Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 26 - Warung Rindu



Raissa sepanjang hari sibuk menyelesaikan tugas kantornya, Maya sampai harus menarik dia untuk makan siang.


"Bos, kamu harus jaga kesehatan. Jangan sampai roboh lagi seperti kemarin. Yuk kita makan siang bareng." Ucap Maya.


Raissa akhirnya menghentikan kerjaannya, dan langsung menyetujui perkataan Maya. Segera mereka keluar gedung kantor.


"Makan dimana kita? Tanya Raissa.


"Tempat baru," jawab Maya.


"Kalau tidak enak bagaimana?" Raissa merasa ragu untuk mencoba masakan dari tempat baru. Dia lebih memilih makan dengan menu sama dibandingkan harus mencoba menu baru yang belum dipastikan kelezatannya.


Maya sebaliknya, dia hobi mencicipi menu baru di restoran baru. Asal dia menemukan tempat baru melalui situs Mari Makan, dia langsung mencarinya untuk mencicipi langsung.


"Apa nama restorannya?" Tanya Raissa.


"Warung Rindu," jawab Maya.


"Hah? Warung Rindu, tidak salah dengar?"


"Betul Warung Rindu." Tegas Maya.


"Kok seperti tempat biro jodoh, awas kau tipu aku." Ancam Raissa.


"Hahaha, mari kita taruhan! Yang kalah yang traktir makan siang." Tantang Maya.


"Deal, siapa takut." Balas Raissa sambil tertawa. Beriringan mereka jalan menuju Warung Rindu.


Akhirnya mereka tiba di sana, tempatnya tidak terlalu luas, tapi terasa seperti berada di rumah sendiri.


"Selamat datang di Warung rindu kami," sapa seseorang pria.


"Terima kasih,bisa kami duduk di meja di sana?" Tanya Maya.


"Bisa, silahkan." Pria itu ikut mengantarkan maya dan Raissa ke meja yang ditunjuk tadi.


"Ini menu dari kami, tiap minggu akan berubah. Silahkan dilihat-lihat dulu. Nanti saya akan kembali untuk ambil orderan." Pria itu berkata sambil menyerahkan 2 lembar menu yang dibuat sangat sederhana.


"Mau pesan apa?" Tanya Maya


"Nama menunya lucu dan unik. Nasi goreng baperan, nasi ayam kepo, nasi goreng rindu padamu, hahahaha." Komentar Raissa setelah membacanya.


"Iya Rai, kreatif ya. Dan lihat pria tadi, ganteng ya," Maya langsung terpesona memandangi pria itu dari kejauhan.


"Kita mau makan atau apa?" Tegur Raissa.


"Makan dong, sebentar kupanggil si ganteng tadi." Ujar Maya, sambil melambai- lambaikan tangannya.


"Sudah siap order?" Tanya pria tadi.


"Sudah,pesan 1 nasi goreng baperan dan 1 nasi ayam kepo. Minumnya 2 es untukmu."


" ada lagi?"


"Minta kenalan dong?" Rayu Maya.


"Maaf itu tidak ada di menu kami." Pria itu menjawabnya


"Bukan, dia nanya benaran namanya siapa?" Kata Raissa sambil cekikikan.


"Oh, maaf, saya pikir orderan lagi. Nama saya Bimo."


"Hai Bimo, saya Maya dan ini Raissa."


"Salam kenal semuanya. Silahkan menunggu, sebentar lagi siap disajikan orderannya."


Saat mereka menanti makanan yang dipesan tersaji, Ezo masuk ke dalam Warung Rindu. Membuat Maya terkejut.


"Loh, kamu kok ke sini?" Tegur Maya.


"Emang tidak boleh? Ini tempat umum," jawab Ezo dengan sekenanya.


"Tapi kenapa kamu tahu kami di sini? Kamu nguntitin aku ya?" Tuduh Maya.


"Issh, ge er sekali. Maaf ya, aku ke sini karena butuh tanda tangan ibu bos segera."


"Sudah, jangan ribut. Malu, ini tempat umum. Ezo mana dokumennya? Dan sekalian ikut makan siang bersama kami."


"Oh tidak, makan siangku jadi tidak menyenangkan lagi." Keluh Maya.


Ezo langsung menyerahkan beberapa dokumen kepada Raissa. Sambil menunggu Raissa memeriksa dokumen, Ezo memesan beberapa menu.


"Ini sudah semua?" Tanya Raissa kepada Ezo.


"Sudah bos, lengkap selengkapnya."


Tidak menunggu lama menu pesanan Maya dan Raissa sudah tersaji. Mereka menunggu menu Ezo keluar juga baru mulai makan.


