Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 24 - Alona Berulah Lagi



Damien menunggu Raissa di coffeeshop, tapi belum ada kabar dari Raissa. Dia bolak balik memeriksa isi pesan di teleponnya, tidak ada pesan baru dari Raissa.


Isabel menghampiri Damien di coffee shop. Mary jane mengutusnya untuk menyampaikan pesan bahwa meeting hari ini dijadwal ulang.


"Selamat Siang pak Damien, saya Isabel sekretaris ibu Raissa." Salam Isabel.


"Ya selamat siang," balas Damien.


"Saya dikirim ibu Mary Jane untuk menyampaikan ibu Raissa mendapat tugas penting siang ini. Jadi jadwal meeting anda diundur, bagaimana besok pak?"


"Saya besok kembali ke Eropa. Kalau begitu minggu depan saja, sekembalinya saya dari sana."


"Baik pak."


"Sampaikan salam saya ke ibu Raissa dan ibu MJ. Saya pamit dulu."


Isabel mengantar damien hingga di muka lobby. Damien langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di muka lobby, dia berharap Raissa melihatnya sekali lagi sebelum dia kembali ke Eropa. "Belum berjodoh saat ini, semoga minggu depan aku bisa mendapatkannya." Kata Damien di dalam hati. Mobil Damien segera melaju. Setelah Isabel melihat mobil Damien menjauh, dia segera hubungi pihak teknisi lift, menanyakan kapan tiba.


"Raissa, kamu bertahan ya, sebentar lagi datang teknisinya" ujar Stefan.


"Iya bos,katanya sudah jalan teknisinya dari kantor pusat!" Seru Mike.


"Ini kalau pake kode, bisa kamu bongkar kali mike," kata Ezo.


"Aduh" , Ezo menjerit kesakitan. Kepala Yudha di toyor Maya. "Jangan sok tahu, kalau makin merosot bagaimana?" Tegur Maya


"Iya, aku kan mencoba membantu cari jalan keluarnya." Bantah Ezo, sambil mengelus-elus kepalanya.


"Sabar ya bos, kamu wanita yang kuat," Keiko memberikan semangat juga.


"Iya," lirih Raissa, dia agak lemas. 1 jam berada di ruang sempit, membuat Raissa menjadi panik dan agak sesak nafas. Tapi dia berusaha kuat, karena mendengar suara Stefan dan rekan-rekannya dibalik pintu.


Setelah menunggu 1 jam lebih, pintu lift akhirnya terbuka. Stefan langsung menghampiri Raissa yang terduduk lemas di lantai lift. Stefan langsung membopong Raissa, dibawa menuju ke sofa yang ada di lantai itu.


Seseorang datang membawa teh manis untuk Raissa. Setelah meneguk beberapa kali teh manis itu, Raissa merasa lebih bertenaga. Stefan hanya menatap raissa tanpa bicara apapun. Sorot mata Stefan terlihat sangat khawatir.


Maya, Ezo, Keiko, Isabel dan Mike ikut berkumpul di dekat Raissa. Mereka juga terlihat khawatir.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Maya.


Raissa menggangguk sambil menatap semua rekan-rekannya. Kemudian dia berkata "tidak usah khawatir, aku tidak apa-apa. Sana kembali bekerja."


"Tapi....," maya hendak protes. Tapi keburu dicubit tangannya oleh Keiko. Terus mereka melirik ke arah Stefan, penuh tanda tanya kenapa Stefan CEO dari perusahaan Saingan berada di situ. Tapi mereka tidak berkata apa-apa, hanya saling memandang satu sama lain. Mereka akhirnya kembali ke meja kerja masing-masing, walaupun sambil berbisik-bisik.


Stefan tidak peduli jadi bahan gunjingan, dia hanya memikirkan keadaan Raissa.


"Terima kasih sudah membantuku, sekarang aku baik-baik saja."


"Mari kuantar pulang, tadi isabel berpesan bahwa kamu diijinin pulang lebih awal oleh Mary Jane." Ucap Stefan.


"Tapi aku ada meeting siang ini."


"Sudah di jadwal ulang." Ucap Isabel. "Sekarang sudah jam 2:00 siang.Lebih baik makan siang, sudah terlambat waktunya. Nanti sakit." Bujuk Isabel lagi.


"Baiklah. Aku tidak ada tenaga untuk berdebat."


Stefan langsung sigap memapah Raissa yang masih agak lemah.Isabel dibelakang mereka, sambil membawakan tasnya Raissa. Mereka langsung menuju mobil Stefan yang terparkir di area VVIP, di muka lobby.


Di mobil, raissa memejamkan matanya. Menikmati musik klasik yang terpasang di mobil. Stefan segera tancap gas, kebetulan jalanan tidak terlalu ramai. Mereka tiba di rumah putih dan besar berada di kawasan elit Menteng. Pintu gerbang dijaga oleh 4 pengawal. Saat mobil terparkir di depan rumah. 2 orang pelayan menghampiri mereka, mereka membantu menuntun Raissa masuk ke dalam rumah.


"Ini rumah siapa?" Tanya Raissa.


