Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 39 - Investigasi



Perjalanan menuju ke Rumah sakit, Stefan merasa ada mobil yang mengikutinya. Dilihat dari spion mobilnya, mobil itu Mercedes warna hitam. Kacanya cukup gelap, sehingga tidak bisa terlihat siapa yang mengemudikannya.


Stefan melajukan mobilnya lebih cepat, dialihkan mobil menuju ke arah Sentul. Untuk melihat apakah mobil itu tetap mengikutinya atau tidak. Dan ternyata mobil itu tetap membuntutinya.


Melalui loudspeaker, Stefan menghubungi Thom untuk menunggunya di Sentul. Dan meminta untuk membawa mobil Mazda CX3 sport miliknya. Thom langsung sigap.


Di sentul, mobil Stefan berbelok ke taman budaya, langsung masuk ke gedung parkir Hotel Athena lake resort. Di dalam gedung parkir, Stefan bertukar mobil dengan Thom.


Thom yang mengendarai mobil Porsche melajukan mobil mengarah ke bogor. Sedangkan Stefan melajukan mobil ke arah Jakarta. Mobil Mercedes itu tetap mengikuti Thom.


Stefan puas melihat rencananya berhasil mengelabui mobil itu. Dia akan mencari tahu siapa dibelakang ini.


Sebelum ke rumah sakit, Stefan mencoba mencari tahu tentang toko kue itu. Dia segera mengarahkan mobil itu ke wilayah Tebet. Lokasinya berada di dekat Pabrik Kaos yang cukup terkenal di era 80-an. Stefan memarkirkan mobilnya, kemudian petugas parkir menghampirinya.


"Parkir di sini, tidak bisa lama-lama." Tegur petugas parkir.


"Saya tidak lama, mau tanya toko itu siapa pemiliknya?" Tanya Stefan sambil menunjuk ke arah Toko kue yang sudah terbengkalai.


"Itu pemiliknya sudah meninggal. Namanya Nyonya Hannah, dia mewariskan toko itu ke putrinya. Tapi sepertinya putrinya tidak berminat lanjutkan usahanya. Dengar-dengar putrinya sekarang memiliki usaha kosmetik."


"Kosmetik apa?" Tanya Stefan lagi.


"Saya tidak tahu, tapi nama klinik kecantikannya saya tahu. Namanya Klinik Inner Glow, lokasinya di daerah simprug."


"Terima kasih pak, ini ada rejeki buat bapak." Ujar Stefan sambil menyelipkan uang seratus ribu rupiah ke kantong bajunya.


"Wah terima kasih tuan. Semoga makin banyak rejekinya."


"Sama-sama pak, saya jalan dulu."


Stefan melajukan mobilnya ke jalan Raya menuju area Simprug. Dia masukan nama inner Glow dan menemukan alamatnya ternyata bukan di Simprug, tetapi di Hang Lengkir. Stefan menemukan klinik itu, dia memarkirkan mobilnya diseberang jalan. Sengaja dia tidak turun, dia mengamati keadaan luar klinik itu. Ada beberapa mobil di parkiran Klinik, para wanita berpenampilan high sosialita keluar masuk dari Klinik itu.


Saat Stefan hendak beranjak pergi, tiba-tiba sebuah mobil jaguar masuk ke parkiran khusus klinik tersebut. Turunlah seorang Wanita yang memakai sunglasses besar, dia sedang memarahi security disana. Stefan merasa pernah melihat wanita itu. Tapi dia tidak ingat dimana


"Hmm, menarik. Tapi apa hubungan dia dengan Raissa? Ini yang perlu diselidiki lebih dalam lagi." Gumam Stefan, sambil mencatat nomor plat mobil itu. Kemudian dia meninggalkan area parkir itu, kembali ke rumah sakit Adhinata.


Tiba di Rumah Sakit, Stefan segera menuju ke lantai 36. Saat masuk ke kamar Raissa, dilihatnya mamanya Raissa sedang bercerita dan Raissa hanya diam mendengarkannya. Sekali-kali terdengar ketawa kecil dari Raissa.


"Selamat sore, sepertinya seru sekali ceritanya." Sapa Stefan.


"Hai nak Stefan, sudah kembali. Oh ya, Gita tadi sudah pamit pulang dulu. Besok dia akan datang lagi ke sini." Kata mamanya Raissa.


"Iya tante."


Stefan duduk di sofa tidak jauh dari mereka. "Bagaimana kondisi Raissa?" Tanyanya.


"Tadi dokter Ivan sudah memeriksa lagi, hasil darahnya sudah mulai bersih dari … apa ya tadi… duh maaf tante lupa, maklum sudah berumur." Ujar Mamanya Raissa sambil menepuk jidatnya.


