Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 43 - Alona Meratap



Tiba saatnya mereka boarding ke dalam pesawat Garuda, tetapi karena bandara saat itu bertepatan dengan libur panjang. Banyak pesawat yang terparkir tidak pada terminal seharusnya.


"Iish, ini jalannya jauh sekali mau masuk ke pesawat." Keluh Alona.


"Iya sakit sekali high heel yang kupakai, demi gaya yang hits, aku memakainya." Ujar Nina.


"No pain No Style," kata Tessa, sambil tertawa dia mengucapkannya.


"Sudah jangan banyak tingkah, kita harus segera naik mobil itu. Untung kita kelas 1, tidak harus ikut bis itu. Lihat berdesakan seperti itu. Aku bisa merana," kata Alona sambil menunjuk ke arah bis yang mengangkut penumpang kelas ekonomi.


Mobil yang dipersiapkan untuk mereka pun akhirnya mulai melaju menuju pesawat yang akan mereka tumpangi.


Di Terminal 2E, rombongan Stefan mulai dipanggil untuk boarding ke dalam pesawat. Mereka juga menggunakan mobil khusus yang akan mengantarkan mereka ke pesawat Singapore Airline yang akan membawa mereka ke Singapura.


Tiba di depan pesawat SQ, mereka bersiap masuk ke dalamnya. Raissa yang kakinya masih lemah, dibopong oleh Stefan masuk ke dalam pesawat. Kursi rodanya didorong oleh Petugas pesawat dibelakangnya, untuk ditaruh di bagian kargo barang. Ibu Mira dan Perawat Ina berjalan di belakang Stefan.


Alona yang sedang berada di mobil khusus penumpang kelas 1 Pesawat Garuda,terkejut dia melihat sosok Stefan yang sedang berjalan menuju ke pesawat. Ternyata Pesawat mereka terparkir bersebelahan.


"Tidaaakk!!" Teriak Alona di dalam mobil.


"Kenapa? Kenapa?" Tanya Nina dan Tessa bersamaan.


"Lihat itu! Stefan sedang bermesraan dengan wanita kampungan itu ," protes Alona.


Alona langsung bergegas turun dari mobil sambil memanggil-manggil nama Stefan, tetapi karena suara Mesin pesawat yang lebih kencang ditambah lagi angin. Membuat suara Alona hilang, tidak terdengar oleh Stefan maupun rombongannya. Dengan tenang Stefan memasuki pesawat bersama Raissa, posisi Raissa yang digendong oleh Stefan, membuatnya terlihat sangat romantis bagi siapapun yang melihat mereka berdua.


Kepala Alona semakin berasap melihatnya, tanpa pikir panjang, dia berjalan menuju pesawat SQ tersebut. Tetapi dia dicegat oleh para petugas bandara.


"Maaf mbak, pesawat mbak yang di sana bukan disini." Kata Petugas sambil menghalangi langkah Alona.


"Bapak petugas yang tampan dan baik budiman. Saya mau mengejar tunangan saya, tadi saya melihat dia baru masuk ke dalam pesawat itu." Rayu Alona.


"Maaf mbak tidak bisa, mohon menepi. Pesawat itu sudah tutup pintu, sebentar lagi akan take off." Kata Petugas tidak bergeming akan rayuan Alona.


"Panggil saya nona Alona, jangan mbak mbak!" Protes Alona ke petugas.


"Sudah Alona, kita harus masuk ke dalam pesawat, kita sudah jadi tontonan ini." bujuk Nina sambil menarik tangan Alona.


"Aku tidak peduli! Stefan dan wanita itu di dalam pesawat itu," raung Alona. Dia langsung bertingkah seperti anak kecil.


"Nanti kita cari tahu mereka terbang kemana, sekarang kita harus masuk ke pesawat." Bujuk Tessa.


"Pak petugas yang ganteng, pesawat itu mau kemana?" Tanya Alona sambil berteriak- teriak. Karena suara mesin pesawat semakin keras.


"Pesawat itu ke ..$_^#\=@$^$:*^," ujar petugas itu sambil berlalu, suaranya tertutup suara deru mesin.


"Kemana? Hah?? Pak.. kemana?!" Teriak Alona. Tetapi petugas itu sudah menjauh.


"Aargh! Dasar petugas bodoh, menyesal alu memanggil dia bapak ganteng tadi. Cuih!" Amuk Alona.


Nina dan Tessa akhirnya berhasil menarik Alona untuk masuk ke dalam pesawat. Di dalam pesawat, tiada hentinya Alona mencaci maki, membuat banyak penumpang merasa terganggu.


Pesawat Stefan bergerak lebih dahulu dibandingkan pesawatnya. Alona ingin meloncat ke pesawat itu rasanya. Dia menempelkan wajahnya erat-erat ke jendela, seakan bisa menembus kaca itu.


