
Keesokan paginya, Gita sudah berada di Bandara Soekarno Hatta. Dari kejauhan,dia sudah melihat Tante Mira yang sedang kebingungan mencarinya.
"Tante!" Seru Gita dengan melambai- lambaikan tangannya setinggi mungkin, supaya terlihat dari kejauhan.
Akhirnya Tante Mira melihat Gita, segera dia menghampirinya. Gita langsung memeluknya dan mencium tangannya.
"Hayuk tante, kita langsung ke mobil." Ajak Gita. Trolley kopernya langsung Gita yang dorong. Ibunya Raissa hanya tersenyum sambil mengikuti langkah Gita.
Di area pick up lantai 3 gedung parkir, pak Broto menghampiri mereka. Setelah semua koper sudah tersusun dengan baik, trolley dikembalikan ke tempatnya. Pak Broto langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit Adhinata.
"Bagaimana penerbanganya, tante?" Tanya Gita.
"Baik, lancar dan aman." Jawab Tante Mira.
"Syukurlah."
"Gita, tolong jelaskan kenapa tante harus ke Jakarta segera? Dan dimana Raissa?" Tanya tante bertubi-tubi.
"Ehm, Tante maafkan Gita. Jujur Gita tidak tahu bagaimana menjelaskannya." Tutur Gita dengan gemetar menahan nangis. Membuat Tante Mira semakin bingung melihatnya.
"Terjadi sesuatu dengan Raissa?"
Gita menggangguk pelan, tante Mira langsung berteriak." Tidaakkk… putri ku…"
Tante Mira menangis tersedu-sedu, Gita ikut menangis dan mereka saling berpelukan.
Setelah beliau sudah lebih tenang, Tante Dewi menarik nafas beberapa kali. "Coba jelaskan apa yang terjadi?" Tanya Tante Mira. Dia berusaha tegar mendengar semua cerita dari Gita.
Gita menceritakan sebaik mungkin semuanya termasuk siapa Stefan dan bagaimana Raissa bisa tertolong jiwanya.
Tante Mira akhirnya bisa pasrah dan ikhlas menerima keadaan Raissa, dia bertekad akan menjadi tiang yang kokoh bagi Raissa.
Tiba di rumah sakit, Tante langsung digiring ke kamar Raissa yang ada di lantai 36. Stefan menyambutnya di depan pintu kamar.
"Terima kasih banyak, nak Stefan. Sudah menyelamatkan putri saya," ucap Tante Mira kepada Stefan.
Stefan hanya bisa mengangguk saja, miris hatinya melihat ibunya Raissa yang berusaha Tegar.
Stefan menuntun ibunya Raissa masuk ke dalam kamar Raissa. Dilihatnya Raissa sedang tertidur, wajahnya masih terlihat pucat. Ditariknya kursi untuk ibunya Raissa.
Tante Mira memandangi wajah Raissa, tangannya menggenggam tangan Raissa. Dia berusaha tegar, tetapi airmatanya keluar tanpa dia sadari. Stefan memberikan tissue kepadanya, untuk menyeka airmatanya.
"Terima kasih," ucapnya saat menerima tissue itu.
Raissa mendengar suara ibunya, terbangun dan mulai membuka matanya. Alangkah terkejut dia melihat sosok ibunya telah ada disampingnya. Raissa ingin mencium dan memeluk ibunya, tetapi tenaga dia masih lemah. Dia belum bisa bangkit dari ranjang.
"Nak, jangan banyak bergerak. Pulihkan dulu, ini mama sudah di sini. Mama akan menjagamu sekarang." Ujar Tante Mira menenangkan hati putrinya. Diciumnya kening Raissa, membuat Raissa menangis haru. Dia senang ibunya ada di dekatnya lagi.
Stefan diam-diam keluar dari ruangan itu, ubtuk memberikan privasi bagi Raissa dan ibunya.
Di lorong rumah sakit, Gita sedang duduk termenung, Stefan menghampirinya dan duduk disampingnya.
"Kamu tidak mau masuk ke dalam?" Tanya Stefan.
"Aku belum kuat melihat mereka berdua." Jawab Gita sambil menarik nafas. "Bagaimana keadaan semalam Raissa?"
"Tidurnya kurang nyenyak, karena beberapa kali dia mengalami serangan sesak nafas. Tadi sejak tadi pagi, dia sudah lebih baik. Saat kalian datang, dia sudah bisa tidur 2 jam." Ujar Stefan.
"Betapa jahatnya orang yang melakukan ini, tidak akan kumaafkan," geram Gita.
"Aku berjanji akan menemukan pelakunya, dan akan kuberi ganjaran semaksimal mungkin." Janji Stefan.
