
Ketika Papa Allister sudah marah dan memberikan ancaman, maka Razka tak bisa lagi menolak. Terlebih sekarang kunci sepeda motornya yang sudah disita paksa oleh Papanya, membuat Razka tidak bisa balapan motor lagi.
Mengurungkan niatnya untuk ke markas ARC. Akhirnya, Razka memilih masuk ke kamarnya. Pemuda itu sangat kesal, beberapa kali dia mengusapi wajahnya dan mengusap kasar rambutnya.
"Akkhhhh ... sialan. Sialan!"
Di dalam kamar yang memang kedap suara itu, Razka berteriak. Dia amat kesal. Akan tetapi, sudah jelas di dalam kamar itu, tidak ada yang mendengar teriakannya.
"Kenapa, Pa ... siapa wanita yang selalu Papa berikan uang setiap bulan itu? Wanita miskin yang sudah Papa berikan uang selama empat tahun terakhir," gumam Razka.
Walau diam dan seolah tak peduli, Razka tahu bahwa setiap bulan Papanya selalu mengunjungi perkampungan warga di Jakarta, dan menemui wanita miskin untuk menyerahkan sebuah amplop. Lantas, siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Papanya?
Semakin lama, Razka semakin curiga dengan Papanya. Kenapa banyak teka-teki yang tak terpecahkan. Kenapa banyak hal-hal yang disembunyikan darinya. Semua itu, membuat Razka semakin kesal dengan Papanya.
"Razka hanya ingin menjadi diri sendiri, Pa. Tidak terbebani dengan aturan dan norma yang Papa buat sendiri. Kenapa Papa selalu melihat dari sikap Razka yang hanya suka balapan?"
Banyak pertanyaan di dalam diri Razka. Namun, semua pertanyaan itu hanya melayang-layang di dalam otak Razka saja. Tanpa bisa mendapatkan jawabannya.
***
Keesokan Harinya ....
Hari ini sesungguhnya adalah akhir pekan. Akan tetapi, karena kunci sepeda motor masih disita oleh Papanya, Razka menjadi malas kemana-mana. Selain itu, alih-alih menggunakan mobil, Razka lebih senang menggunakan sepeda motor. Rasanya menyetir mobil sama sekali bukan stylenya.
"Den Razka ... disuruh turun. Den Razka harus les mulai hari ini," panggil Bibi Warna, seorang ART yang sudah bekerja di kediaman Allister sekian tahun lamanya.
"Ya, Bi," balas Razka.
Pemuda itu kembali menggerutu, harusnya akhir pekan dia bisa ke Markas ARC dan mengikuti kegiatan atau balapan dengan temannya. Akan tetapi, sekarang Razka terkungkung di dalam rumah. Tidak hanya itu, Razka pun harus mengikuti les juga.
Les unfaedah. Sekolah aja cuma buat ngisi waktu. Malahan sekarang disuruh les segala. Mau belajar sampai kapan pun, gue ya tetap gue. Gak bakalan mungkin jadi rangking satu.
Razka menggerutu dalam hati. Namun, dia tetap keluar dari kamarnya dengan ogah-ogahan. Razka pun membayangkan siapa yang akan memberikan les untuknya. Apakah mungkin guru killer seperti Bu Heny, atau malahan mahasiswa yang masih muda. Rasanya, Razka malas sekali. Baginya belajar adalah hal yang benar-benar unfaedah.
Begitu sudah sampai di ruang tamu, justru Razka diperhadapkan dengan sosok yang tidak asing dengannya. Bukan guru killer atau seorang mahasiswa, melainkan rekan sekelasnya sendiri.
"Kamu?"
"Altharazka?"
"Alona?"
Di depannya Papa Allister justru tertawa. Apakah ini adalah sebuah kebetulan. Sebab, dia tidak menyangka bahwa keduanya sama-sama sudah saling kenal.
"Kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Papa Allister.
"Kami satu kelas, Pa ... dia yang bikin Razka enggak mendapatkan nilai," jawab Razka menunjukkan ekspresi wajah kesal.
"Salah sendiri loe gak mau ngerjain. Bukan salah gue," balas Alona.
Usai itu, Razka menatap Papanya. "Razka gak mau les sama dia. Mana ada les dengan teman sekelas yang nyebelin macam dia," kata Razka.
"Maaf Om ... kayaknya Alona juga tidak akan bisa. Alona pamit," balas Alona.
Lebih baik pulang ke rumah, daripada membantu Razka belajar. Lagipula melihat sikap Razka yang ogah-ogahan dan sama sekali tidak memiliki semangat belajar di kelas saja sudah membuat Alona jengkel. Oleh karena itu, lebih baik Alona juga pamit saja. Tidak ada harapan dengan Altharazka.
"Jangan begitu, Al. Katanya kamu butuh penghasilan untuk kuliah nanti. Jadi, bantulah Altharazka belajar. Apalagi kalian satu kelas. Kesulitan yang kalian hadapi di kelas pun sama bukan?" balas Papa Allister.
Selain membantu ibunya, Alona juga mendaftarkan diri untuk mengajar les privat untuk SD dan SMP. Semua itu juga karena dia memiliki nilai yang bagus. Namun, beberapa hari yang lalu ada tawaran datang untuk mengajar SMA juga. Sebenarnya Alona tak yakin, bisa saja tingkat kesulitan yang dihadapi berbeda. Akan tetapi, setelah mengobrol dengan mentornya, akhirnya Alona mengambil kesempatan ini. Tujuan Alona adalah bisa kuliah tanpa merepotkan Ayah dan Ibunya.
"Altharazka gak punya semangat belajar, Om," kata Alona dengan terus-terang.
"Heh, tutup mulut loe. Wah, jangan-jangan loe udah sama kayak Bu Heny yah," sahut Razka.
"Faktanya begitu, Al," balas Alona.
"Sudah-sudah ... jangan adu mulut. Sudah sana belajar. Dua kali di akhir pekan, Razka akan belajar sama kamu, Alona," ucap Papa Allister.
" ..., tapi Om," balas Alona.
"Tidak ada tapi-tapi. Kamu ingin kuliah tanpa merepotkan Bapak dan Ibumu kan ... jadi bantulah Razka belajar. Biar Razka mendapatkan nilai yang baik," kata Papanya Razka.
Seketika Alona terdiam. Haruskah dia mengambil kesempatan ini. Dia memang butuh uang untuk kuliah nanti. Apalagi beberapa bulan ke depan sudah ada penerimaan mahasiswa baru dari jalur PMDK. Namun, belajar dengan Razka pasti akan membuat Alona tertekan.