"Hmm, aromanya membuat perutnya makin berbunyi." Ujar Ezo, dia berusaha mencicipi makanan yang ada di piringnya Maya, tapi Maya langsung memukul tangannya Ezo.


"Pelit," cibir Ezo.


"Bodoh amat, rugi kasih kamu icip. bisa-bisa setengah piring kau habiskan." Balas Maya


Akhirnya menu pesanan Ezo pun tersaji. Mereka langsung memulai makan siangnya. Menunya sederhana tapi rasanya sangat enak. Dan harganya tidak mahal. Sepertinya ini akan menjadi tempat favorit baru mereka.


Notifikasi Pesan masuk telepon Raissa berbunyi. Raissa langsung memeriksanya. Terlihat pesan dari Stefan.


Stefan :" Jangan lupa makan siang."


Raissa :" ini sedang makan siang, bersama Maya dan Ezo."


Stefan :" ok, ingat ya sore ini kujemput. Jangan lembur. Jam 17:30 aku sudah di lobby kamu."


Raissa :"iya bos. :)"


Setelah mereka selesai maka siang, Maya memanggil Bimo untuk meminta tagihannya. Bimo datang segera membawa tagihan mereka.


"Bisa bayar dengan aplikasi?" Tanya Raissa.


"Bisa, kami bekerjasama dengan beberapa merchant."


Raissa langsung melakukan scan barcode, dan voilà selesai semua transaksinya.


"Terima kasih bos, sudah ditraktir makan siang kali ini. Lumayan bisa berhemat," kata Ezo sambil cengengesan. "Aduuh, aduh.." Pinggang Ezo dicubit oleh Maya.


"Bukan hemat, tapi kamu pelit, tahu?" Sindir Maya.


"Kenapa sih kamu suka banget cubit pinggangku? sakitttt tahuuu…" protes Ezo.


"Lemakmu menggoda untuk dicubit, weee" Balas Maya sambil menjulurkan lidahnya


"Yuk, kita kembali ke kantor. Terima kasih Bimo, kami akan sering makan di sini." Kata Raissa sambil siap bangkit dari kursinya.


"Ditunggu lagi kedatangannya," ucap Bimo sambil melirik ke arah Maya. Dan Maya jadi sedikit salah tingkah dibuatnya. Ezo tanpa basa basi, langsung menarik Maya untuk keluar dari Warung Rindu.


*****


Waktu berjalan dengan cepatnya, tidak terasa sudah waktunya jam pulang kantor. Raissa sedang bersiap untuk pulang, tiba-tiba Mary Jane masuk ke ruangannya.


"Hai Neng, sudah mau pulang?" Sapa Mary Jane.


"Iya, sudah mau di jemput." Jawab Raissa.


"Sama siapa?"


"Hmmm,… ada deh," elak Raissa. Pipinya langsung bersemu merah.


"Stefan ya?" Tebak Mary Jane.


Raissa hanya menggangguk saja, tidak dapat berkata apa-apa lagi. Pipinya bersemu merah.


"Aku senang kamu akhirnya mau membuka hatimu lagi, tidak usah pikirka masalah rival dalam bisnis. Yang penting kamu berbahagia, dan aku yakin kamu bisa bersikap profesional dalam bekerja." Ujar Mary Jane.


Dia kemudian memeluk Raissa dengan erat, membuat Raissa menjadi lega, karena ternyata Sahabatnya mendukung hubungannya dengan Stefan. Sejak Stefan menyatakan perasaannya, hal ini yang selalu mengganjal hatinya. Sekarang dia bisa tenang, apapun yang akan terjadi dalam hubungannya dengan Stefan, tidak akan mempengaruhi perfoma dia di kantor.


"Sampai besok ya Rai, kuharap kau mendapatkan malam yang indah." Goda Mary Jane, dia pun keluar dari ruangannya Raissa.


Stefan menunggu Raissa dengan sabar di lobby, banyak wanita di lobby itu memandangi dia dengan penuh kekaguman. Wajah Stefan datar saja dilihati oleh banyak orang, tetapi saat dia melihat Raissa keluar dari ruang lift, senyumnya langsung mengembang. Raissa melihat Stefan, langsung dia bergegas untuk menghampiri Stefan.


"Hai, menunggu lama?" Sapa Raissa.


"Tidak, baru aku tiba juga." Jawab Stefan sambil dia merangkul pinggang Raissa yang kecil itu. Mereka berdua segera berlalu menuju mobil porsche Stefan yang diparkirkan tidak jauh dari muka lobby. Semua yang melihatnya merasa mereka pasangan serasi, Stefan yang tinggi dan berwajah tampan tampak selaras berdiri disamping Raissa yang langsing, cantik dan anggun.