Thom datang, Stefan memberi kode untuk menunggu di sana. Thom paham maksudnya, dia menunggu di area tunggu lift.
"Gita, tolong jaga Raissa. Ada yang harus aku urusin dulu sekarang." Pamit Stefan sambil beranjak dari duduknya.
Gita melihat Stefan menghampiri seseorang di area tunggu lift. Kemudian Stefan masuk ke dalam lift diikuti orang itu.
Di dalam lift, Stefan minta Thom untuk diam. Dia minta mobil siap di muka lobby. Thom langsung menelpon pak broto untuk membawa mobil segera ke muka lobby.
Di mobil, Stefan baru mempersilahkan Thom melaporkan hasil investigasinya. Thom menyerahkan dokumen laporan, di dalamnya terdapat foto-foto dan juga bon toko.
"Bos, saya sudah menemukan anak itu. Dia bilang tidak bisa melihat wajah orang yang memberikannya uang, karena ditutup oleh masker, jaket kulit warna coklat tua dan memakai topi baseball. Tapi anak itu bilang, orang itu laki-laki, dia mengenakan cincin emas berinisal GT di jari kirinya." Lapor Thom.
"GT, hmm… mau cari mati dia? Kamu tahukan siapa itu GT!" Seru Stefan.
"Iya bos, perlu kupastikan lagi sebelum kita bertindak?"
"Iya, cari lebih banyak bukti tentang dia. Awasi dia 24 jam, kirim orang untuk memantau dia." Perintah Stefan. "Untuk toko kue itu bagaimana?"
"Alamat Toko itu sudah ketemu, tetapi saat saya ke sana, toko itu terlihat sudah lama terbengkalai. Saya tanya dengan orang sekitar, katanya sudah 5 tahun tidak beroperasi lagi. Pemilik aslinya sudah meninggal, dan mewariskan ke putrinya. Mereka yang saya tanyai tidak tahu siapa nama putrinya. Karena tidak pernah terlihat." Penjelasan Thom lagi.
"Sangat menarik, berarti bukan satu orang dalang semua ini. Tapi sekelompok orang yang bekerja sama. Coba kamu cari tahu ekspedisi apa saja yang dikirim dari Eropa, fokus kepada bahan obat atau farmasi. Racun ditubuh Raissa sebetulnya bisa menjadi obat, tetapi bila salah dosis, bisa mematikan."
"Baik bos, segera saya berikan laporannya." Kata Thom
"Pak Broto, antarkan saya pulang, lalu antar Thom ke AD0. Setelah itu pak Broto istirahat saja." Perintah Stefan.
"Baik Tuan."
Stefan tiba di rumah, langsung membersihkan diri dan makan siang. Kemudian dia menyiapkan baju, untuk dibawa ke rumah sakit. Dia ingin menginap lagi di rumah sakit, memantau perkembangan Raissa terus.
Dia meminta chef pribadinya untuk menyiapkan masakan untuk dibawanya ke rumah sakit. Dan menginstruksikan untuk mengirimkan makanan pagi, siang dan malam ke rumah sakit untuk dirinya dan ibunya Raissa.
Alona datang lagi ke rumah Stefan, tapi dicegat oleh security. Tetapi Alona tidak terima. Dia bunyikan klakson keras-keras sambil berteriak memanggil-manggil nama Stefan, membuat keributan.
Stefan sambil mengendarai mobil porsche cayman menghampiri pintu gerbang.
"Berisik! Kamu mau apa ke sini?" Tegur Stefan.
"Aku mau masuk kedalam, tapi tidak diijinkan sama petugas security bodoh-bodoh ini." Protes Alona.
"Ini rumahku, sudah kuperintahkan kamu dilarang masuk ke sini!" Seru Stefan. " Sekarang minggir, aku mau pergi!"
"Mau kemana? Mencari wanita kampungan itu lagi !" Ketus Alona.
"Bukan urusanmu. Sekarang minggir, kamu menghalangi mobilku keluar!" Teriak Stefan.
"Aku tidak akan pergi sampai kamu bilang mau kemana," Ujar Alona tetap tidak bergeming.
"Ok, kupanggil polisi sekarang. Karena kamu membuat keonaran berarti kena pasal KUHP no 503 terkait kegaduhan, hukumnya penjara 1 tahun." Ancam Stefan.
"Kamu bohong!" Seru Alona.
"Ok, tidak masalah kamu tidak percaya. Kuhubungi sekarang, jangan menyesal."
Alona mulai panik melihat Stefan mulai menghubungi seseorang, segera dia membawa pergi mobilnya menjauh dari rumah Stefan.
Stefan yang melihatnya, tersenyum puas. Segera dia lajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit.