Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 37 - Hasil Lab



Thom menghubungi Stefan untuk melaporkan hasil investigasi lanjutan. Dia sudah berhasil menemukan toko bunga tersebut.


"Bos, orderan itu dipesan melaui telepon. Suaranya agak aneh, seperti suara robot. Dan sistem bayarnya cash, melalui anak kecil yang menyerahkan amplop berisi pembayaran. Lalu bunganya dibawa oleh anak kecil itu." Penjelasan Thom.


"Hmm..." Stefan tidak banyak berkata.


"Anak kecil itu katanya anak jalanan yang ada di lampu merah dekat toko bunga itu. Saya sedang mencari anak itu sekarang " lanjut Thom.


"Bagus, kabari selalu setiap perkembangannya." Perintah Stefan.


"Baik bos, saya masih di depan toko bunga. Saya akan mencari anak kecil itu sampai dapat. Untuk toko kue, saya belum menemukan tokonya."


Stefan memutuskan teleponnya, dia semakin geram dan ingin mengejar pelakunya.


"Mau cari mati, dia sembunyi kedasar bumi pun. Akan ku kejar sampai dia mati!" Janji Stefan pada dirinya sendiri.


"Aarrgh!" Dipukulnya buku-buku tangannya ke tembok karena geramnya. Nafasnya tersengal-sengal menahan amarah.


Setelah dia sudah menenangkan emosinya, dia menarik nafas panjang sebelum kembali masuk ke dalam ruang ICU.


Raissa melihat kedatangan Stefan lagi, dia hanya bisa memberikan senyum dibalik masker Oksigen yang dikenakannya.


Stefan mengambil kursi kecil untuk bisa duduk disamping ranjang Raissa, dipaksakannya Stefan tersenyum. Tatapan Stefan sedih, melihat keadaan Raissa saat ini. Dalam pikirannya, kenapa harus Raissa yang mengalami ini?


"Sudah enakan?" Tanya Stefan dengan lembut.


Raissa mengganguk lemah, tangannya digenggam Stefan memberikan semangat untuk Raissa bisa kembali pulih.


"Terima kasih," ucap Raissa dengan lirih.


"Sudah, jangan bicara dulu, istirahatlah. Aku ada di sini mendampingimu, kamu tidak usah takut atau bersedih. Segera pulihkan tenagamu dulu." Ujar Stefan mencoba menenangkan Raissa.


Tanpa Raissa sadari, bulir-bulir airmatanya jatuh dengan derasnya. Dia merasa bersyukur bahwa dia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi dan mencintainya.


"Loh kok menangis, sudah jangan menangis." Ujar Stefan lagi, sambil menghapus airmata Raissa dengan secarik tissue.


Dokter Ivan datang menghampiri Raissa, dia memeriksa keadaan Raissa dengan seksama.


"Sudah lebih kencang degup jantungnya sekarang, bagus ini berarti bisa segera pulih. Mungkin akan terasa mual dan pusing, tidak apa-apa. Itu proses detox dari obatnya. Banyak istirahat," kata Dokter Ivan.


"Perawat tolong nanti kalau sudah habis cairan infus ini, diganti dengan cairan infus yang baru saya resepkan. Awasi tiap dua jam." Perintah Dokter Ivan ke perawat ICU.


"Baik dokter." Jawab Perawat tersebut.


"Pak Stefan, bisa kita bicara diluar sebentar?" Tanya Dokter Ivan.


"Tentu bisa dok. Tunggu ya sayang, aku keluar dulu." Kata Stefan sambil beranjak dari kursinya. Sebelum meninggalkan Raissa, Stefan mengelus lembut tangan Raissa untuk menenangkannya sekali lagi.


Di depan ruang ICU, Stefan meminta untuk membahas kondisi Raissa di tempat tertutup. Dia tidak mau ada yang menguping dan membocorkan kepihak lain. Akhirnya Dokter Ivan mengajaknya ke ruang kerjanya.


Di dalam ruang kerjanya, Dokter Ivan mempersilahkan Stefan untuk duduk di sofa.


"Jadi bagaimana dok tentang keadaan Raissa?" Tanya Stefan.


"Cukup berat, memang nyawanya tertolong. Tetapi untuk mengembalikan pulih seratus persen itu yang sulit. Karena syarafnya jadi lemah, bila dibiarkan dapat membuat dia lumpuh." Penjelasan Dokter Ivan dengan nada sangat khawatir.


"Racun yang ada di tubuhnya ternyata berasal dari tanaman foxglove." Kata Stefan.


"Foxglove berarti Digoxin," ujar Dokter Ivan dengan nada terkejut.


"Betul dok."


"Apa tidak ada obat atau cara untuk mengatasinya?" Tanya Stefan.


"Ada beberapa metode, salah satunya fisioterapi dan juga semangat juang dari si pasien itu yang dibutuhkan. Untuk obat, kami usahakan beri yang terbaik. Karena ini termasuk kasus langka, obatnya baru ada di Eropa. Saya akan mencoba hubungi rekan saya yang bekerja di Rumah Sakit Asklepios Klinik Brambek di Jerman, mereka pernah mendapatkan kasus mirip seperti kita ini. Dan pasiennya kembali sehat."


