
Shawn pagi-pagi sudah tiba di Marina Bay Sands, dia menekan bel pintu kamar suite Raissa.
Pintu dibuka oleh Ina, shawn langsung memberikan bunga ke Ina.
"Selamat pagi Ina, ijinkan aku memberikan bunga ini untukmu." Kata Shawn dengan nada selembut dan romantis mungkin.
"Maaf saya alergi bunga dan pria buaya." Jawab Perawat Ina dengan tegas, sambil mau menutup lagi pintu kamar Suite mereka.
"Eh jangan ditutup dulu, saya mau bertemu dengan nona Raissa." Kata Shawn, sambil menahan pintu.
Ina akhirnya mengijinkan Shawn masuk, kemudian mereka berjalan menuju Balkon. Dimana Raissa sedang menikmati minumannya di sana.
"Selamat pagi, Nona Raissa." Sapa Shawn.
"Selamat pagi, Shawn. Ada urusan apa datang pagi-pagi ke sini?" Balas Raissa.
"Tidak ada urusan apapun, saya kebetulan ingin sarapan di lobby bawah hotel ini, sekalian saya mampir ke sini." Penjelasan Shawn
Tidak lama kemudian, terdengar suara bel pintu lagi. Ina segera membuka pintunya. Ina terkejut melihat Alex sekarang yang ada dihadapannya dengan membawa bunga juga.
"Selamat Pagi tuan putri, bunga ini sangat cocok untuk tuan putri." Sapa Alex sambil menyerahkan bunga itu ke Ina.
"Maaf saya bukan tuan putri, dan saya alergi dengan buaya." Ujar Ina dengan nada tegas tapi sopan.
"Saya alex, bukan buaya." Protes Alex.
"Sama saja, silahkan masuk sudah ada buaya lain yang duduk di dalam," ujar Ina dengan datar.
Alex akhirnya masuk ke dalam, diarahkan ke balkon untuk bertemu dengan Raissa dan Shawn.
Terkejut Shawn melihat Alex juga datang dengan membawa buket bunga. Sekarang keduanya duduk bersebelahan sambil memegang buket bunga masing-masing.
"Ini kalian bawa bunga, baik sekali. Disuruh Stefan ya. Terimakasih banyak." Kata Raissa yang mengira buket bunga itu untuknya. "Ina, tolong ambilkan vas dan air, taruh buket-buket ini."
"Baik." Jawab Ina sigap. Tatapan Shawn dan Alex yang masih kebingungan melihat bunganya diambil tetapi untuk Raissa, bukan untuk Ina.
"Kalian ini kompak sekali,pagi-pagi sudah menjengukku. Benar-benar sahabat sejatinya Stefan. Tapi dimana Daniel?" Tanya Raissa.
"Hmm.. Daniel belum bangun, semalam dia sibuk dengan E-sportnya." Jawab Alex.
"Oh begitu." Ujar Raissa.
Ina pergi meninggalkan mereka untuk menaruh buket bunga itu, setelah itu bunga-bunga itu tertata dengan cantik dan ditaruh di meja makan dan ruang TV.
"Yang penting, Ina bisa memandang bunga itu." Tutur Shawn dalam hati. Tanpa disadarinya dia tersenyum puas.
Alex yang melihatnya,langsung melirik ke arah Ina. Dilihatnya Ina sedang menata bunga Shawn. Alex cemburu, dia mengira Shawn berhasil main mata dengan Ina. Dipelototinnya Shawn.
"Kalian makan siang di sini saja, bagaimana?" Tanya Raissa.
"Boleh," jawab Shawn dan Alex bersamaan. Setelah sadar mereka memgucapkannya bersamaan, mereka saling membuang muka. "Hfff", dengus keduanya bersamaan juga.
Raissa melihatnya jadi tertawa, dia melihat tingkah keduanya dan tingkah Ina yang mulai terlihat kikuk. "Aaah,ternyata aku salah paham. Bunga itu untuk Ina. Hihihi," kata Raissa dalam hati, sambil tersenyum simpul. "Seru juga, kita lihat siapa yang terpilih," katanya lagi dalam hati.
"Halo semua," sapa Ibu Mira kepada Shawn dan Alex.
"Halo Tante, Selamat Pagi." Sapa balik dari Alex
"Halo Tante," sapa Shawn juga.
"Maafkan tante, kemarin tidak bisa bertemu kalian. Tante kurang enak badan," ujar Ibu Mira.
"Tidak apa-apa,sekarang bagaimana keadaan tante?" Tanya Shawn.
"Sudah lebih baik. Tante ke dapur dulu ya, kalian silahkan lanjutkan lagi bincang-bincangnya" Jawab Ibu Mira.
