
Di dalam mobil, Damien berusaha mengajak Raissa ngobrol santai. Karena dia melihat Raissa seperti termenung sejak kembali dari restroom tadi.
"Besok, pulang kantor, kita dinner bareng yuk. Lusa aku harus kembali ke Eropa, " rayu Damien.
"Hmm, besok saya sibuk. Ada rapat yang penting bersama team." Tolak Raissa secara halus.
"Habis meeting deh, kutunggu saja di lobby kantor. Tidak masalah," Damien masih berusaha membujuk Raissa.
"Maaf tidak bisa, acara hari ini saja sudah membuat saya sedikit lelah." Ucap Raissa sambil tersenyum manis. Dia berusaha meyakinkan Damien bahwa dia tidak bisa menerima ajakan dinnernya untuk besok.
"Baiklah tuan putri. As you wish." Akhirnya Damien menyerah.
"Oh ya, baju ini akan kukembalikan setelah kubawa ke dry clean dulu," kata Raissa.
"Tidak perlu." Tolak Damien.
"Tidak usah didry clean? Terus dicucinya bagaimana?" Tanya Raissa.
"Maksudnya tidak usah dikembalikan. Ini hadiah untukmu. Karena sudah bersedia menjadi pasanganku di acara tadi."
"Sungguh?"tanya Raissa lagi
"He eh." Jawab Damien sambil mengganggukan kepala.
"Terima kasih banyak. Tapi ini terlalu mewah," kata raissa.
"Tidak ada yang mewah, bila dikenakan oleh orang yang tepat."
"Terima kasih Damien." Sambil tersenyum malu Raissa mendengar ucapan Damien.
Tidak lama mobil tiba di muka lobby gedung apartemen Raissa. Setelah berpamitan di dalam mobil, raissa segera keluar dari mobil. Dan kemudian Damien langsung melajukan mobilnya.
Raissa merasa lega karena sudah kembali ke apartemennya. Dia merasa sangat lelah, dan high heel yang dikenakannya lumayan tinggi. Dan rasa nyeri bekas operasi usus buntu, masih terasa sedikit. Sepanjang acara Raissa berusaha menutupi rasa nyeri itu dengan tersenyum.
Setelah mandi, raissa bersiap hendak tidur. Suara notifikasi dari telepon genggam, membuat Raissa meraihnya. Dilihatnya ada pesan dari Stefan.
Stefan : "jangan lupa obatnya diminum, lain kali jangan pakai sepatu terlalu tinggi. Bekas jahitan operasi kamu belum pulih 100%. Sekarang istirahat. Jangan banyak bergerak."
Raissa ..typing...
Stefan berdebar kencang menunggu balasan dari Raissa.
Raissa : " terima kasih atas nasehatnya. Selamat istirahat."
Stefan langsung merasa senang membacanya.
Stefan mengirimkan emoticon tersenyum lebar kepada Raissa.
Raissa tertegun melihatnya. Ini orang lihat aslinya kayak robot, kaku dan datar. Bisa juga dia kasih emoticon kayak begini.
Lampu dimatikan, raissa langsung terlelap tidurnya.
*******
Keesokan paginya, Raissa bangun tidur dengan penuh semangat. Tidurnya sangat lelap, sehingga dia merasa energinya kembali pulih menjadi 100%.
Segera dia bersiap untuk berangkat ke kantor, hari ini dia mengenakan blouse lengan panjang warna putih dengan rok midi selutut motif kotak-kotak coklat. Simple tetapi tetap terlihat manis. Rambutnya tergerai panjang hanya diberi jepitan rambut di kiri dan kanan. Sapuan make up tipisnya dengan lipstick warna peach, memberikan kesan fresh untuk Raissa.
Telepon berdering, dilihatnya nama Stefan di layar.
"Halo Raissa, selamat pagi." Sapa stefan.
"Halo juga, ada apa gerangan?" Balas sapa Raissa.
"Kebetulan aku ada di dekat apartemenmu. Kujemput sekarang, kuantar kamu ke kantor."
"Terima kasih Stefan, aku sudah ada supir siap mengantarku."
"Aku sudah di depan lobby. Kutunggu!" Perintah Stefan sambil mematikan sambungan telepon.
"Aarghh, main perintah-perintah saja!" Teriak Raissa kesal.
Di lobby apartemen, raissa melihat Stefan menunggunya di dekat mobil porsche cayman warna hitamnya. Tatapan mata Stefan terasa begitu tajam, membuat kelu lidah Raissa. Beberapa kali Raissa menelan ludah. Raissa akhirnya pasrah, dia pun masuk ke dalam mobil Stefan.
Sepanjang perjalanan Stefan hanya diam beribu bahasa. Dia hanya ingin menikmati waktu berdua dengan Raissa.
"Aku..." stefan dan Raissa berbicara bersamaan.
"Kamu..." kembali berbarengan mengucapkannya.
Membuat mereka berdua semakin salah tingkah.
"Ya udah kamu duluan yang berbicara," kata Stefan.
"Enggak kamu saja," tolak Raissa.
"Aku mau kamu tidak berhubungan lagi dengan Damien selain urusan kerja." Ujar Stefan.
"Dia licik selicik rubah." Balas Stefan.
" kamu hanya iri, karena dia lebih dewasa dibandingkan kamu." Sindir Raissa.
"Bukan. Aku hanya mengingatkan saja, karena aku tahu dia siapa. Jadi tolong pertimbangkan peringatan dariku ini."
"Terima kasih atas peringatannya, tapi saya bisa jaga diri." Ucap Raissa.
"Bagaimana kalau aku yang akan menjaga kamu mulai sekarang?" Tanya Stefan. Hati Stefan berdebar kencang saat mengucapkannya.
"Ha?" Raissa terkejut mendengarnya. Ditatapnya wajah Stefan, raissa berharap dia hanya salah dengar.
"Kenapa bingung? Aku bertanya denganmu, tolong kamu beri jawaban yang jujur. Apakah kamu setuju bila mulai sekarang aku yang akan menjagamu?"
"Maksudnya? Kita jadi pasangan kekasih?" Tanya Raissa dengan terkejut.
Stefan hanya menggangguk. Raissa menjadi diam karena dia shock. Dia tidak menyangka akan seperti ini.
"Tapi nona Alona itu tunanganmu..." ada keraguan di nada Raissa.
"Dia bukan siapa-siapa." Balas Stefan.
"Tapi..," kata Raissa dengan ragu.
"Kamu tidak harus menjawab sekarang, kutunggu jawabannya malam ini. Kita dinner bersama." Ujar Stefan melihat raut bingung di wajah Raissa.
"Tapi..." raissa berusaha menolak ajakan Stefan.
"Tidak ada tapi - tapian. Kujemput dr kantor jam 6 malam." Tegas Stefan.
Mobil Stefan berhenti di muka lobby kantor. Petugas berusaha membantu membukakan pintu Raissa.
Raissa yang masih shock hanya bisa terdiam saja, segera dia turun dari mobil. Tanpa bicara lagi, Stefan langsung melajukan mobilnya, meninggalkan Raissa yang masih terdiam.
"Hai, selamat pagi. Kenapa bingung?" Sapa Maya sambil menepuk pundaknya Raissa.
Raissa langsung sadar dari lamunannya. Dia menarik nafas panjang untuk menenangkan hati dan pikirannya. Di dalam hatinya, dia berkata bahwa dia harus fokus kerja hari ini, lupakan kejadian tadi.
"Selamat pagi Maya, " sapa Raissa.
Mereka berdua beriringan berjalan memasuki gedung kantor, kemudian mereka ke coffeeshop yang ada di lobby kantor.
"Pesan 1 hot tea jasmine dan 1 hot latte," kata Maya.
"Semua normal," celetuk Raissa.
"Siap mbak maya dan mbak Raissa," jawab barista dengan ramah.
"Tumben tidak pesan caramel machiatto," Maya terheran mendengar pesanan Raissa berbeda.
"Harus kurangi Kopi mulai sekarang," penjelasan Raissa.
"Bagus itu, jangan lupa juga makan yang tertatur juga."
"Okeh bos Maya,saranghaeyo." Raissa mengucapinnya sambil kasih jari berbentuk hati.
"Tadi malam acaranya bagaimana?" selidik Maya.
"Baik dan lancar." Jawab Raissa.
"Betapa beruntungnya kamu, Bos cantik. Pak Damien langsung memintamu mendampingi dia di acara besar tadi malam." Puji Maya.
"Ah kebetulan saja, dia lagi butuh pendamping."
"Aku kan juga langsung bersedia, tapi sayang dia tidak memintaku." Maya pura-pura mengeluh.
Raissa langsung mencubit pipi Maya yang agak chubby itu. "Ezo mau dikemanain?" Goda Raissa.
"Duh, pagi-pagi jangan menyebut nama itu dulu. Membuat moodku jadi drop. Aku butuh wajah tampan Damien menjadi mood boosterku " ujar Maya sambil nyengir lebar.
"Mimpi kamu."
Tidak lama kemudian pesanan mereka tersedia, Maya dan Raissa langsung mengambilnya sambil berjalan menuju ke lift .
"Bos, kamu dicari ibu MaryJane," tegur Ezo.
"Ada apa?" Tanya Raissa.
"Tidak tahu," jawab Ezo sambil mengangkat pundaknya dan memasang muka konyol.
Raissa langsung menjitak Ezo, sedangkan Maya mencubit pinggang Ezo.
"Aduh..aduh.. ampun.. ini kenapa keroyokan sih, not fair." Protes Ezo.
Raissa dan maya tertawa geli melihat tingkah Ezo. Bersama-sama mereka masuk ke lift. Maya dan Ezo keluar lift di lantai 18, sedangkan Raissa menuju ke lantai atas tempat ruang kerja Mary jane.