"Ini rumahku." Jawab stefan


"Ooh." Raissa terkagum melihat betapa luas dan besarnya rumah itu. Dan lokasinya di tengah kota.


Makanan telah tersaji di meja makan, semuanya terlihat lezat. Raissa sampai bingung mau mulai yang mana.


"Makan pelan-pelan, pilih yang kamu suka. Semua ini tidak pedas dan tidak berminyak. Supaya perut kamu tidak bermasalah. Dan coba habiskan sup sarang burung itu, bagus untuk kembalikan stamina." Ujar Stefan dengan lembut


Setelah selesai makan siang yang terlambat. Stefan mengajak Raissa duduk di beranda dekat kolam renang.


"Raissa, bagaimana makan siangnya?" Tanya Stefan.


"Enak, aku suka semuanya." Jawab Raissa.


"Bagaimana dengan pertanyaanku tadi pagi?"


Raissa langsung terbatuk mendengarnya. Stefan jadi tersenyum melihat tingkah Raissa yang sedikit panik.


"Maaf Stefan, belum sempat kupikirkan. Selain itu juga kita kan ada kompetisi 2. Aku tidak mau itu akan mempengaruhi hasil akhirnya." Jawab Raissa.


"Itu tidak akan mempengaruhi, ini masalah hati. Kompetisi masalah otak. Beda." Sanggah Stefan.


"Betul, tapi kalau jadi tidak obyektif bagaimana?"


Stefan terdiam sejenak, mencoba meresapi semua perkataan Raissa. Kemudian Stefan menatap Raissa, dengan yakin dia berkata "tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikannya."


Raissa yang bingung untuk berkata apalagi, di dalam hatinya dia mulai ada rasa berdebar-debar. Pipinya bersemu merah. Stefan menarik lengan Raissa, membuat Raissa masuk ke dalam pelukan Stefan.


Wajah Raissa terkejut, tidak bisa berbicara apa-apa lagi, tetapi pipinya semakin bersemu merah. Dia palingkan wajahnya karena rasa malunya.


"Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti perasaanmu, akan kujaga dirimu selamanya. Hati kamu belum 100% terbuka saat ini, tidak masalah. Aku akan membuat hatimu menerimaku 100%," Janji Stefan. Dia tidak mau melepas pelukannya, walaupun Raissa agak sedikit berontak. Semakin dia memeluknya erat.


Tiba-tiba Alona datang sambil membawa aneka buah, dia melihat Stefan memeluk Raissa. Darahnya langsung mendidih.


Ditariknya Raissa dan langsung Alona menamparnya. Raissa sangat terkejut, begitu juga Stefan. Semuanya terasa begitu cepat. Stefan menatap Alona dengan tatapan ingin membunuhnya.


"Siapa kamu , berani sekali berbuat onar di sini!?" Tegur Stefan dengan keras.


"Onar?! Akulah tunanganmu yang sebenarnya. Dia hanyalah pelakor." Tuduh Alona.


"Pelakor? Kamu yang pelakor, sejak kapan aku mengakuimu menjadi tunanganku?"


Alona terkejut mendengarnya dan semakin membabi buta, dia mau menyerang Raissa lagi. Tapi kali ini Stefan berhasil melindunginya. Didekapnya Raissa erat, sehingga Alona tidak bisa menyentuh Raissa.


"Security usir dia sekarang, jangan pernah kasih dia masuk selamanya!" Perintah Stefan Tegas.


"Sayang, kenapa kamu tega? Mamamu saja bilang aku itu calon istri kamu. Kulaporkan ini ke dia."


"Silahkan, aku tidak peduli!" Seru Stefan lagi. "Security!"


Alona tidak bersedia disentuh oleh security, dia semakin membenci Raissa. Tatapan Alona seakan ingin menelan hidup-hidup Raissa. Dengan marah, Alona keluar dari rumah Stefan. Langsung masuk mobil dan tancap gas.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Stefan sambil meraba pipi Raissa.


Raissa hanya mengganggukan kepalanya. Stefan langsung meminta pelayan rumah untuk mengambilkan es batu dan alat kompres.


"Aku tidak apa-apa," raissa berusaha meyakinkan Stefan.


"Bengkak begini, dibilang tidak apa-apa," protes Stefan.


Tidak lama kemudian, teleponnya Stefan berdering. Segera stefan mengangkatnya.


"Ya, ma." Sapa Stefan.


Stefan diam mendengarkan ocehan mamanya, ternyata Alona sudah mengadu tidak-tidak ke mamanya. Kemudian mamanya Alona menegur mamanya Stefan.


"Dia yang buat onar, ini rumahku, ma. Dia berani menampar tamuku."


Stefan diam lagi. Menyimak apa yang ingin dikatakan mamanya.


"Itu bohong. Butuh bukti?! Nanti stefan kirim cctv ke mama. Dia yang menampar duluan. Jangan mengada-ngada!"


Pembicaraan telepon diputus oleh Stefan, teleponnya langsung dilemparnya ke kolam renang. Stefan semakin geram dengan aduan Alona yang tidak sesuai kenyataan.