Nina dan Tessa menutup wajahnya dengan tangan, karena merasa malu melihat tingkah Alona. Ditambah lagi, pramugari menegur Alona untuk duduk dengan baik, karena pesawat siap diberangkatkan.


Di Bandara Changi, Stefan mendorong kursi roda Raissa. Banyak mata yang melihat mereka berpikir mereka berdua adalah pasangan yang serasi.


Stefan menghubungi seseorang meminta mobil sudah siap di tempat pick up penumpang.


"Kita makan di sini atau diluar?" Tanya Stefan kepada Raissa.


"Bebas saja." Jawab Raissa.


"Kita makan di hotel saja kalau begitu." Ujar Stefan.


Mobil yang menjemput mereka sudah siap menunggu, segera mereka masuk kedalam dan menuju ke Hotel Marina Bay Sand.


"Sebetulnya kita bisa tinggal di rumah, kami punya rumah di sini. Tapi kupikir sementara kita di hotel dulu, sehingga terasa sedang liburan."


Tiba di lobby Hotel, mereka dibuat decak kagum. Terdengar alunan musik classic dari kumpulan para pemain musik diatas mini stage dekat meja resepsionis. Pohon tinggi berada di tengah lobby, memberikan kesan sejuk di mata. Langit lobby yang begitu tinggi, terasa begitu luas.


Stefan adalah tamu VVIP yang sering bertadang ke sana, sehingga saat mereka tiba. Dua orang petugas Hotel siap menyambut mereka. Kunci kamar sudah siap, koper-koper mereka telah dibawa potter ke kamar.


"Kita makan siang dulu," kata Stefan, setelah dia menerima beberapa kartu kunci kamar dari petugas tadi.


Stefan mengajak mereka ke restoran mewah bernama Blossom, lokasinya berada di lobby tower 2 Marina Bay Sands. Interiornya sangat mewah.


Kursi roda Raissa didorong oleh Stefan memasuki ke dalam area Restaurant, dimana ada akses khusus untuk pengguna kursi roda. Membuat Raissa semakin nyanan berada di restaurant ini.


Ibu Mira dan Perawat Ina terkagum-kagum melihat interiornya yang begitu elegan, dindingnya berwarna kuning keemasan terasa dramatis dengan permainan lampu di seluruh ruangan restoran. Untuk lantai dan furniturenya dominan warna coklat tua.


"Di sini yang terkenal menu Royal Secret Recepies Smoke Duck dan Blossom signature Stir Fried Bird's Nest with fresh Crab Meat, karena Oma berpesan kamu harus banyak makan sarang burung jadi tadi di jalan sudah kupesan beberapa menu via telepon." Penjelasan Stefan.


Mereka diantar pelayan restoran ke meja VIP yang seperti kubikel besar. Terdapat 10 kursi di dalamnya. Hidangan yang mengugah selera tersaji dengan penataan begitu estetik.


Stefan merapatkan kursi roda Raissa ke meja, dan dia mengambil posisi di dekat Raissa. Perawat Ina dan Ibu Mira duduk bersebelahan.


"Nak Stefan, ini terlalu mewah. Bukan tidak berterima kasih, tapi apakah bisa berikutnya kita makan makanan yang lain?" Tanya Tante Mira.


"Kenapa tante? Kurang enak masakannya?" Tanya Stefan.


"Bukan begitu, ini sangat lezat. Belum pernah tante makan seenak ini. Tante hanya takut terbiasa dengan makanan mewah seperti ini, kami hanya orang kecil dari kota kecil, nak Stefan." Jawab Tante Mira.


"Hahahaha, tidak usah khawatir Tante, mulai sekarang Stefan yang akan membahagiakan Raissa dan Tante."


"Iya tante tahu, tapi bisa tidak kita makanan yang umum-umum saja, perut tante belum terbiasa?" Tanya Tante Mira dengan nada malu-malu.


"Baik tante, besok kita sekalian jalan-jalan menikmati Singapura. Oh ya Raissa, besok teman-temanku ikut datang ke sini. Masih ingat kan Shawn, Alex dan Daniel?"


"Iya aku masih ingat, wah pasti bakal ramai ya dengan kehadiran mereka. Dalam rangka apa mereka ke sini?" Tanya Raissa.


"Tidak ada, hanya ingin bersenang-senang saja. Mari kita mulai makan. Raissa,kamu makan dulu menu yang ini." Kata Stefan sambil menaruh piring yang berisi sarang burung yang merupakan menu signature restoran itu.


Raissa mulai mengicipinya, dan matanya membelalak seketika. "Enak sekali, meleleh dimulut," ujarnya.


Stefan senang melihat Raissa makan dengan semangat. Dia menaruh lobster steak dengan caviar di piring Tante Mira.


Mereka makan siang dengan nikmat dan sambil sekali-kali terdengar mereka berbincang-bincang dan tertawa.