Empire'S Love

Empire'S Love
Bab 48 - Merindukanmu



Stefan berada di ruang meeting, dia sedang menunggu pengacaranya untuk membawa dokumen yang sangat penting.


"Sepertinya sedikit demi sedikit, kepingan puzzle mulai tersusun pada tempatnya. Bagus, tinggal kita teruskan penyelidikan kita lebih mendalam, Thom." Ujar Stefan kepada Thom.


"Saya sudah menaruh beberapa orang untuk mengikuti ibu Thalita dan juga mengawasi keadaan klinik dan toko kue terbengkalai itu." Lapor Thom.


"Bagus."


Tidak lama kemudian, masuklah seseorang yang berpenampilan sangat rapih, diikuti oleh 2 orang asistennya.


"Selamat siang, Pak Stefan. Maafkan kami terlambat datang." Katanya pria itu.


"Tidak apa-apa, silahkan dimulai pak Luki." Pinta Stefan.


" saya sudah menyiapkan beberapa dokumen, tetapi saya membutuhkan tanda tangan nona Raissa dalam dokumen ini." Ujar pak Luki yang merupakan pengacara perusahaan Adhinata Group sejak lama.


"Tapi sebelumnya saya mau memastikan, bahwa 75% saham milik bapak diserahkan untuk nona Raissa?" Tanya Pak Luki untuk menegaskan isi dokumen yang dia buat benar sesuai permintaan Pak Stefan.


"Betul. Tolong isi dokumen ini, jangan disebarluaskan." Kata Stefan dengan tegas.


"Baik pak, saya akan merahasiakan hal ini. Silahkan diterima dokumen ini, setelah selesai ditanda tangani, bisa memanggil saya lagi untuk menyelesaikan proses tahap akhirnya."


"Bagus."


"Sebelumnya, saya hanya mengingatkan dengan memberikan saham sebesar itu, berarti nona Alona menjadi pemegang Saham terbesar di Adhinata Group. Apakah itu tidak jadi masalah?" Tanya Pak Luki.


"Saya sudah memikirkannya masak-masak. Tidak usah khawatir pak Luki, turuti saja permintaan saya ini." Jawab Stefan dengan tegas.


Pak Luki memberikan kode ke asistennya untuk menyerahkan beberapa dokumen itu ke Thom. Setelah itu, dia pamit keluar ruangan.


"Thom besok pagi kamu berangkat ke Singapore, dapatkan tanda tangannya Raissa Usahakan dia jangan membaca isinya. Lalu kamu segera kembali ke Jakarta." Perintah Stefan kepada Thom.


"Baik bos." Jawab Thom, setelah itu dia pamit keluar.


Stefan memutar kursinya menghadap ke sisi jendela, dia berpikir keras untuk mengingat semua informasi yang diperoleh semalam. Dia sedang mencari cara untuk menemukan pelaku yang mengirim racun kue itu ke Raissa.


"Sepertinya racun itu berkaitan dendam masa lalu." Gumamnya.


Lamunannya buyar setelah dia mendengar suara ketukan di pintu, stefan memanggil yang mengetuk pintu untuk masuk.


"Pak Stefan, meeting siang ini jadi diadakan?" Tanya Putri setelah dia nasuk ke dalam menghadap Stefan. Dia sekarang bertugas yang mengurus jadwal janji temu pak Stefan.


"Jadi. Saya segera ke sana sekarang," jawab Stefan, sambil berjalan keluar ruangan, diikuti oleh Putri dibelakangnya.


*****


Raissa ditinggal oleh Stefan, mulai merasa kehilangan. Dia mulai merasa terbiasa dengan kehadiran Stefan di dekatnya.


"Rai, kamu kenapa? Kok seperti murung?" Tegur mamanya.


"Ah tidak kenapa-napa ma." Jawab Raissa dengan nada sedikit panik.


"Kamu belum makan siang, mari kita makan bersama. Mama tadi sudah buatkan ayam goreng kesukaanmu." Bujuk ibu Mira, supaya Raissa mau makan.


"Nanti saja, ma. Raissa sedang tidak nafsu makan sekarang."


Ibu Mira tersenyum melihat tingkah putri semata wayangnya. Dia bisa melihat putrinya sudah jatuh cinta sama Stefan.


"Kamu kangen ya dengan Stefan?" Goda mamanya.


"Aah mama, apaan sih," kata Raissa, pipinya langsung bersemu merah.


"Kenapa kamu tidak hubungi dia saja? sehingga rasa rindumu terobati," saran mamanya.


"Dia sibuk kali ma, aku tidak mau menganggunya." Jawab Raissa.


Ibu Mira memeluk Raissa dari belakang. Dia sangat memahami karakter putrinya, sulit mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya. Dipeluk oleh ibunya, Hati Raissa menjadi hangat. Dia putar kursi rodanya, Raissa mencium pipi mamanya kiri dan kanan dengan lembut.


Tapi tiba-tiba terdengar suara dering telepon, dilihatnya ternyata Stefan menghubungi dia lewat video call. Wajah Raissa langsung sumringah.