Ina sibuk membantu ibu Mira, tetapi sekali-kali dia melirik ke arah Shawn dan Alex.
Alex bangkit dari duduknya dan menghampiri Ina.
"Ada yang bisa dibantu?" Tanya Alex.
"Tidak ada," jawab Ina datar.
Melihat Alex berjalan mendekati Ina, Shawn juga tidak mau kalah. Dia dekati Ibu Mira, menawarkan bantuannya.
"Ada yang bisa dibantu, tante?" Tanya Shawn
Shawn dengan senang hati membantunya, dengan gagah dan penuh gaya dia menggantikan isi galon itu. Ina melihatnya sekilas, dan Shawn makin senang melihatnya. Alex semakin merenggut.
Setelah masakan telah tersaji, Ina menjemput Raissa untuk makan bersama. Lalu Ina duduk didekat Raissa, Shawn duduk dihadapan Ina. Alex terlambat duduk, sehingga dia duduk disebelah Shawn menghadap Ibu Mira. Kaki Alex sengaja menginjak Shawn.
"aah," ujar Shawn refleks. Matanya langsung melototin Alex, dan Alex pura-pura tidak tahu.
"Ada apa?" Tanya Tante Mira.
"Tidak ada apa-apa, tante. Terbentur kaki meja." Jawab Shawn.
Raissa dan Ina menahan tertawa melihat tingkah keduanya.
Shawn dan Alex akhirnya pamit pulang setelah mereka selesai makan siang. Keduanya diantar Ina menuju ke pintu.
"Semoga kamu suka bunganya," ujar Shawn ke Ina.
"Hmmm." Jawab Ina.
"Bungaku untuk menambah keindahan dari kecantikan tuan putri," kata Alex dengan puitis.
"Hmmm." Jawab Ina.
Raissa memanggil Ina, setelah dia melihat Ina sudah mengantarkan Shawn dan Alex keluar pintu.
"Ina, mari duduk disini." Ajak Raissa.
"Baik nona." Jawab Ina.
"Panggil saya Raissa saja. Kita kan berteman." Kata Raissa. "Menurut kamu, lebih baik Shawn atau Alex?"
"Keduanya sama-sama buaya." Jawab Ina.
"Tapi buaya itu makhluk setia, lihat saja kebudayaan betawi. Simbol kesetiaan itu lewat roti buaya." Kata Raissa.
"Iya ya."
"Kamu lebih tertarik sama yang mana?" Selidik Raissa.
"Tidak keduanya, saya hanya seorang Perawat. Saya tahu diri, mereka para bos jauh dari jangkauan untuk orang seperti saya." Kata Ina.
"Jangan begitu, kamu cantik dan cerdas."
"Masih banyak wanita cantik lainnya yang lebih pantas dari saya." Ujar Ina.
"Tapi kamu juga pantas kok." Raissa berusaha memberikan rasa percaya diri kepada Ina.
"Terima kasih, tapi tanggungan saya cukup banyak. Saya hanya fokus bekerja dengan baik, sehingga saya bisa membiayai adik-adik saya. Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia." Tutur Ina dengan nada tergurat rasa sedih.
"Turut berduka cita, kamu hebat Ina, kakak yang bertanggung jawab dan sayang adik. Saya juga berusaha menjaga ibu saya, karena ayah saya sudah meninggal waktu saya kecil."
Ina menjadi sangat dekat, setelah mereka saling membuka diri. Raissa memeluk Ina. "Mulai sekarang, kita bersaudara. Ok?"
Ina menangis haru mendengar kata-kata Raissa, dia bersyukur bisa berkenalan dengan Raissa.
"Kamu lebih baik segera membuka hati untuk Shawn atau Alex. Mereka berdua baik orangnya. Jangan takut untuk jatuh cinta," goda Raissa. Ina tersenyum malu mendengarnya.
*****
"Kenapa kamu ikut-ikutan bawa bunga dan kesana?" Tegur Alex ke Shawn.
"Kamu yang ikut-ikutan. Aku yang duluan tiba disana." Protes balik Shawn.
"Aku pasti menang, bisa mendapatkan Ina menjadi pacarku." Kata Alex.
"Mimpi kamu! Dia memilih aku." Balas Shawn.
"Kamu yang mimpi. Lebih baik kamu mundur saja," sindir Alex.
"Kamu mabuk? Sadar, aku lebih ganteng." Balas Shawn lagi.
"Aargh!" Geram Alex. "Lihat saja nanti!"
Mereka saling buang muka dan keluar dari Marina Bay Sand berlainan arah.