
Keesokan harinya Raissa, bangun dengan kondisi sangat lemah, pusing dan mual. Dia tidak berdaya untuk bangkit dari sofanya. Untuk meraih teleponnya yang ada di meja makan, dia tidak mampu.
Sisi lain, Stefan menjadi panik. Kenapa Raissa tidak menjawab teleponnya sejak tadi malam, sudah puluhan telepon dan semuanya tidak diangkat. Pesan di WA juga tidak di baca. Stefan langsung merasa tidak tenang, dia memutuskan kembali ke Jakarta lebih awal dari rencana. Dua mengambil penerbangan paling pagi untuk terbang ke Jakarta dari Denpasar.
Tiba di bandara Soekarno Hatta terminal 3, Stefan langsung masuk ke mobil yang telah menunggunya. Dia minta pak Broto sang supir untuk melajukan mobil ke apartemen Raissa. Lalu lintas hari ini cukup padat, karena ada kecelakaan truk gandeng di tol dalam kota. Membuat kemacetan dimana-mana.
Stefan meminta pak Broto mengambil jalur lain, dia semakin tidak tenang, sepanjang peejalanan. Stefan masih berusaha menghubungi Raissa, tapi sekarang teleponnya malah mati. Stefan makin gelisah.
"Pak Broto, bisa cari jalur yang tidak macet?" Tanya Stefan
"Ini saya lagi berusaha tuan." Jawab Pak Broto.
"Tolong secepatnya kita tiba di apartemen Raissa," pinta Stefan.
"Memang ada apa Tuan?" Tanya pak Broto kebingungan melihat tuannya begitu panik dan gelisah.
"Tidak tahu pak Broto, hati saya tidak tenang sejak tadi malam. Semoga tidak seperti yang saya duga," harap Stefan.
Setelah pak Broto mencari jalan alternatif, tiba juga mereka di gedung apartemen Raissa. Stefan minta tolong resepsionis untuk menghubungi Raissa, tetapi tidak di angkat juga.
"Bisa di cek, ibu Raissa ada di apartemen atau sedang keluar?" Tanya Stefan.
"Saya lihat di catatan kami, sejak pulang kemarin sore, Ibu Raissa tidak pernah meninggalkan apartemennya." Jawab petugas resepsionis.
"Ada hal yang berbeda atau apa kemarin?" Selidik Stefan.
"Tidak ada, ibu Raissa pagi mendapat kiriman kue dan bunga mawar warna pink. Kebetulan saya yang menerimanya. Untuk sore harinya di catatan, ibu Raissa mendapat kiriman bunga mawar warna kuning. Dan ibu Raissa sempat pergi keluar sebentar. Sore sudah kembali. " penjelasan petugas itu panjang lebar.
Stefan semakin yakin ada yang tidak beres dengan Raissa. "Tolong bisa bantu saya membuka pintu apartemennya, ada kunci serep atau apapun yang bisa membawa kita menerobos masuk ke dalam?" Pinta Stefan.
"Ada sebetulnya,lewat jalur servis, bisa masuk ke apartemennya. Karena untuk mengambil sampah, ini bagian maintenan gedung." Penjelasan petugas itu lagi.
"Boleh, tolong hubungin petugasnya, saya ikut. Saya khawatir ada sesuatu yang menimpanya." Stefan berkata dengan nada memohon.
"Baik pak, saya hubungi rekan saya yang bagian akses jalur servis. Tunggu sebentar."
Stefan berjalan mondar mandir di lobby, dia menunggu datangnya petugas yang bisa membantunya. Sekitar 10 menit kemudian, datang juga petugas yang ditunggu. Mereka berdua langsung masuk ke lift servis dan dengan kunci servis, mereka bisa masuk ke dalam apartemen Raissa melalui area servis dekat dapur Raissa. Untungnya pintu dapir Raissa tidak dikunci.
Stefan langsung bergegas masuk ke dalam, menemukan Raissa yang sedang berbaring di sofanya. Stefan berusaha membangunkannya, tapi Raissa tidak bergeming. Wajahnya sangat pucat dan bibirnya mulai membiru. Segera Stefan membopong Raissa, membawanya ke RS Adhinata.
Diperjalanan Stefan menghubungi Direktur Rumah Sakit untuk mengirimkan team dokter yang terbaik menunggu di Unit Gawat Darutat.
Tiba di rumah sakit, Raissa langsung diletakan di tempat tidur di ruang UGD. Kemudian Raissa diperiksa oleh sejumlah dokter yang sudah menunggu sebelum mobil Stefan tiba di rumah sakit. Mereka mencurigai Raissa keracunan,dilihat dari warna bibirnya, diperiksa pernafasan dan juga detak jantung Raissa mulai melemah. Segera mereka langsung membawa ke dalam, untuk ditindak lebih lanjut.