"Halo tuan putri, bagaimana tidurmu semalam?" Sapa Stefan.


"Sangat nyenyak, bagaimana denganmu?" Tanya Raissa balik.


"Aku susah tidur semalam," keluh Stefan.


"Karena aku merindukanmu." Jawab Stefan.


"Dasar gombal," kata Raissa dengan nada pura-pura marah. Padahal hatinya berbunga-bunga mendengar jawaban Stefan.


"Tapi suka kan digombalin samaku," goda Stefan.


"Bagaimana urusanmu disana?" Tanya Raissa.


"Berjalan lancar, besok Thom akan ke sana membawa beberapa dokumen yang harus kamu tandatangani segera." kata Stefan.


"Dokumen apa?" Tanya Raissa.


"Dokumen hadiah kemenangamu." Jawab Stefan. " Sudah, sudah. Jangan banyak bahas tentang dokumen itu."


"Lalu bahas apa?" Tanya Raissa.


"Bahas hatimu dan hatiku," goda Stefan lagi.


"Apa sih? Ini kamu lagi di kantor kan? Tidak malu berbicara seperti itu?" Tegur Raissa.


"Aku tidak peduli kalau didengar orang lain. Biarkan saja." Ujar Stefan dengan santai.


"Jangan begitu lah." Protes Raissa.


"Tenang sayang, di ruanganku tidak ada siapa-siapa. Hanya ada dirimu dan diriku."


"Tuh kan, mulai menggombal lagi."


"Siapa menggombal? Itu faktanya. Hahahaha," ujar Stefan sambil tertawa geli melihat wajah lucu Raissa. "Sabar sayang, aku akan segera kembali, setelah urusanku di sini selesai."


"Apa perlu aku kembali ke Jakarta?" Tanya Raissa.


"Jangan, belum aman keadaan disini!" Seru Stefan.


Ibu Mira melihat tingkah putrinya yang terlihat bahagia, dia jadi ikut bahagia. Dia memberikan kode ke perawat Ina, untuk keluar dari kamar Raissa. Sehingga Raissa bisa leluasa melepas rasa rindunya.


Di luar kamar, perawat Ina berkata "mereka pasangan yang serasi ya bu. Saya doakan langgeng terus sampai maut memisahkan mereka." Ibu Mira hanya tersenyum mendengarnya.


Mereka berdua tidak menunggu Raissa untuk makan siang Bersama, tetapi setelahnya perawat Ina membawakan Raissa makan siang ke kamarnya. Diketuknya pintu kamar Raissa


*****


Alona sedang berada di apotek, penampilan dia cukup menggelikan, dia memakai kacamata hitam dan masker di wajahnya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, tingkahnya yang mencurigakan membuat SPG apotek itu mendekatinya.


"Ada yang bisa di bantu mbak?" Tanya SPG tersebut.


"Hmm, saya sedang mencari....," Dia membisikannya ke telinga SPG itu.


"Oh pregnancy test, ada di lorong di sana." Ujar SPG itu keras-keras. Alona langsung menuju lorong yang ditunjuk SPG tadi.


sewaktu dia hendak meraih beberapa kotak pregnancy test, dia saking paniknya sempat menjatuhkan banyak kotak preganancy di lantai. Sehingga membuat kegaduhan, buru-buru dia berusaha menyusunkan kembali seperti semula. Setelah dia mengambil 10 kotak pregnancy, Buru-buru dia ke kasir untuk membayarnya.


Saat sedang memberikan uang untuk membayar dikasir, seseorang menepuk punggungnya, Alona sampai hampir loncat saking terkejutnya. Dilihat siapa yang menepuknya ternyata Oma.


"Sedang beli apa kamu, Alona?" Tanya Oma.


"Eh Om.. Oma, A...ada disini juga. Opa mana?" Þanya Alona dengan gugup.


"Opa itu di sana, sedang mencari vitamin. Maklum kami kaum manula butuh banyak supplemen," jawab Oma. Dilihatnya sekilas isi kantong belanjaan Alona, pregnancy test. Tapi Oma diam saja, pura-pura tidak melihatnya.


"Oma, Alona pamit pulang duluan ya." Ujar Alona langsung mendekap bungkusannya dan lari keluar Apotek dengan terburu-buru.


"Anak yang aneh," kata Oma sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


Di dalam mobil, Alona berteriak sambil memaki-maki.


"Aaarrghhh bodoh!! Dasar apes, kok bisa aku ketemu dia di sini. Padahal ini apotek jauh dari rumah mereka. Dan lagi, Oma bisa mengenaliku darimana? Kukira penyamaranku sudah cukup hebat." Ujar Alona sambil membentur-benturkan kepalanya ke setir mobil.


"Aaaarrghhh!!" Teriaknya lagi.


Setelah dia mulai tenang, dia mulai lajukan mobilnya ke kawasan SCBD, untuk berbelanja di mall yang sangat mewah di kawasan itu.