"Hahaha, tidak apa-apa tante. Namanya memang sulit. Lalu apa kata dokter lagi?"


"Besok bisa dimulai fisioterapi di ranjang, jadi bisa merangsang kekuatan otot dan syarafnya." Penjelasan mamanya Raissa.


"Bagus, Raissa kamu pasti bisa. Tetap semangat!" Ujar Stefan.


"Terima kasih," ujar Raissa. Suaranya sudah semakin keras, tetapi belum kembali normal. Stefan senang mendengarnya berarti ada kemajuan yang baik.


"Tenang tante, Stefan akan tidur di hotel sebelah rumah sakit ini. Kalau ada apa-apa, Stefan bisa langsung ke sini dengan cepat."


Ketukan pintu terdengar, masuklah perawat Ina yang membawa paket makanan.


"Pak Stefan, ini kiriman menu makan malamnya."


"Terima kasih. Taruh di meja makan saja. Kamu shift malam lagi?"


"Iya pak, Siang tadi yang menjaga Perawat Ayu."


Perawat Ina setelah meletakannya di meja makan, pamit keluar ruangan. Stefan membuka paket makanan itu, berisikan nasi liwet lengkap dengan lauk pauknya.


"Tante, mari kita makan. Ini sudah dibuatin nasi liwet. Semoga sesuai selera tante." Stefan mengajak mamanya Raissa untuk makan malam. "Biar Raissa, saya temanin dulu, nanti kita gantian makannya."


"Baiklah kalau itu tidak merepotkan." Ujar Mamanya Raissa.


"Tidak merepotkan tante."


Tante Mira membuka kotak makanan berisi liwet, dan rasanya enak banget. Sesuai seleranya.


Stefan membantu Raissa mengambil gelas untuk minum. Karena masih belum bisa duduk, Raissa minum dengan sedotan. Maskernya sudah diganti menjadi selang oksigen. Membuat Raissa lebih leluasa minum dan makan.


Stefan mengambil sebuah Apel,dikupas dan dipotong kecil-kecil. Sehingga mudah Raissa memakannya.


"Pelan-pelan makannya, apelnya tidak akan lari" goda Stefan. Raissa tersenyum simpul mendengarnya.


Raissa mulai bisa makan sedikit, setidaknya satu buah apel bisa dihabiskannya. Mamanya Raissa senang melihat betapa perhatiannya Stefan kepada putrinya.


"Nak Stefan, mari ke sini. Makan dulu, tante sudah selesai." Ujar Mama Raissa.


"Baik tante, aku makan dulu ya. Jangan merindukanku ya " goda Stefan sambil mencubit pipinya Raissa dengan lembut.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Stefan bercengkerama dengan Raissa dan mamanya sebentar sebelum dia balik ke kamar hotelnya, dimana dia dengan mudah mendapatkan kamar di hotel tersebut. Karena dia pemiliknya, sehingga selalu tersedia kamar khusus untuk Stefan.


"Aku pamit istirahat dulu ya, besok pagi aku kembali ke sini. Tante tidak ysah khawatir untuk menu makanab, aku sudah atur pagi, siang dan malam. Akan diantar menu 'fresh from oven' setiap hari. Bila ada yang tante mau makan bilang saja ke Stefan, jangan sungkan-sungkan."


"Tante merasa terlalu dimanjakan, ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak nak Stefan." Ucap Tante Mira.


"Raissa, kamu istirahat yang cukup, besok fisioterapimu dimulai. Jangan patah semangat, kamu bisa kembali pulih." Ujar Stefan sebelum beranjak keluar kamar.


Diluar Stefan menghampiri nurse station, mencari perawat Ina.


"Tolong jangan ijinkan siapapun yang masuk ke kamar ini selain saya dan keluarga Raissa. Tahu kan siapa saja?"


"Baik pak Stefan."


"Bila ada hal yang mencurigakan hubungi saya langsung, ini no telepon saya. Lantai ini adalah lantai khusus jadi tidak sembarang orang yang bisa berkeliaran di sini tanpa sepengetahuan petugas Rumah Sakit. Tempatkan 2 petugas keamanan di area tunggu lift mulai malam ini. Di jaga 24 jam. Sampaikan ini ke direktur rumah sakit, bilang saja perintah dari saya langsung."


"Baik pak Stefan."


Tidak membutuhkan waktu yang kama, Stefan sudah berada di kamar Hotelnya. Dia memilih kamar yang menghadap kamar Raissa, sehingga dia bisa melihat lampu kamar Raissa sudah dipadamkan atau masih menyala. Dia mengirim pesan ke Thom untuk mencari tahu pemilik mobil Jaguar, dikirimnya nomor platnya. Dan juga mencari info lebih tentang klinik inner glow dan juga nyonyah Hannah pemilik toko kue itu.