
Keesokan paginya, Thom mengirimkan pesan ke Stefan, bahwa Informan yang dia ingin temui, sudah memberikan kabar. Informan tersebut meminta untuk bertemu malam ini, sebelum dia kembali ke Australia.
Stefan langsung setuju untuk menemuinya malam ini. Walaupun kepulangan dia kembali ke Jakarta lebih cepat dari rencana semula.
"Raissa, aku mendadak ada rapat penting yang harus kuhadiri. Siang ini, aku kembali ke Jakarta." Kata Stefan saat sedang sarapan di restoran lobby Hotel.
"Oh begitu, tidak apa-apa. Bisnis kamu memang harus diurus, sudah terlalu lama kamu menemaniku." Ujar Raissa.
"Aku pasti kembali secepatnya. Kalian tetap tinggal disini, tidak usah khawatir. Sudah diurus semuanya. Dan ini ada kartu kredit bisa kamu pakai untuk bersenang-senang, saldonya unlimited." Kata Stefan sambil menyerahkan kartu kredit Platinum.
"Tidak usah, aku punya kartu sendiri." Tolak Raissa.
"Pegang saja, untuk hal-hal darurat bisa dipakai." Paksa Stefan.
"Okay, ini kupegang, tapi bukan berarti aku mau memakainya. Dan untuk hotel, lebih baik pindah ke hotel yang lebih murah. Atau sewa apartemen." Ujar Raissa.
"Tidak usah pindah, disini aman. Mallnya bagian dari hotel. Memudahkan kalian bila mau jalan-jalan. Supaya tidak jenuh." Stefan bersikeras mereka tetap tinggal di sana.
Raissa menarik nafas panjang, dia akhirnya menyerah dengan keras kepalanya Stefan. Dia hanya bisa tersenyum.
Sehabis sarapan, Stefan kembali ke kamar mengambil kopernya. Sebelum dia berpamitan , dia tetap meminta Perawat Ina melaporkan perkembangan Raissa setiap hari ke dirinya. Setelah semua pesan-pesan yang ingin disampaikan, Stefan memeluk Raissa dengan erat, seakan berat meninggalkannya. Stefan mencium tangan Ibu Mira untuk berpamitan. Kemudian dia langsung berangkat menuju Bandara Changi.
Sesuai jadwal, Stefan tiba di Jakarta pukul 3 sore. Thom sudah menunggunya di depan pintu keluar.
"Selamat datang kembali, Bos." Sapa Thom.
"Mari kita jalan, semuanya sudah siap?" Tanya Stefan.
"Sudah bos, pukul 7. Kita akan bertemu dia di toi et moi sesuai arahan bos." Lapor Thom.
"Bagus, kita mampir ke kantor sebentar. Ada yang mau ku urus disana."
"Baik bos."
*****
Pukul 19:00, Stefan bersama Thom sudah tiba di toi et moi.
"Tamu saya sudah datang?" Tanya Stefan ke resepsionis.
"Sudah pak."
Stefan langsung menuju ke ruang VIP, diikuti Thom di belakangnya. Di dalamnya telah menunggu sepasang suami istri yang sudah cukuo berumur, sedang menikmati minuman yang sudah tersaji.
"Selamat malam, maafkan kedatangan saya sedikit terlambat." Sapa Stefan.
"Selamat malam, tidak apa-apa. Kami yang datang terlalu awal." Ujar si suami.
"Perkenalkan nama saya Stefan Adhinatha." Kata Stefan sambil memberikan kartu namanya secara sopan dan bersikap hormat. Karena yang dia temui, orang yang lebih tua.
"Saya Indra Prabudi dan ini istri saya Dewi Sari." Balas Pak Indra memperkenalkan diri dan istrinya.
"Silahkan Pak Indra, untuk memesan menu yang disukai." Stefan mempersilahkan mereka untuk memilih menu yang mereka suka.
"Kami sudah tua, tidak banyak porsi yang bìsa kami makan. Silahkan pak Stefan yang lebih muda untuk memilih menunya, kami ikut saja."
"Terima kasih atas kesediaan waktu pak Indra untuk bertemu dengan saya malam ini. Saya sedang menyelidiki suatu kasus yang setelah kami gali mengarah ke keluarga bapak Harry abimanyu. Bisa tolong ceritakan tentang istri pertama beliau?" Pinta Stefan.
"Istri pertamanya seorang yang sangat cerdas di kampus kami, dia aktif dalam organisasi. Mereka sewaktu kuliah. Kami semua kuliah di Universitas Indonesia. Mereka berpacaran cukup lama, keluarga Harry yang merasa turunan bangsawan Jawa, tidak bisa menerima kehadiran istri pertamanya. Tapi Harry bersikeras untuk menikahinya, akhirnya mereka menikah tanpa restu orang tua dari Harry." Tutur cerita Pak Indra.