Stefan menunggu laporan dari team dokter yang sedang bekerja keras memulihkan Raissa. Sekitar 3 jam kemudian, kepala team dokter keluar menemui Stefan.
"Bagaimana Dokter Ivan?" Tanya Stefan.
"Tenang pak Stefan, team kami berhasil menstabilkan kondisinya. Sekarang nona Raissa ada di ruang ICU, racunnya sudah kami netralkan, untunglah dosisnya tidak mematikan yang masuk ke tubuhnya. Dan tepat dibawa ke sini, bila telat 1 jam lagi, maka lebih sulit untuk dinetralkan. Karena racunnya semakin tersebar keseluruh tubuhnya." Penjelasan dokter Ivan secara mendetail.
"Kami sudah mengirim sample darahnya ke laboratorium, sedang diproses untuk diketahui jenis Racunnya." Jawab Dokter Ivan.
"Terima kasih dokter, tolong pantau terus keadaanya."
"Tenang saja, nona Raissa dalam pengawasan ketat dari kami."
"Oh ya, perihal racun ini mohon tidak ada yang menyebarkannya. Dan jangan menerima siapapun yang menjenguknya tanpa seijin saya," Pinta Stefan.
"Baik Pak Stefan."
Setelah dokter Ivan pergi meninggalkannya, Stefan langsung memghubungi Thom untuk menyelidiki perihal racun. Cari tahu di apartemennya Raissa.
"Racun? Hmm, kita lihat siapa yang berani memberikan racun kepada Raissa. Mau kuhabisin dia." Geram Stefan sambil mengepalkan tangannya.
Oma menelepon Stefan, menanyakan keadaan Raissa. Stefan tidak menceritakan perihal racun kepada Oma. Dia hanya bilang Raissa kumat sakit maagnya, sekarang sedang dirawat di RS Adhinata. Oma langsung tenang, mengetahui Raissa sudah dalam penanganan dokter.
"Jaga dia dengan baik Stefan, dua hari lagi Oma pulang ke Jakarta, Oma akan menjenguknya. Sekarang titip salam untuk dia dulu." Kata Oma lewat telepon.
"Iya Oma, Stefan akan sampaikan ke Raissa. Salam untuk Opa."
Stefan menghubungi Gita dan Mary Jane, mereka berdua langsung berangkat menuju ke rumah sakit begitu mendapatkan kabar dari Stefan.
Mary Jane datang bersamaan dengan Gita tiba di lobby Rumah Sakit, Stefan menghampiri mereka, kemudian mereka semua di bawa Stefan ke ruang tunggu VVIP keluarganya. Di sana setelah yakin tidak ada orang lain selain mereka bertiga, Stefan baru mulai menceritakan kejadian sebenarnya.
Alangkah terkejutnya Mary Jane dan Gita mendengar penjelasan detail dari Stefan. Dan mereka bersyukur, Raissa ditolong di waktu yang tepat, sehingga nyawanya tertolong.
"Stefan, menurut kamu siapa yang berani meracuni Raissa?" Tanya Gita
"Ini masih diselidiki, aku sudah mengirimkan beberapa orang untuk melakukan investigasi kasus ini. Dimulai dari apartemen Raissa dan dengan siapa dia bertemu kemarin." Ujar Stefan, tatapannya terlihat sedih memikirkan Raissa. Ada penyesalan di batin dia, seandainya dia bisa lebih memaksa Raissa ikut mereka ke Bali. Hal ini tidak akan terjadi.
"Setahuku Raissa tidak punya musuh, dia anaknya baik, ramah dan ulet. Seorang pekerja keras, tutur katanya selalu santun," kata Mary Jane mencoba mengingat siapa yang bisa dijadikan tersangka.
"Itulah aku juga bingung, sedari tadi kucoba memikirkan siapa yang bisa jadi tersangka. Tidak ada yang terlintas di benakku," ujar Stefan.
"Coba ku selidiki dari sisi personalia di kantor, apakah ada yang tidak puas dengan kepemimpinan Raissa selama ini." Kata Mary Jane.
"Aku mohon, jangan sebar info tentang racun ini. Karena kita tidak tahu siapa yang telah tega meracuni Raissa," pinta Stefan.
"Aku paham, tenang saja." Balas Mary Jane.
Stefan berjalan mondar-mandir di dalam ruang tunggu itu, Mary Jane sibuk menjawab pertanyaan dari WA group yang menanyakan keadaan Raissa.
Gita baru kembali lagi dari Cafe di lobby rumah sakit, dia membawa kopi latte 2 untuk Stefan dan Mary Jane dan 1 teh jasmine untuk dirinya.
"Terima kasih Gita," kata Stefan saat menerima kopi lattenya.
"Sama-sama Stefan."