"Itu suatu harapan yang baik, segera saja. Kalau perlu kita terbangkan Raissa ke sana." Kata Stefan.


"Kondisi Raissa belum stabil, penerbangan jarak jauh bisa membahayakan dia. Saat ini kami masih memantau kondisi darahnya, semoga racun itu bisa benar-benar kita netralkan. Bila tidak, kita harus mencuci darahnya. Untuk mengeluarkan racunnya."


"Cuci darah!?" Terkejut Stefan mendengarnya.


"Kami usahakan itu menjadi jalan terakhir." Kata Dokter Ivan.


"Baik dokter, terima kasih atas penjelasannya. Kira-kira kapan bisa membawa Raissa ke kamar Rawat Khusus ?" Tanya Stefan.


"Bisa hari ini, nanti kami siapkan alat-alat yang dibutuhkan di kamar tersebut."


"Baik dok," Stefan sambil menjabat tangan dokter dan langsung beranjak keluar.


Stefan menghubungi Mary Jane dan Gita perihal hasil diskusi dengan dokter, dan juga hasil laboratorium mengenai racun yang telah masuk kedalam tubuh Raissa.


Mereka sangat sedih membayangkan nasib Raissa ke depannya yang masih harus diperjuangkan.


"Kondisi Raissa seperti ini, lebih baik kita memberitahukan kepada ibunya, bagaimana?" Tanya Gita via videocall Group.


"Sebaiknya ibunya tahu, sehingga bisa memberikan dorongan semamgat untuk Raissa." Jawab Mary Jane.


"Ok, aku belikan tiket pesawatnya. Dan akan kukirim supir untuk menjemputnya, sebaiknya kamu ikut Gita. Supaya bisa menjelaskan keadaan Raissa sebelum tiba di rumah sakit." Kata Stefan.


"Baiklah, pesawat yang jam berapa? Besok jemput aku di rumah sakit saja, rumahku terlalu jauh ke Bandara, kasihan supirmu Stefan." Ujar Gita.


"Tidak kenapa, minta alamatnya besok Pak Broto yang jemput. Ok, terima kasih semua. Aku mau kembali ke ruang ICU dan mengurus kepindahan Raissa ke kamar Rawat." Kata Stefan lagi sebelum memutuskan sambungan telepon.


Stefan mengurus semua birokrasi yang dibutuhkan untuk memudahkan perpindahan Raissa dari ruang ICU ke rawat inap di lantai 36. Perawat Ina sudah selesai merapihkan kamar tersebut. Berbagai kiriman bunga mawar sudah mulai berdatangan dan di tata rapih di dalam kamar Rawat VVIP milik keluarga Adhinata tersebut.


Pukul 21:00, Raissa mulai dipindahkan ke Kamar Rawat. Stefan mendampingi Raissa sepanjang proses perpindahan tersebut.


Di kamar rawat inap, Raissa merasa lebih tenang. Karena suasana ruang ICU terasa begitu mencekam, dengan banyaknya suara mesin dari berbagai pasien.


Stefan memutuskan untuk menginap di rumah sakit, sehingga bisa mendampingi Raissa yang saat ini banyak membutuhkan bantuan.


Raissa masih mengenakan masker oksigen, untuk membantunya bernafas. Karena jantungnya masih dalam proses pemulihan, kinerja jantungnya belum maksimal efek dari Racun yang masuk ke dalam tubuhnya.


Beberapa kali Raissa ingin menyuruh Srefan pulang ke rumah saja, tetapi suara yang keluar begitu parau dan lirih. Dan bila berbicara lebib keras, dia menjadi sesak nafas.


"Sudah kubilang, jangan bicara. Lihat sesak nafas lagi. Coba tarik nafas pelan-pelan. Sebentar kupanggil perawat Ina ke sini." Tegur Stefan mendengar Raissa batuk-batuk dan sesak nafas.


Tidak lama kemudian perawat Ina masuk ke dalam, menanyakan ada yang bisa dibantu.


"Dia sesak nafas lagi, tolong kasih sesuatu untuk bisa melegakan nafasnya lagi." Pinta Stefan.


"Baik pak, saya hubungi Dokter Ivan dulu." Jawab Perawat Ina.


Kemudian perawat Ina keluar dari ruangan Raissa, dan Stefan berusaha menenangkan Raissa dengan menggengam tangannya. Dia duduk di samping ranjang Raissa, tidak bersuara hanya menatap Raissa.


Tidak lama kemudian, perawat Ina membawa 2 ampul suntikan yang diinjeksikan ke Raissa. Perlahan-lahan Raissa bernafas dengan normal lagi. Stefan menjadi lega melihatnya.


Sepanjang malam Stefan tidak bisa tidur nyenyak, setiap 1 jam dia memeriksa keadaan Raissa.