"Lalu bagaimana mereka bisa berpisah?" Tanya Stefan.
"Itu cerita memilukan, harry sangat terpukul. Dia sering mencari kami untuk berkeluh resah. Jadi saat mereka sudah menikah 2 tahun lebih, mereka hidup bahagia dengan putri kecilnya. Keluarga besarnya kembali mencari cara untuk memisahkan mereka berdua."
"Caranya?"
"Mereka memilih tinggal di jauh dari kota Jakarta, supaya bisa hidup damai. Beberapa kali harry dipanggil untuk pulang ke Jakarta, tidak digubrisnya. Sampai sewaktu Harry diberitahu bahwa ayahnya sakit keras, Harry baru pulang ke Jakarta. Ternyata itu jebakan, dia dipaksa menikah dengan Hannah. 1 tahun menikah dengan Hannah, Harry tidak pernah menyentuhnya, mereka tidur di kamar terpisah. Harry berusaha sesering mungkin menjenguk istri dan anak yang dia cintai."tutur Indra melanjutkan ceritanya.
"Tunggu dulu, bila dia tidak pernah menyentuhnya, bagaimana bisa ada anak keduanya?" Tanya Stefan heran.
"Kata Harry, itu bukan anaknya. Dia berani bersumpah. Tapi sekitar 8 tahun semenjak dia menikah dengan Hannah, istri pertamanya mengetahui bahwa Harry memiliki istri selain dirinya. Mereka ribut besar, beberapa bulan Harry tidak berani datang ke rumahnya lagi. Saat dia datang lagi, Istri dan putrinya sudah tidak disana lagi."
"Apa sudah dicari? Kan pak Harry pengusaha sukses, seharusnya mudah." Tanya Stefan lagi.
"Dia sudah mencari kemana-mana, tapi tidak dapat menemukan jejak keberadaan mereka. Bagaikan hilang ditelan bumi." Ujar pak Indra.
"Ini saya ada foto kami saat kuliah dulu," kata Istrinya pak Indra sambil mengeluarkan sebuah foto terlihat sudah sangat tua dari tas tangannya.
Stefan menerima foto tersebut, Pak Indra menunjukan bahwa yang berdiri di samping kiri adalah pak Harry, sebelahnya dia. Sedangkan wanita yang duduk ditengah adalah istri pertamanya pak Harry. Saat Stefan mencermati foto tersebut, betapa terkejutnya wajah pak Harry dan Istrinya sangat familiar baginya.
Pembicaraan mereka terputus, karena hidangan yang dipesan telah datang, mereka pun mulai menikmati santap malamnya.
Setelah mereka menghabiskan makan malamnya, pak Indra dan istri pamit pulang. Sebelum berpisah , Stefan menanyakan siapa nama istri pertamanya pak Harry.
"Nama Istrinya adalah Amaira Rahayu, tapi kami memanggil dia dengan nama Mira." Kata pak Indra sebelum masuk kedalam mobilnya.
Mendengar nama itu, Stefan terkejut. Itu kan nama ibunya Raissa. Berarti tebakannya benar, foto muda yang tadi dia lihat adalah ayah dan ibunya Raissa waktu muda.
*****
Alona berteriak memanggil Tessa dan Nina untuk bergegas ke mobil. Karena harus segera berangkat ke Bandara. Tessa dengan high heelsnya yang tinggi menyeret-nyeret kopernya yg lumayan besar. Sedangkan Nina, sedang mencoba menutup kopernya. Dan koper itu serasa mau meledak, pelayan Villa berusaha membantunya. Dengan bersusah payah, akhirnya koper itu bisa dikunci. Bergegas Nina menarik Koper ke mobil.
"Keong amat kalian berdua!" Ketus Alona.
"Maaf, semalam kami keasyikan melihat live music di pantai. Jadi lupa membereskan koper." Kata Nina dengan menyesal.
"Hmm, buruan!"
Mobil segera melaju ke arah Bandara Ngurah Rai, untunglah lalu lintas Bali tidak sepadat di Jakarta. Dalam waktu 30 menit mereka sudah tiba di bandara.
Pesawat take off sesuai jadwal, sehingga mereka tidak terlalu lama menunggu di lounge Vip.
Tiba di Jakarta, Nina dan Tessa pulang bersama naik taxi online. Sedangkan Alona sudah dijemput oleh supirnya. Sepanjang penerbangan Alona tidak banyak bicara lagi, sikap Alona seperti itu membuat Tessa dan Nina menjadi ketakutan. Mereka hanya diam mengikuti langkah Alona kemanapun selama di Bandara.
"Terima kasih Alona, sudah mengajak kami bersenang-senang di Bali." Kata Nina dan Tessa.
Alona tidak menjawabnya, dia hanya memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan mereka. Setelah itu, dia langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Langsung pulang ke rumah," perintah Alona ke supirnya.