Tante, jangan khawatir. Kalau Stefan sakit, biar Alona yang merawatnya." Ucap Alona dengan semangat.


Tante liana tersenyum mendengarnya. Dia sudah mengganggap Alona sebagai bagian dari keluarganya, bila Stefan menikah dengan Alona. Pertumbuhan grup Adhinatha juga akan semakin pesat, karena relasi papanya Alona yang sangat luas.


"Cih, siapa yang minta kamu merawatku? Maaf kamu bukan siapa-siapa bagiku." Kata Stefan dengan nada dingin.


" Stefan, sopan sedikit!" Tegur Ibu Liana.


"Maaf ma, Stefan lagi banyak pikiran."


"Tapi....," belum sempat Alona berkata lagi. Stefan langsung pamit dan meninggalkan ruang makan itu segera.


"Lihat tante, Stefan kejam kepadaku," rajuk Alona sambil mengeluarkan air mata.


"Sudah, jangan menangis. Seperti yang tadi Stefan bilang bahwa dia sedang banyak pikiran."


Alona akhirnya tersenyum lagi, dia berusaha menjadi calon menantu yang ideal bagi Ibu Liana.